CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Tidak Gentar


__ADS_3

“Aaaaaaaaaaaaaah!” Ellena berteriak di ruang kosong udara. Wajahnya menabrak angin yang berlawanan arah. “Tidak, aku bakal mati iniiiiiii!”


Ellena tidak bisa menghentikan tubuhnya yang terus terjun ke bawah. Bayangan di kepalanya hanya ada akhir saja, entah ia akan mati atau bangun dari bunga tidurnya. Ya, Ellena masih mengira bahwa ini adalah mimpi.


“Tapi... ini terlalu nyataaaa!”


Ellena merasakan semuanya seakan ini bukanlah mimpi semata. Ia tidak pernah mengira bahwa mimpi ini sangat terasa. Apakah mimpi ini bisa disebut dengan Lucid Dream? Namun, itu tidaklah mungkin!


“Jika itu benar, yang namanya mimpi tidak akan senyata ini!” Ellena menolak di dalam hati. Ia pun memejamkan mata, berpasrah pada takdir yang akan menimpanya di depan sana. Rasa-rasanya memang hanya itu yang bisa ia lakukan.


Ia pejam matanya dengan kuat dan berusaha menghilangkan segala hal yang sebenarnya belum tentu terjadi. “Hapuslah pikiran buruk itu, Ellie! Ingat kata Miko, masa depan bukanlah sesuatu yang perlu dicemaskan! Tapi, tanamkanlah kepercayaan pada masa depanmu! Ya, belum tentu aku akan mati dengan terjun jika memang takdirku tidak berkata begitu! Ya, aku tidak akan berakhir sebelum takdir yang mengatakannya!”


Ellena membelalakkan mata, melawan udara yang bertabrakan dengannya. Perih sih, tetapi Ellena harus menghadapinya dengan tekad bulatnya bahwa ia yakin tidak akan terjadi apa pun selama itu memang bukan takdirnya.


Mendadak, sekelebat ingatan muncul. Ya, ingatan itu tentang bagaimana ia sampai di dunia ini. Ellena sampai tersentak saat ingatan itu tiba-tiba saja lewat.


“Te-teman-teman?!” Ellena mulai tahu siapa orang-orang yang selama ini ada di sampingnya, membersama dirinya dalam misi berat ini yang seringkali gagal dan jungkir balik hingga nyawa yang jadi taruhannya.


Setetes air mata mulai tampak, Ellena merasa bersalah karena telah melupakan petualangan epik bersama dengan teman-teman barunya yang selama ini bahu-membahu membantunya menyelesaikan misi.


“Maafkan aku,” lirih Ellena. Ia merasa bodoh karena tidak mengenali kawan seperjuangannya.


Namun, tidak sepenuhnya Ellena menyerah. Meski tubuhnya saat ini masih berada di tengah-tengah udara, ia masih bisa berpikir jernih.


“Tidak, aku bukannya lupa dengan semua yang ada, hanya saja... aku yakin kutukan es yang menutup ingatanku!” Ellena sudah tahu mengapa ia bisa sampai melupakan sepotong memorinya bersama teman-temannya. “Semua terlalu indah dilupakan dan aku tidak mau cerita ini berakhir menyedihkan dengan diriku yang mati!”


Tanpa berpikir dua kali, Ellena segera mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kuat. Ia tengah memanggil angin untuk membantunya. Ia tidak akan lengah lagi!

__ADS_1


Segera saja, angin di sekitar mulai membentuk seperti ****** beliung kecil sementara udara yang mempersempit ruang gerak Ellena saat terjatuh kini berpisah sehingga Ellena lebih cepat terjun ke bawah.


Namun, di bawah sana beliung kecil sudah siap menangkap Ellena.


Wus.


Beliung itu menahan tubuh Ellena, lalu meletakkannya dengan perlahan di atas tanah. Akhirnya, Ellena bisa selamat setelah beberapa saat berperang dengan udara di atas sana setelah terhempas akibat serangan Sihir Hitam.


Namun, Ellena tercengang bukan main saat dirinya berdiri setelah jatuh dari ketinggian. Ia menatap patung kuda yang sedang berpose seperti tengah menyerang. Patung tersebut tak lain adalah Kuro si kuda hitam milik istana yang hidupnya seratus persen didedikasikan hanya untuk istana kecuali pihak istana melenceng.


Ukiran detailnya yang indah membuat hati Ellena miris seketika, berdenyut nyeri melihat kuda tersebut dengan tampangnya yang tampan dan gagah.


“Kuro,” lirih Ellena. Air matanya mengalir dengan deras, hatinya seperti diremas-remas. “Andai saja aku tidak mengajakmu waktu itu.” Ellena menutup mulutnya, menahan isak tangis yang menyesakkan dada.


Dari atas sana, Manta mendekat. Ia yang awalnya sebesar bukit, kini mengubah ukuran tubuhnya agak lebih kecil setelah menurunkan para penumpangnya. Ya, ia membawa Charlotte dan yang lain turun ke bawah untuk melihat kondisi Ellena yang ternyata gadis itu malah tengah menangisi sesuatu yang lain, kecuali Mae yang mendadak memisahkan diri.


“Kuro, maafkan aku, hiks.” Tangis Ellena semakin pecah. Lututnya melemas seketika, ia pun ambruk di hadapan Kuro yang dengan gagah hendak menyerang untuk menyelamatkan Ellena waktu itu.


“Ellie,” panggil Steven. Ia berjalan mendekat sebagai seorang teman dan juga calon raja Everfalls.


Setelah sampai, Steven meremas pundak Ellena dari belakang.


“Ellie, Kuro... Kuro sudah—”


“Siapa yang berani bilang bahwa Kuro sudah mati?! Kuro masih hidup dan aku... aku percaya itu! Tidak ada yang boleh mengatakan bahwa Kuro sudah mati atau aku yang akan memusnahkan mulut itu!” Ellena berusaha bangkit. Jemarinya yang semakin membeku, kini menyentuh wajah Kuro.


Ia menangis di wajah kuda itu, merasa bersalah. Kuro rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan Ellena. Sampai kapan pun, gadis itu selalu merasa bersalah.

__ADS_1


“Tunggu, jika Ellie tahu tentang Kuro, berarti dia sudah ingat dengan kita semua?!” Hanae baru menyadari itu.


“Ya!” Ellena menoleh. “Aku sudah ingat dengan semuanya! Pertemuan kita dan perjalanan menegangkan ini... aku ingat semuanya!”


Tiba-tiba saja tatapan Ellena kembali menajam. Manik birunya menyorot penuh dendam. Api semangatnya membara.


“Dan semua kekacauan ini terjadi karena KAU!” Ellena menunjuk kepada Charlotte yang berdiri tanpa rasa takut sedikit pun.


Tidak, sebenarnya Ellena tidak menunjuk langsung kepada ratu negeri ini melainkan Sihir Hitam yang bersembunyi di balik bayang-bayang Charlotte dan Ellena bertekad bahwa ia akan segera melenyapkan Sihir Hitam.


“Hah, yang benar saja!” Sihir Hitam terkekeh penuh kebanggaan di balik tubuh Charlotte yang sudah seperti boneka saja. “Kamu pikir dengan tubuhmu yang lemah, kau bisa melenyapkan aku? Jangan mimpi!”


Meski Sihir Hitam tampak angkuh menyapa tantangan Ellena, tetapi gadis dari dunia lain itu tidak gentar. Ia terus maju meski saat ini ia menggigil karena kutukan es abadi itu yang selalu menyerangnya.


Sesekali Ellena mengaduh kesakitan karena jantungnya semakin diselimuti oleh kristal es, meski begitu Ellena tidak menyerah. Ia melawan rasa sakit dan dingin yang terus menyerang tubuhnya.


Cukup sudah, ia segera mengakhiri semua drama ini.


Sambil melangkah untuk mendekat kepada Sihir Hitam, Ellena mengundang para angin untuk bergabung dengannya. Meski ia tidak merapal mantra, angin sudah tahu apa yang diinginkan Ellena melalui gerakan tangannya yang melebar seakan mengundang mereka secara diam-diam.


Sontak saja, angin ribut di belakang tubuh Ellena. Sementara yang lain menutup wajah karena angin beliung begitu dahsyat mengamuk sebagaimana kemurkaan Ellena.


“Kita akhiri saja semua ini, Sihir Hitam!” Ellena mulai berteriak lantang.


“Oh ya? Tapi sebenarnya, melawanku hanyalah kesia-siaan, Ellena!” Sihir Hitam kembali terkekeh.


Mendengar itu, Ellena mengerutkan keningnya. “Sia-sia?”

__ADS_1


“Ya, selama ini dirimu hanya membuang waktu saja, Ellena. Aku bukanlah lawanmu yang sesungguhnya. Hahahahaha.”


****


__ADS_2