
Tawa Mae terdengar menggema sementara di bawah sana semua orang menjerit ketakutan. Apakah ini kiamat yang sudah dijanjikan? Apakah sekarang waktunya Everfalls hancur dan hilang dari peradaban Wolestria?
“Tidak! Itu tidak akan terjadi!” Mendadak saja Ellena berteriak. Meski sebenarnya ia juga takut akan akhir dari negeri ini, tetapi ia tidak akan gentar. Walau tubuhnya bergetar melihat sang Spirit Dragon, ia tidak akan mau mundur.
Ellena memegang tangan Charlotte, lalu di sampingnya Hanae, Leonie, Steven, Gao, Gall, dan Ruby juga saling bergandengan tangan.
“Kami akan melawanmu!” teriak Ellena lagi sampai tenggorokannya terasa sakit. Angin pun kembali ribut, berembus tak teratur, mengamuk tanpa pernah selesai. Gemuruh petir ikut menggambarkan betapa kacaunya malam ini.
Seluruh elemen pecah, tidak ada yang bisa mengendalikan mereka. Semua sihir disegel. Hancur sudah, semua hanya menunggu akhir.
“Melawanku?” Mae terkekeh. “Jangan bodoh, aku tidak sendirian. Ada Sihir Hitam dan juga Spirit Dragon. Mereka akan menghabisi kalian dalam sekejap!”
“Jadi, kau yang membuka segelnya?!” Steven murka. Bagaimana bisa sang legenda mendadak keluar di permukaan?
“Tentu saja, siapa lagi jika bukan aku? Dengar, setelah pengabdianku beribu-ribu tahun sampai terkurung di sebuah kristal, akhirnya aku bisa membebaskan sang legenda dan aku mendapat kekuatan dengan menjadi Kristal Keabadian! Kalian semua akan kalah! Dunia ini... dunia ini akan hancur seketika hahahaha!”
Ellena yang tadi bersemangat ingin mengalahkan Mae dan juga Spirit Dragon, mendadak nyalinya mengempis seperti kerupuk yang tersiram air. Entah mengapa ia merasa bahwa ini bukanlah tandingannya.
Glek.
Kaki Ellena sampai bergetar karena ketakutan. Namun, tiba-tiba saja Steven meremas pundak Ellena.
“Apa kamu akan menyerah?” bisiknya.
Jujur, jika boleh memilih, Ellena ingin menyerah dan segera mungkin hilang dari kengerian ini. Ia sudah tak sanggup menghadapinya lagi, padahal semua harapan warga Everfalls ada pada dirinya.
“Jika kau menyerah, maka dirimu akan sia-sia berada di sini, Nona Ellena.” Mendadak saja Gall membuka mulut. Ia berjalan dan berdiri tepat di hadapan Ellena. Pria orc itu memasang kuda-kuda, bersiap untuk melawan Mae dan juga kekuatan jahatnya di garda terdepan.
“Tanpa sihir, aku mungkin juga tidak bisa.” Gao juga maju. Ia berdiri di samping Gall. “Aku memang tidak begitu mahir bertarung, tetapi aku rasa aku bisa menjinakkan dia.” Senyum Gao melengkung bak bulan malam ini.
“Menyerah seperti bukan dirimu saja, Ellie.” Kini, Leonie yang maju setelah dia menepuk pundak Ellena dan dia berdiri tepat di sebelah kiri Gall.
“Kalau mau kabur, mungkin sekarang saja.” Hanae juga tak kalah mengatai Ellena yang mulai ragu. Gadis dari Esaland itu berdiri di samping Leonie seraya mulai membidik panahnya meski tanpa sihir sekali pun.
Melihat itu, dada Ellena bergetar hebat. Ini bukan karena ketakutan, melainkan sebuah dorongan semangat yang diberikan oleh teman-temannya.
__ADS_1
Ya, Ellena tidak boleh gentar. Semua harus diselesaikan dengan segera mungkin sebelum fajar tiba dan Wolestria menghapus peradaban Everfalls.
“SERAAAAANG!” Gall berteriak, sontak saja Ellena dan lainnya langsung berlari mengarah pada Mae yang berdiri di sana dengan seringainya.
“Hee boleh juga.” Mae dengan segera membaca mantra dan...
Wus!
Spirit Dragon menyerang Ellena dan teman-temannya. Namun, dengan segera mereka langsung membelah menjadi dua bagian tim. Sebelah kanan ada Gall, Gao, Steven, dan juga Ruby. Sebelah kiri Ellena, Hanae, dan Leonie. Mereka berlari untuk menghindari Dragon yang mendadak menyerang mereka.
Bruk!
Hanae yang mulai kelelahan tidak bisa berlari dengan cepat sehingga ia terhempas karena terkena angin yang dilalui oleh si Dragon. Hanae menghantam tanah, tulangnya seketika terasa remuk. Ia bergetar.
“Hanae!” teriak Ellena.
Melihat Hanae sampai batuk darah karena terhempas begitu jauh, Ellena terbelalak.
“Tidak, tidak, ini tidaklah mungkin! Jika begini terus, maka kita akan mati!” Ellena tidak bisa membayangkan itu. Kini ia sudah ingat, di sinilah puncaknya. Kejadian terbebasnya Spirit Dragon sudah diceritakan oleh Ruby dan akan banyak nyawa yang hilang hanya demi menyelamatkan Charlotte.
Ruby tahu semuanya?
Kedua mata Ellena menatap Ruby yang juga menatapnya dengan seringai. Mata merah Ruby menyala sekilas. Melihat itu, Ellena mendelik.
Namun, mendadak saja.
Wus.
Dragon kembali menyerang dengan lewat di atas mereka. Melihat itu, Manta segera menghentikan Dragon. Meski tubuhnya kalah jauh, Manta tetap melawan. Terjadilah adu kekuatan di antara keduanya.
Sementara itu, ribuan ras angel keluar dari istana. Semuanya berbondong-bondong untuk mengerahkan tenaga sampai lapangan di sana tidak muat untuk mereka.
“Serang!” teriak mereka sembari melemparkan panah maupun tombak ke arah Dragon. Namun, tentu saja sisik keras naga itu tidak bisa dihalau oleh apa pun. Malah, tombak-tombak itu seperti nyamuk saja, di ‘hap’ langsung hilang.
Melihat kekacauan itu mengundang tawa keras dari Mae. Kini, hanya ia yang bisa mengendalikan seluruh elemen sihir. Ia saja sampai bisa terbang walah tanpa sayap.
__ADS_1
“HAHAHA AKHIRNYA... AKHIRNYAAA!” teriaknya dengan bangga. Semua orang ketakutan, Manta dan Dragon tengah beradu, tetapi ia sangat senang melihatnya.
Dahulu kala, ia sebenarnya adalah ras manusia yang menjadi seorang penyihir buta. Ya, atma di dalam Kristal Keabadian adalah sang penyihir buta ribuan tahun lalu.
Ia putus asa karena semua orang menjauhinya disebabkan kesalahannya melakukan eksperimen sihir. Tak hanya itu, ia juga menyebarkan ilmu sihir jahat yang dianugerahi olehnya. Ia memanfaatkan itu untuk kepentingannya sendiri.
Ia adalah Zendaya sang Penyihir Buta yang menciptakan lagu penuh emosional, dapat membawa perasaan orang yang menyanyikan lagu tersebut agar bisa diterima oleh pendengarnya.
Zendaya mendapat kutukan dari sihir tingkat atas dan mendapat hukuman karena menyembah pada yang salah. Ia buta selama hidupnya dan memiliki penyakit kulit bau nan mematikan.
Ia dihukum gantung, tetapi rohnya ditolak oleh nirwana sehingga ia terjebak di dunia Wolestria. Akhirnya, ia menemukan sebuah kristal tak bertuan. Ia pun masuk dan bertemu dengan Sihir Hitam. Mereka melakukan pengabdian hingga dapat melepas segel Spirit Dragon.
“Zendaya hentikan semua ini!” Mendadak saja Charlotte berteriak, memohon dengan segenap hatinya agar tuannya bisa menghentikan kekacauan Everfalls.
Sementara yang lain menautkan alis, merasa bingung. Segera saja Charlotte menjelaskan, “Dia bukanlah teman kalian, dia adalah Zendaya.” Charlotte pun menjelaskan panjang lebar tentang Zendaya yang dimaksud, seorang penyihir kuno yang terikat janji dengannya.
Semua pun tercengang mendengarnya. Charlotte selama ini mengabdi kepada Zendaya untuk mendapatkan kekuatannya sendiri hingga bisa mengangkat istana agungnya.
Namun untuk mendapatkan semua itu, Charlotte harus mau kehilangan kejernihan pandangannya dan juga pikirannya sehingga selama seratus tahun ini Charlotte seperti boneka hidup saja yang didalangi oleh seseorang di baliknya.
Suasana menjadi semakin tidak karuan. Dragon kian mengamuk, Manta semakin tidak bisa menahan serangan sang Spirit Kokoh. Bagaimana tidak, kekuatan mereka tentu berbeda jauh. Hingga pada akhirnya, Dragon dapat mengalahkan Manta.
Sang pari pun berubah bentuk menjadi sangat kecil seperti ukuran normal di dunia Ellena. Sihir Manta sudah direbut habis oleh Dragon sang Spirit Kokoh. Ia menyedot energi Manta juga sehingga pari itu tak berdaya lagi.
Manta jatuh dari atas sana, segera Steven menangkapnya dengan sigap. Manta yang tadinya sebesar bukit, kini hanya sebesar dua telapak tangan orang dewasa. Steven yang melihat Manta dari dekat pun hanya bisa melotot.
Ia tak percaya sang lambang agung negeri Holand hampir saja mati dan kini ada di tangan Steven, bernapas tidak berdaya.
“Mantaaaaa!” Steven menjerit diselingi tangisnya. Ia yang sangat menghormati Manta sangat terkejut dengan perubahan sang Manta.
Sementara di atas sana, Dragon semakin mendapat energi. Ia menjadi kian kuat, semburan apinya memberikan suasana yang sangat panas. Sisik peraknya mengkilap. Dragon merasa bangga dengan semua ini.
Mendadak.
“Kembalilah kepada pikiran jernihmu, Dragon!” teriak Manu, di sampingnya Kuro juga terbang membersamainya.
__ADS_1
****