
Semua mata tertuju kepada Gao yang bersedih hati karena harus ikut diusir oleh Charlotte. Melihat itu, Ellena terkekeh dengan puas. Bagaimana tidak, lelaki yang juga terlihat congkak itu sudah menyusahkan dirinya.
“Hahaha, bagaimana rasanya diusir, hah?” Ellena mulai merasa senang. Sebenarnya ia tidak berniat untuk mengejek, malah dirinya bahagia sebab temannya bertambah satu lagi, ia merasa bahwa perjalanannya akan semakin seru dan menyenangkan.
Tak hanya Ellena yang merasa gembira akan kehadiran satu teman yang meskipun tampak congkak dan bodoh. Leonie, Hanae, Mae, Yuya, maupun yang lain juga senang, tetapi tentu mereka menertawai kesialan Gao yang sejak awal enggan bergabung, bahkan berkenalan saja dia ogah.
Di sisi lain, Steven menghela napas. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Raut wajahnya terlihat kesal, bahkan tampak beberapa kerutan di dahinya. Kemudian, lelaki itu berjalan entah ke mana, memisahkan diri.
Jujur, Steven tidak menyukai alur ini. Ia sudah senang dengan Ellena dan teman-teman yang ia temukan di hutan, tidak ada sangkut pautnya dengan istana. Namun, kehadiran Gall dan Gao seakan menghalangi misi mereka. Ya, Steven dan Gao adalah dua kubu yang berbeda sekarang meskipun mereka sudah seperti saudara saja.
Steven menepi di bibir bukit. Tatapannya menerawang meski saat ini netranya menangkap kota yang berada jauh di bawah sana. Terlihat damai, tetapi juga kacau. Cekungan yang sudah berubah menjadi taman bunga itu juga tampak indah.
Lagi, Steven menghembus napasnya dengan berat. Sejak beberapa hari terakhir dirinya hanya diam dan melihat semangat teman-teman. Ia tidak mengambil peran lebih. Ada banyak hal yang tidak bisa ia bagi seenaknya di saat situasi genting ini.
“Mereka terlalu bersemangat,” lirih Steven.
Dari kejauhan, Ellena melihat punggung Steven yang saat ini menatap jauh pada kota. Jujur, Ellena penasaran. Namun, ia merasa bahwa Steven hanya membutuhkan waktu saja.
Dengar-dengar, Steven dan Gao sering bertengkar, bahkan sebenarnya mereka tidak pernah akur sedikit pun.
Melihat kekurangan itu, membuat Ellena mempunyai tekad baru.
“Sebelum aku kembali ke duniaku sendiri, aku ingin mereka akur!” tekad Ellena di dalam batinnya. Ia tancap kuat-kuat benak itu.
Keresahan juga tengah dialami oleh Varl. Wajahnya sama sekali tidak menampakkan kesenangan. Hatinya terus mengeluh. “Ah, semakin banyak orang semakin banyak hambatan. Padahal aku sudah hampir sampai. Dia ada di hadapanku dan bodohnya diriku malah terpana dengannya? Sial! Aku sungguh bodoh! Bagaimana mungkin aku terpana dengan wanita itu yang menjadi incaranku?!”
Tangan kanan yang berada di saku mantelnya menggenggam kuat. Sebenarnya gigi Varl juga mengerat. Rahangnya mengeras. Pikiran Varl mulai kacau, semua rencana saat ini hilang begitu saja.
Riuh yang diakibatnya ramainya tim Ellena membuat Varl tidak dapat merencanakan apa pun untuk menyelesaikan misinya. Ia terlihat gelisah. Leonie yang menyadarinya pun langsung merangkul Varl.
__ADS_1
“Bagaimana keadaanmu, Varl?” tanyanya seraya mengelus kepala Varl dan merangkul pundak pria itu dengan kuat seperti biasa. Varl sampai sulit bernapas karenanya.
“Woi, pakai perasaan dong!” protes Varl. Beberapa kali ia terbatuk. Namun, Leonie tak akan melepaskannya begitu saja.
Wus.
Angin berembus dengan lembut, menyapa para petualang yang sebenarnya tengah meratapi kegagalan. Ya, meski mereka kini tengah tertawa-tawa dan tampak bahagia, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati, mereka merasa kalah.
Sedih berkepanjangan bergelayut di dalam sana. Melihat Charlotte semakin kokoh dan malah membuat benteng baru membuat kesedihan yang mendalam pada diri mereka. Terutama Ellena. Saat ini meski ia memiliki banyak teman yang hendak membantu, Charlotte malah kian menjauh dan sulit digapai.
Raut wajah Ellena tampak sendu, Hanae dan Mae mulai menghibur. Mereka menarik kedua tangan Ellena, mengajaknya keluar dari rasa sedih.
“Ayo kita cari makanan! Aku rasa, kau lapar, Ellie.” Senyum Mae mengembang.
“Hm ya. Kita akan buat banyak makanan malam ini! Kita sambut keluarga baru kita!” Hanae juga tak kalah bersemangat, disusul Momo yang merayap lalu bersemayam di leher Hanae.
Mendengar kata ‘keluarga’ membuat Ellena tertegun. Ia berhenti sejenak, membuat kedua temannya juga ikut terhenti.
Tanpa penolakan sedikit pun, keduanya mengangguk. “Ya, kita semua adalah keluarga. Kita akan segera membawa ratu kita kembali!” Mae menjanjikan.
Kalimat itu membuat senyum Ellena merekah, matanya hampir basah. Ia tak menyangka akan memiliki keluarga yang seramai ini dengan sikap dan tingkah masing-masing. Sebab, sejak dulu ia hanya tinggal bersama ayahnya. Kemudian saat sekolah di luar negeri, Ellena hanya memiliki Miko saja.
Ia sering merasa ditinggal dan tertinggal. Tidak ada yang benar-benar merangkulnya untuk bersama-sama berjalan dalam keadaan apa pun.
“Terima kasih.” Tanpa sadar, bulir bening meluruh. Seketika wajah Ellena memerah sebab kulitnya yang putih sangat sensitif.
Semuanya pun tercengang melihat Ellena yang seperti itu. Di sisi lain, Ruby yang sedari tadi melayang dan tidak menapak tanah pun tersenyum. Hatinya merasa lega melihat Ellena seperti itu.
Jujur saja, ia sudah tahu bagaimana Ellena. Sehingga, mendapat sebuah kebahagiaan ini adalah keajaiban. Ruby yang memanggil Ellena dari dunianya pun merasa bersyukur bisa melihat senyum kelegaan dari Ellena.
__ADS_1
“Akhirnya kau mendapat teman dan kebahagiaan yang tak ternilai, Ellie,” batin Ruby merasa bersyukur.
Tak lama setelah itu, Hanae dan Mae kembali menarik tangan Ellena, membawa gadis dari dunia lain itu untuk mencari bahan makanan. Semua pun juga pergi ke berbagai arah untuk menyiapkan makan malam. Hanya tertinggal Gao dan Gall yang diperintah untuk menjaga tempat itu.
Hening.
Krik.
Krik.
Krik.
Hanya suara jangkrik yang menemani keduanya. Mereka berdua tengah duduk berdampingan di atas batu besar dekat pohon.
Masih hening.
Bahkan saking heningnya, suara angin bisa terdengar jelas.
“Kenapa kau berada di sini sebelumnya?” tanya Gao memecah keheningan. Meski ia bertanya pada Gall yang duduk di sampingnya, kepala Gao tidak menoleh pada pria yang badannya dua kali lipat darinya.
“Haish, kau yang membuangku!” Mata Gall bergulir. Sungkan. Kedua tangannya menyilang. “Bagaimana rasanya dibuang, hah? Aku bahkan tak percaya bahwa Ratu juga akan membuangmu.”
Gall tertawa dengan keras, bahkan suaranya sampai pada beberapa teman yang tak jauh dari mereka. Dikira sinting, tapi itulah si Gall. Mereka yang mendengarnya tidak peduli akan kegilaan orc itu.
Sementara Gao menunduk. Hatinya seperti diremas-remas mendengar ungkapan Gall. Ya, ternyata sesakit ini dibuang oleh Charlotte. Bahkan, ia tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan keluar dari istana dengan penghinaan.
“Ratu memang sudah tidak membutuhkan kita atau dia tidak ingin kita berada di sana lagi?” lirih Gall. Jujur, ia amat sedih mendengar kalimat yang membebani pikirannya itu. Kalimat yang terakhir kali diucapkan oleh Charlotte sebelum melempar mereka ke tempat antah berantah.
Gall menghela napas.
__ADS_1
“Kita harus segera pergi dari sini dan kembali pada Ratu!”
****