CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Kebahagiaan yang Tertunda


__ADS_3

Kembali ke saat ini.


Ellena menganga dalam beberapa detik. Matanya mendelik, ia tak percaya bahwa Varl bisa berdiri dengan sehat di sini. Saat dirinya sudah sadar, Ellena mulai menghambur dan langsung memeluk Varl.


“Hei bodoh! Kenapa kamu di sini?” Ellena bahagia bukan main, ia menahan air mata harunya di dalam pelukan bersama Varl yang ibarat kata sudah menjadi kakaknya sendiri.


Ctak!


Varl segera melepas pelukan itu dan langsung menyentil jidat Ellena. “Kenapa aku di sini? Kamu senang jika aku mati saja?” Bibir Varl maju ke depan beberapa senti, ia cemberut seperti anak kecil dengan kedua tangan yang disilangkan di depan dada.


Kembali melihat wajah Varl yang pemarah membuat Ellena menghela napas lega. Ia tidak peduli semarah apa pria berambut ikal di depannya. Ellena terlalu bahagia mendengar omelan Varl.


Senyum Ellena pun mengembang dengan mata bulatnya yang berbinar. Melihat itu, Varl menutup wajah gadis dari dunia lain itu dengan telapak tangannya yang lebar. “Jangan menatapku dengan wajah polosmu yang menjijikkan itu!” Varl berkata sungkan.


Sementara yang lain tertawa melihat Ellena bisa tersenyum lagi setelah seharian murung dan tak mau makan atau melakukan hal lain yang lebih menyenangkan selain mengurung diri di dalam kamar.


“Jadi, adakah yang mau menjelaskan bagaimana Varl bisa hidup kembali?” Mata Ellena melirik satu persatu, meminta jawaban atas hal yang tidak masuk akal ini meskipun segala hal di Wolestria adalah sesuatu yang tidak pernah bisa diterima oleh pemikiran Ellena begitu saja.


Namun, semua mata malah tertuju kepada Varl. Pria itu pun mendesah sungkan. “Baiklah, akan aku jelaskan.”


Pria itu menjelaskan dengan detail. Semua mendengarkan tanpa terkecuali meskipun sebagian dari mereka sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Pada akhir cerita, Varl melirik Ciel. “Terima kasih dan... maaf.”


Namun, Ciel menggeleng pelan. “Tidak, Varl. Kamu lebih berharga dari apa pun, bahkan nyawaku sendiri. Jika aku boleh memilih pun, aku akan mengorbankan nyawaku untukmu—”


“Hentikan itu! Sudah, kita jalani saja apa yang ada,” sergah Varl karena tidak mau mendengar kesedihan lagi.


“Baiklah. Jika begitu, kau juga harus hidup bahagia.” Ciel mengode matanya. Ia menunjuk ke belakang Varl dengan maniknya.


Sementara Varl tidak mengerti, tetapi ia tetap menoleh karena penasaran dengan apa yang dilihat oleh Ciel maupun yang lain. Namun, tiba-tiba saja jantung Varl berdetak tak karuan karena melihat bidadari yang sangat cantik berdiri tak jauh darinya.


“E-Elise?” Wajah Varl langsung memerah semu, sementara yang lain langsung heboh mendapati suasana romantis seperti ini.


“Ayo lakukan hidup yang harus kau jalani, Varl!” Ciel mendorong tubuh Varl hingga mengikis jarak antara pria itu dengan Elise.


Keduanya berpipi merah sembari tersenyum malu-malu. Varl menatap lekat-lekat wajah Elise. Ini adalah kesempatannya.


“Elise, a-aku menyukaimu. Apakah kamu... mau jadi istriku dan kita hidup bahagia?” kata Varl berusaha jantan meski hatinya berdegup lebih kencang. Ia sudah menahan perasannya selama ini sejak pandangan pertama.

__ADS_1


“Ya, aku bersedia.” Tanpa ragu dan jeda sedikit pun Elise menjawab dengan lantang.


Sorak gembira pun terdengar dari belakang tubuh Varl, semuanya menyorak bahagia atas ungkapan perasaan yang langsung diterima begitu saja.


“Ciye Varl!”


“Uhuy, kita akan segera memiliki adik kecil!”


“Yeay, Yuya akan punya adik!”


“Yang Mulia Ratu akan sibuk dengan pesta pernikahan sih.”


“Ah, sungguh indahnya masa muda.”


Banyak komentar yang membahagiakan atas percintaan Varl dan Elise yang hampir saja berakhir dengan cerita mengenaskan. Kemudian, Charlotte bertepuk tangan untuk mencuri perhatian.


“Semuanya dengar, tidak hanya Varl yang akan bahagia, tetapi kalian semua! Hari ini adalah penobatan raja untuk Steven dan penghargaan bagi kalian yang sudah berjuang,” kata Charlotte, sedetik kemudian sorakan gembira kembali terdengar.


Semua tersenyum bahagia. Mereka pun akhirnya keluar dari tempat itu. Namun, mendadak saja Ellena merasakan sesuatu yang amat menyakitkan di jantungnya.


Krak!


“Ellie, apa kamu baik-baik saja?” tanya Ruby cemas.


Ellena berusaha mengatur napasnya, bibir gadis itu bergetar. Ia sangat kedinginan bahkan rasanya sampai hampir mati.


“A-aku... aku harus s-segera kembali bu-bukan?” Ellena menghentikan langkah kakinya sembari terus mengatur napas. “R-Ruby... antar... antar aku.”


“Apa kamu yakin, Ellie?” Ruby kian khawatir dengan keadaan Ellena. Di sisi lain ia ingin Ellena selamat dari kutukan es itu, tetapi di sisi lainnya ia juga ingin Ellena melihat kebahagiaan yang lainnya atas pencapaian keberhasilan misi berat ini.


Sebab jika bukan karena Ellena, maka misi ini tidak akan pernah selesai. Ruby yang membawa gadis itu pun ingin Ellena diberi penghargaan, tetapi ia juga tidak sanggup melihat Ellena kian kesakitan.


Ellena mengeluarkan kristal Ruby yang berwarna merah dari balik kerah pakaian seragam sekolahnya. “Y-ya... aku... aku harus kembali. Aku bahagia melihat mereka, tetapi aku tidak mau mereka melihatku kesakitan. Jika... jika aku di sana dan tiba-tiba saja mati, aku tidak sanggup melihat mereka bersedih. Jadi, t-tolong bawa... bawa aku pulang, R-Ruby.”


Mata Ellena perlahan meredup. Ia sudah tak sanggup lagi.


“BAIKLAH!” Ruby menjawab dengan terpaksa. Sebenarnya, ia juga tidak sanggup melihat Ellena terus tersiksa seperti ini. “Argh, merepotkan!” kesal Ruby yang merasa bahwa ini bukanlah jalan cerita yang ia inginkan.


Kemudian, Ruby membaca mantra, “Activate portas!”

__ADS_1


Dalam sekejap, lingkaran sihir berwarna merah terbentuk dan... cling!


Mereka berdua langsung mendarat di depan Pohon Atma sang pohon kehidupan yang mencatat segala hal di Wolestria. Pohon itu lebih besar dari gunung, sangat indah dan mengagumkan. Pohon Atma berdiri di tengah-tengah daratan yang dikelilingi danau.


Mata Ellena saja sampai tak bisa berkedip melihat pohon raksasa berdiri kokoh di depannya.


Glek.


“Ru-Ruby...” Ellena masih saja takjub dengan Wolestria yang sangat fantastis dan di luar nalar. “Ini... di sinikah Mae The Lover of Trees mengabdikan dirinya?”


“Ya, ini adalah Pohon Atma yang ada Mae aslinya. Dan di sana ada portal terbuka. Masuklah bersama kristal itu, portal tidak akan menolak dirimu selama kamu membawa kristal Ruby. Portal akan langsung mengantarmu ke dunia asalmu, Ellie.” Ruby tersenyum lembut meski hatinya merasa sedih karena Ellena harus kembali ke dunianya.


“Terima kasih, Ruby. Terima kasih karena sudah membawaku ke tempat ini yang sangat menyenangkan. Aku tidak akan pernah melupakan kalian.” Ellena pun memeluk tubuh mungil Ruby yang melayang dengan sayap kecilnya.


“Tapi tunggu dulu.” Ruby melepaskan pelukan itu. “Ambillah salah satu daun Pohon Atma agar dirimu bisa dihapuskan dari Wolestria.”


Mendengar itu, Ellena mengerutkan keningnya. “Apa? Jadi, nanti Wolestria akan melupakanku?”


“Tentu.”


“Kenapa?”


“Karena, kehadiranmu yang seharusnya tidak ada malah ada, hal itu bisa merusak keseimbangan dunia ini.”


Mendengar berita mengejutkan itu membuat kaki Ellena melemas, ia pun menundukkan kepalanya begitu dalam. Ah, jadi begini ya akhirnya?


“Baiklah,” jawab Ellena lesu. Meski ia menyayangkan hal ini, tetapi ia tidak akan pernah melupakan Wolestria dan semua yang sudah ia alami. Ia akan mengubur kisahnya ini sampai kapan pun di dalam hatinya.


Kemudian, Ellena mencabut satu daun kecil. Setelah itu, ia meletakkan gelang persahabatan milik Mae yang selama ini dipakai oleh Zendaya. Ia letakkan dengan perlahan. “Selamat tinggal, Mae. Semoga kamu bisa tenang di sana,” batin Ellena seraya berdoa untuk kebahagiaan Mae.


Ellena menghela napas berat karena menahan isaknya yang tercekat. Ia menoleh pada Ruby, matanya sudah basah tetapi ia tidak ingin berpisah dengan kesedihan. “Aku pergi dulu, Ruby.”


“Ya hati-hati. Meski Wolestria melupakanmu, tetapi aku akan selalu ingat padamu karena kristal Ruby akan selalu bersamamu, itu yang membuat hati kita terhubung, Ellie. Terima kasih atas segala yang telah kamu lakukan untuk dunia ini. Aku... Ruby The Fire memberi penghormatan agung kepadamu. Selamat jalan, Ellie. Semoga kelak, kita berjumpa lagi.”


Ellena mengangguk, lalu ia berjalan mendekat pada portal dengan cahaya sedikit kemerahan itu. Namun, mendadak saja daratan yang mengubur akar Pohon Atma pun bergoyang. Terjadi gempa bumi dahsyat di sini selama beberapa saat.


Keduanya terombang-ambing sejenak. Kaki Ellena lemas seketika sampai Pohon Atma mengeluarkan cahaya kehijauan dan terdengar suara wanita yang menggema. “Siapa yang berani mengusikku?!”


****

__ADS_1


__ADS_2