CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Keresahan Charlotte


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya.


Istana agung milik Charlotte bergetar hebat. Bahkan mampu membuat suara gemuruh yang menggetarkan istana pencakar langit yang dibumbui keangkuhan. Ramai, semua berteriak ketakutan. Angin ribut datang disertai gempa di sekitar istana meskipun saat ini istana itu melayang di awan.


Angin kacau itu menggetarkannya dengan kekuatan. Ia tidak tunduk pada siapa pun, ia hanya mengikuti suara yang berhak menggerakkannya.


“Ada apa ini?!” tanya Charlotte. Bahkan, singgasana agungnya pun ikut bergetar ketakutan. Telinga Charlotte mendengar riuh suara rakyatnya di bawah sana, tetapi sedikit teredam dengan kacaunya angin ribut yang bahkan mengitari istananya, mengamuk.


Untung saja, angin yang tak diketahui datangnya dari mana itu tidak menghancurkan seisi istana. Meski begitu semua jadi panik, tetapi tidak dengan Charlotte.


Walau ia bertanya-tanya tentang angin ribut yang datang dengan keanehan ini, ia masih duduk kokoh di singgasana peraknya dan bersikap tenang meski seisi istana ricuh tak karuan.


“Ratu, sebaiknya kita pergi berlindung!” pinta salah seorang dayangnya yang sedari tadi duduk menemaninya di singgasana itu.


“Tidak.” Charlotte menolak dengan tegas. Kemudian, ia bangkit dan memejamkan matanya perlahan. Seketika bulu putih muncul berkibar di belakang badannya laiknya seekor merak putih.


Meski di luar tampak kacau, Charlotte bersikap damai. Ia membaca mantra kedamaian. Sontak cahaya putih mengelilinginya. Bahkan, tanda matahari yang didampingi dua awan di keningnya itu bersinar. Tanda tersebut adalah tanda agung yang menjadikannya sebagai penguasa negeri Everfalls.


Perlahan, ia bisikkan pada angin ribut yang hampir memorak-porandakan istana miliknya. “Wahai roh agung. Suci. Berhentilah mengamuk.”


Mendadak, Charlotte tampak resah dengan mata yang masih terpejam. Ia seperti mendengar sesuatu. Sementara di sisinya, para pelayan istana kian cemas sebab mereka tak bisa bertindak lebih sedangkan di luar sudah amburadul.


Beberapa kali mereka membujuk Charlotte, tetapi ratu mereka tak bergeming sedikit pun dan masih fokus dengan sihirnya itu seakan tengah menerima jawaban.


Memang. Samar-sama Charlotte mendengar suara bisikkan angin di telinganya, menjawab panggilan. “Kau bukan Tuan kami, maka kami tidak akan turuti perintahmu!”


Sontak saja kedua mata Charlotte mendelik. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Ia tak menyangka, padahal selama ini semua tunduk di bawah perintahnya, tak terkecuali siapa pun dan dari ras mana pun. Bahkan, elemen yang ada di Wolestria bisa ia tundukkan sekaligus.


Namun, mengapa angin ribut yang satu ini berani menolak panggilan sihirnya untuk tetap tenang? Padahal Everfalls juga terkenal dengan Negeri Angin dan Charlotte sangat bersahabat dengan angin di negeri ini.


Siapa?


Siapa yang bisa mengalihkan kuasanya?

__ADS_1


Segera, Charlotte menuju kepada seseorang. Ia setengah berlari diikuti para dayangnya yang sebagian berasal dari ras angel. Mereka mengikuti ke mana Charlotte pergi.


“Gao! Gao!” teriaknya. Dada Charlotte bergemuruh hebat. Darahnya berdesir. Hatinya resah meski ia berusaha untuk tetap tenang. Ada sesuatu yang memaksanya untuk bertindak.


Siapa?


Siapa yang berani melakukan ini?


Apakah ada ras tertinggi yang bisa mengalihkan perintahnya?


Selama ini, Charlotte pemegang adidaya mana pun. Semua berada tunduk di bawahnya. Charlotte tidak bisa diam, ia merasa terancam. Bahkan, angin ribut ini apakah sebuah pertanda besar?


Apakah ini kiamat?


Apakah angin yang datang dengan kekacauan ini adalah angin kiamat yang dikabarkan itu?


Apakah Everfalls memang akan berakhir?


Charlotte menuju ke salah satu ruangan istana yang penuh dengan ukiran dan juga jejak elemen. Ruangan itu tak jauh dari singgasananya sehingga wanita itu tak memerlukan banyak waktu untuk sampai pada tempat yang ia tuju.


Seketika seorang bocah lelaki seusia Ellena muncul. Ya, dia adalah Gao The Alchemist. Seorang alkemis istana. Hidupnya didedikasikan untuk istana sejak ia lahir, sama seperti Gall, orc si komandan prajurit.


Istana Charlotte hanya menampung dua pria yaitu Gall dan Gao. Mereka adalah makhluk yang memang mengabdi hanya untuk istana. Jika mereka berkhianat, maka saat itu juga mereka mati dan Everfalls melupakannya karena Pohon Atma menghapus jejak mereka.


“Ada apa ini? Apakah kau sudah tahu?” tanya Charlotte cemas. Ia yang senantiasa bersikap tenang, kini dirinya mulai resah. Entah karena apa, ia memikirkan sebuah ‘akhir’ yang akan menimpa sesuatu.


Apakah benar kiamat akan datang?


“Tidak.” Gao menggelengkan kepalanya pelan diselingi senyumannya. “Namun, aku harus membereskan satu hama untuk aku teliti, Yang Mulia.”


Setelah mengatakan itu, seringai Gao tampak bak bulan sabit di malam gelap. Ia seperti mendapatkan cahaya harapan yang baru dari wajahnya yang muram dan dingin. Selama ini Gao besar dan hidup juga di dalam akademi istana yang dulu pernah berpijar.


Ia sempat bergaul dengan siapa pun, sebab dahulu rakyat begitu bebas keluar-masuk ke dalam istana. Bahkan, istana sudah seperti rumah mereka. Namun, tatkala Gao berusia sepuluh tahun, ia dikurung di dalam istana bersama Gall dan juga Steven.

__ADS_1


Kemudian, Charlotte mengangkat istananya dan melarang mereka menemui rakyat di bawah abyys Everfalls atau biasa disebut dengan jurang. Ya, Charlotte menamainya begitu sebab Everfalls yang sesungguhnya jauh di bawah istananya.


“Apa maksudmu, Gao?” tanya Charlotte seketika.


“Yang Mulia, sepertinya hama-hama itu memang sudah merusak suasana di Everfalls.”


“Hama?” Kedua alis Charlotte bertautan. Keningnya mengerut. “Apa maksudmu?”


“Tempo hari, Anda merasakan kegaduhan di sekitar awan istana, bukan?” Senyum Gao yang memiliki banyak arti itu senantiasa melebar tak henti-hentinya seakan memang saat ini suasana sang alkemis itu sedang baik.


“Jadi, itu ulah mereka?”


“Ya.” Gao mengangguk dengan yakin. “Mereka yang akhir-akhir ini membuat hati Yang Mulia resah. Mereka pengganggu kecil yang akan segera saya urus.”


Kepala Gao menunduk, memberi hormat pada ratu agung negeri ini. Ia juga meminta izin untuk segera bertindak.


“Yang Mulia tenang saja. Saya, Gao The Alchemist segera melaksanakan perintah agung dari Yang Mulia.” Kali ini Gao menunjukkan punggung tangannya yang terlukis garis batu.


Bahkan, sejenak garis itu sedikit menyala. Gao memang baru saja menggunakan sihir dan Mana-nya berpusat di sana sehingga masih ada jejak sihir dan elemen akibat dari kerjanya.


Hening.


Tatapan Charlotte terasa kosong. Matanya yang sudah meredup sejak pengangkatan istananya itu kini menyorot lurus pada Gao tanpa arti. Ia tak memberikan persetujuan maupun penolakan, tetapi hatinya terus resah meski sedikit di ujung sana ia menyimpan harapan baru.


Jujur saja, di dalam hatinya yang terdalam, ia menjerit seakan meminta dilepaskan dari kungkungan hitam yang selama ini memenjarakan dirinya. Selama bertahun-tahun, wanita itu tidak bisa menangis maupun bersedih. Bahkan, untuk tersenyum saja rasanya sangat sulit.


Baginya, tiada keindahan apa pun di Everfalls. Ia ingin, Wolestria segera melupakannya agar kepedihan yang pernah ia alami di masa lalu pun dihapuskan.


Hatinya sudah membeku dan ia tak bisa lagi meneriaki dengan keras betapa dirinya terpenjara dalam ilusi hitam yang mengekangnya. Charlotte pasrah dan mengikuti bisikan jahat yang bergelayut di otaknya.


“Baiklah, laksanakan tugasmu dan lenyapkanlah hama-hama itu tanpa sisa!” perintah Charlotte dengan mata peraknya yang tak memiliki cahaya kehidupan lagi.


****

__ADS_1


__ADS_2