
“Hahaha!” Bocah lelaki seusia Ellena yang bernama Gao itu tertawa bak iblis setelah keluar dari tanah Everfalls. Entah bagaimana caranya, ia yang bisa mengendalikan elemen tanah pun bisa berkolaborasi bersama tanah itu.
Semua orang kembali melindungi diri mereka sendiri di balik tembok-tembok atau kios yang sekiranya aman, kecuali tim Ellena yang masih berdiri menantang para prajurit istana yang menghalangi perjalanan mereka.
“Culik dia!” seru Gao seketika. Jari telunjuknya mengarah pada Ellena yang duduk melongo di depannya saking terkejutnya. Gadis itu masih berusaha mencerna keadaan. Bahkan, otak Ellena masih berusaha menerima kehadiran sosok lelaki yang keluar dari tanah itu.
Bagaimana Ellena bisa langsung terima, secara di dunianya hal itu sangat mustahil!
Glek.
Ellena meneguk salivanya sementara beberapa prajurit wanita menyerbu dirinya, membekuk gadis dari dunia lain itu. Ellena tidak berteriak atau memberontak, ia masih berusaha menerima keadaan yang sangat tiba-tiba ini.
Rasanya terlalu mendadak!
Sementara teman-teman Ellena yang lain berteriak, bahkan berusaha melawan dan menyerang para prajurit yang menghadang. Namun, mereka kalah.
Senyum Gao mengembang dengan sempurna, tatapan liciknya mengarah pada Ellena yang masih menganga seperti orang bodoh yang tidak tahu apa pun.
“Kau luar biasa, Gao!” Mendadak saja seseorang meremas pundaknya. Ia adalah Gall, si orc yang disebut juga sebagai Komandan Istana. Ia mengelus janggutnya yang panjangnya sedada. Sambil terkekeh, ia juga merasa puas melihat Ellena yang tadinya seperti dirasuki oleh roh lain, kini malah pasrah di bawah perintah Gao.
“Kau... tetap di sini!” Gao menepis tangan Gall di atas pundaknya. “Menangkap satu hama saja lama sekali! Apa kau tahu, Ratu merasa gelisah karena hama ini selalu mengganggunya.”
Tampak wajah kesal dari bocah tampan berusia 16 tahun itu. Meski usianya muda, Gao sudah menjadi Kepala Laboratorium. Ia juga pengendali elemen tanah, prestasinya luar biasa. Berbeda dengan Steven yang lebih tua dua tahun darinya.
Ia adalah anak angkat Charlotte yang juga menjadi bagian istana, meski begitu Charlotte tidak begitu menunjukkan kasih sayangnya sebagai ibu sebab ia sangat teguh pendirian sebagai wanita yang memiliki kuasa. Namun, Gao juga tidak terlalu terbebani hati sebab ia tahu bahwa Charlotte menjaga marwahnya. Gao sebagai anak jenius harus memiliki tata krama yang tinggi.
“Hai, Udang!” seru Ellena, mengundang perhatian Gao dan Gall yang berdebat sendiri. “Lepaskan aku!” Ellena sudah mulai sadar dan memahami situasi sekarang. Ia mulai berusaha memberontak meski cengkeraman prajurit wanita yang setara dengan seratus pria itu tidak bisa ia tandingi begitu saja.
Melihat Ellena mulai berontak dan teman-temannya menyeru untuk melepaskan ‘kucing kecil’, Gao berjalan mendekat. Senyumnya kembali melebar. Tampak hangat, tetapi sebenarnya itu adalah senyum tipuan.
Gao mengangkat dagu Ellena agar tatapan gadis itu mengarah khusus kepadanya.
__ADS_1
Deg.
Deg.
Deg.
Sejenak Ellena memang terpana akan ketampanan lelaki di hadapannya. Mata coklat Gao bersinar dengan hangat. Ellena sebenarnya merasa bahwa lelaki yang dipanggil Gao ini adalah seseorang yang baik meski pada dasarnya sikap lelaki itu sangat kasar.
“Aku akan memberikan tempat yang hangat bagimu, Kucing Kecilku yang manis.” Senyum Gao merekah begitu indah, membuat jantung Ellena berdebar tak karuan. Bahkan, mungkin bisa jadi jantungnya lepas dari tempatnya.
Kedua pipi Ellena merona, baru kali ini ia dipanggil ‘Kucing Kecil’ dengan senyuman manis dari seorang lelaki tampan. Ah, Ellena dibuat frustrasi oleh Gao meski saat ini situasinya sangat genting.
“Lepaskan Ellena, dasar bedebah!” maki Leonie. Ia tak terima bahwa Ellena akan diculik oleh Gao The Alchemist.
Gao pun melirik pada Leonie. Matanya menatap sungkan, lalu ia menghela napas. “Apa masalahmu, singa betina?” Gao tampak enggan meladeni Ellena yang saat ini dihalangi oleh dua prajurit wanita berotot.
“Kau pikir, dirimu tampan, hah?! Kau dan Varl sama-sama menyebalkan!” Leonie terus memaki.
Kacau.
Situasi menjadi semakin tegang.
Ellena berusaha berontak, teman-temannya juga hendak menyerang. Di sisi lain, Steven berdiri dengan bermuram durja. Kedua tangannya mengepal kuat. Dadanya bergemuruh. Sesak.
“Lepaskan dia, Gao!” teriaknya membuat semua orang terkejut. Steven yang sedari tadi diam dan tampak lemah, suaranya mampu memanipulasi orang-orang. Ia mengundang banyak perhatian dengan suaranya yang lantang. Memang wibawa seorang calon raja terkadang tampak dari dirinya.
Namun, Gao hanya melirik sekilas. Bola matanya memutar sungkan. Ia hanya menyeringai. “Ada apa, Yang Mulia? Apa dia ini kekasihmu?”
“Tidak!” sergah Steven dengan cepat. “Apakah Ibunda Ratu yang menyuruhmu?” Tatapan Steven menukik ke arah Gao. Keduanya saling memberikan sinyal sengit masing-masing. Meski seperti kakak-beradik, tetapi keduanya tidak pernah akur.
Hening.
__ADS_1
Mereka masih saling menatap penuh dengan kebencian yang mendalam. Hingga pada akhirnya, Gao mulai membuka mulut. Ia mengakhiri adu tatap dengan pangeran negeri Everfalls.
“Aku sendiri yang meminta, tapi Ibunda Agung menyetujui.” Gao menjawab dengan santai. Ia bahkan sesekali bermain dengan sihir bolanya yang ia keluarkan, lalu disimpannya lagi. Benar-benar seperti tidak menghiraukan perkataan Steven.
“Cih.” Tampak kekesalan di raut wajah Steven. “Bilang pada Ibunda, kami tidak akan gentar!”
“Oh iya? Kalau begitu, aku akan segera membawanya untuk kucincang dan aku teliti. Lalu, kalian tidak punya harapan lagi.” Setelah mengatakan itu, Gao terbahak-bahak. Hanya dia yang tertawa. Suaranya menggema. Sementara di sekitar, orang-orang bergetar ketakutan.
Gao juga dikenal dengan si alkemis yang kejam dan dingin. Ia tidak akan memberi ampun pada siapa pun jika ada yang mengganggu penelitiannya. Ya, Gao sering meneliti banyak hal. Ia tidak akan melepas kelinci percobaannya hingga ia menemukan hasil. Bisa disebut, Gao adalah si alkemis psikopat. Mungkin?
Tatapan Gao menjadi tajam. Seringainya terus mengembang. Di pikirannya, ia sudah menyusun banyak cara demi meneliti Ellena yang ia dengar bahwa gadis itu tidak memiliki berkah, tetapi mampu mengendalikan angin Everfalls, bahkan angin itu menolak tunduk pada penguasa negeri ini.
“Aku bilang lepaskan dia, ya lepaskan, Gao!” Meski Steven berteriak demikian, Gao tidak mendengarkannya. Ia sudah sangat terobsesi dengan gadis aneh ini, Ellena.
Tanpa menunggu lagi, Gao segera mengambil tindakan. Ia membawa Ellena dan seluruh prajurit ke istana awan milik Charlotte, kecuali Gall. Gao membuatnya mendapat hukuman untuk tetap tinggal bersama tim Ellena yang tersisa.
Wus.
Wus.
Wus.
Gao dan seluruh prajurit terbang, menembus angin. Suara tawa Gao yang seperti iblis terpuaskan juga menggema, memenuhi langit Everfalls. Ia merasa sangat puas mendapat mangsa berkualitas tinggi.
Hatinya berbunga-bunga, akhirnya ia bisa meneliti sesuatu yang baru!
“Tidak, tolong akuuuuuuuu!” jerit Ellena yang sudah menjauh dari daratan. Sementara teman-temannya hanya berteriak memanggil Ellena.
“ELLENA!”
****
__ADS_1