CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Kembalinya Sang Merak Putih


__ADS_3

Ellena meronta, sementara yang lainnya menganga dan ambruk saking tak percayanya melihat Yuya bisa hilang dalam sekejap. Tak terasa, sudah dua orang yang disayang pergi karena berkorban demi akhir yang bahagia.


Tak berapa lama, tiba-tiba saja Dragon kembali normal. Kemudian, cahaya suci menyelimutinya dan dalam sekejap ia hilang. Dragon tiba di sebuah tempat segel di ujung dunia. Tidak ada yang pernah tahu tempat apa itu. Charlotte hanya membawanya kembali dengan sihir suci miliknya.


Melihat Ellena semakin histeris karena kehilangan orang-orang yang disayanginya, Leonie mengepalkan tangan. Kemudian, ia berlari kencang menuju tempat di mana Kristal Keabadian berada sementara yang lain berteriak akan tindakan gegabah Leonie, tetapi gadis setengah singa itu tidak akan pernah mendengar larangan apa pun lagi.


Di bawah istana, kristal itu bersinar dengan sombongnya. Leonie benci menatap itu. Ia langsung terjun melalui lubang yang menjadi tempat keluarnya Zendaya.


Leonie pun dengan segera merapal mantra dan seketika dirinya diliputi kobaran api serta cahaya jingga. Mata kuning Leonie menyala, otot-ototnya sudah siap sedia. “RASAKAN INI, WAHAI KRISTAL KESOMBONGAN!” teriak Leonie seraya menendang kristal itu ke atas, menembus lubang tempat Zendaya keluar dengan tubuh Mae.


Wus.


Kristal hitam sebesar lemari pakaian pun datang ke permukaan. Ia langsung mengambang di atas sana. Melihat itu, semua melotot termasuk Zendaya yang masih dalam wujud Mae.


“Hei, apa yang kau lakukan dengan itu?!” Zendaya kesal. Mendadak saja bagian dadanya terasa nyeri seperti mendapat serangan brutal dalam sekejap.


Ia pun mengaduh kesakitan, bahkan menjerit dengan keras.


“Argh!”


Kemudian, Leonie kembali menendang Kristal Keabadian hingga menuju ke lingkaran sihir yang tadi untuk membawa kembali Dragon. Kristal tersebut pun mendarat sempurna di tengah lingkaran sihir.


“Kemarilah semuanya!” kata Charlotte seketika. Semua pun mendekat kepada Charlotte, membuat lingkaran untuk mengelilingi Kristal Keabadian.


“Tidak, jangan lakukan itu pada rumahku!” Zendaya semakin kesakitan. Namun, kini ia tidak dapat bergerak banyak. Di beberapa bagian tubuhnya tampak memar, itu karena ulah Leonie yang tidak memperlakukan Kristal Keabadian dengan baik karena jiwa Zendaya berhubungan dengan sang kristal itu.


Kristal yang sudah menjadi rumah bagi Zendaya kini berada di bawah ancaman. Zendaya pun menjerit, memohon agar mereka semua menghentikan tindakan konyol ini.


Namun, tiba-tiba saja.


Ctak!


Sebuah kerikil melayang hingga mengenai jidat Zendaya. Kerikil tersebut dilemparkan oleh Ciel.


“Jangan memohon dengan wajah itu! Aku sangat menghormati Kak Mae! Dia adalah leluhurku yang mulia!” sungut Ciel. Wajahnya memasang kebencian yang dalam kepada Zendaya yang berani menggunakan tubuh Mae untuk merusak Everfalls, padahal Mae yang sebenarnya mengorbankan diri untuk Everfalls yang waktu itu hampir saja musnah karena keangkuhan penduduknya ribuan tahun lalu.


Kemudian, semuanya kembali melingkar dan menatap Kristal Keabadian. Mereka melupakan Zendaya yang pingsan. Biar saja, semua ini pasti akan berakhir.


Namun, ritual belum juga dilakukan. Semua orang, bahkan Manu yang sudah berukuran seperti semula maupun Kuro juga sudah bergabung. Para ras angel juga berdiri mengelilingi mereka di belakangnya, kecuali Ellena yang masih memeluk dirinya sendiri sembari menangis meratapi nasib.

__ADS_1


“Ellie, kemarilah,” ajak Charlotte lembut. Ras angel yang tadinya berbaris rapi membentuk lingkaran, kini membuka celah untuk memperlihatkan Ellena yang seperti terasingkan sendiri di pojok sana.


Namun, Ellena masih meratapi kepergian Yuya.


“Ellie, jika dirimu tidak ikut, maka ini tidak akan berakhir.” Steven memberitahu. “Bersemangatlah, jangan buat pengorbanan Varl maupun Yuya jadi sia-sia.”


Mendengar itu, Ellena menoleh dengan wajahnya yang sudah merah dan basah. Bibir Ellena juga gemetar, ia masih belum bisa menerima kepergian dua sahabatnya.


Namun, Ellena tidak mau membuat perjuangan dua sahabatnya itu sia-sia. Ia pun bangkit dan mengikuti arahan Charlotte maupun yang lain meski hatinya masih terluka. Ellena ikut bergabung untuk melakukan ritual pembebasan.


Semuanya pun saling berpegangan tangan sembari membentuk lingkaran mengikuti lingkaran sihir itu. Kemudian tanpa berlama-lama lagi, Charlotte mulai merapal.


“Wahai kekuatan agung, wahai kesucian, ampunilah dosa, kembalikanlah semuanya.” Kemudian, Charlotte membaca mantra tambahan yang Ellena tidak tahu apa artinya itu.


Tak berapa lama, sihir putih bersinar terang, bahkan lingkaran sihir sebagai medianya pun ikut bercahaya. Semua memejamkan mata, merasakan betapa sucinya cahaya tersebut. Semakin lama, cahaya itu kian terang.


Terdengar jeritan menyakitkan dari mulut Zendaya. Ia berteriak, meminta tolong dan memohon untuk menghentikan ritual tersebut. Seluruh tubuh Zendaya seperti dihantam bebatuan dari atas langit. Ia terus mengaduh dan menjerit kesakitan.


“ARGH, TOLONG HENTIKAN! SAKITTT... SAKIT SEKALI RASANYA. TOLONG HENTIKAN SEMUA INI!” Zendaya terus meracau dengan teriakannya.


“Kembalilah ke alammu, Zendaya!” Kini Charlotte yang berteriak dan seketika...


Kristal hitam di tengah lingkaran sihir pun pecah membentuk serpihan-serpihan, kemudian hilang bersama angin. Begitu pula Zendaya yang memakai tubuh Mae. Ia ikut terhambur dan tampak cahaya putih kebiruan melayang setelah tubuh itu pecah, kecuali gelang persahabatan Mae.


“Kembali ke alammu, Zendaya!” kata Charlotte lagi.


Dalam sekejap... CLING!


Bola cahaya itu menghilang dengan cepat menuju ke tempat yang seharusnya. Suasana kembali tenang, tidak ada angin yang mengamuk, gemuruh petir, dan langit hitam nan menakutkan. Bahkan, yang tadinya gelap, kini berubah jadi terang. Mentari mulai muncul dengan senyumnya yang baru. Ah, semua pun akhirnya menghembuskan napas lega.


Namun, tidak sampai di situ saja. Tiba-tiba, istana Charlotte bergoyang dengan kencang, tetapi Charlotte menginstruksikan agar semuanya berdiri dengan tenang, ada hal yang akan terjadi setelah ini.


Glek.


Semua orang meneguk saliva.


Memang, apa yang akan terjadi?


“Kita akan terjun!” teriak Charlotte.

__ADS_1


Mendadak.


Wus.


Wus.


Istana Charlotte terjun, semua pun terkejut. Namun, Charlotte berkata bahwa semua harus berpegangan tangan dan berdiri seperti posisi semula, tidak berubah sama sekali. Meski takut, semuanya tetap melakukan perintah sang ratu hingga pada akhirnya...


BRAK!


Istana Charlotte kembali ke tempatnya semula setelah beberapa saat terjadi adrenalin yang bisa jadi membuat jantung keluar dari tempatnya. Tanah yang pernah ditumbuhi rerumputan hijau hilang bersamaan hilangnya Zendaya sehingga Charlotte tidak ragu untuk menerjunkan istananya kembali tanpa takut merusak tanaman karena semua itu hanyalah ilusi semata.


Terdengar sorak gembira dan rasa syukur dari mulut-mulut warga Everfalls, sementara di atas permukaan istana, semua orang terduduk lemas sambil menenangkan diri.


“Sepertinya aku akan mati,” lirih Steven dengan tatapan ketakutan. Ia berusaha mengatur napasnya terlebih jantungnya berdebar tak karuan karena merasakan ketegangan super dahsyat itu, jatuh dari ketinggian bersama dengan istana megah ini.


Yang lain juga sama. Tubuh mereka bergetar, kecuali Charlotte. Ia malah terkekeh melihat semuanya tampak ketakutan.


Namun, hal itu membuat yang lain bahkan warga Everfalls ikut tersenyum.


“Lihatlah, Ratu sudah kembali!”


“Ya, Ratu kita sudah kembali!”


“Sungguh cantiknya. Aku sangat merindukan Yang Mulia Ratu.”


Warga Everfalls menghambur, mendekat kepada istana Charlotte untuk melihat ratu mereka sendiri yang sudah menghilang seratus tahun lalu. Ah, rasanya segala rindu jadi terobati seketika.


“Syukurlah, Ratu.”


Charlotte berkaca-kaca, semua orang menyambutnya dengan gembira. Bahkan, ada yang menangis karena kedatangannya saking bahagianya. Istana tampak gagah berdiri di antara pemukiman warga.


Charlotte merasakan kehangatan di sini, semua terasa menenangkan. Bau makanan, udara yang hangat, dan juga rumah-rumah penduduk yang menemaninya.


Wanita itu sudah tinggal di atas awan selama seratus tahun, kini ia kembali lagi. Ia yang biasa melihat awan dan ras angel saja, kini ia melihat rumah-rumah lain dan juga berbagai macam ras yang hidup berdampingan dengan damai.


Semua menangis bahagia menyambut kedatangan Charlotte, kecuali Ellena yang duduk lemas dengan tatapan kosong.


“Ada apa, Ellie?” tanya semuanya.

__ADS_1


****


__ADS_2