
Kembali pada saat Varl terjatuh dari istana Charlotte karena menukar nyawanya dengan pembebasan sihir perbudakan kepada Elise.
Wus.
Varl terjun dengan menutup mata. Ia sudah sangat pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Sementara di sisi lain, mendadak Ciel membuka mata dengan menarik napas begitu dalam. Dadanya sedikit terangkat. Ia terbangun karena mendengar Varl sudah memasrahkan hidupnya. Ia bisa mendengar itu sebab mereka terhubung secara batin karena sudah saling bertukar darah di atas tanda Berkah.
Ciel segera bangkit. “VARL!” teriaknya seraya menangisi kepergian Varl yang sudah seperti ayahnya sendiri.
Tiba-tiba saja.
“Apa yang kau tunggu, cepat selamatkan dia! Apa kamu mau kehilangan orang-orang yang kamu sayangi lagi?! Menangis saja tidak akan menyelesaikan masalahmu!” kata Yuya yang juga baru saja terbangun dari rasa sakitnya akibat diserang oleh Charlotte.
“Bagaimana... bagaimana bisa aku menyelamatkannya?!” Ciel tampak panik. Mata bulatnya sudah basah.
“Ikuti aku! Meski aku tidak tahu sudah terjadi apa saja di sini, setidaknya aku akan menyelamatkan pengembara itu karena dia masih takut dengan Navi dan Pyon!” Yuya mengeratkan giginya.
Kemudian, Navi si tarantula dan Pyon si kelabang muncul dari balik tas kecil Yuya, tak ketinggalan Momo si Quinkanna juga muncul.
Sontak saja Ciel membelalakkan matanya. “Kenapa... hewan-hewan itu ada padamu?”
“Haish, aku itu pawang serangga. Mereka adalah tiga hewan suci, kau tahu?! Apa kamu ingat tentang legenda Pertarungan Hitam?”
“Peperangan antar penyihir yang terjadi ribuan tahun lalu di Nolaria?”
Yuya mengangguk. “Ya, lalu tibalah penyihir suci yang membawa tiga hewan suci untuk melenyapkan para penyihir hitam yang hanya merusak saja. Akhirnya penyihir suci pun melakukan ritual dengan bantuan tiga hewan ini.”
Mendengar hal itu, mata Ciel berbinar. “Lalu?”
“Sepertinya Ibuku sedang membutuhkanku. Aku terbangun setelah mendengar bahwa Ibu sedang kesusahan. Batinku dengan batinnya sudah tersambung, sepertinya Sihir Hitam sudah keluar dari tubuh Yang Mulia!” Kini mata Yuya yang bersinar terang.
Namun, detik berikutnya ia kembali memasang wajah serius.
“Tapi, sebelum itu kita harus melakukan sesuatu hal yang besar. Apa kamu siap berkorban untuk menyelamatkan nyawa Paman Varl?”
Tanpa ragu, Ciel mengangguk dengan cepat.
“Kalau begitu ikuti aku!”
Yuya menuju ke ruang singgasana Charlotte yang tak jauh dari ruang pengobatan. Istana Charlotte hampir saja runtuh, bahkan angin saja ikut mengamuk. Semua tampak kacau di sini, tetapi Yuya tidak gentar. Ia mengajak Ciel dan membawa ketiga hewan suci ke ruang singgasana Charlotte.
Akhirnya, keduanya sampai tanpa memakan waktu yang lama. Di depan sana, tampak singgasana agung yang biasa diduduki Charlotte. Meski istana sang ratu sedang berkecamuk, tetapi singgasananya masih berdiri kokoh.
“Ibu bilang, di singgasana inilah kita bisa teleportasi ke mana saja.” Yuya berlari mendekat kepada singgasana yang dilapisi emas putih dan ukiran bulu merak.
Kemudian, ia duduk di atas sana meskipun kakinya yang kecil tidak sampai hingga ke lantai.
“Ayo duduk di sini, Ciel,” ajaknya. Tanpa ragu, Ciel pun menurut. Ia segera mengikuti Yuya yang duduk di atas singgasana mewah itu.
Tak berapa lama...
__ADS_1
Wus!
Dalam sekejap mereka berpindah tempat di bawah Varl yang masih dalam keadaan terjun dan hampir sampai ke atas tanah. Melihat itu, Ciel melotot hebat.
“Varl!” teriaknya panik.
Sementara Yuya langsung memerintahkan Navi untuk memperbesar ukurannya dan...
Plop!
Pada detik terakhir, Varl yang hampir menyentuh tanah pun tidak jadi. Ia malah jatuh di atas tubuh Navi yang empuk tetapi diliputi bulu-bulu halusnya.
“Argh!” teriak Varl.
Namun...
“Berhenti berteriak, Paman sudah selamat,” kata Yuya.
Mendengar itu, Varl bangkit. Kemudian, ia memeriksa seluruh tubuhnya yang masih utuh. “Aku... aku selamat?!”
Varl memasang wajah heran yang dicampur kesal. Ia mengerutkan keningnya.
“Kenapa kamu menyelamatkanku dan... apa ini?!” Pria berambut ikal itu masih belum sadar bahwa ia sedang berada di atas tubuh Navi.
Dalam beberapa saat, Varl mencoba menganalisis. Badan hitam dengan rambut halusnya, siapa lagi jika bukan Navi?
Mengetahui fakta itu, Varl langsung melompat sambil bergidik. Semua bulu kuduknya berdiri merinding.
“Bersyukurlah, Paman!” Yuya cemberut.
Namun...
“Apa yang membuatmu melakukan ini? Jika aku tidak mati, maka... maka Elise—”
“Paman menyukai Elise, bukan?”
“Ha?” Varl menautkan alisnya.
“Jika Paman menyukainya, apa Paman akan membuat Kak Elise bersedih akan kematianmu?” Yuya masih menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Apa maksudmu? Aku menukar nyawaku agar Elise bebas dan—”
“Masih ada cara yang lain.” Yuya mengetuk-ketuk pelipisnya. “Seperti halnya lalat, masih banyak cara bagi lalat untuk mencari jalan keluar saat dia terkurung di dalam rumah!”
Masih dalam keadaan bingung, Varl terus mendengarkan meski ia sebenarnya tidak tahu maksud Yuya. Sebab, yang ia tahu beginilah cara yang benar untuk melepas sihir perbudakan itu.
“Ciel.” Yuya memerintahkan. Kemudian, Ciel langsung maju dan menyerahkan sebuah kristal hijau miliknya yang pernah tertanam di dalam dadanya. Itu adalah kristal khas elf yang sangat berarti seperti tanda Berkah.
“A-apa maksudnya?” Varl jadi panik.
__ADS_1
“Varl dengar.” Mata Ciel sudah basah. “Kristal elf adalah kristal paling berharga di antara yang lain. Kristal elf sama berharganya dengan satu nyawa.”
“C-Ciel... apa maksudmu?” Varl masih kebingungan dengan penjelasan Ciel tadi.
Namun, karena Ciel tak sanggup mengukir aksara, jadilah Yuya yang menjelaskan. “Sihir perbudakan Elise akan tetap berakhir tanpa mengorbankan nyawamu, Paman Varl.” Yuya menghela napas sejenak. “Tapi, Ciel yang akan mengorbankan kristal miliknya.”
“Hah, jangan bodoh!”
“Aku tidak bodoh!” teriak Ciel menolak perkataan Varl. “Kristal ini memang ditakdirkan untuk membantu kalian mulai dari membuka pintu portal ke istana Ratu dan juga menyelamatkan nyawamu, Varl!”
“Kenapa jadi begini?”
“Ayah dan Ibuku merasa bersalah karena mengkhianati Ratu Charlotte, sehingga saat aku lahir, takdirku memang menjadi pengorbanan pada saat-saat terakhir!”
Glek.
Varl meneguk salivanya dengan kasar.
“Aku ditakdirkan untuk menjadi senjata terakhir kalian. Kristal ini akan menukar sihir itu dan kau tetap hidup, Varl!”
“Kenapa? Semua... semua ini memang salahku dan akulah yang harus—”
“Berhenti mengoceh dan lakukan saja penghapusan kontrak sihir itu!” Ciel menyodorkan dengan paksa kristal hijau miliknya.
“Tapi, jika kamu kehilangan kristal ini... maka kamu tidak akan bisa melakukan sihir bahkan Nilai Kehidupanmu akan berkurang.”
“Tidak apa-apa! Umurku sudah ratusan tahun, aku sudah bosan hidup. Tetapi dirimu masih muda, Varl. Menikah dan punya anaklah, aku akan berbahagia di atas sana.”
“Jangan berkata seperti itu, Ciel! Kita sudah seperti saudara!”
“Varl, dirimu lebih penting! Aku mungkin tidak bisa melakukan sihir, tetapi aku bisa berlatih senjata lain untuk melindungi diriku sendiri dan Nilai Kehidupan seorang elf sangat panjang, jadi jika berkurang sedikit itu tidak akan jadi masalah. Aku... aku ingin hidup sampai melihatmu bahagia saja. Maka, cepat lakukanlah!” Ciel semakin memaksa.
“BAIKLAH!” kata Varl dengan terpaksa juga. Ia mengambil kristal itu dengan paksa sambil menahan hatinya yang tersayat-sayat. Namun, benar juga. Nilai kehidupan atau umur Ciel sebagai elf masih banyak, jika berkurang sedikit hanya karena tidak memiliki kristal elf maka tidak begitu jadi masalah.
Varl pun melukis lingkaran sihir dengan diameter yang kecil. Kemudian, ia meletakkan kristal hijau milik Ciel. Setelah itu, ia menyayat sedikit jarinya untuk meneteskan darah hingga menyelimuti kristal tersebut.
Tak berapa lama, Varl mulai membaca mantra. Seketika cahaya putih bersinar dari lingkaran sihir dan...
Krak!
Kristal itu pecah dalam sekejap yang menandakan bahwa pertukaran antar kristal elf dengan sihir perbudakan pun selesai. Sihir perbudakan telah hilang dan nyawa Varl sudah aman, tetapi ia masih menyayangkan pengorbanan Ciel itu.
Kemudian, Varl bangkit sambil menahan isak. Dadanya terasa sesak, ia tidak sanggup menatap wajah Ciel. Ia pun berlalu meninggalkan Yuya dan Ciel yang tersenyum lega melihat Varl bisa sehat kembali.
“Jangan pernah mengejar atau mengikuti aku!” kata Varl tanpa menatap kedua bocah itu.
“Baik. Aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi besok datanglah saat penobatan dan temuilah Ellie karena dia yang paling mencemaskanmu!” teriak Ciel.
“Ellie?”
__ADS_1
****