
Seorang gadis berambut pendek yang sama dengan Ellena tersenyum lembut. Namun, matanya lebih sipit sehingga tatkala gadis itu tersenyum, matanya malah tidak kelihatan.
“Ellie, bagaimana kabarmu?” tanya seseorang itu.
Cantik.
Dan juga... menawan.
Hati Ellena merasa tenteram melihat gadis berkulit putih itu yang memiliki senyum manis.
“Apa kamu sudah bisa menyelamatkannya? Bagaimana progresmu?” tanya gadis itu tak lupa dengan senyum merekahnya seraya sesekali mengelus rambut Ellena.
Suara sang gadis seperti menggema di telinga Ellena, tetapi wajah gadis itu masih samar-samar. Siapa dia?
Meski begitu, sebenarnya Ellena merasakan keakraban dengan gadis yang ada di hadapannya.
“Tidak apa jika kamu gagal sekarang. Namun, kamu tidak boleh menyerah, ya. Selagi jantung masih berdetak, berarti masih ada waktu untuk terus bergerak, Ellie. Jangan kalah dengan rasa sakit ini, semua orang menunggumu. Kamu... adalah bintang harapan bagi mereka.”
“Tapi... aku sudah lelah,” jawab Ellena lirih.
Mendengar itu, gadis berambut pendek menggeleng dengan pelan diselingi senyumnya. “Adakalanya seseorang memang lelah berjuang, tetapi perlu kamu ingat bahwa adakalanya juga seseorang menyesal karena tak berjuang.”
Gadis itu menghela napas secara perlahan.
“Namun, apa pun yang terjadi, berjuang atau tidak, kau yang memilihnya.”
Ia kembali mengelus kepala Ellena. Perlakuannya lembut sekali seperti seorang ibu, tetapi gadis itu memakai seragam yang sama dengan Ellena.
“Lembut sekali, tangannya begitu hangat. Aku sangat menyukainya. Aku ingin terus bersamanya. Sepertinya aku kenal dengan dia, tetapi aku tak tahu namanya,” batin Ellena.
Meski pandangannya kabur, Ellena merasa sangat mengenali gadis itu.
Tapi, siapa?
“Ellie,” lirih gadis itu, menatap Ellena dengan tatapan sendu.
“Bukankah kau juga mengharapkan keajaiban? Kau harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkannya. Jika kau menyerah begitu saja, maka dirimu bukanlah Ellie yang aku kenal.”
“Siapa namamu?” tanya Ellie dengan suara lirih sebab tubuhnya terasa menggigil karena dingin seakan dirinya dikubur di tumpukan salju gunung es.
“Miko,” jawab gadis itu dengan senyuman lebarnya.
Setelah menyebut namanya, si gadis perlahan menghilang dan tiba-tiba saja Ellena diliputi ruangan gelap nan menyesakkan. Napasnya tersengal.
“Mi-Miko? Siapa dia?” tanyanya di dalam hati sementara tubuhnya semakin mengigil hingga giginya gemertak hebat. Perlahan, ia melupakan Miko sahabatnya akibat serangan Charlotte sebelumnya.
Ellena menoleh ke sana kemari mencari gadis bernama Miko. Namun, di sekitarnya hanya ada ruangan gelap yang semakin mengimpitnya. Ellena berusaha teriak, tetapi suaranya seperti tidak keluar dari kotak hitam ini.
Sesak dan menakutkan.
Mendadak, ia mendengar gaung suara yang memanggilnya.
“Ellena! Ellena! Bangun!” ucapnya memenuhi seisi ruangan nan gelap ini.
Tangan Ellena mencoba meraih sesuatu yang hampa di sana, berharap akan keajaiban. Ia mencoba meraih suara itu. Namun, ia tak mendapatkannya.
Meski begitu, Ellena tidak akan menyerah. Ia terus meraih dan mencoba menggerakkan tubuhnya untuk keluar dari tempat yang menyesakkan ini, mengikuti suara yang memanggilnya. Ia berusaha sekuat tenaga, melawan rasa dingin yang membuat sekujur tubuhnya membeku.
Ia terus bergerak ke atas, mencari jalan keluar.
__ADS_1
Krak.
Krek.
Krak.
Ellena membelalakkan matanya setelah mendengar sesuatu seperti sesuatu tengah terbentuk. Napas gadis itu tersengal, dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya menderu, darahnya berdesir, dan keringat bercucuran. Namun, ia merasakan di seluruh ujung jarinya sesuatu yang amat dingin seperti es beku.
Dengan gemetar, Ellena mencoba untuk melihat jari-jarinya. Sungguh, ia amat terkejut setelah melihat ujung jari-jari lengkingnya membeku dan kulitnya menjadi pucat, sedingin es. Bunga-bunga es juga seperti meletus di sekitarnya.
Ellena merasakan dingin juga di kepalanya. Tanpa berpikir lama, ia mengusap kepalanya.
Cesss.
Terasa dingin sampai Ellena mendesis. Kemudian, ia kembali terkejut tatkala mendapati rambutnya rontok berwarna putih dan juga dingin.
“A-a-apa ini?!” tanya Ellena tak karuan menerima kenyataan.
Di sisinya, Varl tengah memegangi tubuh Ellena. Pria itu tak mengatakan apa pun. Ia hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah akibat tangis.
Krak.
Krek.
Mendadak saja sesuatu seperti menggenggam jantung Ellena. Sesak. Inti tubuh gadis itu terasa dingin dan sakit seperti tertusuk es. Jantung Ellena mengkristal secara perlahan hingga suara perubahan itu terdengar keluar.
Detakannya mulai melemah. Ellena semakin kesulitan bernapas. Namun, ia tak menyerah.
Setelah Charlotte melemparkan sihir es kutukan kepada Ellena, gadis dari dunia lain itu memang pingsan. Jantung Ellena mulai tertutup oleh kristal es. Sementara di sekitar tubuhnya tampak bunga-bunga es ilusi.
Perlahan, rambut Ellena yang berwarna coklat gelap itu berubah menjadi putih. Hanya sedikit, tetapi rambut yang putih bak es itu terasa dingin jika dipegang.
“Kau... kau melemparkan sihir es kutukan kepada Ellena, bukan?!” Telunjuk Varl mengarah kepada Charlotte. Ia meletakkan Ellena secara perlahan, membiarkan gadis itu beristirahat dengan tenang.
Kedua netra Varl sudah tak mampu lagi membendung air sucinya. Ia menangis. Peduli setan tentang anggapan bahwa ia pria yang lemah. Dirinya hanya menangisi ketidakberdayaannya sebagai seorang pria dan melihat sendiri bagaimana Ellena menjadi korban keegoisan Charlotte.
“Cabut kutukan itu, jangan buat Ellena menderita!” Varl berteriak penuh dengan kekesalan. Sementara Charlotte menatap tanpa ekspresi. Matanya yang meredup tak bisa melihat dengan jelas bagaimana keseriusan Varl yang meminta Charlotte untuk membebaskan Ellena dari kutukan es abadi itu.
“Aku tahu dirimu sudah banyak tersakiti dan telah melihat orang-orang mati di hadapanmu, tapi bukan berarti kau bisa melampiaskan luka itu kepada gadis polos macam Ellena!”
Varl sudah tak tahan lagi.
“Kau sudah melemparkan sihir perbudakan kepada Elise—”
“Anda salah Yang Mulia! Akulah... akulah yang memperbudak Elise! Aku yang pantas mendapat kutukan itu, bukan Ellena!” Varl semakin menaikkan nada suaranya beberapa oktaf agar Charlotte dapat mendengarnya dengan baik.
Napas Varl menderu. Kemurkaannya telah membakar amarah di dalam dada. Ia benar-benar bermuram durja.
Tanpa berpikir lama lagi, ia mengeluarkan tombak andalannya dari tas ajaib. Tatapan Varl mendadak berubah tajam bak elang. Ia siap menghabisi siapa saja. Amarahnya membuat dirinya terbakar emosi.
Tanda Berkah menyala.
Ah, satu Nilai Kehidupan Varl berkurang.
Tak apa, pikirnya.
Varl sudah tak sanggup lagi menghadapi keangkuhan Charlotte.
Tidak.
__ADS_1
Sebenarnya bukan Charlotte yang menjadi musuh Varl, tetapi... sihir hitam di belakangnya!
Ya, sihir itu membentuk bayangan seperti monster yang mengendalikan tubuh Charlotte sehingga wanita itu seperti boneka hidup saja.
“Segera matilah, kau!” teriak Varl seraya berlari mendekat dengan cepat untuk melesatkan tombak yang sudah dilapisi sihir sucinya. Ia ingin segera memberantas sihir hitam tersebut.
Namun, kekuatan sihir itu lebih besar. Belum saja Varl sampai, pria itu langsung terhempas hingga keluar dari ruangan singgasana.
Bruk!
Ia menghantam tiang istana yang terbuat dari emas dan dilapisi batu kapur indah. Sontak saja Varl mengeluarkan darah dari mulutnya setelah ia terbatuk sekali. Remuk. Tubuhnya seakan sudah remuk dalam satu kali lemparan.
Tak hanya itu, Charlotte kembali berjalan tanpa ekspresi sementara bayangan sihir hitam terus mengendalikannya. Ia kembali mengarahkan sihir hitam dan menyerang Varl dengan kekuatan super dahsyat.
Wus.
Bruk!
Dua kali Varl terlempar jauh hingga menghantam dinding kokoh istana yang hampir meremukkan seluruh tulangnya.
Melihat itu, Ellena tak sanggup.
“Varl bisa mati jika begitu!” batin Ellena. Meski tubuhnya mengigil, ia berusaha bangkit dan menghentikan tindakan Charlotte yang hampir menghabisi nyawa Varl. Sudah beberapa poin Nilai Kehidupan Varl berkurang sebab Berkahnya tak kunjung meredup, sehingga umur Varl semakin berkurang.
“Tidak, jangan lakukan itu!” teriak Ellena seraya terus melawan rasa sakit dan dingin di tubuhnya. Ya, ia terus melawannya meski jantungnya mulai tertutup kristal es secara perlahan.
Ellena memegang tangan Charlotte, menahan gerakan tangannya yang berusaha melemparkan sihir hitam kepada Varl. Dari tindakannya tersebut membuat Charlotte tak dapat mengarahkan sihirnya dengan tepat.
Daripada membuang energi dengan percuma, Charlotte pun mengarahkan sihir hitamnya kepada Ellena.
Wus.
Bruk!
Kali ini Ellena yang terhempas. Napas gadis itu di ujung tanduk. Tubuhnya melemas meski ada rasa sakit, tulang bahu yang hampir remuk, luka di bagian kaki, kening yang berdarah, dan juga jantung yang mengkristal secara perlahan.
Ellena sudah tidak kuat.
Ia pun meneteskan air matanya dengan deras, menatap Varl yang saat ini juga tengah mengatur napas dan membangkitkan tenaganya secara perlahan.
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Bibir Ellena gemetar, ia berkata dengan lirih dan terbata-bata, “V-Varl, t-tolong lanjutkan misi ini. J-jangan... jangan sampai k-kamu... k-kamu... kamu m-menyerah.”
Ellena tak sanggup lagi. Ia sudah lelah dan saat ini ia hanya ingin memejamkan mata sejenak. Namun, ia menitipkan misi yang berat ini kepada Varl. Entah apa yang terjadi selanjutnya, Ellena hanya berharap keajaiban terjadi padanya.
Ia sudah terpejam tanpa disadari.
“Bodoh, ini ‘kan misimu! Aku tak mau melakukannya!” tolak Varl seraya menepuk-nepuk pipi Ellena. Ia berusaha membangunkan Ellena dengan sekuat tenaga sampai menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu yang mulai memucat dan sedingin es tatkala disentuh.
Melihat itu, Varl berteriak untuk melampiaskan kesedihannya akan kepergian Ellena.
“ELLENAAAA!!!”
****
__ADS_1