
“Lupakan semua itu dulu! Lihatlah, Dragon semakin mengamuk! Bisa-bisa dia menghancurkan istana Ratu Charlotte dan juga seluruh Everfalls!” Ellena berteriak dengan keras. Benar saja, di atas sana Dragon semakin terbang tanpa arah sembari sesekali menyemburkan apinya dari mulut.
Di sekeliling Dragon tampak aura ungu kehitaman meliputinya. Dragon semakin mengamuk. Semua yang ada di atas istana Charlotte pun bergetar ketakutan. Tidak ada yang bisa menghentikan kiamat ini, pikir mereka.
Mendadak.
“Cukup sampai di situ saja, Dragon!” teriak seorang anak kecil yang tak lain adalah Yuya. Ia menyemprot benang putih nan lengket dari tangannya ke mulut Dragon dan mengendalikan si Spirit yang tengah mengamuk itu. Di samping Yuya, ada Ciel yang masih mengatur napas.
Sementara di belakang kedua anak kecil itu tampak Navi si tarantula, Momo si Quinkana, dan Pyon si kelabang. Yang membuat terkejutnya lagi, ketiga ras hewan itu berukuran lebih besar daripada sebelumnya, mirip hewan purba.
Semua yang melihatnya pun melotot.
“Hei, jangan-jangan itu Yuya The Insect Charmer?” terka salah satu pelayan Charlotte. Matanya berbinar seraya menaruh kelegaan di dalam hatinya.
“Iya benar.”
Sorak sorai kesyukuran pun terdengar menggema di tengah hiruk pikuk kekacauan yang diakibatkan oleh Zendaya dan Dragon tersebut. Sementara Steven menekuk alisnya. “Aku baru tahu bahwa Yuya sangat terkenal.”
Namun, berbeda dengan respons Ellena. Ia melotot hebat bukan main. Matanya sampai membulat sempurna melihat Yuya ada di antara adrenalin ini.
Tanpa sadar, Ellena melempar Zendaya. “Tolong jaga Mae!” katanya kepada Hanae sebelum ia mengambil tindakan lebih lanjut. Setelah Hanae menerima perintah itu meski enggan karena ia tahu bahwa ini bukanlah Mae melainkan Zendaya, Ellena pun berlari ke arah Yuya yang tengah asyik memainkan mulut Dragon dengan benang dari Navi. Di sampingnya, Ciel memasang wajah cemas.
“Yuya, hentikanlah! Kau bisa ikut terbang bersamanya!” Ciel masih mengatur napas.
“Tenanglah, Elf! Aku sudah terbiasa. Aku bisa memainkan benang tarantula ini. Lihatlah saja.” Yuya semakin bersemangat. Bahkan, ia tertawa-tawa seakan menikmati permainan barunya. Padahal tubuh Dragon seribu kali lipat dari dirinya. Namun, dengan enteng Yuya mempermainkan sang Spirit tersebut.
Mendadak, dari kejauhan Ellena berteriak, “YUYA, HENTIKAN ITU!”
Ellena sangat takut, matanya memancarkan sebuah ketakutan yang besar. Ya, ia tidak mau kehilangan Yuya seperti yang diceritakan di novel semu buatan Ruby.
__ADS_1
Kedua netra Ellena sudah basah. “Hentikan ini! Aku mohon jangan pergi!” teriak Ellena sembari memeluk Yuya.
“Ellie, apa kamu sudah sembuh?” tanya Yuya dengan santainya sembari mencoba mengatur Dragon yang di atas sana masih mengamuk tidak jelas.
“Apa kamu bodoh?! Seharusnya kamu yang harus dicemaskan, bukan aku!” Mata Ellena semakin basah. “Tolong hentikan ini, Yuya!”
Ellena semakin menangis dengan deras sembari terus menarik Yuya, menahan tubuh bocah itu yang hampir terbawa karena Dragon mengamuk.
“Ada apa, Ellie? Tenang saja, Dragon adalah lawanku.” Yuya melirik kepada Charlotte yang berdiri di tengah tempat persembahan. Keduanya beradu tatapan sejenak, lalu mengangguk bersamaan. Ya, mereka seperti berkomunikasi lewat telepati.
Sementara Ellena celingukan sendiri. Apa maksudnya?
Tak menunggu aba-aba lagi, ketiga hewan besar tersebut mendekat kepada Charlotte, mengelilingi wanita itu di sebuah lingkaran sihir di sana. Di tengah lingkaran sihir ada bentuk segitiga, masing-masing menempati setiap sudutnya sementara Charlotte berada di tengah lingkaran sihir.
Kemudian, Charlotte membaca mantra. Dalam beberapa saat, ia berubah menjadi wanita setengah merak putih. Ia memiliki ekor nan indah dan mengembang begitu menawan. Dalam setiap rapal mantranya, bulu-bulu putih itu tampak berkilauan. Semua yang melihat pun semakin tercengang.
Sementara ketiga ras hewan suci itu juga diliputi cahaya putih. Itu adalah sihir suci tingkat tinggi.
Meski oang-orang kian ketakutan, tetapi Charlotte terus merapal suatu mantra yang entah apa itu. Semakin lama, cahaya putih kian menghiasi istana Charlotte. Bahkan, kini sudah merambat hampir memenuhi seluruh Everfalls.
Di sisi lain, Mae hendak berontak, tetapi Hanae yang lebih kekar darinya pun menahan gadis kecil itu. “Mau ke mana kamu?” tanyanya dengan seringai kepuasan. Tak hanya Hanae yang menahan kebrutalan gadis itu, Leonie juga ikut membantu.
Ia membekuk Mae. “Ternyata dirimu kecil tetapi merepotkan, ya.” Leonie juga terkekeh. “Tidak, sebenarnya kau tidaklah sekecil itu.” Leonie sadar betul siapa yang ada di dalam tubuh Mae itu.
“Maka, hentikan perbuatan burukmu dengan memakai tubuh sahabat kami sampai kau memakai gelang persahabatan yang diberikan oleh Ellie! Aku sangat benci melihatmu, sungguh menjijikkan!” maki Hanae ditambah tatapan sinis oleh Steven, Gao, dan juga Gall.
Sementara di tempat Ellena berada, tiba-tiba saja Yuya berkata dengan lembut. “Ellie, kali ini mohon lepaskan aku, ya.” Senyum gadis itu mengembang dengan sempurna.
Namun, Ellena menolaknya. Ia menggeleng cepat dengan mata yang sudah basah dan hati yang seperti diremas-remas hingga membuat dadanya terasa sesak. “Tidak, Yuya! Tidak akan pernah! Tolong jangan pergi! Apa kamu tega meninggalkanku setelah Varl juga pergi?! Jangan pergi!”
__ADS_1
Ellena menolak dengan cepat.
“Tidak, Ellie. Meski aku pergi sekalipun, kamu tidak akan sendirian. Ada Pangeran Steven, Gao, Gall, Hanae, Leonie, dan juga Mae. Kita semua adalah sahabat sekaligus keluarga. Aku sangat bersyukur bisa kenal dan berpetualang bersama kalian. Jadi, kali ini aku ingin membalas rasa kasih sayang kalian dengan kemampuanku. Serahkan saja semua padaku.”
“Tidak, Yuya!”
“Apa kamu tidak mau semua ini berakhir? Butuh berapa episode lagi untuk menceritakan kisah ini?”
Kepala Ellena pun menunduk dalam. Sebenarnya, ia juga ingin cerita ini segera selesai dengan akhir yang bahagia. Namun, apakah bisa? Apakah dengan mengorbankan Yuya semua akan kembali semula dan baik-baik saja?
“Tidak, Yuya...”
Ellena tidak bisa mengakui itu. Andai saja ada cara yang lebih baik.
Namun, tiba-tiba saja Yuya juga diliputi cahaya putih. Perlahan, ia menghilang dengan transparan di beberapa bagiannya. Bekas tubuhnya seperti berubah menjadi pernak-pernik yang berembus menuju ke arah Dragon.
Ellena yang melihatnya pun menjadi panik. Tangisnya kian deras seraya memanggil nama Yuya berulang kali, menolak tindakan gadis kecil yang sudah seperti adiknya sendiri.
“Sampai jumpa lagi, Ellie,” kata Yuya dengan senyumnya.
“Tidak... tidak Yuya! KUMOHON... KUMOHON JANGAN PERGIII!” teriak Ellena sembari berusaha menangkap tubuh Yuya yang berubah jadi kristal kecil.
Bekas tubuh Yuya masuk ke kepala Dragon. Ia menyelimuti pikiran Dragon dengan cahaya suci tingkat tinggi yang disalurkan oleh Charlotte. Sihir suci tersebut mengalahkan sihir hitam yang sedari tadi meliputi pikiran sang Dragon.
Wus.
Pada akhirnya, tubuh Yuya hilang dan Ellena maupun lainnya tidak bisa melihat Yuya lagi.
“YUYAAAAAAAAAAAA!”
__ADS_1
****