CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Yang Terluka


__ADS_3

Di depan sana, Charlotte berdiri dengan beberapa dayang di belakangnya. Wanita itu menatap tanpa ekspresi akan kehadiran Ellena yang mendadak itu. Sudah beberapa saat lalu ia berdiri di sana, semenjak angin mengabarkan bahwa ada penyusup yang hendak masuk tatkala Charlotte menyanyikan lagu Penyihir Buta.


Glek.


Ellena meneguk salivanya dengan kasar, tenggorokannya terasa sangat sakit. Sementara kedua matanya terbelalak. Terbayang di otaknya bagaimana Charlotte jika murka. Apakah Ellena akan kembali pada situasi yang menegangkan itu?


Selama beberapa saat, Ellena hanya berdiri mematung di depan Charlotte dan dayang yang saat ini tengah memasang raut murka, tidak dengan Charlotte yang tanpa ekspresi sampai Ellena tidak bisa membaca bagaimana situasi hati wanita itu.


Beberapa dayang di belakang Charlotte sudah mengeluarkan senjata mereka, ada yang mengeluarkan tombak, ada juga yang pedang, dan tak ketinggalan mereka yang menggunakan busur. Mereka bersiap untuk menyerang Ellena kapan saja, tetapi tentu mereka menunggu perintah dari sang ratu.


Tubuh Ellena gemetar, keringat dingin banjir di tubuhnya. Atmosfer di sekitarnya menjadi tegang, Ellena tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Charlotte dan para pengikutnya, apakah ia akan berdiskusi atau mengadu kekuatan?


Namun, berpikir terlalu lama bukanlah solusi sebab saat ini Charlotte tengah memanggil sihir hitamnya. Sihir itu tengah bergumul di atas telapak tangan Charlotte sedikit demi sedikit seperti membentuk bola bercahaya hitam.


Tatapan wanita itu mengarah tajam kepada Ellena yang membelalakkan matanya. Bibir Charlotte tampak tidak bergerak, tetapi batinnya tengah merapal beberapa mantra sambil menunggu bola cahaya sihir hitam itu terbentuk dengan sempurna.


Seketika, di sekeliling mereka angin mulai ribut. Lagi-lagi, Charlotte juga mengendalikan angin.


Glek.


Ellena kembali menelan ludahnya. Tubuh Ellena semakin bergetar. Ia melihat sesuatu yang lebih besar di depannya. Dirinya amat yakin bahwa Charlotte sudah bermuram durja. Bahkan, tampak sekali bahwa wanita itu tidak berniat untuk memaafkan Ellena sama sekali.


“R-Ratu C-Charlotte.” Ellena mencoba untuk memanggil. Namun, Charlotte mengabaikannya. Hatinya terus merapal, sementara netra berwarna peraknya menatap Ellena seakan tak ingin melepasnya lagi. Pokoknya harus segera diselesaikan malam ini juga, pikir Charlotte.


Sementara Ellena terus berpikir bermacam cara agar bisa kabur dari amukan Charlotte. Saat ini, ia tidak bisa mengendalikan angin. Mereka tidak menjawab panggilannya seakan kekuatan Ellena disegel seketika oleh ratu tersebut.


Ellena pun melirik pada Kuro yang tampak terlihat tenang. Bagaimana mungkin?


“K-Kuro?”


Tatapan Kuro lurus ke depan, menatap Charlotte yang tengah menantang. Tanpa keraguan sedikit pun, Kuro hendak menyerang Charlotte, terlepas dari dahulu ia kuda kesayangan ratu itu atau hanya sebagai pajangan.


Jujur saja, Kuro juga menginginkan Charlotte kembali kepada warga Everfalls dan melihat senyuman wanita itu lagi. Sudah seratus tahun ia mengurung diri di atas awan tanpa membolehkan siapa pun mengunjunginya.


Luka masa lalu telah memenjarakannya hingga mematikan hati.

__ADS_1


Kuro mengambil ancang-ancang. Kakinya yang ramping dan panjang bersiap mendorong tubuh untuk maju melawan Charlotte. Tatapan Kuro kian menukik tajam seakan tidak akan pernah tunduk lagi pada perintah Charlotte yang hanya menyakitkannya.


Kemudian dengan cepat, Kuro melesat hebat menembus angin yang mengamuk di sekitarnya. Namun, sihir Charlotte lebih cepat dari Kuro. Sebelum kuda hitam itu sampai, Charlotte segera melempar bola sihir berwarna hitam, seketika saja Kuro menjadi batu.


Apa?!


Kedua mata Ellena kembali melotot. Dalam sekejap, Kuro menjadi patung kuda yang tengah berlari menyerang. Tampak jelas dari raut wajah kuda tersebut sebuah kekesalan yang mendalam. Alisnya yang mengerut menandakan betapa menyebalkannya si Charlotte yang berhati batu.


“K-Kuro?!” tangis Ellena pecah seketika. Ia tak menyangka bahwa Charlotte tega mengubah Kuro menjadi batu. Ellena pun ambruk. Berakhir sudah.


Bulir air matanya mulai meluruh, ia merasa sangat bersalah akan kepergian Kuro yang telah setia menemaninya hingga ke atas sini. Lalu, setelah Kuro tentu Charlotte segera menyerang Ellena.


“Apa aku juga akan berakhir?” Ellena membatin, tangisnya begitu pecah. Namun, ia mencoba untuk tidak gentar. Kematian Kuro yang terjebak dengan sihir hitam dan mengubahnya menjadi batu amat menyakitkan.


Mendadak, jantung Ellena mendapat detak yang begitu kuat, bahkan hampir membuat inti tubuhnya itu keluar dari tempatnya. Dada Ellena tiba-tiba saja terasa sangat sesak. Ada banyak bisikan yang mendorongnya untuk maju.


“Ellie.” Mendadak saja terdengar suara Miko yang memanggilnya. “Bangkitlah, Ellie. Bukankah kau ingin menyelamatkan sang ratu? Kini, dia ada di hadapanmu, Ellie. Segera lakukan dan jangan lemah hanya karena melihat Kuro mati. Jangan buat Kuro mati dengan sia-sia. Ini kesempatanmu untuk maju!”


Meski ia melihat bagaimana Kuro dimusnahkan dalam sekejap oleh Charlotte, Ellena mendadak tidak ingin menyerah setelah mendengar suara Miko yang begitu halus terdengar di telinganya. Kekesalannya yang selama ini terpendam pun mulai mencuat di dalam dada, bergemuruh hebat hingga membuat tubuhnya bergetar kuat.


“Berhentilah terjebak dari masa lalumu, Ratu Charlotte!” Ellena menaikkan nadanya satu oktaf. “Tidak semua luka bisa disembuhkan, tetapi apa salahnya saling menyembuhkan?!”


Napas Ellena menderu begitu cepat, keringat bercucuran dengan deras. Ellena sudah tidak tahan lagi.


“Semua orang di sini terluka, seperti dirimu! Namun, penjara yang paling mengerikan adalah memenjarakan dirimu sendiri!”


Deg.


Alis Charlotte bertautan.


“Yang Mulia Charlotte.” Ellena menyunggingkan senyum dengan matanya yang berbinar dengan cahaya kebiruan. “Pada sejatinya, kau tidaklah sendiri. Lihatlah dunia yang indah ini, semua orang menunggu Anda untuk kembali!”


Ellena terkekeh seperti orang gila.


“Kembali, huh?” Charlotte membuka mulutnya meski ekspresinya masih saja datar. Sekali lagi, Ellena mendengar suara yang sebenarnya sangat lembut itu. “Untuk apa kembali jika dunia mengkhianati—”

__ADS_1


“Setiap makhluk pasti melakukan kesalahan, tetapi tidak ada salahnya untuk memaafkannya dan berdamai dengan masa lalu,” sergah Ellena cepat.


Mendengar itu, Charlotte hanya berdecih dengan wajah datarnya. Suasana di sekitar masih kacau. Angin masih mengamuk mengikuti amarah Charlotte.


“Selama kita hidup, luka memang mudah sekali didapatkan mulai dari luka fisik maupun hati. Meski kau berusaha melindungi diri dari sesuatu darinya, luka acapkali datang tanpa kita duga.”


Mendadak, angin di sekitar mulai mengalun tenang. Charlotte tidak membuat bola sihir lagi di atas telapak tangannya. Melihat hal itu, Ellena kembali menyunggingkan senyum. Apakah kata-katanya mampu menyentuh hati Charlotte yang paling dalam?


“Kita... tidak pernah meminta luka. Namun, hanya satu yang bisa kita lakukan tatkala mendapatkannya secara tidak sengaja, yaitu berusaha mengobatinya atau membiarkannya hingga menggerogoti bagian yang lain.”


Rasa sakit?


Charlotte semakin dalam mendengarkan Ellena. Apakah ia akan terpengaruh akan kalimat Ellena? Namun, apa yang dimaksud gadis itu? Charlotte benar-benar belum bisa memahaminya secara sempurna.


“Dengan kau memaafkan dirimu dan orang lain di masa lalu, maka itu berarti kau telah berusaha mengobatinya, Ratu Charlotte. Terkadang, memaafkan bukanlah jalan yang buruk selagi memang tidak ada yang bisa dilakukan lagi untuk menyembuhkan luka itu.”


Ellena tersenyum begitu lebar.


“Charlotte, bagaimana... apakah kau akan memaafkan masa lalu dan berdamai dengannya?”


Perlahan, Ellena mengulurkan tangannya. Ia yakin, Charlotte akan kembali dengan cepat. Namun, sekali lagi tidak semudah itu. Meski pada hakikatnya hati Charlotte hampir tersentuh oleh kalimat Ellena, tetapi suatu bisikan menahannya.


Mendadak saja Charlotte mendengar sesuatu membisikinya dengan ancaman yang amat menyakitkan.


“Jangan dengarkan! Tetaplah teguh pendirian! Kau sudah banyak berkorban. Tidak ada yang mencintaimu, bahkan pria itu telah mengkhianati dirimu! Semua rakyat di bawah sana hanya akan menindasmu. Tak ada yang peduli padamu! Tenggelamlah, Charlotte! Bersatulah kembali denganku. Jika kau percaya dengan gadis ingusan itu, maka lukamu tidak akan pernah sembuh!”


Seketika Charlotte menutup telinganya, berusaha menghalangi suara yang tengah mengendalikan tubuhnya. Charlotte berteriak kesakitan. Matanya terpejam. Keringat dingin mengucur. Para dayang di belakangnya tampak resah, tetapi mereka tidak bisa melakukan banyak hal. Tatapan mereka pun hanya mengarah tajam pada Ellena seakan hendak menyerang gadis penyusup itu.


Setelah lama berpikir, beberapa dayang akhirnya tanpa ragu menerjang Ellena, tetapi dengan sigap Varl menghalanginya dengan tameng di lengannya. Ya, mendadak saja Varl datang membantu Ellena.


“Varl?” Senyuman Ellena kembali merekah. “Ya, aku memang tidak begitu populer, tetapi aku punya teman-teman yang sudah seperti keluarga. Mereka alasanku untuk tidak menyerah pada amarah Ratu Charlotte.” Batin Ellena seperti ikut tersenyum juga.


Sementara Varl yang tengah menahan serangan para dayang pun mulai menoleh pada Ellena yang tengah tersenyum sendiri di belakangnya. “Apa yang kau lakukan, Bodoh?!”


****

__ADS_1


__ADS_2