
“Siapa kamu?” tanya orc itu lagi. Tatapannya penuh dengan pertanyaan. Baru kali ini ia melihat ras yang kuat seperti Charlotte, bahkan hanya dengan mengandalkan suaranya saja bisa menundukkan sebagian Everfalls.
Glek.
Sementara itu, Ellena masih tidak nyaman ditatap oleh seluruh rakyat Everfalls yang masih berdiri dengan gemetar. Ia takut, tatapan orang-orang selalu memiliki arti yang tak Ellena tahu. Maka dari itu, Ellena enggan menjadi pemeran utama.
Selama ini, ia selalu bekerja di belakang layar. Berbeda dengan Miko yang selalu menjadi pusat perhatian semua orang, terlebih kecantikannya sebagai gadis Asia. Ellena saja sampai mengaguminya.
“Aku, Ellena,” jawab Ellena. Ia tak mengatakan namanya dengan lengkap karena takut dikira sebagai ras tertinggi lagi padahal dia tidak memiliki kekuatan apa pun. Ellena masih belum sadar bahwa angin ribut itu ulah darinya.
“Apa Berkahmu?” tanya orc itu lagi.
Jleb.
Ellena belum bisa menyusun jawaban untuk pertanyaan ini. Kalaupun ia berbohong dengan mengaku bahwa ia memiliki Berkah, tetapi punggung tangannya bersih sekali, tak ada tanda apa pun di sana.
Apakah Ellena harus berkata bahwa Berkahnya tengah memudar karena kutukan seperti Steven? Namun, itu tidaklah mungkin. Ellena tidak pandai berbohong. Raut wajahnya sangat jujur.
Hening.
Beberapa detik hanya diisi oleh kebungkaman Ellena. Teman-temannya pun tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk melindungi gadis itu dari pertanyaan prajurit istana yang menjebak.
Memang sedari awal, si orc sangat mencurigai Ellena. Kedua maniknya selalu mengarah pada punggung tangan Ellena. Ia pun kemudian mengarahkan tombaknya pada Ellena yang berdiri sepanjang tombak milik orc.
Ellena gelagapan. Jujur saja, saat ini kakinya sangat lemas. Suasana menjadi tegang baginya. Ellena mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab si orc tersebut.
“A-aku—”
“Ellena adalah pengendali angin! Dia adalah Ellena The Windstorm!” sergah Ruby seketika. Ia tahu, Ellena terjebak dengan keadaan ini dan ia sebagai penanggung jawab Ellena yang memanggil gadis itu dari dunia lain pun harus turun tangan.
Untung saja Ruby memegang kendali. Ia pun melirik pada Ellena. Keduanya saling tersenyum dan Ellena seakan berkata bahwa Ruby sangat pintar. Tanpa disadari si orc, Ellena mengacungkan jempolnya, begitu pula Ruby.
__ADS_1
Namun, rupanya pertanyaan orc itu tidak berhenti sampai di situ saja. Wajahnya yang sangar dan dipenuhi jenggot itu tidak mudah percaya. Ia kembali mengajukan pertanyaan lain. “Lantas, di mana lambang Berkahnya?”
Deg.
Argh, Ellena kesal!
Ia memang bukan makhluk Wolestria yang sangat terikat dengan Berkah semacam itu. Ia berbeda dari seluruh ras di sini. Namun, apakah ia akan dikucilkan jika tidak punya Berkah? Apakah sepenting itu sebuah Berkah?
Ellena geram karena hanya karena ia berbeda, perlakuan orang-orang juga berbeda pula padanya. Padahal, semua sama dan hidup berdampingan. Apakah hanya karena tidak punya Berkah lantas bisa dihina begitu saja?
Apakah begini cara dunia Wolestria bekerja?
“Apa sebegitu pentingnya sebuah tanda?!” Ellena mulai angkat suara dengan lantang. “Setiap orang memiliki Berkah masing-masing, itu yang membuat mereka istimewa. Tapi, jika tidak punya bukankah tak akan jadi masalah? Semua yang lahir pasti sudah selalu mendapat Berkah dari Sang Maha Kuasa. Tak perlu kau tunjukkan, karena berkah itu sendiri ada di dalam dirimu, bukan di tanganmu yang selalu kau pamerkan setiap saat!”
Napas Ellena tersengal. Dadanya naik-turun. Sejujurnya, Ellena merasa tidak pantas mengatakan semua ini pada warga Evefalls. Dunianya dan dunia Wolestria sangatlah berbeda. Sistem kehidupan yang dianutnya juga berbeda.
Ellena merasa bersalah karena menyamakannya. Namun, ia merasa terbuang sendiri di sini. Ia yang bukan siapa-siapa dan tak memiliki kekuatan pun hanya bisa menjadi beban padahal ia punya misi yang begitu besar.
Ia merasa Wolestria tidak adil padanya.
Namun, tiba-tiba saja Ruby yang kini melayang di udara dengan sayap kecilnya pun memegang pundak Ellena. Senyumnya mengembang begitu lebar.
“Tenang, Ellie. Meskipun tanpa Berkah sekalipun, kami akan selalu bersamamu. Kau adalah manusia hebat. Tetaplah bersama kami untuk menjalankan misi ini, karena hanya kamulah yang bisa.” Ruby mengedarkan pandangannya pada teman-teman satu timnya untuk mengode Ellena agar ia juga melihat betapa teman-temannya pun berharap demikian.
Ellena menoleh, menatap satu persatu teman-temannya. Benar saja, netra mereka memancarkan harapan besar. Meski mereka memiliki misi yang sama, tetapi melihat Ellena saat pertama kali membuat mereka yang merasa rendah itu kembali bersemangat.
Mereka yakin, hanya Ellena yang bisa membawa Charlotte kembali meski tanpa kekuatan atau Berkah sekalipun. Ellena tetap gagah dan pantang menyerah meski rintangan datang padanya.
Semua telah sadar, meski mereka bertekad untuk membawa ratu
kembali, tetapi kekuatan dari Berkah mereka sendiri mengalahkan berkah Ellena yang telah ada di dalam dirinya sendiri sebelum datang ke Wolestria.
__ADS_1
“Benar, Ellie. Semua menaruh harapan padamu. Kami memang awalnya sangat yakin bahwa kami bisa membawa Ratu sendiri dengan kekuatan kami. Namun, saat kami melihatmu, kami merasa bahwa kekuatan kami sama sekali belum cukup. Bahkan, menandingimu saja tidak, kami masih sangat jauh. Meski begitu, kami masih ingin membantumu dengan kekuatan kecil yang kami punya,” ucap Leonie.
Bahkan, seorang raja hutan pun berkata demikian. Kalimatnya mewakili seluruh perasaan teman-temannya yang lain. Sejujurnya, tanpa Ellena ketahui, Leonie, Mae, Hanae, Yuya, maupun Steven dan Varl pernah berkumpul bersama dan membahas tentang Ellena.
Mereka menyadari bahwa Ellena adalah ‘sesuatu’ yang lebih baik dari mereka dan pantas untuk menjalankan misi berat ini. Tak ada warga Everfalls yang berhasil membawa ratunya pulang, mungkin saja Ellena adalah harapan satu-satunya mereka.
Kedua mata Ellena pun mulai basah. Rupanya ia tidak ditinggal. Meski tanpa kekuatan istimewa pun, Ellena masih memiliki teman-teman yang senantiasa bersamanya dan membantu dirinya untuk menyelesaikan misi sebelum waktu Ellena habis dan dirinya hancur di sini.
“Terima kasih,” lirih Ellena.
Namun, mendadak saja bumi bergetar bahkan sampai sedikit retak. Semua orang kembali menjerit. Ellena menghapus air matanya, ia mulai waspada.
Tiba-tiba saja, tanah yang Ellena injak bergetar lebih hebat. Ia bahkan sampai ambruk. Hingga pada saatnya seseorang keluar dari tanah. Gemuruh pun menyelimuti, debu-debu beterbangan membuat dada sesak.
Seorang lelaki berusia sama dengan Ellena pun muncul. Dia berambut coklat cerah dengan pakaian laboratorium ala istana. Jubahnya memiliki ukiran yang bernilai seni. Setiap detailnya begitu indah.
Di tangan si lelaki itu tampak bola bercahaya coklat kekuningan, agaknya itu bola sihir yang ia punya. Kemudian, setelah sempurna memunculkan diri di atas permukaan, bola itu pun menghilang seakan disimpannya kembali.
Hening.
Semua menatap pada bocah lelaki itu. Sementara tubuh Ellena yang sudah ambruk di atas tanah berhadapan tepat dengan lelaki yang sebenarnya tampan, bahkan membuat jantung Ellena melompat kegirangan. Pipi gadis itu pun merona, ia menahan malu.
Namun, situasi mendadak jadi tegang.
“Culik dia!”
Seketika lelaki itu memberi komando. Sontak para prajurit wanita langsung mendekat pada Ellena dan membekuk tangan gadis itu.
“Hahaha!” Lelaki tersebut tertawa bak iblis yang telah mendapat mangsanya. Seringainya pun sangat menandakan bahwa dirinya puas. “Kau akan kalah di tanganku, Gadis Bodoh!” tatapan dari netra berwarna kecokelatan itu menatap tajam pada Ellena. Seketika Ellena hanya mematung dan pasrah. Ia terkejut akan tindakan bocah dengan Berkah tanah itu.
****
__ADS_1