CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Keluarga Seutuhnya


__ADS_3

“Hei, apa kamu baik-baik saja, Pangeran Steven?” tanya Ellena beberapa waktu lalu tatkala mereka melakukan perjalanan untuk meraih istana Charlotte.


Rasa kecewa dan putus asa terus bergelayut tiada henti. Meski begitu, suasana timnya masih ramai. Ada Yuya yang terus mengerjai Varl dengan serangga dan hewan berbisanya, Leonie dan Hanae yang adu kekuatan, serta Mae dan Ruby yang terus makan tiada henti.


Namun, di sisi lain ada orang yang menepi sendiri seraya duduk di bibir jurang, melamun. Entah apa yang di pikirannya, Ellena tidak tahu. Orang itu adalah Steven, semenjak sang pangeran bergabung, ia menjadi lebih murung.


Apakah karena mereka tidak kunjung menemukan jalan keluar?


Mengapa Steven tidak menikmati perjalanan?


Melihat sang pangeran seperti itu, mengingatkan Ellena akan misinya yang berbatas waktu. Ellena sebenarnya tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main. Ia harus segera menyelesaikan misi yang rupanya berat ini.


“Aku tidak apa-apa.” Steven menghela napas berat setelah ditanya begitu oleh Ellena. Pikirannya saat ini juga kalut. Ia hanya merasa heran mengapa Charlotte begitu keras hati dan susah ditebak.


Sebenarnya, apa yang sudah dilalui oleh wanita itu di dalam hidupnya seratus tahun terakhir?


Ellena mengambil posisi duduk di samping Steven yang terus banyak berpikir tetapi tidak menemukan solusi yang tepat. Sedangkan di belakangnya, orang-orang sibuk bermain dan menikmati keseruan akan kebersamaan ini.


“Kenapa dirimu tidak gabung bersama mereka? Rasanya seru loh,” ajak Ellena dengan senyumnya meski ia tahu bahwa dirinya tak memiliki banyak waktu untuk sekadar menikmati perjalanan.


Jika dirinya terlalu lama di sini, maka tubuh Ellena akan hancur. Namun, kebersamaan yang terbangun membuat Ellena ingin menikmati momen yang tak bisa diulang itu.


“Gabung? Siapa aku yang bisa bergabung dengan mereka? Aku hanyalah pemeran figuran yang tidak berperan apa pun.” Steven terkekeh, menertawai dirinya sendiri yang selama ini hidup sendirian dan senantiasa merasa kesepian.


“Apa kau masih memikirkan kejadian tadi di tavern?” tanya Ellena, ia mengingat bahwa Steven pasti tidak baik-baik saja setelah dirinya diacuhkan oleh rakyat meskipun pada akhirnya mereka semua tunduk hormat.


“Kejadian itu?” Steven terkekeh lagi. “Aku sudah biasa terkucilkan. Aku yang hanya menjadi pion Ratu bisa apa? Lagi pula, Berkah ini sebenarnya tidak begitu berarti buat—”


“Sangat berarti, Pangeran!” sergah Ellena. “Meski dirimu saat ini tidak menjadi raja Everfalls, tetapi kau membantu Ratu Charlotte. Kau adalah sebenarnya raja!”


Steven menggeleng pelan. “Tidak. Selama ini aku sendirian dan terkucilkan. Setiap ada perayaan apa pun di Everfalls, aku tidak pernah tahu. Aku... seperti tidak pernah diundang oleh siapa pun, bahkan sepertinya orang-orang tidak mengenaliku.” Steven tampak sangat sedih.


“Sst.” Ellena mendaratkan telunjuknya di atas bibir Steven, membuat pipi lelaki itu memerah semu. “Mereka mengenalimu, buktinya mereka di tavern tadi tunduk hormat setelah tahu siapa kamu. Jadi, jangan bersedih hati.”


Mendengar itu, Steven kembali menatap istana Charlotte di atas sana yang tampaknya tersenyum mengejek. Kemudian, Steven menundukkan kepalanya. “Sendirian itu tidak enak, Ellie.”


Steven mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Ia yang tadinya menunduk, kini mengangkat kepala menatap Ellena.

__ADS_1


“Kau tidak bisa membagi cerita dengan siapa pun. Dunia terasa membosankan dan juga tidak berwarna. Seindah apa pun dunia ini, rasanya tidak memiliki arti apa pun.”


Steven menjeda kalimatnya selama beberapa saat seraya terus menghela napas, mencoba mengusir isak yang tercekat di tenggorokannya.


“Rasa kesepian yang aku dapatkan selama hidup di istana membuatku juga ikut mengurung diri. Aku hanya bermain sendiri tanpa tahu dunia luar ada apa saja. Aku juga tidak pernah tahu perasaan orang lain bagaimana. Aku... aku tak pernah ingin merasa melindungi seseorang karena tidak ada siapa pun di sisiku.”


Ellena tercengang. Jujur saja, Steven mirip sekali dirinya saat pertama kali datang ke Inggris untuk melanjutkan studi. Ia terus mengurung diri di kamar, merasa takut akan dunia yang kejam ini. Hingga pada akhirnya, Miko yang mengajaknya keluar dan memberinya makna bahwa dunia tak semengerikan itu.


“Mungkin, semua orang bahkan Gao mengira bahwa aku adalah pangeran manja yang hanya bergelayut di sisi Ratu Charlotte. Tetapi, nyatanya tidak begitu.”


Untuk ke sekian kalinya, Steven menghela napas.


“Usia Gao memang tidak begitu jauh denganku, tetapi dia yang selalu menjadi anak emas Ratu. Aku yang menjadi keponakannya tidak pernah diandalkan oleh Ratu. Setiap diriku ingin bermain dengan Ratu, selalu saja Ratu mengucilkan dan memanggil Gao untuk sebuah tugas berat, sementara aku hanya disuruh untuk berada di dalam kamar dan bermain sendiri.”


Tes.


Tes.


Tes.


Beberapa bulir bening mengalir, tetapi Steven segera menghapusnya dengan cepat, tak mau Ellena tahu kelemahan dirinya. Meski begitu, ia tetap melanjutkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.


Seutas senyum simpul terlukis di wajah Steven. Tampaknya ia sedikit lega.


“Awalnya aku merasa senang sebab akhirnya aku bisa bertemu rakyat dan bermain bersama mereka, tetapi mereka sama sekali tak mengenaliku sebab Berkah ini mulai meredup. Orang-orang malah mengira bahwa aku spesies aneh dan mereka menerorku, mengejar diriku, dan berniat untuk menjadikanku persembahan.”


Kali ini Steven tidak menahan tangisnya. Seorang pangeran malang yang hanya ingin dicintai rakyat malah berakhir menyedihkan.


“Aku ketakutan, tidak ada yang mengerti diriku bahkan menyelamatkan aku. Semua orang membenciku. Aku... kesepian dan nyawaku terancam. Aku pun lari ke bukit tak bernama ini. Aku harap, diriku bisa kembali. Namun, kutukan Ratu mulai memakan pikiranku. Setiap saat aku terbayang Griffin dan telingaku selalu berdenging, mengatakan bahwa aku harus segera menangkap Griffin agar aku bisa kembali ke istana.”


Angin di sekeliling berembus dengan lembut. Ellena masih menyimak apa yang tengah diceritakan oleh sang pangeran. Baru kali ini Steven buka mulut, membuat Ellena berempati kepadanya.


“Sebenarnya, aku sadar bahwa Griffin sudah tidak ada, tetapi kutukan itu terus menyakitiku setiap hari. Aku menjadi gila sampai pada akhirnya bertemu dengan Leonie. Aku hanya ingin segera menyelesaikannya meski aku tahu bahwa Leonie hanya ras singa biasa.”


Mendengar itu, Ellena menepuk pelan punggung Steven. Ia baru sadar bahwa liku perjalanan Steven begitu berat. Namun, lelaki itu terus bertahan meski banyak rintangan yang menerjang.


“Aku... memang pangeran yang malang ya, Ellie.”

__ADS_1


“Tidak.” Ellena menggeleng diselingi senyumannya. “Kau adalah pangeran hebat yang pernah aku temui!” Kedua mata Ellena berbinar. Baru kali ini ia melihat sosok tangguh selain Miko. Ia yang awalnya berpikir bahwa Steven adalah lelaki lemah, ternyata ia mulai paham betapa kuatnya lelaki di sampingnya itu.


“Benar, Pangeran. Anda sama sekali tidak malang. Anda adalah calon raja terbaik Everfalls.” Mendadak saja Leonie, Hanae, dan Mae datang dari balik semak-semak.


“Benar apa yang dikatakan Leonie, Anda adalah raja masa depan yang sangat dibanggakan! Bahkan, Kaisar Sinu saja kalah!” Hanae mengeratkan gigi, teringat bagaimana kaisar negerinya telah membuat kekacauan.


“Kau adalah yang terhebat dari yang paling hebat,” imbuh Mae. Ia menepuk pelan bahu Steven.


“Dan mulai sekarang, kau tidak akan sendirian lagi, Steve!” Senyum Ellena merekah.


“S-Steve?” tanya Steven tidak menyangka. Sebelumnya tidak ada yang pernah memanggil dirinya semacam ini kecuali Varl sebelumnya sebab pria itu memang selalu sok kenal dan sok dekat.


Mendapat sebuah panggilan akrab membuat Steven menyunggingkan senyum penuh haru. Akhirnya ia bisa memiliki seseorang yang tidak memandangnya dengan rendah atau penuh hormat.


“Ya, itu adalah panggilan baru. Apa Anda tidak suka?” tanya Ellena, ia merasa bahwa Steven tak nyaman dengan hal ini.


Namun, Steven menggeleng cepat. “Tidak, aku sangat menyukainya!”


Mendengar itu, membuat semuanya tersenyum bahagia seperti telah mendapat keluarga baru. “Semakin sering kita bersama, menjadikan kita seperti keluarga,” kata Ellena.


Kalimat itu terus terngiang di telinga Steven maupun teman-teman yang lain.


Keluarga, kah?


Sebuah kata yang tidak bisa diartikan hanya satu makna. Keluarga, perkumpulan orang-orang yang diibaratkan seperti bangunan, rusak satu bisa merusak semuanya. Sakit satu, maka yang lain juga merasakannya.


Lalu sekarang, Ellena tengah tersiksa oleh Charlotte. Teriakan Varl memanggil nama Ellena dengan suara gemetar menandakan bahwa sesuatu telah terjadi dengan gadis dari dunia lain itu.


Tanpa aba-aba lagi, mereka pun bergegas setelah memasuki pintu yang dibuka oleh Ciel.


“Segera bantu... bantu Ellie! R-Ratu sudah murka!” ucap Ciel di ujung pintu. Dadanya masih mengucurkan darah.


“Kau tidak ikut, Ciel?!” tanya Mae.


“Tidak, cepatlah SELAMATKAN ELLIE!” teriak Ciel. Mereka semua pun mengangguk dan kembali berlari dengan peluh keringat.


“Ellena, kami datang sebagai keluargamu!” batin Steven.

__ADS_1


****


__ADS_2