
Beberapa jam sebelumnya.
Malam begitu indah dengan taburan bintang yang berkelip penuh dengan harapan orang-orang. Rembulan agung juga seperti tersenyum dengan lengkungannya yang menawan.
Di malam yang sunyi dan hening ini, Gall dan Gao menatap bumantara dengan harapan yang sama. Sesekali mereka melirik pada istana yang melayang jauh di atas sana. Sebenarnya istana itu terlihat dekat sebab besar sekali, tetapi sesungguhnya istana itu jauh berada di atas awan.
Keduanya duduk seraya memandangi kubah dunia ini yang begitu rupawan. Namun, jika boleh jujur ada kekalutan di hati mereka berdua.
Di depan mereka, api unggun menyala seraya sesekali bergoyang tertiup angin. Mereka berdua tengah menghangatkan diri di dekat penginapan.
“Gao, apa kita harus segera naik ke istana? Ratu pasti sedang kesulitan di sana,” kata Gall membuka percakapan. Ia mengungkapkan apa yang ada di pikirannya sembari menambahi prasangkanya.
Namun, Gao menggeleng dengan cepat sebagai jawabannya. Kemudian, ia melempar ranting kecil ke api unggun yang masih berkobar memberikan kehangatan kepada mereka. “Tidak, kita tak bisa memaksakan kehendak.”
“Tapi Ratu pasti membutuhkan—”
“Aku bilang tidak ya tidak!” Gao bangkit. Kesal. Suasanya hatinya tengah kacau. “Mau dipaksa sekali pun, kita tak bisa ke sana karena memang tak ada jalan! Aku sudah berusaha mengirim sinyal kepada elemen tanah, tetapi mereka tidak menyahutku! Aku rasa, sihirku juga disegel oleh Ratu!”
Gao menghela napas berat.
“Aku berniat kembali ke sana menggunakan media tanah dan langsung teleportasi. Namun, mereka sama sekali tidak meresponsku!” Gao mengepal tangannya dan mengeratkan gigi.
Entah apa yang salah, ia tidak tahu.
Padahal, selama ini ia berpikir bahwa dirinya sama sekali tidak pernah menyinggung Charlotte, lantas mengapa dirinya juga ikut dalam perkumpulan bodoh Ellena dan teman-temannya?
Jika mengingat nasib mengenaskan ini yang ada hanya kesakitan di dalam dada sebab Gao tak berdaya lagi. Ia bukan alkemis super jenius. Ia yang selalu membanggakan diri, kini kebanggaannya seakan hilang setelah ia bergabung dengan kelompok Ellena.
Namun, apalah daya.
“Ratu sudah tidak membutuhkan kita! Ah, tidak, sebenarnya Ratu hanya tidak membutuhkanmu!” Gao menunjuk ke arah Gall yang tengah berusaha mempertahankan api unggun.
Gall pun hanya melirik.
“Ratu tak memerlukan komandan sepertimu! Prajurit istana sudah lebih hebat daripada orc tua macam kamu!” Gao kian memojokkan Gall.
Mendengar itu, Gall hanya diam sebab apa yang dikatakan oleh bocah alkemis itu memang benar. Gall sudah kalah dengan anak didiknya sendiri. Itu sudah terjadi, sehingga mana mungkin Gall masih dibutuhkan oleh Charlotte?
“Sedangkan kamu, kenapa kamu di sini? Padahal tugasmu menjaga ‘itu’, bukan?” Gall membalas penghinaan Gao. Ia mengatakannya dengan santai seraya melempar beberapa ranting kecil di hadapannya ke api unggun.
“Hm, akhir-akhir ini pergerakannya agak kacau dan dia seperti sudah mandiri tanpa harus aku awasi. Sehingga, aku tak bisa melakukan apa—”
Gao teringat sesuatu.
“Itulah sebabnya Ratu juga mengusirku dari istana?!” Kedua mata Gao melebar. Ia baru menyadari alasan mengapa dirinya juga dibuang oleh charlotte.
Mendengar itu membuat Gall terbahak-bahak. Bocah yang angkuh itu akhirnya dapat kehilangan kepercayaan diri.
__ADS_1
“Milik Ratu sudah mandiri dan kau sudah tak dibutuhkannya lagi.” Gall menjelaskan lebih dalam. Ia hanya mengingatkan Gao akan hal ini. Sungguh, ia sedikit senang sebab anak emas Charlotte sudah dibuang juga.
“Tapi aku ‘kan masih anak angkatnya!” Gao menggeleng tak percaya. Ia berusaha berpikir dengan keras, mencari alasan yang tepat mengapa dirinya bisa berada di sini bersama orang-orang bodoh yang menjadi hama bagi Charlotte.
Sementara Gall hanya diam saja, ia sudah pasrah akan masa depan yang terjadi nanti. Yang penting, dirinya bisa bertahan hidup itu sudah cukup meski sebenarnya tanda Berkah yang ia dapatkan adalah sebagai Komandan Istana.
Jika ia tidak melaksanakan Berkah itu, maka Nilai Kehidupan atau umurnya akan berkurang dengan cepat. Mengingat itu, Gall pun hanya bisa menghela napasnya saja.
“Kita harus ke sana, Gall!” simpul Gao seketika setelah beberapa saat dirinya berpikir.
“Tapi, bagaimana caranya? Sudahlah, bukankah katamu kita tak memiliki jalan untuk ke sana?” Gall kembali melempar beberapa ranting kecil.
Hening.
Hanya terdengar sahutan jangkrik yang bersembunyi di dalam hutan-hutan dan tempat kecil. Apa yang dikatakan Gall memang benar. Ah, Gao mengacak-acak rambutnya. Saat ini ia tak dapat berpikir dengan jernih.
“Ada jalannya kok.”
Mendadak saja Ellena datang dengan memakai jubah birunya yang baru ia beli di Pasar Kota tadi siang. Jubah itu adalah hadiah dari Ruby. Ia ingin sekali menikmati menjadi petualang di Wolestria.
Lagi pula, seragam sekolah Ellena terlalu mencolok, orang pasti mengira bahwa ia utusan kerajaan sebab seragamnya memang terlihat elite seperti seragam akademi kerajaan.
Telunjuk Ellena menunjuk ke pelipisnya, mengetuk beberapa kali. “Gunakan ini dan berharaplah akan keajaiban.” Kemudian, Ellena menunjuk ke arah istana Charlotte yang berdiri megah di atas sana.
Senyum gadis itu mengembang dengan sempurna, hingga mata Ellena hampir menyipit tak terlihat.
“Jika kita hanya melihat satu jalan saja, maka kita tidak akan pernah sampai.” Ellena jalan mendekat dan langsung duduk di samping Gall. “Maka, lihatlah banyak jalan meski itu kecil sekalipun. Kita tak tahu, barangkali jalan kecil itulah yang mengantarkan kita pada keberhasilan.”
“Jika hendak mengambil keputusan, maka lihatlah dari banyak sudut. Tuhan tidak memberi kita ujian tanpa adanya solusi kok. Maka, carilah jalan solusi itu meski kecil. Banyak jalan yang harus kita lihat agar kita bisa sampai pada tujuan.”
Kemudian, Ellena bangkit. Ia mengibaskan roknya. Setelah itu, ia menutup kepalanya dengan tudung jubah.
“Seperti halnya lalat, jika lalat hanya berpikir bahwa jendela adalah jalan keluarnya dari sebuah rumah yang mengurungnya, maka sampai mati pun ia tidak akan pernah keluar sebab jendela tertutup selamanya. Sementara jika lalat melihat peluang yang lain seperti ventilasi, maka ia pasti bisa bebas dari rumah itu.”
Deg.
Kedua mata Gall dan Gao membulat sempurna. Mereka baru memahami apa yang dimaksud dengan kalimat Ellena.
“Portal menuju istana memang sudah tidak ada. Jika kita hanya terpaut dengan portal itu, maka kita tak akan bisa meraihnya.” Tangan Ellena terangkat seakan ia memang hendak meraih istana semu itu. “Namun, kita bisa berharap ada jalan lain meskipun kecil. Jalan yang bisa mengantarkan kita.”
“Jalan apa itu? Apa kau sudah menemukannya?” tanya Gao cepat. Sungguh, ia tak sabar untuk segera menemui Charlotte.
Mendengar pertanyaan itu, Ellena mengulas senyum simpul. “Sudah.”
“Apa? Katakan kepada kami!” Gall tak tinggal diam. Ia juga akhirnya bangkit untuk meminta penjelasan detail kepada Ellena.
Namun, Ellena malah berlalu. Sebelum ia benar-benar meninggalkan dua orang dari istana itu, Ellena menoleh seraya menyipitkan satu matanya.
__ADS_1
“Keajaiban.”
Deg.
Deg.
Deg.
Tingkah Ellena membuat jantung Gao mendadak berdebar dengan cepat seperti mendapat serangan mematikan. Rasanya sesak, tetapi ada kenyamanan tersendiri.
Ellena berjalan meninggalkan mereka entah ke mana dengan jubah birunya. Sementara pipi Gao memerah semu, sedangkan Gall menggaruk kepalanya berusaha menerima kalimat Ellena yang masih belum dipahaminya hingga sekarang.
Mendadak.
“Ekhem.” Steven datang dan langsung merangkul leher Gao. Beberapa kali Steven hanya berdehem, sementara Gao berusaha menyembunyikan wajahnya dari Steven.
“Mari kita rayakan malam ini dengan makanan lezat. Gao yang traktir!” seru Steven disusul sorakan gembira oleh Gall.
Kembali ke masa sekarang.
Gall terus berjalan mengekor kepada Ciel. Di belakangnya teman-teman yang lain juga berjalan bersama mengikuti bocah elf tingkat dua itu. Wajah mereka memasang raut yang sama yaitu kecemasan.
Mentari sudah mencuat, mereka berjalan begitu lama menuju bukit tak bernama untuk segera menuju ke istana Charlotte.
“Ini tempatnya.”
Ciel menunjukkan sebuah gubuk lusuh yang sudah banyak ditumbuhi lumut dan dihinggapi banyak hewan kecil.
Mereka semua pun masuk. Rumah kayu yang penuh dengan tanaman rambat membuat bulu kuduk bergidik. Kemudian, Ciel mengantarkan mereka menuju sebuah kamar yang di sana ada lemari berukiran emas murni.
Semua orang yang melihatnya pun sampai tercengang. Emas itu sama persis dengan kubah istana dan pinggiran singgasana milik Charlotte, bahkan ada lambang kerajaan Everfalls di sana.
Ciel mengeluarkan sebuah kristal hijau yang tertanam di dadanya. Kristal itu sama seperti kristal milik Mae, hanya beda tempat dan kekuatannya saja. Ciel mencabutnya dengan paksa.
“Tidak, jangan dilepas. Kau bisa mati, Ciel!” sergah Mae cepat. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi, tetapi Ciel sama sekali tak mau mendengarkan. Hingga akhirnya kristal terlepas dan bocah itu mengeluarkan banyak darah.
Ciel memasukkan kristal hijaunya ke sebuah cekungan di tengah pintu lemari dengan napas tersengal sebab menahan rasa sakit yang mendalam.
Mendadak, ukiran di pintu itu mengeluarkan cahaya hijau sesuai bentuk ukiran yang mengelilingi pinggiran pintu.
Setelah itu, Ciel menghela napas lega lalu memutar engsel lemari secara perlahan. Sontak saja mata mereka kembali dikejutkan oleh sebuah keajaiban. Lemari itu menampilkan sebuah taman yang indah dengan air terjun mengalir deras.
“Ini... uhuk! Ini istana Ratu,” jawab Ciel seraya terbatuk dan mengeluarkan banyak darah. Meski tak ada yang bertanya tempat apa itu, ia tahu bahwa semuanya pasti sebenarnya menaruh pertanyaan.
Gao yang sesungguhnya sudah tahu tempat itu pun tetap terbelalak. Ia sudah biasa ke tempat tersebut yang sebenarnya adalah taman istana. Ia sering sekali ke sana jika pikirannya kalut karena stres.
Namun, taman tersebut lebih indah dari biasanya. “Keajaiban. Ini adalah keajaiban,” batinnya.
__ADS_1
Mendadak, mereka semua mendengar samar-samar suara Varl tengah berteriak dengan resah. “ELLENAAAA!”
****