
Beberapa saat yang lalu.
“Varl, ke mana saja kamu?” tanya Ciel setelah Varl sampai padanya di kamar. Meski dengan wajah gelisah dan selalu menengok ke belakang karena takut Ellena mengikutinya, Varl tetap tersenyum pada Ciel dan berusaha baik-baik saja.
“Jadi, apa kamu sudah menemukannya?” Varl langsung menuju pada intinya.
“Ya.” Tanpa ragu lagi Ciel mengangguk. Kemudian, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah cincin dengan permata berwarna perak. “Ini cincin yang dimaksud.”
“Hm.” Tampak sekali senyum Varl merekah dengan indah. Pikirannya penuh dengan rencana licik untuk menyelesaikan misi yang teramat berat ini.
Sejenak, Varl menatap pada cincin dengan permata perak. Tampak berkilauan, apa lagi tatkala berhadapan dengan cahaya rembulan, pantulannya sungguh indah dan menawan.
“Ini cincin yang Ayah simpan selama hidupnya. Aku biasanya bawa ke mana-mana, tapi sekarang ini kuberikan padamu, Varl. Sebab, cuman kamu yang bisa menyelesaikan misi ini meski dengan cara jahat sekalipun.”
“Sst.” Telunjuk Varl segera mendarat di depan bibir Ciel. “Ini tidaklah jahat. Kita hanya menghalalkan segala cara.” Lagi, Varl kembali menyunggingkan senyum kelicikan.
Mendengar itu, Ciel pun hanya mengangguk dan terima saja apa pun yang akan Varl lakukan. Sebab, selama ini pria berambut ikal itu tidak pernah mengecewakannya. Varl sudah seperti ayah angkat Ciel meski perbedaan umur mereka begitu jauh.
Varl pun mengelus kepala Ciel dengan lembut seperti anaknya sendiri. Kemudian, ia memasang cincin berpermata perak itu di jari tengah sebelah kanannya. Melihat cincin itu melingkar membuat bahagia membuncah di dalam dadanya.
Ingin sekali rasanya tertawa bak penjahat. Ya, bisa dibilang ia tengah berperan sebagai penjahat. Transaksi ini telah selesai dan Varl harus segera bertindak.
Mendadak.
Brak!
“Varl, apa kau melihat Ellie?” Ruby datang dengan menggebrak pintu kamar seraya memasang wajah panik. Gadis kecil itu sudah berpeluh keringat meski saat ini Ruby melayang dengan sayap kecilnya.
Segera, Varl melepaskan cincin tersebut dan menyimpannya di tas ajaib miliknya. Ia sesegera mungkin menyembunyikannya dari mata Ruby.
“E-Ellena?” Varl ikut panik, sebab ia terkejut bukan main saat Ruby mendadak datang tak diundang.
“Ya, tadi aku melihat Ellena keluar dari kamar. Aku pikir dia akan segera kembali, tetapi sampai sekarang dia tidak ke kamar lagi.” Wajah Ruby semakin resah. Ia tidak menyangka bahwa Ellena meninggalkannya begitu saja dengan cepat.
“Tenanglah, Ruby.” Varl mencoba memenangkan situasi yang mendadak tegang ini. “Tadi aku juga sempat curiga si Ellena pergi. Sebab, tadi aku sempat berpapasan dengan dia dan dia keluar dengan mencurigakan, apa lagi dia pakai jubah biru.”
“Jubah yang tadi siang kita beli di pasar?!”
__ADS_1
“Ya. Aku tanya dia mau ke mana, katanya mau cari angin.” Varl menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, ia sendiri juga tidak mengerti maksud Ellena. Mau banyak tanya, tiba-tiba saja Ciel memanggilnya.
Mendengar hal itu, Ruby terbang bolak-balik, resah. Sesekali ia menggigit ujung kukunya.
Tak lama setelah itu, samar-samar terdengar ringkikan kuda dan langkah kaki yang berlari mendekat.
Brak!
Tanpa menunggu lama, mendadak saja pintu kembali terdobrak. Ah, sungguh kasihan si pintu itu.
Muncul di sana Leonie, Hanae, Mae, dan juga Manu. Mereka tersengal. “E-Ellie... Ellie ke istana Ratu Charlotte!” ungkap Mae, Lonie, dan Hanae, didukung oleh Manu yang meringkik dan mengangkat kakinya.
“Apa?!” Sementara itu, Ruby dan Varl tercengang bersamaan. Kedua mata mereka terbelalak.
“Bagaimana mungkin?!” tanya Ruby tak percaya.
“Tadi aku hendak mengecek kuda, tetapi di kandang hanya ada Manu! Aku coba bicara sama Manu dan katanya Ellie membawa Kuro pergi!” ungkap Leonie. Ia mengepalkan tangannya. “Bagaimana mungkin bocah itu tidak mengatakan apa pun?!”
“Dibanding itu, apakah Ellena sudah menemukan jalan menuju istana? Bukankah portal sudah tidak ada?!” Varl merasa aneh. Di sisi lain, ia merasa khawatir, tangannya berulang kali mengusap cincin permata perak yang berada di dalam tas ajaibnya yang disakukan di sak celananya.
“Dengan kekuatan angin.” Mendadak saja Gao muncul dan memberitahukan demikian. Di belakangnya, Steven dan Gall mengekor. “Seperti yang kita tahu, Nona Ellena adalah pengendali angin. Jadi, mungkin dia meminta bantuan mereka. Namun, kemungkinannya kecil. Hanya sekitar dua puluh persen saja persentase keberhasilannya.”
Gao menjelaskan panjang lebar dengan data yang selama ini ia kumpulkan. Namun, sebenarnya bagaimana cara Ellena bisa sampai?
“Mungkin seperti biasa, dia mengandalkan keajaiban mengapa Ellie bisa sampai ke sana.” Hanae mulai mengajukan pendapatnya. Ia sudah kenal bagaimana Ellena selama ini. Argumen itu disetujui oleh Ruby.
Apalagi bocah kecil itu yang telah membawa Ellena ke Wolestria, sudah tahu bagaimana Ellena. Selama ia hidup di dunia semacam dongeng ini, Ellena akan selalu mengharap keajaiban, pun sama seperti di dunia asli meski kemungkinannya sangat kecil.
Namun, bocah semacam Ellena sangat percaya pada suatu keajaiban di bawah nalar manusia. Baginya, tiada yang tak mungkin sebab ia percaya akan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Hening.
Beberapa saat hanya ada hening di antara mereka. Kemudian, hingga pada saatnya Varl mulai mengambil tindakan lebih dulu.
“Kita juga punya keajaiban.” Varl mulai mengeluarkan cincin permata itu dari dalam sakunya tanpa ragu. Melihat pantulan dari cincin itu, Steven melotot begitu pula Gao dan Gall.
“Itu kan...”
__ADS_1
Mereka berusaha menebak.
“Ya, benar. Ini adalah peninggalannya.” Varl kembali menyeringai. Ia tak berniat untuk menyembunyikan cincin itu lagi. Terserah orang mau bilang apa, asal Varl bisa bertindak, maka ia bisa menyelesaikan misinya.
“B-bagaimana kau bisa mendapatkan itu?!” Steven mendelik. Ia menunjuk pada cincin tersebut. Banyak pertanyaan terlintas di pikirannya. Steven sangat tercengang akan kenyataan yang ada.
Tanpa menjawab dengan aksara yang diukir indah dan jelas, Varl hanya melirik pada Ciel. Sontak saja Steven, Gao, dan Gall kembali membulatkan mata dengan sempurna. Mereka mematung seketika.
“Ayo, Manu. Kita harus bergegas.” Varl berjalan mendekat pada Manu, mengabaikan para orang istana yang tercengang akan kenyataan yang ada.
Melihat Varl bertindak sendiri, Leonie dan yang lainnya mencoba mencegah. “Varl, bagaimana dengan kami—”
“Aku tak memerlukan kalian. Repot jika membawa banyak orang.” Varl mengatakan hal itu tanpa menoleh pada siapa pun. Ia terus melangkah dengan menarik Manu, membawanya untuk menyelesaikan misi.
“Jangan lupa bawa Ellie kembali, Varl!” teriak Ruby. Namun, Varl tidak menggubrisnya.
Melihat sikap Varl yang seperti itu, mengundang kekesalan pada Ruby dan yang lainnya.
“Sebenarnya, apa yang membuat Varl menjadi mengesalkan seperti itu?! Argh!”
Setelah beberapa saat berlari dengan Manu, Varl menemukan tempat sepi untuk dirinya beraksi. Ia keluarkan cincin permata itu dengan yakin. Kemudian, ia membaca mantra, “Evenire!”
Wus.
Seketika saja cahaya putih mulai keluar dari permata itu, mengelilingi Varl dan juga Manu. Keduanya kebingungan dan dalam sekejap...
Cling!
Mereka sampai di istana Charlotte. Namun, angin di sekitar tengah mengamuk. Sudah pasti ada kegaduhan di tempat ini. Di sudut sana, Ellena tengah terpojok di hadapan Charlotte.
“Bocah itu terlalu gegabah!” kesal Varl. Tanpa berpikir lagi, ia melesat dengan Manu, mengejar kesempatan untuk menyelamatkan Ellena.
Hingga pada akhirnya, para dayang mulai menerjang ke arah Ellena dengan berbagai macam senjata yang bisa mengalahkan Ellena dalam sekejap, tetapi Varl sudah lebih dulu menghalangi dengan perisai yang sempat ia simpan di tas ajaib.
“Apa yang kau lakukan, Bodoh?!”
****
__ADS_1