CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Bangkitnya Sang Legenda


__ADS_3

Wus.


Wus.


Wus.


Angin ribut di sekeliling membuat suasana menjadi tegang. Mata biru Ellena menyala, tampak kemarahan di dalam dadanya. Darah gadis itu berdesir. Meski kutukan es masih ada di dalam tubuhnya, Ellena tidak gentar. Ia malah melupakan rasa sakit itu sejenak demi membela hak.


“SIAPA KAU YANG BERANI MENGAMBIL TUBUH MAE?!” Ellena berteriak, bersamaan dengan itu angin semakin ikut mengamuk dengannya. Sungguh, saat ini Ellena murka sampai tidak sadarkan diri.


Kedua tangannya mengepal seakan di sana ada semangat yang sangat membara. Ia tidak terima bahwa ada yang mempermainkan temannya, Mae.


“Berani-beraninya kau memakai tubuh Mae!” Mata biru Ellena semakin menyala dan amukan angin semakin membuat ribut. Sementara teman-teman yang lain merasa cemas akan hal ini.


“Tidak, Ellie pasti sudah kehilangan akalnya!” Ruby tidak bisa membayangkan kejadian selanjutnya jika Ellena dibiarkan begitu saja.


“Apa yang harus kita lakukan, Ruby?! Ellie... dia sudah kesetanan!” Hanae jadi cemas juga, ia baru pertama kali ini melihat Ellena murka melebihi murkanya Charlotte.


Mengingat wanita itu, Charlotte juga sebenarnya cemas. Istananya sudah hampir ambruk, angin tidak mau mendengarkannya, bahkan elemen sihir lain seperti tersegel. Charlotte hanya bisa berdiri melihat kekacauan di sekitarnya.


“Apa... apa yang sudah aku perbuat selama ini?” batin Charlotte, resah. Meski begitu, raut wajahnya masih saja datar padahal di dalam hatinya, ia mencemaskan semua orang di sini.


Di depan sana, Mae berdiri dengan seringai lebarnya penuh kemenangan. Ia ditemani sang Sihir Hitam.


“Charlotte, ada apa denganmu? Sekarang, mari kita akhiri saja Everfalls!” Mae berteriak agar Charlotte mendengarnya karena suasana di sini ribut sekali disebabkan oleh angin yang mengamuk bersama Ellena.


“Oh Tuan, selama ini aku merindukanmu. Ke mana saja kau? Aku hanya bisa berlindung di bawah bayangan Charlotte sambil menunggumu datang,” kata Sihir Hitam. Ia mengeluhkan dirinya selama ini.


Ya, selama ini Sihir Hitam yang mengendalikan Charlotte tetapi melalui kekuatan Mae palsu.


“Tenang saja, mari kita akhiri semua ini. Akhirnya... akhirnya Everfalls akan hancur!” tawa Mae menggema.


Mendadak.


Gemuruh dari langit terdengar menggelegar disertai kilat cahaya super cepat. Hal itu membuat seluruh warga Everfalls keluar rumah, mempertanyakan keributan apa ini. Mereka bergetar saat tahu di atas sana istana seperti rapuh.


Tak hanya itu, di sekitar Everfalls, udara jadi pekat dengan langit hitam yang membawa kesedihan. Tanah yang mereka pijak saja sampai bergetar, semua orang berlarian tak karuan, takut akan kematian.

__ADS_1


Mendengar jeritan rakyatnya, Charlotte jadi resah. Ia jadi tidak merasa tenang. Meski pandangannya kabur, tetapi telinganya masih tajam.


“Ada apa, Charlotte? Apa kau merasa resah? Lupakan saja mereka. Apa kau lupa bahwa mereka semua tidak mencintaimu?” Mae terkekeh. “Selama ribuan tahun dirimu menderita, tetapi mereka sama sekali tidak ingat padamu. Kau selalu terasingkan.”


“Tidak! Aku... aku tidak terasingkan!” Charlotte berusaha menolak. Kepalanya tengok ke sana kemari mencari sumber suara. Ia ingin berbicara serius dengan atma dari Kristal Keabadian.


Ini salahnya. Selama hidup, Charlotte sudah merasa tersakiti karena dirinya selalu berinkarnasi dan terus mengulang kisah yang sama. Ia hanyalah seekor Merak Putih yang terluka.


“Tidak... aku tidak terlupakan... semua orang... semua orang mencintaiku, ‘kan?”


Tes.


Tes.


Tes.


Baru kali ini Charlotte menangis setelah sekian lama. Ribuan tahun telah berlalu dan kini ia bisa menangis lagi...


“Semua orang mencintaiku, aku sangat yakin... hiks.” Tangis Charlotte semakin deras. “Aku... aku tidaklah sendirian. Selama ini, orang-orang menungguku, bukan?” Charlotte menatap Ellena yang saat ini amarahnya sudah mulai reda, tetapi angin masih ribut.


Bibir Charlotte pun sampai gemetar mendapat pengakuan itu. Ya, selama ini ia tidak sendirian. Ellena pun mendekat kepada Charlotte, meraih tangan wanita itu dengan hangat meski sebenarnya jemari Ellena masih membeku dingin.


Steven, Gao, Gall, Hanae, Leonie, dan Ruby juga melakukan hal yang sama. Mereka semua mendekat kepada Charlotte untuk memberi dukungan.


“Yang Mulia Charlotte tidak pernah sendiri!” Ellena berteriak lagi.


Wus.


Satu teriakkan Ellena membuat angin di sekelilingnya mengalun berantakan, tetapi sedetik kemudian kembali berembus cepat tetapi dengan irama yang senada antar satu dengan yang lain.


Tak hanya mereka saja yang memberi dukungan. Manta si pari itu juga ikut andil. Ia yang sedari tadi terbang di udara, kini ia mendekat dan terbang tepat di atas kepala Charlotte dan lainnya.


Melihat itu, Ellena tersenyum lebar. Entah mengapa, ia merasa bahwa mereka akan menang dan misi ini akan segera selesai.


Namun, rupanya tidak secepat itu.


Mendadak saja, terdengar raungan seperti monster dari bawah sana. Jeritan para rakyat pun terdengar semakin riuh. Beberapa bangunan sudah ambruk dan bercampur dengan tanah. Tangis demi tangis terus terdengar di mana pun.

__ADS_1


Napas Charlotte menderu, dadanya kembang kempis. Ia mendengar sesuatu yang menyayat hatinya. Tangisan warga Everfalls membuatnya tidak tenang.


Tak berapa lama...


“ARGH!”


Wus.


Wus.


Wus.


Seekor naga terbang dari bawah sana hingga tubuhnya hampir menghalangi cahaya rembulan malam ini. Kepakkannya mengusir angin ribut yang dihasilkan oleh Ellena.


Semua mata terbelalak, tak terkecuali. Bahkan, saat ini para rakyat Everfalls di bawah sana menganga sampai mati rasa. Tubuh mereka tak dapat digerakkan saking terkejutnya melihat legenda yang hilang akhirnya muncul.


“D-Dragon?!” Steven berteriak. “Itu... itu adalah spirit Dragon yang sudah tersegel lama ratusan ribu tahun yang lalu!” jelas Steven.


Glek.


Naga besar itu melebihi istana Charlotte dan juga bukit-bukit di sekitar Everfalls, bahkan Manta saja kalah dengan besarnya sang legenda tersebut.


Dalam beberapa saat, semua hanya bisa terdiam menatap sang naga agung yang sudah lama terkurung. Ia terbang mengelilingi langit Everfalls, sesekali menghembuskan napas apinya.


Naga tersebut berwarna perak dengan sisiknya yang mengkilap. Di sepanjang tubuhnya sampai ke ekor, tanduk-tanduk besar hingga kecil meruncing. Jika seseorang terkena tanduk itu, maka ia akan langsung mati.


Di sekitar tubuh naga perak tersebut, aura ungu kehitaman mengelilinginya. Mata naga tersebut berwarna kuning dengan lensa hitam nan tajam. Sekali tembak, ia bisa langsung menghabisi satu wilayah.


Spirit Dragon disegel selama ratusan ribu tahun karena kesombongannya akan kekuatan dahsyat yang ia peroleh dari Tuhan, padahal para Spirit diutus untuk menjadi khalifah di daratan Wolestria. Namun karena keangkuhan, semuanya sampai saat ini sudah tidak jelas keberadaannya.


Kekuatan Spirit Dragon melebihi lima Spirit Kokoh yang lain. Karena keangkuhannya dan ia tidak bisa mengendalikan kekuatan, maka dunia menyegelnya.


Namun, siapa yang melepas segel tersebut?


“Kalian pasti bertanya-tanya, bukan?” Di ujung sana Mae terkekeh bak iblis yang telah menguasai umat manusia. “Kalian akan hancur dalam sekejap hahaha!”


****

__ADS_1


__ADS_2