
Ellena melotot.
Kemudian, ia kembali memejamkan matanya, berusaha berkomunikasi dengan beliung kecil itu lewat telepati.
“Menolongku? Bagaimana caranya?” tanya Ellena lewat batinnya yang bisa tersampaikan kepada beliung tersebut.
“Perintahkan kami saja. Maka, kami akan melakukan yang terbaik.” Mungkin kata-kata ini terdengar di telinga Ellena, tetapi tidak dengan Kuro. Kuda itu hanya mendengar suara ‘wus’ saja beberapa kali, ya seperti angin biasa yang berembus. Bahkan, sesekali tidak terdengar, hanya bisa dirasakan saja.
Beberapa saat berlangsung, hingga pada akhirnya Ellena membuka mata dengan senyum merekah yang berada di bibirnya. Entah apa yang mereka bicarakan, Kuro tidak tahu. Namun, kuda itu juga ikut tersenyum sebab dapat melihat Ellena kembali ceria membuatnya ikut senang.
Kemudian, Ellena kembali menaiki Kuro. Kali ini ia memasang wajah yakin. Benar sekali, Ellena sangat yakin saat ini setelah mendapat pertolongan dari beliung kecil. Tanpa berpikir lama lagi, Ellena mulai membaca mantra sesuai arahan si beliung. “Coniunge!”
Seketika saja beliung tersebut berputar dengan cepat seperti tengah berkumpul dan mengundang angin lain untuk bergabung dengan putaran mereka. Wus. Wus. Wus. Terdengar mereka sangat ribut menata ruang mereka sendiri.
Kedua netra Ellena berbinar. Ia tak pernah melihat angin begitu bersemangat, bahkan saling bekerja sama untuk membantu Ellena. Tak membutuhkan waktu yang lama, angin membentuk arus yang menuju ke atas.
“Apa kau bersedia, Kuro?” Ellena menyunggingkan senyum kepada kuda itu. Segera, Kuro menjawab dengan ringkikannya yang bersemangat. Kini ia sudah tahu bahwa angin hendak menolong mereka dengan arus yang lebih kencang.
Kuro pun berlari menuju arus angin yang mengarah ke atas itu. Kemudian, wus. Sambil mengepakkan sayapnya, Kuro juga dibantu terbang oleh para angin yang membawanya hingga ke atas.
Saking banyaknya angin yang membantu, arus tersebut mungkin mampu membawa Ellena dan Kuro hingga ke depan pintu gerbang istana awan milik Charlotte.
Wus.
Wus.
Wus.
Ellena terus berharap bahwa mereka bisa segera sampai. Benar saja, sesuai perkiraan mereka akhirnya sampai walau hanya di ujung saja. Kuro harus mengepakkan sayapnya sekuat tenaga hingga mereka bisa mendarat di tanah istana milik Charlotte.
__ADS_1
“Sedikit lagi, Kuro!” Ellena memerintah, ia juga berjuang untuk memberi semangat pada Kuro agar kuda itu tidak terjun. Jika itu terjadi, tamat sudah riwayat mereka sebab mereka berada jauh dari daratan Everfalls.
Keringat dingin sudah banjir, Ellena hanya bisa berharap bahwa sayap Kuro bisa lebih kuat lagi. Terus maju. Terus.
Keduanya berusaha sekuat mungkin hingga tenaga hampir saja habis hanya demi sampai pada daratan istana itu. Jika dipikir dengan serius, maka hal yang mereka berdua lakukan adalah sia-sia, bahkan nyawa bisa jadi taruhannya.
Namun, Ellena maupun Kuro tidak menyerah begitu saja. Meski tulang-tulang terasa remuk, otot menegang, pikiran jadi kacau, dan nyawa bisa saja hilang, keduanya tidak akan gentar.
Mendadak, terdengar suara Charlotte yang menyenandungkan Penyihir Buta lagi. Hari ini, ia menyanyikannya dengan tenang. Agaknya Charlotte memang sudah merasa aman, tetapi padahal ‘hama’ tersebut tengah berjuang untuk meraihnya lagi.
“Sedikit lagi, Kuro!” Lagi, Ellena berusaha menyemangati Kuro untuk sampai, setidaknya hingga di depan gerbang istana Charlotte.
Namun, harapan hanya harapan. Kuro sudah tidak sanggup lagi. Sayapnya mulai melemah, ia kehabisan tenaga. Alhasil, keduanya pun terjatuh. Wus.
Mereka menembus angin, terjun ke bawah yang bisa menghancurkan tulang-tulang tubuh. “Ah, sudah berakhir rupanya,” batin Ellena pasrah. Ia menutup matanya, berusaha membayangkan hal yang indah saja meskipun pada kenyataannya ada hal mengerikan yang akan terjadi pada dirinya.
“Ternyata suara Charlotte memang begitu indah,” lirih Ellena. Ia mendengar dengan seksama suara Charlotte yang menggema di langit Everfalls. Suara sang ratu amat menenangkan hatinya, sehingga pada saat ini Ellena terjatuh dengan menyunggingkan bibirnya. Tersenyum.
Masih dengan mata terpejam, Ellena mengira bahwa dirinya sudah mati dan tiba di surga. Namun, ia melupakan rasa sakit akibat tulangnya yang hancur. Ellena hanya membayangkan surga yang begitu indah.
Perlahan, ia membuka matanya. Tampaklah awan di langit hitam yang bertabur bintang. Bahkan, rembulan kali ini tersenyum ramah dengan lengkungannya yang begitu indah. Ellena tersenyum.
Bau harum surga sama seperti Everfalls, pikirnya. “Ah, rupanya aku mati secepat ini.” Ellena membatin, merasa dirinya sudah berada di surga.
Mendadak, terdengar ringkikan Kuro. Ellena pun segera bangkit dan menengok ke arah Kuro yang berdiri di depan gerbang berwarna perak dengan ukiran merak di sana. Berkilauan!
Bahkan, cahaya rembulan dapat dipantulkan dengan sempurna. Mata Ellena berbinar, sungguh indah!
“Apa itu pintu surga?” tanya Ellena dengan polosnya kepada Kuro. Mendengar itu, Kuro tak ambil pusing. Ia langsung berlari mendekat kepada Ellena, lalu menggigit tudung jubah Ellena yang sempat terlepas dari kepalanya.
__ADS_1
Kemudian, Kuro tanpa ragu melempar Ellena ke belakang dan mendarat tepat di punggungnya. Kuro sudah terbiasa akan hal ini sehingga dirinya tidak salah melempar. Sementara Ellena menjerit saking terkejutnya, bahkan ia merasa bahwa dirinya belum siap sepenuhnya tetapi Kuro mengambil rencana lebih cepat darinya.
Kaki Kuro mengambil langkah cepat dan panjang. Ia juga sudah tidak sabar lagi. Saat ini ia tengah mengumpulkan kekuatan dan kecepatan. Ia sangat menaruh harapan yang besar pada kaki-kakinya yang jangkung.
“K-Kuro di-di depan ada ger—”
Brak!
Tanpa menunggu larangan Ellena, Kuro sudah mendobrak gerbang perak dengan kekuatan kepalanya yang dibantu juga oleh dorongan kakinya. Meski hanya sedikit saja yang terbuka, Ellena merasa terkejut. Ia sampai membelalakkan matanya.
Ellena mengintip, terlihat istana luas di dalam sana. Ellena pun turun dari punggung Kuro. Namun, ia ragu untuk melangkah ke dalam sana, sebab mentalnya mendadak ciut terlebih teringat bagaimana Charlotte memandangnya dengan jijik dan enggan.
Sakit rasanya.
Ellena pun hanya menundukkan kepalanya di depan gerbang perak yang sedikit terbuka itu. Hatinya mendadak diliputi keraguan yang begitu besar. Ellena pun menudungkan kepalanya dengan jubah biru, tatapannya masih menunduk.
Melihat Ellena kembali bersedih, Kuro segera mendorong tubuh Ellena hingga mendekat dengan gerbang. Meski tidak meringkik atau mengatakan apa pun, tatapan Kuro sudah menandakan bahwa ia menyuruh Ellena untuk segera maju ke medan perang.
“K-Kuro, bagaimana b-bisa?!” protes Ellena. Kini ia membalikkan tubuhnya menghadap Kuro, hendak memarahinya. Namun, kuda hitam itu tersenyum penuh kemenangan. Ia sama sekali tidak ragu sedikit pun.
Ah, mau bagaimana lagi, bukan?
Mau tak mau Ellena pun harus maju meski kegagalan lebih besar peluangnya daripada keberhasilan. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja. Meski gagal berulang kali pun, ia tak akan pernah gentar. Sebab, misi ia di dunia ini adalah untuk membawa Charlotte kembali kepada rakyatnya.
Greg.
Perlahan Ellena mendorong gerbang tersebut hingga dirinya dan Kuro bisa memasuki wilayah istana Charlotte. Kedua netra Ellena sekali lagi berbinar. Sungguh, tidak bisa dipungkiri bahwa istana milik Charlotte benar-benar indah, sama seperti Everfalls.
Namun, sesuatu hal terjadi, membuat Ellena membelalakkan mata.
__ADS_1
“C-Charlotte?!”
****