CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Tiga Pria dan Ular


__ADS_3

Ular dengan sisik kuat seperti naga itu masih mengejar Gao, Gall, dan juga tentu saja Steven, membuat Pasar Kota menjadi kacau seketika. Orang-orang berteriak ketakutan, tetapi juga penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada utusan istana itu.


Tiga pria yang diperbolehkan tinggal oleh Charlotte, kini malah dibuang bahkan harus menghadapi seekor ular dengan sisik yang tebal dan kuat. Mereka berlari seperti tikus saja.


Sementara di sisi lain, Ellena hanya menepuk jidat seraya menggeleng kepalanya akan tingkah bodoh dari tiga pria itu. Entah mengapa mereka yang terkenal cerdas dan kuat malah kalah dengan seekor ular.


Mendadak.


“Prohibere, Arula!” teriak seorang elf tingkat dua. Seketika saja ular yang tingginya hampir dua meter itu berhenti tepat di depan elf kecil itu.


Ellena pun melotot. Elf itu adalah bocah yang sebelumnya menjadi sumber rasa penasaran Ellena akan hubungannya dengan Varl. Namun, saat ini Ellena hanya bisa diam seraya memperhatikan si elf.


“Arula, arripuerit.” Tampak si elf yang masih belum diketahui namanya itu tengah berkomunikasi. Semua orang memperhatikan, detik kemudian ular itu berubah menjadi kecil seperti Momo si Quinkana.


Si elf pun tersenyum menyambut ular dengan nama Arula tersebut. Kemudian, dia memungutnya, seketika saja si Arula melilit lengan elf yang tengah mengendalikannya.


“Wah, kau sungguh hebat, Anak Muda.”


“Seperti biasa si Ciel.”


“Itu Arula, kan? Kenapa dia seperti itu?”


Banyak komentar mencuat akan kejadian ramai di Pasar Kota itu. Sementara di sisi lain, Steven, Gao, dan Gall mencoba untuk mengatur napas. Ketiganya sangat berkeringat, jantung mereka berdegup lebih kencang, otot-otot kaki menegang.


Melihat itu, si elf pun mendatangi ketiganya. Tanpa komando, ia mengulurkan tangannya dengan wajah yang dihiasi bulan sabit. “Namaku Ciel The Beast Teamer. Aku adalah penjinak binatang. Dan ini... Arula, ular betina kesayanganku.” Ia sejenak melirik pada ular yang tengah melilit tangannya.


“Ciel? Aku sepertinya pernah mendengar nama itu? Ah, tapi di mana ya?” batin Ellena merasa keherenan. Ya, ia sempat mendengar seseorang menyebut nama itu. Namun, kapan?


Hosh.


Hosh.


Hosh.

__ADS_1


Masih mengatur napas, ketiga pria tampan utusan istana mengabaikan tangan si bocah elf bernama Ciel itu. Mendapat perlakuan tersebut, Ciel tidak gentar. Ia malah merasa sangat bersalah.


“Maaf.” Tatapannya menunduk, sementara kedua jari telunjuknya saling menubruk. Tampak sekali ia ragu untuk mengatakannya, meski begitu ia harus benar-benar menunjukkan bahwa dirinya mengaku salah. “Arula sedang dalam masa kawin. Dia jadi mengejar pria mana saja yang tampan dan berniat menjadikannya teman untuk bertelur.”


Pipi Ciel memerah. Bocah kecil itu tampak malu mengatakannya. Melihat hal menggemaskan tersebut, Ellena mendekat. Ia berniat mencubit kedua pipi Ciel dan niatnya segera terlaksana.


“Kau lucu sekali, Ciel, kata Ellena seraya mencubit pelan pipi Ciel. Sudah dibilang, Ellena menjadi tidak tahan pada sesuatu yang terlihat lucu dan menggemaskan.


“Maafkhan akhwu bwibwi.” Ciel tak dapat bicara dengan jelas, semakin membuat Ellena gemas kepadanya.


Mendadak.


“Elf tingkat dua.” Mae berlari lalu berdiri tepat di samping Ellena yang mulai terlena akan kegemasan bocah elf berusia sepuluh tahun itu. Eh, seratus tahun.


Sontak saja Ciel meletakkan tangan kanannya yang terlilit ular di depan dada, lalu kepalanya menunduk hormat pada Mae. “Sungguh kehormatan bagiku bertemu dengan Anda, Yang Mulia Mae.”


Melotot.


Tentu saja Ellena tercengang. Apakah kedua elf itu saling kenal meski beda tempat tinggal?


sejak kecil.


“Lah, kalian tidak saling kenal? Tapi, kenapa Ciel mengenalmu, Mae?” Alis Ellena bertautan. Sudah jelas gadis itu menyimpan banyak pertanyaan.


“Entahlah.” Mae mengangkat kedua bahunya. Tidak tahu.


Sementara Ciel sedikit terkekeh melihat dua gadis cantik di depannya. “Maafkan atas kelancangan saya.” Bocah itu merapikan pakaiannya sejenak. “Sebenarnya, tidak ada yang tidak tahu akan Mae The Lover of Trees. Mae si elf penjaga Hutan Tropis.”


Mendengar itu, Ellena menyenggol lengan Mae, menggodanya. “Halah, ternyata kau terkenal juga.”


Sedangkan Mae hanya tersenyum canggung. Ia tidak pernah tahu bahwa dirinya akan seterkenal itu.


“Tapi, rumor sempat beredar bahwa Mae sudah menukar nyawanya dan mengabdi pada Pohon Atma. Namun, melihat sosoknya langsung di sini telah mematahkan rumor di kalangan ras elf.” Lagi, Ciel tersenyum untuk ke sekian kalian. Tampaknya bocah itu memang doyan tersenyum.

__ADS_1


Masih di tempat yang sama, tetapi sedikit berada di pojok, ketiga pria yang baru saja menjadi korban si Alura pun melambaikan tangan untuk minta perhatian. Namun, tentu tidak ada yang memperhatikan sebab pembicaraan antar dua elf berbeda tingkat itu lebih mengasyikkan.


“Minum, aku butuh minum,” lirih Steven.


“Ini semua salahmu, Steven!” Gao yang masih mengatur napasnya pun masih bisa menyalahkan si Steven.


“Hah, kenapa juga salahku? Lagian kalian yang mencoba untuk mengganggunya!” Steven membela diri. Sementara Gall hanya berusaha mengipasi dirinya dengan telapak tangan. Ah, andai saja ada air terjun turun dari langit, sungguh yang hanya ada di pikiran


Gall hanyalah air dan angin saja untuk melepas penat.


Kedua kakak-beradik itu saling adu tatap, melihat hal tersebut membuat Hanae berdecih. Ia yang sedari tadi sibuk memperbaiki busur di salah satu kedai dan hanya memperhatikan tingkah bodoh teman-temannya pun kini bertindak.


Ia berjalan mendekati ketiga teman prianya. Kemudian, ia melempar sebotol air mineral. “Sungguh menyedihkan,” makinya lirih. Meski begitu tetap terdengar dengan jelas. Namun, ketiganya abai. Memang saat ini kondisi mereka seperti itu dan tak bisa dipungkiri, sehingga mereka terima-terima saja.


Setelah terjadi insiden kejar-kejaran antar tiga pria tampan dan satu betina ular yang sedang dalam masa subur, Ellena dan timnya pun beristirahat di sebuah penginapan. Malam ini, mereka berniat untuk menunda rencana.


Hanya mereka, sih. Namun, tidak dengan Ellena. Ia yang merasa sudah gagal pun kian kesal, padahal sebentar lagi dirinya bisa membawa Charlotte kembali pada rakyat.


“Harus dengan cara apa aku membawamu, Charlotte?” batin Ellena. Saat ini ia tengah terlentang menghadap ke atap. Sementara Ruby tidur di sampingnya.


Mendadak, Ellena mendapat sebuah ide liar. Ia bangkit dari kasur, kembali mengingat akan inspirasinya itu. Kemudian, ia sedikit menyunggingkan senyum sebab dirinya mulai merasa yakin.


Tanpa berpikir lama lagi, Ellena melangkah keluar kamar dengan mengendap dan berusaha mengecilkan suara langkah antar kaki dan lantai kayu. Kemudian, ia membawa jubah yang sebelumnya Ellena beli di pasar tadi.


Ia merasa bahwa pakaiannya sungguh nyentrik sehingga berniat untuk memakai jubah berwarna merah dengan penutup kepalanya. “Yosh, aku akan segera melakukan sesuatu demi membawa Charlotte kembali!” Ellena tampak yakin apalagi saat ini kedua tangannya mengepal kuat, menyimpan harapan baru.


Sejauh ini memang terasa aman. Semua orang di penginapan tersebut sudah terlelap. Namun, Ellena masih bertingkah laiknya pencuri agar suara langkah kakinya tidak terdengar.


Meski sudah berusaha semaksimal mungkin, malam ini bukanlah malam keberuntungannya. Mendadak saja, seseorang memanggil namanya dari belakang


“Ellena, mau ke mana... kamu?” tanya seseorang itu yang tak lain adalah Varl.


Sontak saja langkah Ellena terhenti, sedangkan kedua matanya terbelalak.

__ADS_1


****


__ADS_2