CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Akhir yang Menyedihkan


__ADS_3

Sekuat tenaga Ellena bangkit meski ia masih merasakan kesakitan. Namun, itu tak jadi masalah. Ellena yakin, inilah kesempatannya untuk menyelesaikan misi dan bisa kembali ke dunianya.


Seringai Ellena tampak melengkung hebat dari sudut bibirnya. Tatapannya yakin sebab ia telah melawan rasa sakit yang telah melemahkan dirinya.


“B-bagaimana ini bisa terjadi, Ellie?” tanya Ruby. Gadis kecil itu mengusap sudut matanya yang sedari tadi basah akibat menangisi Ellena yang dikiranya sudah mati. “Bukankah tadi jantungmu berhenti berdetak? Hiks.”


Ruby menanyakan itu masih dengan sesenggukan. Namun, jujur saja ia merasa bahagia sebab Ellena masih hidup dan Ruby tidak menanggung kesalahan lagi sendirian. Meski begitu, ia masih memegang tanggung jawab atas segala hal yang terjadi dengan Ellena ke depannya.


Sementara Ellena semakin menyeringai dengan tatapannya menatap Charlotte yang berdiri di depannya. “Kau pikir, aku bisa mati semudah itu? Jantungku memang diliputi kristal es, tetapi dia tidak berhenti berdetak! Aku masih ingat dengan kata-kata Miko, selagi jantung masih berdetak, berarti masih ada kesempatan untuk terus bergerak!”


“Aku pikir dirimu sudah mati, Ellie,” sedih Steven.


Ellena kembali menyeringai. “Jika aku mati, maka cerita ini akan berakhir dengan kisah menyedihkan! Everfalls terlalu indah untuk akhir yang sedih, maka dari itu, mari buat akhir yang bahagia!”


Kini, Ellena sudah mulai mengingat siapa itu Miko meski wajahnya masih samar-samar sebab Ellena terpengaruh akan sihir kutukan es itu. Namun, tak apa. Ellena ingat kalimat Miko dan ia memutuskan untuk tidak menyesal karena tak berjuang.


Meski lelah, Ellena akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk merebut kembali hak rakyat Everfalls yang selama ini sudah direnggut hampir seratus tahun.


Namun, Charlotte tidak tertarik lagi untuk menyerang Ellena. Ia melirik pada Ciel, seorang bocah elf tingkat dua yang menjadi sumber kebesaran akan kemarahannya hari ini. Angin di sekitar semakin ribut menerbangkan debu-debu beserta kerikil kecil, mengenai beberapa bagian istana nan kokoh ini.


Wus.


Wus.


Wus.


Mata Charlotte menyala meski ia seperti kehilangan cahaya kehidupan. Tatapan sengitnya hanya mengarah kepada Ciel di depan sana yang berusaha bangkit setelah sadar akibat hantaman kuat karena terhempas saat melawan sihir hitam milik Charlotte.


Di sisinya, Yuya juga berusaha membuka mata. Ia langsung terbelalak tatkala Charlotte berjalan mendekat penuh amarah. Segera, Yuya berdiri di depan Ciel, melindunginya.


“Berhenti, Ibu. Aku mohon,” pinta Yuya. Mata hijau dan kuningnya basah. Ia merasa bahwa Charlotte seperti bukan dirinya lagi.

__ADS_1


Sementara di dalam tubuh Charlotte, sebuah bisikan menggema. Charlotte seakan tengah berdiri di ruangan gelap. Sebuah suara mengajaknya berbicara.


“Lihatlah elf itu, bukankah dia mirip dengannya? Sudah jelas bahwa dia tidak mencintaimu, Charlotte!” Suara itu terus membuat Charlotte tenggelam dengan amarahnya.


“Tidak, tidak mungkin! Patan... Patan akan selalu mencintaiku!” tolak Charlotte dengan menutup telinganya.


Percakapan di ruangan gelap itu hanya Charlotte dan Sihir Hitam saja yang tahu. Roh Charlotte tengah berperang sendiri di dalam tubuhnya dengan Sihir Hitam yang selama ini mengendalikannya.


“Selama ini kau hidup berulang kali dengan nasib yang sama. Apa dirimu tidak kunjung sadar? Kau selalu mati sendirian di sebuah gua karena semua orang, termasuk kekasihmu tidak pernah mencintai dirimu. Mereka semua hanya memanfaatkanmu. Semua ras di negeri ini hanya ingin memanfaatkan dirimu yang naif!”


Semakin ke sini, Sihir Hitam kian menghasut Charlotte.


“Dirimu terus lahir dan terlahir kembali dengan kisah yang sama, bukankah itu berarti kau memang terlahir untuk tidak dicintai? Kau hanya menurut kepada Berkah yang sebenarnya tiada arti. Berhentilah bermimpi, Charlotte! Ratusan bahkan ribuan tahun kau hidup tapi berakhir dengan dikhianati! Jangan bertingkah polos!”


Charlotte termenung. Benar apa yang dikatakan oleh Sihir Hitam itu. Selama ini hanya ada kesakitan, ia tak merasa hidupnya berakhir dengan indah. Charlotte terlalu sering mendapat rasa sakit dari banyak orang.


“Padahal, selama ini kau sudah memberikan banyak kasih sayang kepada seluruh ras. Tapi, pria itu... pria itu telah mengkhianati ratu agung negeri ini!”


“Memang dia siapa hah bisa menyakiti ratuku?”


“Patan... Patan adalah pria yang baik!” sergah Charlotte, membela kekasihnya yang sangat ia cintai sampai saat ini meski telah memiliki seorang putra dari wanita lain.


“Apa kau gila?! Dia sudah memiliki seorang anak, Charlotte! Apa cinta membuatmu buta, huh?!”


“Ya, cinta akan selalu membutakan siapa saja!”


“Charlotte,” panggil Sihir Hitam mengundang perhatian Charlotte yang gemetar sebab ruangan ini begitu menyesakkan dan terdengar banyak suara aneh. “Cinta hanya berisi kesakitan! Selama dirimu tidak tersentuh cinta, maka kau akan baik-baik saja! Sudah bagus aku sarankan kau menjauh dari rakyat dengan mengangkat istanamu!”


Charlotte hanya menangis. Memang selama ini ia merasa hanya selalu tersakiti selama hidupnya. Ia terus mengulang cerita yang sama dengan orang yang berbeda. Meski begitu, rasa sakit tersebut selalu membawanya kembali hidup dan terus mengulang lagi tak pernah lelah.


“Apakah Tuhan membenciku?” isak Charlotte merasa dirinya sudah tidak dikasihani lagi.

__ADS_1


Sementara di luar tubuh Charlotte, semua orang tercengang sebab Charlotte mendadak pingsan. Segera, Steven memangku kepala sang bibi.


Wajah Charlotte nan putih tampak tengah kesakitan ditandai dengan rautnya yang mendadak berkerut seperti tidak nyaman. Semua orang pun berkumpul melihat Charlotte dari dekat sedangkan di sekitar terlihat kacau.


“Aku rasa, Ratu tengah berbicara dengan Sihir Hitam,” kata Ruby menebak setelah tangan mungilnya mendarat di atas kening Charlotte. Ia menggunakan sihir pembaca pikiran dan memang dirinya sedikit melihat bayang-bayang Charlotte dan juga Sihir Hitam tengah berbincang.


Namun, Ruby tidak bisa mendengar percakapan mereka.


“Semoga Ratu baik-baik saja,” harap semuanya.


Mendadak, Charlotte terbatuk dan mengeluarkan banyak darah. Sontak semua terkejut dan kian menaruh kecemasan kepada sang ratu negeri ini.


Detik berikutnya, mata Charlotte terbelalak. Terlebih, ia terkejut tatkala melihat banyak kepala tengah memandanginya dengan wajah cemas. Namun, mata Charlotte yang meredup tidak bisa melihat dengan jelas.


Selama ini, pandangannya kabur setelah bergabung dengan Sihir Hitam. Kehidupannya seperti direnggut, itulah konsekuensi yang didapatkannya.


Segera, Charlotte bangkit dan menyingkirkan dirinya dari pangkuan Steven. Kemudian, ia tenangkan suasana di sekitar dengan satu ucapannya, “Prohibere!”


Setelah satu suara lolos, suasana memang kembali tenang. Namun, Charlotte berkata, “Pergi, aku sedang tidak ingin melayani kalian!” katanya dengan tegas. Ia memegangi kepala, rasanya memang seperti mau pecah. Setelah mengatakan itu, Charlotte berlalu. Energinya sudah terkuras habis setelah melalui banyak drama menegangkan ini.


Ia kembali dan tidak memedulikan dengan para musuhnya. Yang ia inginkan hanyalah mengistirahatkan tubuh. Ia pun dibantu oleh para dayangnya, masuk kembali ke ruang singgasana.


Di balik punggungnya, semua mata tertuju pada dirinya yang tengah dipapah oleh dua dayang setia. Ellena menyayangi hal itu. Untuk ke sekian kalinya... mereka gagal lagi.


Mendadak.


Uhuk!


Ellena terbatuk dan tubuhnya limbung, tetapi dengan cepat ditangkap oleh Gao.


“ELLENA!”

__ADS_1


****


__ADS_2