CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Peperangan Dua Kubu


__ADS_3

Varl sekuat tenaga menahan serangan para dayang itu yang bahkan hampir menghancurkan perisai di tangannya. Tubuh Varl juga terdorong secara perlahan sebab kekuatan para dayang lebih besar daripada dirinya. Bagaimana tidak, jika bukan karena cincin yang melingkar di jarinya, Varl bisa terlempar jauh.


Ya, cincin itu mengeluarkan cahaya perak dan memberi Varl kekuatan lebih besar meski tidak begitu sebanding dengan sepuluh dayang yang menyerangnya brutal dan secara bersamaan, mengeroyok Ellena tetapi dihalau oleh Varl.


Melihat Varl tengah berjuang dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Ellena ikut membantu. Ia menahan tubuh Varl dari belakang, mendorongnya untuk tetap berada di tempat dan tak terlempar sebab kalah dari amarah para dayang Charlotte.


Lengan Ellena menjadi tegang, bahkan saat ini ia mulai gemetar. Tubuhnya tidak sanggup menahan Varl yang semakin mundur disebabkan serangan ganas para dayang Charlotte yang mengamuk.


Dari belakang tubuh Varl, Ellena sedikit mengintip pada Charlotte yang matanya mulai memerah, sementara aura hitam mengelilinginya. Charlotte tengah menutup kedua telinganya, agaknya ada sesuatu yang mengganggu wanita itu.


“Tidak! Jangan lakukan itu! Aku... aku... argh!” Charlotte terus menjerit kesakitan. Melihat itu, membuat Ellena cemas. Ia tak pernah melihat betapa kesakitannya si Charlotte yang selama ini hanya memasang wajah datar.


Ellena tidak pernah tahu apa yang Charlotte rasakan dan apa yang ada di dalam hatinya. Wajah Charlotte tidak pernah benar-benar mengungkapkannya dengan jujur. Marah pun, Charlotte tidak mengerutkan kening atau menautkan kedua alisnya. Datar, seperti kehilangan makna kehidupan.


Melihat itu, Ellena semakin ikut merasakan kepedihan yang Charlotte rasakan. Namun, posisinya di sini juga sedang terdesak!


Ellena tidak bisa melakukan apa pun, hanya berlindung di balik tubuh Varl dan perisai yang ada di tangan pria berambut ikal itu. Keringat Varl bahkan sudah membasahi pakaiannya. Urat nadi pria itu menyembul, seakan mengatakan bahwa ia tengah berjuang dengan keras.


Kemudian...


Ting!


Tang!


Dentingan antar besi mulai terdengar. Varl dan sepuluh dayang melakukan perlawanan sengit. Mereka menyerang Varl dengan senjata perak yang mampu menebas dan menghancurkan apa saja di depannya, sedangkan Varl hanya bertahan dengan perisai dan kekuatan dari cincin perak itu.


Kedua Ellena pun melotot. Situasi di sekitar benar-benar kacau. Ia tidak tahu harus bagaimana, mau meminta pertolongan pada angin rasanya sangat sulit. Angin saat ini tengah mengamuk tidak jelas di bawah kendali Charlotte.


Ellena tak bisa mengambil kendali itu. Beberapa kali Ellena memanggil mereka, meminta bantuan, tetapi tak ada sahutan yang pasti.


Argh, kesal!


Sementara di sisi lain, Charlotte juga kian kesakitan. Melihat itu, Ellena berlari mendekat, berusaha menolong sang penguasa negeri ini. Namun, baru beberapa langkah ia terhempas beberapa meter.

__ADS_1


Wus.


Tubuhnya menghantam tiang istana.


Bruk!


Ellena mengaduh kesakitan. Kepalanya mendadak pening, sedangkan bahu sebelah kanannya terasa hampir patah. Detik kemudian, darah keluar dari mulutnya. Uhuk! Ellena terbatuk dan seketika darah merah segar muncrat hingga mengenai jubahnya.


Perlahan, Ellena bangkit meski badannya seakan remuk. Ia tidak akan kalah dan siap menantang sihir hitam yang mulai memakan Charlotte lagi.


“Argh!” raung Ellena seraya bangkit dan berusaha menerjang kembali untuk mengalahkan rasa takut itu.


Namun...


Brak!


Lagi-lagi Ellena terbanting begitu keras. Kali ini ia mendarat hingga mencium tanah yang di sana terdapat batu kecil. Seketika, darahnya mengalir sebab keningnya menghantam batu tersebut.


Dan juga... sakit.


Ellena berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia melawan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Namun, saat ini ia hanya bisa berbaring dengan rasa sakit yang menjalar di setiap inci badannya.


Sejenak, Ellena melirik pada Varl yang masih berjuang melawan sepuluh dayang milik Charlotte. Kemudian, Ellena melihat Kuro yang sudah menjadi patung akibat sihir hitam itu. Sedih dan sangat menyakitkan.


Bulir bening pun meluruh seketika dari sudut matanya hingga jatuh membasahi tanah yang ditidurinya. Ellena menangis. Kuro menjadi korban keegoisannya.


“Kuro,” lirih Ellena menyesal. Andai saja ia tak membawa Kuro, pikirnya penuh penyesalan. Rasa sakit di dalam dada tidak lekang, sungguh Ellena tidak bisa memaafkan dirinya sendiri akan nasib Kuro yang seperti ini. Mau jawab apa Ellena pada teman-teman terutama Steven dan orang-orang istana itu?


Setelah meratapi nasib Kuro, Ellena menoleh ke sebelah kanannya. Di sana, ia melihat Charlotte terus merintih, tersiksa sendiri. Aura hitam berusaha menelannya bulat-bulat. Sementara di sekitar, angin masih ikutan ribut.


“ARGH!” teriak Ellena, membuat angin di sekitar kian mengalun dengan kacau tanpa aturan, membentuk badai besar yang membawa pasir dan debu. Hingga pada detik berikutnya...


Wus!

__ADS_1


Badai angin itu menghempaskan para dayang dan juga Charlotte yang sedari tadi tersiksa akibat sihir hitam yang hendak menguasainya lagi sepenuhnya.


Brak!


Ting!


Para dayang terlempar, begitu pula senjata mereka. Sementara Charlotte terbatuk sekali dan ia mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Tak hanya itu, hidungnya pun mulai meneteskan darah segarnya juga.


Seketika, kepala Charlotte sangat berat. Ia berusaha bangkit. Melihat itu, Ellena yang sedari tadi telentang di atas tanah, ia juga bangkit dan hendak menolong Charlotte. Namun, dalam sekejap Charlotte hilang beserta para dayangnya yang masih merintih kesakitan akibat terhempas dengan kencang oleh badai angin yang tercipta dari suara Ellena.


Cling!


Semua menghilang, tinggal Varl dan Ellena saja di tempat ini. Suasana kembali tenang, angin juga sudah menjadi diri mereka sendiri lagi. Ellena melepas kendalinya dan angin terbebas dari perintah siapa pun.


Melihat Ellena berdarah, Varl segera mendekat. Keringat pria itu bercucuran, tetapi ia berusaha menunjukkan diri bahwa ia baik-baik saja.


“Kamu tak apa, Ellena?” tanya Varl cemas dengan segera.


Ellena tidak menjawab apa pun, ia hanya menampakkan wajah sendunya dengan mata yang sudah basah. Jujur, ia tidak peduli akan rasa sakit di sekujur tubuhnya dan darah di keningnya. Ellena hanya sedih pada Kuro yang sudah berubah menjadi patung karena termakan sihir hitam milik Charlotte. Miris.


Telunjuk Ellena mengarah pada Kuro yang berpose tengah menyerang. Kuda hitam itu telah menjadi patung batu. Kepala Varl pun menoleh, mengikut ke mana telunjuk Ellena mengarah.


Kedua mata pria itu seketika terbelalak. Ia baru sadar bahwa patung itu adalah Kuro setelah diamati betul-betul. Segera, Manu yang sedari tadi hanya terbang dan menonton pertandingan itu di atas sebab ia tak memiliki kekuatan lebih pun langsung terjun setelah sadar bahwa temannya, Kuro telah berubah jadi batu.


Manu melesat cepat menuju Kuro. Kemudian, ia meringkik pada patung itu. Tatapannya ikut sendu. Melihat dua kuda yang sudah seperti keluarga semakin membuat Ellena menyalahkan dirinya sendiri akan nasib Kuro yang seperti itu.


“Maaf,” lirih Ellena. Air matanya berderai hebat. Sambil memegangi lengan kanannya yang hampir patah, Ellena sesenggukan. Ia menundukkan kepalanya dalam. Ah, andai saja, pikirnya selalu begitu.


Kemudian, Ellena mengangkat kepalanya, menatap Varl dengan binar penuh pengharapan meski matanya membengkak dan sangat basah.


“Varl... ayo selamatkan Kuro. Hwaaaaaaa!” Tangis Ellena semakin pecah, membuat Varl jadi resah.


****

__ADS_1


__ADS_2