
Mereka berdua berpelukan seperti seorang ayah dan anak. Tampak mengharukan. Sementara dari kejauhan Ellena dan Ruby bersembunyi di salah satu jerami yang tergeletak di samping kedai.
“Varl, aku sungguh merindukanmu.” Pria kecil itu melepas pelukannya dengan Varl.
Mendadak Ellena mendapat ilham. Matanya menjadi tajam dan terlihat seperti ada sistem yang muncul. Sebelumnya tidak ada. Sistem itu seperti memindai si pria kecil yang ditemui Varl diam-diam.
“Elf tingkat dua. Usianya... SERATUS TAHUN?!”
Seketika saja Ruby langsung membungkam mulut Ellena yang mengeluarkan suara keras. Untung saja Varl tidak sadar. Kerinduannya pada bocah yang berbadan seperti lelaki berusia sepuluh tahun itu lebih besar dari sekadar suasana sekitar.
“Sekali lagi kau berteriak, akan kukirim kau ke neraka!” protes Ruby dengan berbisik. Ellena hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya.
“Ya lagian dia seperti bocah sepuluh tahun tapi rupanya seratus tahun? Yang benar saja, Ruby!” Ellena bergidik. Entah keanehan apa lagi yang akan ia dapat selama hidup di Wolestria. Sungguh, semua tidak bisa diterima dengan akal sehatnya. “Sementara Varl baru berusia... tiga puluh tahun?!”
Ellena makin tercengang. Ia pun memegangi kepalanya. Sungguh, segala hal di Wolestria membuat otak Ellena terasa sangat pening. Ellena berjanji, setelah ia kembali dirinya akan banyak membaca buku atau menonton film fantasi agar hal yang tidak terduga ini bisa dimaklumi.
Sementara Ruby seperti masuk dalam pemikirannya sendiri. “Seratus tahun, kah? Sama seperti lamanya istana itu melayang di atas sana.” Ruby mangut-mangut kecil.
Sedangkan kedua mata Ellena terbelalak. “SERATUS TAHUN?!”
Plak!
Ruby menampar pipi Ellena dengan begitu keras hingga Ellena tersungkur di atas tanah. “Maaf saja, tapi kau sudah membuat keributan, Ellie!” kesal Ruby. Untung saja dirinya masih bisa berbaik hati, jika tidak Ellena sudah dilempar ke tempat yang lebih aneh dari Wolestria.
Ellena bangkit, pakaian seragamnya terkena debu. Pipinya sudah sangat merah. Bibir Ellena melengkung ke bawah, matanya mulai basah. Ellena mewek. Bagaimana tidak, ia langsung ditampar begitu saja oleh Ruby. Sungguh keterlaluan.
Melihat itu, Ruby jadi merasa bersalah. Ia pun memeluk Ellena dengan tubuh kecilnya yang saat ini tidak menampakkan kaki di atas tanah. “Ya, maafkan aku, Ellie.”
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Ellena sesenggukan. Kemudian, ia merasakan kejanggalan. Tanpa berpikir ulang, ia pun segera menanyakannya. “Ruby, tetapi aku kok tidak bisa mendeteksi usiamu? Kau... juga sebenarnya bukan gadis kecil berusia tiga tahun, bukan?”
Ctak!
Satu sentilan mendarat di dahi Ellena. Lagi, gadis itu meringis dan memegangi keningnya yang menjadi sasaran Ruby. Entah mengapa hari ini Ruby begitu sensitif.
__ADS_1
“Tidaklah, bodoh! Tubuhku memang kecil dan tidak bisa tumbuh besar karena aku hanya seekor burung kecil! Usiaku mungkin bisa lebih darimu atau kurang. Tebak sendiri saja.” Ruby menyilangkan tangan mungilnya di depan dada. Ia melengos, membuang muka.
Cemberut.
“Memangnya, kau itu burung apa?”
Mendadak.
Terdengar melodi yang begitu indah, berasal dari tengah pasar. Suara itu berasal dari harpa, beberapa detik selanjutnya terdengar seseorang menyanyikan sebuah lagu.
Ada harpa, ada senar.
Semua berkumpul demi kebahagiaan.
Bangkitlah wahai raja kekuatan.
Hijau seperti daun Vumut.
Hijau seperti lumut.
Hijau seperti rumput.
Aku menunggu di bawah naungan-Nya hingga cintaku datang.
Bangkitlah wahai sang keberanian.
Hutan yang rindang memiliki kasih tak terlupakan.
Pada hutan aku bersaksi.
Demi jiwaku bertemu lagi.
Ada cinta, ada kasih.
Ada harapan, dan juga sedih.
Aku menunggumu di bawah rindangnya kedamaian.
Glek.
__ADS_1
Ellena meneguk salivanya mendengar seseorang bernyanyi begitu merdu, bahkan di sekitarnya cahaya hijau mengelilingi Pasar Kota, membuat semua mata tampak mendelik kagum.
Tak disangka, penyanyi yang tengah heboh di tengah pasar adalah Mae. Ia duduk di atas batang yang sudah ditebang. Di pangkuannya adalah harpa kecil. Ia memainkannya dengan jari lentiknya.
Kristal di dahinya bersinar, begitu pula di sekitarnya. Tumbuhan juga ikut bergoyang seakan mengikuti alunan damai itu. orang-orang terkagum melihat setiap sihir Mae yang menguar, memenuhi atmosfer pasar kota.
Bahkan, Ellena sendiri merasakan kedamaian di hatinya. Ia seperti berpindah ke sebuah tempat serba hijau. Ya, ia seperti tengah berada di tengah-tengah Hutan Tropis yang memiliki pohon besar yang rindang. Semuanya hijau. Damai.
Ellena memejamkan matanya, menikmati suara Mae yang menghipnotisnya dan seakan membawa dirinya menuju tempat kedamaian. Tak hanya Ellena yang seperti itu, hampir semua orang terlena dan seperti dibawa ke tempat serba hijau. Sejenak, hanya ada damai.
Setelah Mae berada pada nada terakhir, tatapannya menajam dan hanya diketahui oleh Ellena semata. Ia melihat sesuatu yang berbeda dari diri Mae. Namun, Ellena segera menepis pikiran kotornya. Ia akan selalu percaya kepada teman-temannya.
“Itu adalah nyanyian berjudul Peri Hutan. Itu lagu sudah ribuan tahun juga, sama seperti Penyihir Buta yang dinyanyikan oleh Ratu setiap hari,” jelas Ruby seketika. Ia sudah tahu bahwa Ellena pasti tengah kebingungan. Padahal sebenarnya, Ellena juga tidak begitu peduli dengan judul nyanyian tersebut.
“Tapi, Vumut itu apa? Lagu itu terasa bagus karena bersajak seperti puisi.” Ellena baru menyadari akan keindahan lagu yang mampu menghipnotisnya.
“Vumut adalah daun penyembuh yang hanya tumbuh di daratan Hutan Tropis. Daun itu sangat lebar seperti satu kasur besar. Mampu membungkus satu ras manusia. Vumut sebagai daun penyembuh yang paling terkenal dan tumbuh tiap seratus tahun sekali.”
Glek.
Ellena tercengang akan penjelasan Ruby. Wolestria terlalu banyak hal yang memang tidak bisa dipikir secara logika. Ellena sendiri tak mampu membayangkan seberapa besar pohon Vumut itu yang satu daunnya berukuran seperti kasur size king.
“K-kenapa Mae menyanyikan itu?” tanya Ellena. Kini ia benar-benar penasaran.
“Hm, aku tidak tahu tentang hal itu. lagu Peri Hutan hanya bisa dinyanyikan oleh elf tingkat tinggi. Sebenarnya, tidak semua elf tinggal di sana. Hanya yang bertingkat tinggi saja yang hidup di dalam sana.”
Mendengar hal itu, Ellena membatin, “Lagi-lagi perbedaan tentang ras dan tingkatannya. Entah mengapa dunia yang indah ini selalu berpatok pada hal itu, jika tidak pasti menyangkut tentang Berkah dan semacamnya. Ah, bagaimana nasib orang-orang yang tidak beruntung?”
Banyak pertanyaan bergelayut di otak Ellena. Mengapa ia demikian? Sebab, ia juga merasa hidupnya tidak begitu beruntung seperti yang lain. Namun, dirinya selalu mensyukuri apa yang Tuhan berikan padanya, meski tidak sebanyak orang lain.
“Mengapa ras, tingkat, dan juga Berkah selalu menjadi tolak ukur di sini?” Ellena memangku dagunya.
Pertanyaan itu membuat Ruby tersenyum. “Begitulah cara Wolestria bekerja. Apa pun yang Tuhan berikan, hanya syukuri dan jalani saja sesuai perannya.”
Mendadak.
“KYAAA!!!” Steven, Gao, dan Gall berlari dengan peluh keringat yang sudah banjir. Sementara itu seekor ular besar dengan sisik yang tajam dan kuat seperti naga tengah mengejar.
“Hadeuh, apa lagi ini?” batin Ellena seraya menepuk jidatnya.
__ADS_1
****