
Tiba-tiba saja muncul seorang gadis dari balik Pohon Atma. Bukannya takut, Ellena malah melengkungkan senyumnya. Mata Ellena berbinar, satu kebahagiaan lagi ia rasakan.
“MAE?!” Ellena bangkit setelah gempa bumi dahsyat berhenti. Ia segera berlari mendekat gadis itu yang tak lain adalah Mae. Ellena langsung memeluknya dengan erat. Sementara Mae yang tadinya bermata hijau dengan cahaya sihir hijau di sekitar tubuhnya mendadak berubah jadi gadis polos seperti yang Ellena lihat selama ini.
“A-apa ini?! Mana sopan santunmu terhadap penjaga Pohon Atma?!” Mae tampak kesusahan dengan sikap Ellena yang mendadak itu.
“Kamu benaran Mae?! Ah, syukurlah, Tuhan! Kamu memang Mae yang polos!” Ellena mencubit kedua pipi Mae yang tampak elastis.
“Apwa ywang kwamu lakukwan swama lweluhurmu?!” Mae kesulitan bicara karena kedua pipinya ditarik oleh Ellena.
“Ah Mae sahabatku!” Ellena kembali memeluk Mae dengan erat. Sementara Mae mematung saja.
“Sahabat? Apa... itu?”
Ellena melepaskan pelukannya, lalu ia mengambil gelang persahabatan milik Mae yang dipakai oleh Zendaya. “Ini milikmu, aku kembalikan.” Dengan semangat Ellena menyodorkan gelang itu.
“Mi-milikku?”
“Ya, ini adalah milikmu, Mae.”
Dikarenakan Mae tidak segera menerimanya, Ellena jadi gemas. Ia langsung memakaikan gelang tersebut ke tangan Mae.
Mendadak, Mae melihat sekelebat memori. Ia memejamkan mata dan melihat semuanya yang pernah terjadi. Gelang itu membawakan ingatan Mae palsu. Meski Zendaya memakai wadah palsu berbentuk Mae, tetapi batin Mae palsu terhubung langsung dengan aslinya sehingga perasaan sang Mae palsu tersampaikan.
Deg.
Setelah melihat ingatan itu sekilas, Mae membuka matanya. “Haish si Zendaya bodoh itu! Dia masih senang cari masalah!” Mae mengepal tangannya seraya mengeratkan gigi, menahan kesal.
Namun, mendadak bulir bening luruh dari mata Mae yang hijau. Ia menangis. Hatinya tersentuh dengan semua itu. “Tapi... Terima kasih banyak, Ellie. Aku baru merasakan kehangatan ini selama hidupku puluhan ribu tahun,” kata Mae sesenggukan.
Mendengar itu, Ellena kembali memeluk Mae selama beberapa saat karena ia juga harus pergi dari dunia ini.
“Maaf Mae, waktuku sudah habis.” Ellena mendesah lesu setelah puas menyalurkan kerinduannya.
“Tapi Ellie, kita baru saja bertemu! Kamu tahu, semua orang perlahan melupakanmu karena kamu mencabut daun sejarahmu sendiri.”
“Tidak apa-apa, Mae. Aku hanya ingin Wolestria bahagia. Dilupakan atau melupakan itu sama saja, yang penting aku merasa sangat senang bisa melakukan petualangan bersama kalian.” Senyum Ellena melengkung indah.
Sementara di tempat lain.
Setelah penobatan Steven yang disaksikan oleh seluruh warga Everfalls, kini tibalah pemberian kehormatan pada teman-teman Ellena yang sudah berjuang membawa Charlotte kembali dan juga sampai merelakan nyawa. Namun, ada hal janggal.
“Di mana Ellie? Semua sudah berbaris rapi untuk menerima penghormatan dariku, tetapi ke mana dia?” Charlotte panik. Gall, Gao, Leonie, Hanae, Manu, Kuro, Navi, Pyon, Momo, Ciel, dan juga Yuya celingukan. Mereka mengecek satu persatu.
Namun... nihil!
Semuanya baru sadar bahwa Ellena dan Ruby menghilang!
“Ke mana Ellie?!” Semuanya jadi panik, bahkan warga Everfalls pun demikian. Para orc yang dahulu pernah melihat Ellena di tavern pun juga bertanya-tanya.
Kegaduhan akan bisik-bisik pun terdengar memadati Everfalls. Namun, Charlotte mengepalkan tangannya, kesal.
“Ini semua salahku! Jika... jika aku tidak melemparkan kutukan es abadi, maka... maka Ellena tidak akan kembali ke dunianya secepat ini!” tangis Charlotte pecah. Ia sampai ambruk di atas panggung penobatan.
Sementara semuanya tercengang.
__ADS_1
“Hah, apa Ellie kembali ke dunianya? Kenapa... kenapa dia tidak bilang pada kami?” Leonie mengepal tangannya juga, bahkan giginya sampai mengerat. Ia tampak begitu kesal.
“Ellie sama sekali tidak berpamitan juga. Apa dia membenci kita?” Hanae juga tak kalah kesalnya.
Semua orang mulai bertanya-tanya, mengapa Ellena pergi tanpa mengatakan apa pun?
“Aku tahu suatu saat dia akan kembali ke dunianya, tetapi bukan begini caranya. Kita juga berhak mengucapkan kalimat perpisahan!”
Mendadak.
“E-Ellie? Siapa itu?” tanya Gao seketika sembari memegang kepalanya. Ia merasakan bahwa otaknya seakan hampir pecah.
“Apa kamu gila?! Jangan bercanda!” Steven langsung menggoyang-goyangkan tubuh Gao, menyadarkannya dari lelucon yang sebenarnya tidak lucu. “Ellie adalah gadis yang sama-sama kita sukai! Setidaknya ingat namanya, Bodoh! Kenapa kamu bisa lupa—”
“Tunggu, aku juga tidak tahu siapa itu Ellie.” Hanae tiba-tiba saja ikut melupakan sosok Ellena. “Aku merasa sedikit akrab, tetapi aku tidak bisa mengingatnya dengan baik. Apa aku sudah melupakan sesuatu?”
Melihat itu, Steven menganga. Warga Everfalls juga menanyakan siapa itu Ellena yang dipanggil dengan Ellie. Rasanya tidak pernah ada nama itu di Everfalls, bahkan Wolestria.
“Kenapa... kenapa semuanya mendadak melupakan Ellie?! Apa kalian tidak sadar, hah?! Hentikan semua lelucon ini!” Steven murka. Namun, keadaan menjadi kacau karena orang-orang perlahan melupakan sosok Ellena.
Tiba-tiba.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantung Charlotte berdetak lebih kencang. Terdapat sekelebat bayangan akan masa lalu yang terlintas di pikirannya dengan cepat. Ia merasakan sesuatu yang bercahaya di dalam hatinya.
“Kristal... kristal... kristal.” Charlotte bergumam tak karuan. Semakin ia bergumam, semakin ingatan masa lalu muncul di kepalanya. Mendadak...
Mata perak Charlotte menyala, tanda Berkahnya juga memancarkan cahaya. Tiba-tiba saja ekor meraknya pun muncul. Semua sampai terkagum melihatnya.
“Aku sudah tahu siapa diriku,” kata Charlotte. “Aku adalah salah satu kristal Phoenix yang akan membuatnya mengakhiri tugas!” Mata perak Charlotte semakin menyala.
“Hah, apa yang Anda katakan, Yang Mulia?” Steven bertanya heran, di sisi lain ia juga panik karena satu persatu melupakan Ellena.
“Aku tidak akan membiarkan semua orang melupakan Ellie, aku juga akan tetap berperan sebagai kristal Phoenix untuk mengakhiri hidupnya!”
“Y-Yang Mulia, apa maksudmu?” Steven semakin tidak mengerti.
“Karena kesadaranku sebagai kristal sudah bangkit, maka aku terhubung dengan Phoenix! Ayo ikuti aku, Steven! Semua berpegangan tangan!” Tatapan Charlotte mendadak tajam dengan seringainya yang puas.
Kemudian, semua saling menautkan antar jari-jari dan... cling!
Akhirnya mereka sampai tepat di depan Pohon Atma dalam sekejap.
“Akhirnya kau di sini, Phoenix!” Charlotte menyeringai.
“Pho-Phoenix?” Sementara Ellena mengerutkan keningnya. Ia yang sudah berdiri di depan portal pun menyimpan rasa penasaran yang tinggi. Ia ingat betul cerita tentang kristal dan Phoenix itu.
Namun, mendadak saja.
“Cepat pergi dari sini, Ellie!” teriak Ruby seraya mendorongnya hingga Ellena masuk ke dalam portal.
__ADS_1
Wus.
“Ha... Ha... tapi Phoenix itu siapa?!” Suara Ellena perlahan menghilang.
Wus!
CLING!
Bruk!
“Woaaaaaaaaaaaaaah!”
Brak!
“Uh, aw... sakit sekali,” rintih Ellena. Ia membuka matanya dengan perlahan setelah melewati dimensi ke dimensi.
Mendadak.
“Ellie, apa kamu baik-baik saja?!” tanya seorang gadis yang tak lain adalah Miko. Ia memasang wajah penuh kecemasan. “Oh akhirnya kamu ditemukan setelah satu tahu menghilang.” Tangis Miko pecah. Ia langsung memeluk Ellena dengan erat.
Namun, Ellena langsung melepaskannya.
“Miko?” Ia menautkan alisnya, merasa heran. “Phoenix. Phoenix itu siapa?”
“Hah, Ellie apa kamu masih belum sadar?” Miko mendaratkan telapak tangannya di atas dahi Ellena untuk memeriksa suhu badannya. Namun, hasilnya normal.
“Phoenix itu siapa, Miko?!”
“Tunggu, Ellie. Selama ini kamu ke mana saja? Kamu hilang satu tahun ternyata kamu bersembunyi di dalam kardus yang kusimpan di lemari gudang lalu setelah kamu sadar kamu menanyakan Phoenix? Ya Tuhan, ada apa ini? Ellena, kamu sepertinya harus ke dokter.”
“Tidak, Miko! Aku... aku ke dunianya Ratu Charlotte dan di akhir, aku hampir saja tahu siapa itu Phoenix!” Ellena kukuh dengan pendiriannya. Mungkin akan terdengar sangat aneh bagi Miko, tetapi memang apa sih yang tidak aneh dari Wolestria?
“Phoenix? Oh Tuhan, yang benar saja!” Miko gemas. “Apa kamu belum tahu Phoenix? Phoenix ya burung api legendaris yang hanya di dongeng saja, Ellie.” Miko membereskan kardus-kardus yang berantakan.
Mereka berdua memang sedang berada di gudang yang berisi banyak kardus. Miko tadinya berniat untuk membersihkan gudang tersebut. Namun, mendadak saja ia mendengar suara gaduh dari lemari yang rupanya di sana ada Ellena yang sudah hilang selama setahun.
“Tidak, Miko. Bukan seperti itu ceritanya! Tolong... tolong dengarkan aku!”
“Haish.” Miko mendesah lagi. “Lebih baik kamu keluar dari kardus dulu, Ellie.”
Miko membantu Ellena bangkit.
“Miko, dengarkan aku! Ratu Charlote, dunia Wolestria, Ruby, semuanya—”
“Huft, kamu semakin aneh saja, Ellie. Aku tidak tahu nama-nama itu. Lagi pula kenapa rambutmu memutih dan... kalung apa itu? Kenapa seperti menyala di dalam gelap?”
“Memutih?” Ellena mengelus rambutnya, tidak terasa dingin seperti sebelumnya. Kemudian, ia ingat sesuatu. “Ya, ini dia! Aku mendapat kutukan es abadi sehingga rambutku memutih. Tanganku juga beku waktu itu, tapi karena aku sudah berada di duniaku, sehingga semua tidak berarti lagi. Dan ini.. lihatlah kalung Ruby ini. Aku bisa pulang kembali—”
“Ellie...” Miko semakin memasang wajah cemas. “Aku akan segera membawamu ke dokter, ya.” Miko pun menarik tangan Ellena dengan lembut.
“Miko, apa kamu tidak percaya padaku? Miko, aku akan menceritakan segalanya!”
“Tidak perlu, Ellie.”
Miko semakin membawa Ellena keluar dari gudang. Sementara semua orang menatap mereka dengan tatapan terkejut dan syok karena Ellena selama ini menghilang tetapi tiba-tiba saja muncul.
__ADS_1
“Tidak perlu diceritakan karena semua sudah berakhir, Ellie,” batin Miko dengan seringainya sambil membawa Ellena ke dokter.
****