CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Wanita Reinkarnasi


__ADS_3

Sementara di sisi lain.


Hosh.


Hosh.


Hosh.


Steven dan yang lain bergerak dengan cepat, berlari menembus sihir hitam yang terus memberi ilusi untuk menyesatkan mereka. Namun, terdengar riuh gaduh di sekitar. Tak hanya itu, suara Varl juga mulai terdengar jelas, tetapi mereka telah dikepung oleh aura sihir hitam!


Mendadak, terdengar pula suara tangis, tawa, dan juga kesedihan yang mengganggu pendengaran. Mereka semua menutup telinga, berusaha untuk menghalau suara yang masuk ke indra pendengaran.


“Hentikan!”


“Cukup!”


“Argh!”


Mereka menjerit sebab mendapat serangan yang bisa membuat telinga pecah, selain itu aura di sekitar menyesakkan dada, bisa-bisa mereka mati karena kehabisan napas.


Hosh.


Hosh.


Semuanya tersengal, dada mereka naik turun begitu cepat, keringat sudah banjir membasahi pakaian masing-masing.


Sementara kaki sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tenaga sudah habis terkuras karena sihir hitam, meski sudah berjuang keras menahan rasa putus asa, hal itu tetap membuat Sihir Hitam seakan semakin bersemangat untuk menyerang teman-teman Ellena.


Apakah mereka ingin menyerah?


“Aku... aku sudah tidak kuat,” lirih Leonie.


“Jangan me-menyerah! Kau... kau adalah pemimpin Hutan K-Kutukan!” Meski dirinya juga hampir putus asa, Steven tetap mencoba untuk memberikan semangat kepada rekan-rekannya.


Semua merangkak secara perlahan, melawan gravitasi yang terus menarik tubuh mereka seakan siap menelan semuanya bulat-bulat.


Untuk kesempatan terakhir, mereka terus berjuang meski tubuh seakan mulai terasa kehilangan energi. Hanya berharap keajaiban, ya sama seperti yang pernah Ellena katakan kepada mereka. Sungguh, itu adalah sebuah harapan meski tak tahu akan jadi kenyataan atau tidak, yang penting bisa menyemangati diri tatkala sudah diambang batas.


Mendadak.


Wus.

__ADS_1


Cahaya hijau kekuningan mengelilingi tubuh Yuya yang jauh merangkak di belakang sana. Bocah itu sedari awal tidak banyak bicara, hanya mengikut saja pada teman-temannya.


Namun, ia terus berusaha meski dirinya tertinggal jauh dari yang lain. Cahaya itu menarik perhatian semuanya, mereka pun menoleh dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Yuya yang merangkak di belakang sana.


“Yuya, apa kau baik-baik saja?” tanya Hanae memastikan.


“Yuya, bagaimana keadaanmu?” resah Leonie juga. Ia sudah menganggap Yuya seperti adiknya sendiri.


Melihat itu, tanpa komando Steven merangkak menyusul Yuya. Ia berpikir bahwa cahaya hijau bercampur kuning itu hendak melukai Yuya.


Namun...


Mendadak saja Yuya yang tadinya menelungkupkan kepalanya, menyembunyikannya kini ia angkat kepala tersebut. Maniknya berubah. Yang tadinya hanya berwarna hijau terang saja, kini mata kirinya berwarna kuning.


Tatapan Yuya mendadak menyorot dengan tajam, binarnya begitu terang seakan telah diberi kekuatan baru. Tak lama setelah itu, Yuya terangkat bersama dengan cahaya tersebut yang terus mengelilinginya. Gadis kecil itu melayang di udara dengan diliputi cahaya sihir hijau kekuningan.


Raut Yuya berubah menjadi amarah, matanya bersinar terang.


“LAWAN AKU WAHAI SIHIR HITAM!” teriak Yuya hingga cahaya sihir miliknya mengamuk seketika, bertarung dengan sihir hitam.


“Kau hanya bocah kecil.” Sang Sihir Hitam menyahut tantangan Yuya. Suaranya menggema.


“Siapa yang kau panggil Bocah Keciiiillll!” Yuya kembali berteriak, membuat cahaya sihir di sekitarnya mengamuk. “Aku adalah putri agung milik Ratu Charlotte!”


“Ribuan tahun lalu, seorang Ratu penguasa negeri ini bernama Charlotte. Dia sudah melakukan inkarnasi beberapa kali dan berakhir menjadi penguasa negeri ini. Berulang kali dengan lelaki yang berbeda, dia selalu dikhianati dan merasa sendirian. Pada usia mudanya, dia memang sangat baik dan selalu mengedepankan seluruh rakyat Everfalls.”


Wus.


Cahaya kuning tersebut mulai mengalun dengan tenang.


“Setelah penobatannya sebagai ratu resmi, kekasihnya selalu mengkhianati. Namun, dirinya tak bisa melawan takdir. Dia hanya bisa berlari ke sebuah gua dan bersembunyi di sana hingga meninggal tanpa ada yang tahu.”


Mata Yuya semakin menatap tajam. Ia juga ingin menceritakan kebenarannya pada semua orang.


“Dia pikir, dirinya akan mati dengan damai setelah beberapa kali inkarnasi. Namun, ternyata tidak, dia terus terlahir kembali seperti ada misi yang belum dia selesaikan. Jika teringat kehidupannya dahulu, Charlotte selalu ingin mengakhiri nyawanya. Dia tak tahu mengapa dirinya terus terlahir kembali dan mendapat nasib yang terus berulang.”


Steven dan lainnya mendengarkan dengan seksama. Sebuah fakta yang tidak pernah diketahui oleh semua orang.


“Charlotte hidup seratus tahun sekali, lalu mati di seratus tahun kemudian dan kembali lagi seperti itu. Orang-orang yang hidup pada masa sebelumnya akan lupa ingatan dengan Charlotte sebab Charlotte sebelumnya sudah dihapus oleh Pohon Atma sehingga kisahnya, orang-orang yang pernah dia kenal, dan juga kesehariannya di kehidupan sebelumnya terhapus tanpa jejak, dengan kata lain sejarah Charlotte sebelumnya memang tidak pernah ada.”


Deg.

__ADS_1


Semua yang mendengarkan semakin memelotot.


“Charlotte terus lahir kembali dan mengukir kisah kehidupan yang baru dengan orang-orang baru juga, tetapi pada akhirnya dia selalu mati dan bersembunyi di gua tersebut agar orang-orang tidak menyadari kematiannya sebab setelah Charlotte mati, Pohon Atma menghapus sejarah dirinya.”


Yuya bercerita panjang lebar dengan cahaya kuning kehijauan yang terus menyelimutinya.


“Hingga pada seribu tahun lalu, Charlotte ke sekian berusaha untuk kuat. Dia memang bersembunyi di dalam gua tersebut, tetapi dia melakukan semadi beberapa tahun sebelum dirinya memutuskan untuk mengakhiri nyawanya.”


Yuya memegang dadanya.


“Dari hasil semadi dan pengabdiannya kepada Tuhan, ia menangis dan salah satu butirnya membentuk sebuah mutiara yang berubah menjadi adonan empuk. Awalnya berwarna putih, tetapi Charlotte sangat menyukai warna hijau dan kuning sehingga berubah warna sesuai kesukaannya. Seiring berjalannya waktu—”


“Stop!” kata Steven. Kemudian, ia melemparkan sebuah botol minuman. “Ini, aku rasa kau haus karena suaramu serak. Cepat minum dan lanjutkan!”


Yuya mengangguk. Ia memang sangat haus setelah menceritakan panjang lebar.


“Ayo lanjutkan!” seru Leonie bersemangat.


Yuya mengambil napas begitu panjang, lalu tatapannya kembali serius.


“Charlotte menganggap salah satu tetesan air matanya itu sebagai teman. Dia selalu mengobrol dengannya hingga usia Charlotte sudah menua dan mati, sebelum itu dia berjanji akan datang kembali ke sini untuk menemui tetesan air matanya dan berharap saat bertemu kembali tetesan itu berubah menjadi makhluk lain yang bisa bicara.”


Yuya menghela napasnya. “Charlotte pun akhirnya mati dan semua hewan maupun tumbuhan bersedih akan dirinya. Lalu, tinggallah salah satu tetes air mata itu sendirian.”


Hening.


Yuya menjeda kalimatnya lagi. Ia berpikir bahwa jika dirinya terus nyerocos, maka akan panjang kalimatnya dan yang mendengarkan bisa bosan.


Lanjut lagi.


Sebelum itu, Yuya mencoba untuk menenangkan diri akan emosi yang terus meledak di dalam dada.


“Para ras hewan dan tumbuhan di gua itu berdoa kepada Tuhan agar bisa memberikan kehidupan baru yang lebih baik dan Tuhan pun mengabulkannya. Tetesan air mata itu berubah menjadi seperti slime yang lembut dan empuk. Di dalamnya ada benih yang siap tumbuh jika Charlotte datang. Semakin hari, warnanya transparan dan terus berkembang sembari menunggu kedatangan Charlotte untuk datang ke gua.”


“Apa yang terjadi selanjutnya?” Steven kembali memotong.


“Diamlah, aku sedang bercerita nanti aku juga akan ceritakan semuanya.” Yuya menggulirkan matanya.


“Oke, nice. Hehehe.”


Lanjut lagi.

__ADS_1


“Tidak, tunggu!” Mendadak saja Mae mencegah Yuya. “Kita lanjutkan besok saja!”


****


__ADS_2