CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Tak Akan Gentar


__ADS_3

“Ellena, kami datang!” teriak Leonie dari atas sana. Manu kembali mengepakkan sayapnya dengan bebas. Setelah keluar dari portal entah mengapa kekuatan Manu meningkat dua kali lebih besar.


Ellena yang sudah pasrah akan takdirnya pun kini tersenyum lebar. Ia tak menyangka bahwa dirinya bisa mendapatkan keajaiban. Sejujurnya, gadis itu tidak sepenuhnya pasrah, ia percaya bahwa teman-temannya akan datang menolong.


Ya, percaya.


Meski peluang keajaiban sangat kecil, Ellena sudah menaruh percaya bahwa teman-temannya akan datang. Ia tidak pernah ditinggal.


Mengingat itu, membuat Ellena kembali tersenyum dengan lebar. Ia tidak merasa sendiri lagi. Semua orang menginginkannya, bahkan Ellena mulai merasa bahwa ia bukan lagi pemeran figuran. Demi teman, Ellena siap kembali berjuang.


“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” Mae ikut berteriak dari atas sana. “Apa kau sudah menemukan lelaki tampan, Ellie?” Kedua tangan Mae membentuk lingkaran dan menaruhnya di sekitar mulut sebagai cara ia untuk menyampaikan suaranya.


“Hah? Kau pikir aku di sini hendak kencan?!” Baru saja merasa bahagia, Mae menyinggung tentang pasangan. Ah, memang benar Ellena seorang gadis jomblo yang tidak pernah berkencan dengan pria mana pun, tetapi di saat genting ini Mae mengingatkan kepedihan Ellena.


Mendadak.


Gerobak kayu yang mereka tumpangi bergoyang, bahkan membuat Manu tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Hal itu terjadi karena si orc merasa kesempitan. Ia awalnya hendak bergeser sedikit untuk memperbaiki cara duduknya yang kurang nyaman. Namun, badannya yang besar membuat gerobak kehilangan keseimbangan.


Semua pun berteriak, mengundang perhatian seluruh prajurit yang menonton, bahkan Charlotte yang tengah murka melihat adegan kacau di atas sana. Namun, ia tidak senang karena hama-hama itu sangat mengganggu!


“Cih, merepotkan!” lirih Charlotte. Fokusnya menjadi buyar sehingga sihir hitam pun kembali hilang tetapi angin masih ribut mengelilingi seluruh podium.


Di atas sana, penumpang gerobak itu kian menjerit. Bahkan, Manu meringkik dan berusaha untuk seimbang.


“Heh, minggir dulu woi! Aku mau jatuh!” teriak Steven yang badannya terimpit Gall. Ia duduk tepat di pinggir, kemungkinan jatuh bisa sampai 99% karena saat ini gerobak miring ke arah kiri di mana Steven duduk di sisi sebelah situ.


Kedua mata Steven mendelik. Terlihat di netranya tanah lapang yang mulai mengering. Angin terasa sangat dingin. Kacaunya gerobak kian membuat kepala pening.


Napas Steven tersengal. Kedua tangannya menggenggam erat sisi gerobak agar ia tidak jatuh. Keringat dingin pun mulai mengucur, sementara pandangannya sedikit kabur. Steven mengerjapkan mata, ia tidak ingin jatuh!


Namun, kesialan menimpa dirinya. Ah, sebenarnya tidak hanya dia. Manu maupun seluruh gerobak mulai terjatuh karena terbalik.


“AAAA!”


“Mati aku mati aku mati aku!”


“Mamaaaa!”


“Hareudaangg!”

__ADS_1


Mereka menembus angin hingga pada akhirnya...


Bruk!


Remuk sudah tulang-tulang.


Untung saja tidak terlalu tinggi, sehingga tulang tidak jadi remuk. Mereka masih aman, hanya saja tubuh memang terasa seperti hancur. Mereka pun meringis kesakitan sembari mengelus pinggang, encok.


Mendengar gebrakan yang begitu keras, Varl, Ruby, dan Yuya mulai membuka mata. Mereka menguap berbarengan.


“Apa ini sudah pagi?” tanya Varl.


“Ah, baru kali ini aku tidur nyenyak. Hoam.” Ruby juga meregangkan tubuhnya meski saat ini ia diikat, tetapi rupanya ikatan itu tidak sekuat yang dikira. Buktinya, ia masih bisa melemaskan badan, lalu kembali melayang dengan sayap kecilnya.


“Ah, Ellie. Apa tidurmu juga nyenyak? Aku tadi bermimpi melihat bintang banyak sekali.” Lagi, Yuya juga menguap dan meregangkan tubuhnya. Kemudian, ia melepaskan diri dari ikatan tersebut dengan mudah.


Melihat itu, Ellena melotot. Sedari tadi ia kesusahan sendiri bahkan hampir saja mati karena ikatan gila ini. Namun, mengapa dua bocah kecil itu dapat lolos tanpa hambatan? Apakah karena tubuh mereka yang lebih kecil dari Ellena?


“H-heh, kalian dari tadi tidur?!” Ellena tak mempercayai itu. Bagaimana tidak, ia hampir saja kehilangan nyawa karena terjebak dengan belenggu dan tiga teman yang rupanya hanya tertidur!


Kesal.


Namun, bagaimana lagi.


Tidak semudah itu, Ellena.


Sedari tadi Charlotte menahan kesal meski saat ini wajahnya tampak datar, tidak melukiskan bagaimana suasana hatinya. Sihir yang hendak memusnahkan Ellena sudah hilang. Kini, ia menghentikan amukan angin.


Damai sudah.


Namun, tidak dengan hati Charlotte. Kekacauan ini membuat fokusnya juga ikut terombang-ambing. Ia tidak bisa merapal mantra apa pun lagi. Terlalu ramai!


“Haish, aku pikir ini akan jadi jalan cerita yang menegangkan,” batin Ellena sedikit kecewa. Bagaimana tidak, ia bersama teman-teman bodoh yang kacau juga. Tidak ada yang benar-benar serius dengan perannya.


Mendadak, Charlotte berjalan menuju ke suatu tempat diikuti oleh para dayangnya. Ellena melirik. Ini kesempatannya!


Ya, Ellena tidak mau melepaskan Charlotte begitu saja. Ia ingin sang ratu bisa kembali kepada rakyat dan membuka hati untuk mereka. Meski kaca sudah retak, setidaknya masih diperbaiki walau tak sesempurna saat dahulu.


Tidak apa.

__ADS_1


Selagi nyawa masih di kandung badan, masih ada kesempatan lagi untuk memulai hal baru dan memperbaiki setiap kesalahan di masa lalu.


Percaya atau tidak, Ellena sangat percaya bahwa Charlotte pasti akan kembali! Fighting!


Ellena pun bangkit. Belenggu yang sedari tadi mengikatnya rupanya hanya ilusi. Ellena saja yang terlalu banyak menonton dan membaca tentang penculikan sehingga pikirannya terfokus dan melukiskan seakan-akan ia diikat.


Sementara Varl, Yuya, dan Ruby hanya memikirkan kasur saking lelahnya. Sehingga, sihir ilusi memberikan bayangan kasur dan tidur yang nyaman untuk mereka.


Ah, sia-sia sudah. Ellena bertekad untuk tidak berpatok pada pemikirannya lagi. Sebab, pikiran kita lemah dan rapuh serta mudah berubah laiknya cuaca. Apa yang dipikirkan belum tentu benar. Ellena hanya percaya pada apa yang harus dihadapinya sekarang.


Gadis itu bangkit dengan penuh semangat dan menghapus tali yang seakan membelenggunya. “Ratu, kembalilah! Kami tengah menunggu Anda—” teriak Ellena membuat langkah Charlotte terhenti, begitu pula para dayangnya.


Kemudian, wanita itu menoleh dengan sinis. “Lanuae!”


Seketika...


Cling.


Ellena dan teman-temannya menghilang dari hadapan Charlotte. Mereka dikirim kembali di dekat portal!


Namun, sedetik kemudian portal tersebut hilang. Agaknya Charlotte memang hendak membatasi dirinya lagi. Portal... sudah lenyap. Artinya, tak ada jalan kembali menuju istana awan.


Semuanya mengerjapkan mata. Terlalu cepat!


Bahkan, belum berkedip saja mereka sudah sampai di atas bukit


yang pernah mereka singgah dan lewati. Mereka mencoba untuk mencerna keadaan yang terjadi secepat kilat.


Wus.


Tahu-tahu sudah di tempat lain dan otak masih terkejut dengan perubahan lingkungan yang mendadak itu. Sihir teleportasi Charlotte begitu cepat, bahkan Ellena belum selesai bicara saja sudah menghilang dari hadapan sang ratu.


“Aku tak membutuhkan kalian lagi!”


Hanya kalimat itu yang terngiang di benak sebelum mereka benar-benar menghilang dari sana dan tiba di tempat sunyi, hanya terdengar bisikan angin yang berembus.


Wus.


Sementara itu.

__ADS_1


“Loh, kenapa aku juga ikut?!” sesal Gao, ia berteriak penuh penyesalan.


****


__ADS_2