CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Satu vs Seratus Satu


__ADS_3

Hening.


Kedua insan itu hanya saling tatap seraya mencerna keadaan yang terasa sangat mendadak ini. Sejenak, angin berembus memberi ketenangan. Tidak ada yang membuka mulut. Hanya tatapan penuh pertanyaan yang ada di dalam diri masing-masing.


Netra Varl menangkap sosok Charlotte yang tengah berdiri di tengah-tengah kolam. Wanita itu berdiri di atas ubin yang di sana ada lambang sihir. Cahaya sihir berwarna putih pun kini mengelilingi wanita penguasa Everfalls itu. Mereka saling bertatapan.


Glek.


Sungguh, ini kali pertama Varl melihat sang penguasa negerinya. Varl melepaskam Specula dan sesegera mungkin untuk memasukkan Magical Tracer itu ke dalam tas ajaib agar ia bisa melihat dengan jelas keindahan di depannya.


Mata pria itu sampai tak mampu berkedip sebab melihat sosok yang paling cantik dan anggun. Wanita dengan rambut perak yang bergelombang sepanjang punggungnya.


Tubuh ramping dengan mata perak yang kehilangan cahaya hidupnya. Wajah cantik nan tanpa ekspresi itu mengundang rasa iba di dalam diri Varl. Gaun hitam yang menyelimuti tubuh Charlotte juga menyimpan kesedihan tersendiri.


Varl tertegun. Wanita yang ia incar selama ini rupanya memang memiliki aura tersendiri. Tanpa sadar, air matanya mengalir. Sungguh, Charlotte adalah ciptaan Tuhan yang paling agung dengan pahatan indah tiada celah.


“Seperti... boneka,” lirih Varl tak sadar. Ia benar-benar kagum dengan sosok nan berwibawa itu, sang penguasa Everfalls. Selama ini, ia hanya mendengar suara sang Ratu yang begitu indah. Pada kesempatan kali ini, akhirnya Varl bisa berhadapan langsung dengan sang Ratu yang membuatnya mematung seketika.


Deg.


Deg.


Deg.


Debaran jantung Varl mendadak tidak karuan. Ia baru tahu mengapa rakyat Everfalls sangat mengagumi sosok Charlotte, bahkan mereka menantikan kembalinya sang ratu negeri ini.


Tetesan embun yang jatuh dari atap ruangan menjadi harmoni yang mengisi kekosongan pertemuan mereka. Beberapa merak asli yang sedari tadi berada di sana menjadi penghias.


Hening.


Masih saling menatap, keberanian Varl juga seketika menguar dan digantikan dengan kekaguman. Ia sampai tak dapat berkata-kata lebih untuk melukiskan betapa indahnya sosok Charlotte yang kini tepat berada di hadapannya.


Beberapa saat kemudian, Charlotte berjalan mendekat. Ajaibnya, ia bisa berjalan di atas air seakan air jernih yang dihiasi beberapa bunga teratai itu sudah tunduk pada perintahnya.


Deg.


Deg.

__ADS_1


Deg.


Jantung Varl semakin berdetak tak beraturan. Kedua pipinya memerah didekati oleh seorang wanita idaman seluruh rakyat Everfalls. Apa yang hendak Charlotte lakukan padanya?


Entah mengapa, Varl tak dapat berlari. Tubuhnya seperti diam di tempat, bahkan untuk bergerak sedikit saja sepertinya susah. Varl tidak takut, lagi pula wanita itu tidak memancarkan hawa mengancam.


Namun, seketika mata perak Charlotte menyala meski cahaya kehidupannya telah meredup. Sontak saja angin mengamuk. Air juga mulai membentuk gelombang yang begitu dahsyat. Api-api di sekeliling yang menjadi cahaya di ruangan itu kian membesar. Sementara tanah yang Varl injak mendadak bergetar.


Wus.


Wus.


Wus.


Brak!


Angin membuka pintu ruangan. Gemuruh mulai terdengar dari mana-mana. Melihat empat elemen dasar tengah mengamuk, Varl mendelik. Apa yang sebenarnya terjadi?


“Enyah!” ucap Charlotte. Meskipun lirih, tetapi kalimatnya seakan menusuk jantung Varl dengan cepat.


Melihat amukan itu, tubuh Varl gemetar. Kakinya ingin melangkah, ia harus kabur!


Glek.


Berulang kali Varl meneguk salivanya dengan kasar. Bibirnya mendadak kelu. Ia tidak tahu harus melakukan apa!


Di sekelilingnya, semua mengamuk tanpa arah tetapi masih berada di bawah kendali Charlotte. Semua elemen seakan menatap benci pada Varl.


“Mati aku... mati aku... mati aku!” Varl meracau, tetapi ia tetap mencoba untuk membuat tubuhnya bergerak. Ia melawan gravitasi dengan seluruh tenaganya.


Keringat kian bercucuran dengan deras. Tidak, Varl tak ingin dirinya berakhir begitu saja di sini. Ia pun memiliki misi yang besar. Wanita yang sempat dikaguminya sejenak mendadak berubah mengerikan. Meski hanya dengan tatapan mata peraknya, tetapi mampu membuat dada Varl sesak, jantungnya bahkan seperti diremas-remas.


“Argh!” teriak Varl untuk mengerahkan sisa tenaganya agar kaki yang ditahan oleh tanah itu bisa bergerak.


Untungnya, Varl mampu melawan tarikan gravitasi yang menahannya. Ia sesegera mungkin berlari. Ya, pokoknya berlari saja dan selamatkan nyawa!


Pria itu mengira, semua akan berakhir di sini saja. Selama ia berlari, maka semua akan aman. Namun, rupanya tidak begitu. Di depan sana, seratus prajurit wanita menghadangnya sementara di belakang, Charlotte berjalan mendekat dengan membawa keempat elemen yang mengamuk bersamanya.

__ADS_1


Kiamat seakan segera datang pada Varl. Pria itu mencoba memikirkan segala hal untuk bisa bebas dari kejaran Charlotte dan pengikutnya.


“Argh!” Varl mengacak-acak rambut ikalnya yang berwarna coklat. Bingung!


Kepalanya tengok ke sana kemari melihat para prajurit yang dari kejauhan mengitarinya. “Sungguh, sebenarnya apa salahku, hah?” Varl mencoba mengoreksi diri di saat genting, kiranya apa yang membuat amarah Charlotte meningkat?


Meski keadaan kian mencekam dan seakan tak ada jalan keluar, Varl tetap berusaha untuk menghadapi masalah ini terlepas akan ada keajaiban atau tidak, ia si pengembara siap menghadapi rintangan apa pun!


Semangat Varl mulai berkobar. Ia keluarkan tombak kesayangannya dari tas ajaib miliknya. Sejenak, ia todongkan tombak yang bercahaya merah itu kepada para prajurit.


Wus.


Wus.


Wus.


Angin di sekitar menerbangkan debu-debu, membuat penghalang bagi pandangan Varl. Ia menutup mata dengan kedua tangannya. Namun, Varl mencoba untuk melawan. Ia kembali todongkan tombaknya dan melawan beberapa debu yang masuk ke matanya.


“Lawan aku, si pria pengembara yang sudah mengalahkan seribu bandit di dunia ini!” teriak Varl membanggakan diri. Tidak, bukan bermaksud ia sombong, hanya saja ia mencoba percaya diri bahwa dirinya juga kuat.


Hanya wanita.


Ya, memang hanya wanita yang saat ini tengah di hadapinya. Varl berusaha tak gentar meski ia tahu bahwa satu prajurit wanita setara dengan kekuatan seratus pria. Jika ada seratus prajurit wanita, maka tercipta sepuluh ribu kekuatan pria!


Glek.


Varl kembali menelan ludahnya. Apakah ia mampu?


Sungguh, jika ia harus memilih untuk lari, tetapi ke mana? Para prajurit wanita mengepungnya dari depan dan samping. Lalu di belakang, Charlotte menaruh banyak jebakan.


Terbang?


Tidak mungkin!


Varl tak memiliki kemampuan itu. Apa ia akan pasrah? Varl hanya mengharapkan keajaiban meski sangat mustahil. Mungkinkah ia akan hidup esok hari dan bertemu dengan Ellena?


Mengingat Ellena, membuat pelupuk mata Varl basah. Jujur saja, ia sedikit menyesal karena bertindak sendiri dan tidak membawa gadis dari dunia lain itu. “Oh Ellena,” lirih Varl. Ia mulai menangis dan pasrah.

__ADS_1


Sudahlah. Jika memang ini takdirnya, maka Varl akan menerimanya. Ia pun memejamkan mata, siap menerima hukuman yang akan diberikan oleh Charlotte dan prajuritnya. Satu lawan seratus satu, bisakah menang?


****


__ADS_2