
Steven segera menarik tangan Ellena.
“Sudah jangan bergumam dan bersedih terus di sini. Ada sesuatu yang sudah dipersiapkan oleh Ratu!” Steven tampak sangat bersemangat. Mereka semua tidak mendengar kalimat Ellena sebelumnya dengan jelas karena gadis itu hanya bergumam lirih.
Namun, tiba-tiba saja Gao menarik tangan Ellena juga. Ia menatap tajam pada Steven.
“Mohon maaf, bisa tidak kali ini aku yang ambil alih?” Gao tampak tak nyaman. Sementara Ellena menghela napas pasrah karena kedua tangannya di tarik oleh dua pria bodoh.
“Tidak bisa, ini adalah hari yang membahagiakan! Kau tidak berhak mengambil Ellie—”
“Perasaan dari kemarin kamu terus yang menang.” Gao bersungut-sungut, bahkan ia seperti mengeluarkan tanduknya sendiri.
“Karena Ellie adalah milik—”
“Sudah cukup!” teriak Hanae. Ia melepaskan tangan Steven dan Gao dari Ellena dengan paksa. Kemudian, ia merangkul Ellena. Gerakannya disusul oleh Leonie juga.
“Hei para pria bodoh, ingat ya Ellie itu hanya milik kami!” Leonie tidak mau kalah dari Steven dan Gao. Sementara di pintu sana, Gall hanya memperhatikan saja sembari tersenyum melihat kedamaian ini meski pada nyatanya mereka semua sedang ribut memperebutkan Ellena.
Sedangkan Ellena hanya mendesah pasrah. Ia sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Pikirannya kalut antara ingin pulang atau tidak jika begini jadinya.
“Sudahlah, ayo kita tunjukkan sesuatu yang indah kepada Ellie,” ajak Charlotte kemudian. Ia pun memimpin di depan, memberikan arahan kepada mereka untuk menuju ke suatu tempat.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di sebuah tempat. Mereka masuk melalui pintu yang ditembus, konsepnya sama seperti alam buatan khusus untuk Charlotte yang sudah pernah hancur itu.
Namun, yang ini sedikit berbeda. Tempat ini penuh dengan tanaman hijau. Di sana ada kolam kecil dan air terjun mini. Daun-daun lebih lebar dari biasanya. Burung-burung kecil berkicau merdu. Tampak menenangkan.
Ada satu hal yang membuat Ellena terpana yaitu sebuah bola seperti gelembung transparan berada di salah satu ujung daun melengkung. Ia seperti embun, bedanya lebih besar laiknya gelembung.
Tanpa sadar, Ellena berjalan mendekat. Sementara yang lain tersenyum di belakang gadis itu. Semakin dekat, Ellena kian merasakan sesuatu yang akrab dari embun itu. Ia sentuh perlahan, rasanya lembut seperti slime.
Ellena melengkungkan senyumnya meski sebenarnya ia tidak tahu benda apa itu. Ia bahkan tidak takut sama sekali. Matanya terpejam, merasakan betapa embun ini terasa hangat diselingi kicauan burung yang akan mengabarkan kegembiraan.
Tak disangka juga, hati Ellena perlahan sembuh. Lukanya yang terkoyak mulai tertutup kembali setelah menyentuh embun itu.
Mendadak.
Embun itu semakin membesar seperti hendak meledak. Ellena pun membelalakkan matanya, kemudian ia berjalan mundur.
“A-ada apa ini?!” Ellena jadi panik sendiri.
__ADS_1
Tak berapa lama.
Plop!
Embun itu pecah dan muncullah...
“Yuya?!” Ellena mendelik sampai bola matanya seperti hendak keluar saking tak percayanya.
Sementara Yuya tersenyum lebar seperti biasa. “Kita bertemu lagi, Ellie!” Yuya melebarkan tangannya, lalu memeluk Ellena dengan tangan mungilnya itu.
Ellena pun dipeluk dengan erat, tetapi gadis itu kebingungan. Ia melirik kepada lainnya yang berdiri tak jauh di belakangnya dengan menyunggingkan senyum terindah mereka.
Ada apa ini?
“Tolong jelaskan,” pinta Ellena memelas.
Charlotte si dalangnya pun maju, mendekat kepada Ellena. Yuya melepas pelukannya agar Ellena bisa mendengar keajaiban yang luar biasa ini.
“Ellie, Yuya berasal dari salah satu air mataku. Ia aku rawat dengan baik sehingga muncullah Yuya yang bisa berarti dia adalah anakku. Malam tadi, aku kembali membuatnya seperti seratus tahun yang lalu dengan air mata penyesalanku.”
Charlotte menghela napas, ia tatap lekat-lekat wajah Yuya yang sudah seperti anaknya sendiri.
“Oh itu sebabnya sebelum melakukan tindakan bodoh itu kalian bertatapan seperti tengah bersekongkol?” Ellena mulai sadar akan hal itu.
“Benar, kami melakukannya.” Charlotte menghela napas lega. “Karena Yuya bukanlah makhluk hidup atau apa pun itu yang memiliki roh, aku hanya perlu mengingat setiap detail tubuh Yuya dan juga sifatnya sehingga Yuya dapat dihidupkan kembali.”
Charlotte tersenyum simpul. Di tempat ini, hanya Ellena saja yang tidak tahu karena hal ini adalah kejutan yang dibuat oleh Charlotte dan yang lainnya.
“Semalaman aku menangis dan berdoa. Salah satu butir tangisku yang terbaik aku pisahkan. Kemudian, aku membayangkan sosok Yuya semalaman suntuk hingga pada akhirnya, Yuya kembali seperti semula... Yuya yang kalian kenal.”
Glek.
Ellena menatap Yuya tak percaya. Meski Yuya bukanlah makhluk hidup, tetapi rasanya tidak masuk akal. Tentu saja, sebab Wolestria bukanlah tempat untuk pemikiran yang logis, semua seperti fantasi saja jika di dunia Ellena.
Tanpa berpikir lama, Ellena pun memeluk Yuya dengan hangat, disusul oleh lainnya. Semua berpelukan meskipun kembali ribut karena merasa sempit dan berebut ingin dekat dengan Ellena.
Semua tampak bahagia, kecuali Ruby. Ia tidak ikut bergabung, wajahnya hanya menunjukkan kecemasan.
“Ada apa, Ruby?” tanya Ellena kemudian.
__ADS_1
“Kamu harus cepat.” Ruby tampak sangat resah, sedangkan yang lain menyimpan pertanyaan.
“Tunggu, Ruby. Apa tidak bisa ditunda sebentar? Ada banyak hal yang harus Ellena lihat sebelum dia kembali,” sergah Charlotte.
“Tunggu, apa... Ellie akan kembali?” tanya Steven memperjelas kebingungan ini.
“Ya, dia harus segera kembali sebelum tubuhnya mati karena kutukan es abadi.” Berikutnya, Ruby menjelaskan panjang lebar tentang portal dan kutukan itu yang tidak akan berpengaruh di dunia Ellena.
“Tapi... apakah tidak bisa ditunda dulu? Dia belum melihat Varl—”
Langsung saja Steven menutup mulutnya, sementara yang lain melirik tajam kepada sang pangeran yang beberapa jam lagi akan diangkat menjadi raja.
“Va-Varl?” Ellena menautkan alisnya. “Apa maksudmu, Steven?” Gadis itu berjalan mendekat dengan tatapan tajam, lalu menggoyang-goyangkan tubuh Steven.
“A-ah, itu...”
“Cepat jelaskan!” Kedua mata Ellena memerah. Ia menaruh penasaran yang besar terhadap perkataan Steven yang mendadak itu. “Apa maksudmu bahwa aku belum bisa melihat Varl? Apa kamu ingin aku melihat jasadnya sebelum pergi?”
Mata Ellena menjadi berlinang.
“Aku... aku tidak akan sanggup melihat jasad Varl yang mengorbankan nyawanya demi melepaskan sihir perbudakan Elise. Aku... aku tidak mau.” Ellena sesenggukan.
Namun, Steven tersenyum kepada Ellena dengan lembut tetapi senyum itu hilang seketika karena Gao tiba-tiba saja mendekat.
“Tidak apa-apa, Ellie. Ini bukan sesuatu yang menyeramkan—”
“Tapi tetap saja!” tolak Ellena dengan suaranya yang naik satu oktaf.
Melihat respons Ellena yang kurang baik pada Gao, Steven pun melirik sambil tersenyum puas pada Gao seakan memaki saingannya itu.
Namun, Gao tidak gentar. “Tenanglah, Nona Ellena. Kamu akan terkejut jika melihatnya.”
Kini, Ellena yang mencengkeram kerah Gao. Wajahnya tampak murka. “Jangan berlagak apa pun! Aku tidak ingin melihat jasad Varl karena itu akan sangat menyakitkan! Bagaimana bisa... bagaimana bisa aku melihatnya yang sudah berjuang demi Elise dan juga Everfalls?!”
Mendadak saja.
“Ada apa sih kok berisik banget?” Varl tampak berdiri di dekat pintu masuk.
****
__ADS_1