
Beberapa saat sebelumnya.
“Mae, pegang tangan kirinya dan Hanae pegang tangan kanannya!” komando Leonie di sebuah tavern Pasar Kota. Mata tajam khas singa itu menukik pada mangsa yang telah didapatkan dengan peluh keringat.
Mendengar perintah itu, segera saja Hanae dan Mae mengikutinya tanpa berpikir dua kali. Sigap. Mereka membekuk seseorang yang tak lain adalah Gall dari ras orc. Tubuhnya yang sampai empat kali lipat dari kedua gadis itu pun tetap berusaha dihalau pergerakannya oleh mereka.
Di pojok tavern, dua puluh prajurit wanita sudah diikat dalam satu benang putih semalaman. Bahkan, mereka tak mampu melawan betapa lengketnya jaring yang berubah jadi tali itu dari tangan seorang gadis kecil, Yuya.
Sementara orang-orang di dalam tavern hanya menonton pertunjukkan yang tak pernah terjadi ini. Sebuah pemandangan agung bagi rakyat biasa seperti mereka. Bagaimana tidak, Gall yang berdiri dengan congkak kini mengerut di hadapan sang raja hutan, Leonie.
Di sisi yang lebih sepi, Steven hanya berdiri menyender tembok kayu sembari menyeruput minuman bersoda. Dari kemarin, ia hanya diam melihat aksi teman-teman barunya dan para prajurit istana.
Kedua tangan Leonie memegang pinggangnya. “Kau melakukan apa pada Ellie dan teman-temanku yang lain? Mengapa mereka belum juga kembali, hah?!” Saking kesalnya, Leonie mulai menarik janggut orc tersebut yang saat ini mengambil posisi duduk, bersimpuh.
“Aw... aw! Hentikan, Kucing Bau!” maki si orc dengan sengit.
Mendengar kalimat penghinaan itu, Leonie tak memberi ampun.
“Apa kau bilang?! Aku kucing bau? Kaulah orc yang sangat menjijikkan! Inilah sebabnya aku benci ras orc karena mereka selalu congkak!” Lagi, Leonie menarik janggut si orc sampai pria yang dijuluki Komandan Istana itu meraung kesakitan.
Di sisi lain, Mae berbisik pada Hanae, “Sungguh mengerikan Kak Leonie ini.”
“Betul. Aku jadi takut.” Seketika bulu kuduk kedua gadis itu meremang, bergidik ngeri.
Orang-orang bersorak. Akhirnya si pengacau kalah di hadapan Leonie si Raja Hutan Kutukan. Sambil sesekali bersulang, mereka menyoraki keberanian kelompok Ellena.
Ah, ngomong-ngomong di Wolestria tidak ada singa yang dijuluki Ratu Hutan meskipun kepemimpian diambil alih oleh singa betina. Sebab, di sana singa betina maupun jantan sama saja.
“Mereka pasti sudah mati!” Si orc mulai memberi jawaban. “Jika sampai saat ini mereka tak kunjung kembali, sudah pasti mereka mati! Tahu sendiri, bukan? Ratu Charlotte tak akan mengampuni siapa saja yang menjadi hama di Everfalls dan kerajannya!”
Deg.
Semua mata mendelik, tak terkecuali.
Hening.
Tidak ada yang mampu membuka mulut, semua diam tetapi Leonie mencoba untuk yakin. Ya, Ellena yang ia lihat bukanlah gadis lemah. Bahkan, si singa betina itu amat mengagumi sosok Ellena.
Leonie pun kembali menarik jenggot si orc hingga...
__ADS_1
Bruk!
Kepala orc bertemu dengan lantai kayu tavern itu, membuat seisi ruangan tercengang. Bahkan, para prajurit hampir menjerit bersamaan.
“Jika Ellie mati, maka kau juga harus mati!” Tatapan Leonie kian
tajam. Bahkan bola mata yang berwarna jingga itu melotot, menukik pada orc yang masih mencium lantai sebab saat ini kaki besar Leonie menekan pundak si orc, menghalau pergerakannya.
Mendadak.
“Ngiiiiik!” Manu datang, mendobrak pintu tavern dengan kepalanya. Sayap si kuda putih itu berkibar cepat. Manu meringkik tanpa henti semakin meriuhkan suasana.
Seisi tavern pun langsung menoleh pada Manu. Kuda milik Varl itu tampak gelisah. Ia bahkan tidak berhenti mengepakkan sayapnya dengan cepat, menandakan seberapa genting saat ini.
Melihat teman satu rasnya tengah berusaha mengatakan sesuatu,
Momo si quinkana langsung merayap dan naik ke punggung Manu. Kemudian tangan kecilnya melambai seakan mengajak Leonie dan yang lain untuk segera bertindak.
Benar saja, tatkala mereka mendekat pada Manu, kuda itu segera
berlari ke sebuah gerobak kayu kecil milik salah satu warga. Di sana terlihat seorang wanita tua tersenyum seraya melambaikan tangan.
“Persiapkan diri kalian, kita akan bertempur!” Leonie mengepalkan tangannya yang disusul anggukan dari Hanae dan Mae tanpa penolakan sedikit pun. Sementara Steven hanya diam dan mengekor saja pada mereka, menurut.
Namun, sebelum semuanya naik, Leonie melupakan sesuatu. Ia pun kembali ke dalam tavern. Kemudian menarik si orc. “Kau juga harus ikut!”
“Hah?”
“Kau akan jadi jaminan!”
“Apa?! Kau kira aku barang, hah?!” kesal orc. Wajahnya bertekuk-tekuk, bermuram durja.
Leonie tak merespons lagi, ia menggeret orc itu dengan satu tangannya. Jangan salah, meski ia adalah singa betina, Leonie cukup kuat juga. Satu prajurit wanita tidak sebanding dengannya.
Srek.
Srek.
Dengan enteng wanita itu menyeret orc, lalu menaruhnya di atas gerobak.
__ADS_1
Buk.
Disusul oleh yang lain. Sontak saja, wajah Manu berubah. Ia seperti tercekik!
Bagaimana tidak, bebannya semakin berat, membuat kuda itu harus mengeluarkan tenaga ekstra. Jika Manu dapat berbicara, tentu ia akan mengatakan betapa tersiksanya ia harus membawa beban berat ini. Hidup bersama Varl juga beban, sekarang kuda putih itu kembali menanggungnya dengan beban gerobak akibat kelebihan muatan.
“Ayo jalan!” seru Leonie bergembira. Tangannya meninju ke atas.
Senyumnya merekah bahagia. Akhirnya ia bisa melakukan perjalanan kembali!
Sementara itu, meski dengan kaki yang gemetar karena kelebihan muatan, Manu tetap berjalan dengan perlahan. Bahkan, wajahnya tampak melemas karena ia harus membawa banyak beban di punggungnya.
Mereka menuju ke tanah yang pernah menjadi media Gao untuk menyerang Ellena dan teman-temannya. Di sana memang tanah tampak datar, tetapi jika dirapalkan mantra suci, maka terbukalah portal yang menghubungkan jalannya.
Dalam hal ini, Mae yang lebih ahli. Ia adalah elf tingkat tinggi yang hafal bermacam-macam mantra.
“Appare!” Seketika cahaya putih muncul dan lingkaran sihir terbentuk. Terbukalah tanah yang datar itu menjadi sebuah lubang. Tanpa pikir panjang lagi, semua masuk ke sana.
Begitu panjang dan gelap. Namun, dengan sihir Mae mereka tidak begitu khawatir sebab kristal di dahinya menyala seperti senter dalam dunia Ellena. Perjalanan begitu melelahkan hingga pada akhirnya, mereka keluar dan sampai di atas bukit tempat mereka tatkala pertama kali bertemu.
“Ah, ternyata di sini portal istana?!” Mae mengeratkan giginya dan mengepalkan tangan sebab ia kesal. Bagaimana tidak, beberapa kali tim mereka melewati tempat ini yang rupanya dilapisi sihir ilusi. Itu sebabnya portal tidak tampak.
Tanpa berpikir panjang lagi, mereka kembali berjalan untuk menembus portal. Namun, mendadak saja Gall berkata, “Kalian yakin ingin pergi ke sana? Kalian memang benar-benar sebuah tim, tapi apa kalian tetap akan mempercayai satu sama lain? Kalian tahu ‘kan apa yang menjadi alasan Ratu Charlotte mengangkat istananya ke langit?
Deg.
Seketika langkah mereka terhenti.
“Dengar, teman atau bukan, semua tak bisa dipercayai begitu saja—”
“Tak apa,” sergah Leonie cepat. “Kepercayaan memang ibarat seperti kaca yang pecah. Walau sudah diperbaiki, retak itu masih ada. Namun, kaca itu masih merefleksikan dirimu. Kau masih bisa melihat dirimu dalam kaca itu meskipun tidak sempurna.”
Leonie menghela napas sejenak untuk menjeda kalimatnya.
“Jadi, meski seseorang teman mengkhianatimu, masih ada kesempatan lain untuk terus membangun kepercayaan yang baru. Tidak peduli seberapa hancur kaca itu, jika masih diperbaiki dan dipakai kembali, mengapa tidak, bukan?”
Glek.
Semua mata tertuju pada Leonie.
__ADS_1
“Benar.”
****