CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Termakan Kegelapan


__ADS_3

Mereka semua terus berlari seraya berharap bahwa Ellena akan baik-baik saja. Keringat sudah banjir, kaki tegang, dan juga hanya harapan akan keajaiban yang bisa mereka laungkan.


Teriakan Varl terakhir kali mengatakan segalanya bahwa Ellena sedang tidak baik-baik saja. Semuanya pun terus bertahan dalam posisi berlari, berniat untuk segera menyelamatkan gadis dari dunia lain itu.


Bulir-bulir air kesedihan dan kecemasan tertahan di sudut mata masing-masing, berusaha untuk bersikap kuat. Ellena paling tidak suka melihat ‘keluarganya’ menangis.


“Terus berlari, jangan menyerah!” kata Steven menginstruksikan.


Udara di sekitar sangat pekat dan menyesakkan dada. Mereka saja sampai kehabisan napas ditambah harus berlari. Tercium sihir hitam yang amat menyakitkan. Sihir itu menguar di sekitar tanah, membuat atmosfer menjadi gelap.


Tubuh mereka menjadi berat, tetapi mereka semua tidak menyerah sedikit pun. Terus berlari, itulah yang bisa mereka lakukan.


Hingga pada akhirnya, mereka salah jalan sebab disesatkan oleh sihir hitam karena membuat ilusi yang menyesatkan perjalanan. Lalu, mereka tiba di dekat gerbang masuk.


Semua mata pun mendadak terbelalak tatkala netra mereka menangkap sosok patung kuda yang begitu menawan. Langsung saja, Leonie berteriak, “Kuro?!”


Ia sudah tahu betul bagaimana ciri fisik Kuro sang kuda hitam itu. Namun, teman-temannya menafikan hal tersebut.


“Tidak mungkin, kau jangan asal bicara!” Gall tak terima. Ia yang selama ini merawat Kuro tak menerima kenyataan itu meski pada faktanya, ia juga yakin bahwa patung kuda yang berpose tengah menyerang adalah Kuro si kuda hitam.


“Tidak, jangan menangis!” sergah Hanae cepat. Ia tahu, teman-temannya terkejut dengan yang terjadi di sini. Sungguh, siapa pun pasti tidak akan pernah mau melihat teman sendiri tersakiti.


“Benar, siapa pun kuda itu, kita harus berpikir positif. Kita harus melawan sihir hitam ini. Jika kita kalah dengan menangis, maka kita akan termakan oleh mereka. Sebab, makanan mereka adalah kekecewaan, amarah, kesedihan, dan juga... rasa putus asa,” jelas Mae sekalian mencoba menguatkan teman-temannya.


Gall yang bibirnya sudah gemetar dan sudut matanya membasah, kini ia berusaha kuat. Dirinya yang berbadan paling besar mencoba untuk membuktikan bahwa ia tidak bisa diremehkan begitu saja.


“Aku tahu ini akan berat, tetapi kita juga harus percaya dengan Varl dan juga Ellie.” Hanae mencoba memberi kekuatan baru. Dirinya tak mau terpuruk terus menerus.


Semuanya pun mengangguk paham dan berusaha menahan isak yang tercekat. Meski rasanya menyedihkan, tetapi mereka berusaha untuk tetap tegar dan percaya pada teman mereka yang tengah berjuang menghadapi sang ratu agung.


“Jika kita tersesat, tetap berjalan dan lupakan pikiran yang malah membuat sedih! Kita harus percaya bahwa Ellena baik-baik saja bersama Varl!” lanjut Hanae.


Setelah itu, mereka semua terus berlari meskipun selalu dihadang oleh sihir hitam yang sangat menyesakkan dan membawa aura kesedihan. Hampir saja mereka termakan sihir itu, tetapi semuanya saling menguatkan.


Steven memimpin di depan sebab ia yang lebih tahu sisi istana karena selama hidup, ia hanya bolak-balik mengitari istana yang luas ini.


Mereka berusaha untuk tidak menyerah dan terus mencari sebenarnya di mana Varl dan Ellena berada.


Sementara di sisi lain, Varl terus berteriak, berusaha membangunkan Ellena yang masih memejamkan mata. Meski tubuh gadis dari dunia lain itu amat dingin dan mulai membeku dengan bunga es ilusi di sekitarnya, Varl tetap berusaha memberikan kehangatan.


Ia sampai mengigil, tetapi justru Ellena-lah yang lebih tersiksa.


“Ellena... cepat banguuun!” tangis Varl merasa menyesal sebab seharusnya ia yang mendapatkan hukuman itu, bukan Ellena. Selama ini Varl yang sudah banyak melakukan tindakan gegabah.


Namun, kenapa?


Kenapa Ellena yang menjadi korbannya?

__ADS_1


Varl terus menanyakan itu di dalam hati. Ia terus menyalahkan diri yang tiada arti. Ellena dipeluknya dengan kuat.


Melihat wajah pucat gadis itu dengan tubuhnya yang dingin membuat hati Varl meringis kesakitan. Rambut coklat yang perlahan memutih juga kian membuat Varl merasa berdosa.


Namun, Varl juga merasa pantas mendapatkan hukuman yang lain, yaitu Nilai Kehidupannya yang terus berkurang sebab tanda Berkah menyala. Ia termakan amarah di dalam dadanya.


Peduli setan tentang itu!


Varl tidak masalah jika dirinya hilang dalam sekejap atau dilupakan oleh Pohon Atma, yang terpenting adalah menyelamatkan Ellena meski taruhannya adalah nyawa sendiri. Varl tidak keberatan akan hal itu sebab inilah hukuman yang pantas baginya.


Ia amat yakin akan hal itu.


Amarah di dada terus membara, semakin termakan emosi, tanda Berkahnya kian menyala dengan terang, membuat Nilai Kehidupan Varl berkurang sangat cepat.


“Tidak apa-apa, aku akan membalaskan dendam akan kematian Ellena!” batin Varl merasa yakin. Ya, ia akan berjuang hingga titik darah penghabisan.


Ia meletakkan Ellena dengan perlahan, lalu ia bangkit dan menatap Charlotte yang berdiri tanpa ekspresi sama sekali, seperti boneka hidup yang dikendalikan oleh sesuatu.


Manik coklat gelap milik Varl menyala terang, ia benar-benar terbakar emosinya sendiri. Segera, pria itu mengeluarkan tombak dari tas ajaibnya seraya merapal mantra.


“CHARLOTTE!” teriak Varl memekakkan telinga. “Tidak, maksudku adalah SIHIR HITAM! Mari kita adu kekuatanmu dengan sihir terlarang dariku! Buktikan bahwa kau bisa mengendalikan seluruh negeri ini, dasar bedebah sialan!”


Tanpa ragu, Varl menantang sang ratu negeri ini. Tidak, sebenarnya bukan Charlotte, tetapi sesuatu yang telah mengendalikannya. Ia sudah muak melihat keangkuhan seseorang di balik tubuh Charlotte.


“Kau pikir dirimu hebat, huh?!” Varl menyeringai dengan maniknya yang berbinar lebih terang. “Seberapa tangguh dirimu yang sudah merebut Charlotte kami!”


Mendadak.


“Hentikan itu, Varl!”


Suara Ciel membuat Varl berhenti merapal dan dengan segera ia menoleh pada Ciel di ujung sana. Tatapan bocah itu terlihat sendu, tetapi menyimpan keberanian yang besar.


“Ciel, apa yang kau la—”


Wus!


Mendadak saja sihir hitam menyerang Varl hingga tubuh pria itu terbanting ke sekian kalinya.


“Aw,” rintih Varl. Remuk rasanya. Ia sudah kelelahan ditambah hantaman yang begitu keras beberapa kali. Rasanya, Varl hanya bisa menyerah. Namun, mengapa Ciel ada di sini?


Bocah elf itu segera berlari ke arah Varl yang terbaring tak berdaya dengan batuk sesekali yang mengeluarkan banyak darah segar.


“Ci-Ciel,” rintih Varl, tangannya menangkup pipi kiri Ciel.


Uhuk!


Ia terbatuk-batuk, setiap batuknya selalu mengeluarkan darah. Melihat itu, tentu membuat hati Ciel merasa miris. Ia tak sanggup melihat orang yang selama ini menjaganya malah terkapar penuh darah.

__ADS_1


“Varl, Varl kumohon kau jangan pergi,” tangis Ciel. Sungguh menyakitkan jika membayangkan Varl meninggalkan dirinya di dunia ini sendirian. Ciel sudah banyak melihat kematian dan kematian yang paling menyesakkan adalah Varl sebab pria itu salah satu keluarga terakhir yang ia punya.


“Jangan menangis, Jagoan.” Varl mencoba mengelap pipi Ciel yang basah meski tangannya saat ini lemah sebab beberapa tulangnya hampir patah, sama seperti Ellena.


Hiks.


Hiks.


Hiks.


Meski Varl berkata demikian, Ciel tak dapat menahan air matanya. Bocah itu memang sudah hidup seratus tahun, tetapi seratus baginya adalah sepuluh. Jadi, walau Ciel sudah lahir lebih dulu daripada Varl, sejatinya ia masih bocah kecil yang butuh kasih sayang orang tua.


Ciel pun menoleh kepada Charlotte yang hanya menatap tanpa memberi ekspresi apa pun, tetapi mata wanita itu seperti meredup. Tangan Charlotte mencoba membuat bola cahaya. Namun, ditepis dengan cepat oleh Ciel menggunakan kristal hijau yang tertanam di dadanya.


“Datanglah wahai sihir agung!” Ciel mengarahkan kristalnya yang memancarkan cahaya hijau dan menyerang sihir hitam milik Charlotte.


Wus!


Namun, kekuatan Ciel masih belum seberapa dengan sihir hitam.


Bruk!


Kali ini ia yang terhempas sebab ia kalah.


Uhuk!


Ciel terbatuk dan mengeluarkan darah. Napasnya tersengal, sedangkan kristalnya terlempar tak jauh dari sisinya. Segera, ia bangkit meski dirinya sudah kehabisan banyak darah sejak pertama kali datang.


Bocah itu sejenak menatap Ellena yang masih terpejam di sisi lain dengan bunga es di sekitarnya. Kemudian, Ciel melirik pada Varl yang berusaha mengatur napasnya sebab tenaganya sudah mulai terkuras dan aura sihir hitam lain membuat dadanya sesak.


Ciel mengepalkan tangannya. Muak dan juga... marah!


Ia menatap sengit kepada Charlotte.


“Apa kau mau terus terjebak dengan luka masa lalumu, wahai Ratu?!” Ciel bangkit meski tubuhnya sudah melemah. “Apa... apa kau pikir hanya dirimu saja yang terluka?! Semua orang juga terluka, bahkan ayahku yang pernah dicintai olehmu!”


Deg.


Mendengar itu, Charlotte kian murka. Sihir hitam di sekitarnya mengamuk hebat.


Wus.


Wus.


Wus.


Mereka menyerang Ciel dan membanting tubuh bocah itu beberapa kali, tetapi Ciel tidak gentar. Sesekali ia juga melawan dengan sihir yang terpancar dari kristalnya. Meski terkadang ia terhempas, Ciel tetap berusaha untuk bangkit dan melawan balik.

__ADS_1


****


__ADS_2