CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
The Prince


__ADS_3

“Sebelum Ratu pergi, dia selalu memberikan kedamaian kepada kami yang berada di Hutan Kutukan. Tidak ada ras lain yang berhasil masuk ke sana, kecuali Ratu Charlotte. Kasih sayangnya seperti seorang ibu, maka kami sering memanggilnya dengan Ibunda Agung dan ia tak pernah keberatan dengan itu.” Leonie menceritakan panjang lebar dengan mata yang menunduk dalam, tampak kerinduan yang amat besar.


Semuanya mendengarkan dan tidak ada yang peduli dengan pria yang pingsan dan tidak diketahui namanya itu.


“Selama ada Ratu, kami menjadi seperti anaknya yang manja dan terlalu bergantung. Hingga pada akhirnya Ratu pun pergi karena dikhianati seseorang!”


Varl yang mendengarkan itu tampak berdecih, tetapi tidak ada yang tahu kecuali Ellena yang tak sengaja melirik ke arah Varl. Sebenarnya, apa yang tengah disembunyikan pria itu?


Ellena menyimpan pertanyaan, tetapi ia belum berani mengutarakannya. Memang sedari awal, semakin sering bersama Varl, ia makin merasakan keganjilan akan sikap pria berambut ikal tersebut.


“Aku merasa bahwa Varl sedang menyembunyikan sesuatu! Kelak, mungkin aku mencoba untuk mencari tahu tentang identitasnya karena hanya dia yang tidak kukenali. Sebelumnya, aku mengenali ciri-ciri visual Yuya, Manu, dan beberapa teman yang mungkin akan kutemui di sini. Namun, di dalam novel yang aku baca sebelumnya, Ruby tidak mengatakan apa pun perihal Varl The Wanderer. Aku rasa, pria ini memang menyembunyikan rahasia,” batin Ellena berusaha menebak apa yang sedang disembunyikan oleh Varl.


Semua orang mendengarkan Leonie menceritakan alasan mengapa ia keluar dari Hutan Kutukan yang seharusnya ia jaga.


“Kacau, koloniku kacau dan aku ingin menjemput Yang Mulia Ratu!” Sudut mata Leonie sudah basah. Netranya tajam, penuh tekad yang besar. Leonie sangat bersemangat dan yakin bahwa ia bisa membawa Ibunda Agungnya kembali.


“Lihatlah, Ratu. Kau sangat dikagumi oleh banyak orang,” batin Ellena lagi. Ia juga merasa iba kepada warga Everfalls yang kehilangan penguasa negeri mereka hanya karena sebuah pengkhianatan.


Mendadak.


“Aku... S-Steven. A-ku akan m-membantu kalian!” Pria yang tadi pingsan, tiba-tiba saja berbicara, membuat semua orang menjadi terkejut. Wajah babak belur pria itu sudah tak tertolong lagi, rasanya sangat kasihan jika dibiarkan.


“Kenapa kau bangun la—”

__ADS_1


“Tunggu, Leonie,” sergah Ellena seketika. Ia menghentikan Leonie yang sudah bersiap memasang cakarnya, hendak menyerang pria yang malang tersebut.


Sementara pria itu menangis tersedu seperti anak kecil yang tak berdaya. Tentu saja, ia sudah compang-camping dengan tubuh yang diikat dan tak ada yang memperhatikannya sedari tadi. Begitulah nasib seorang pemeran figuran.


Ellena pun mendekat kepada pria itu. Tanpa meminta persetujuan siapa pun, Ellena berniat untuk melepaskan ikatan yang membelenggu pria malang tersebut. Namun, terkejutlah ia saat melihat ukiran mahkota tetapi samar-samar di punggung tangan kanan pria tak bernama.


Setelah tali itu lepas, si pria bangkit. “Aku adalah Steven The Prince.” Pria yang rupanya seorang putra mahkota pun menunjukkan punggung tangannya yang di sana terukir mahkota kecil walau samar, tidak bisa terlihat jika jaraknya dua meter. Maka harus dilihat dari dekat.


Pria bernama Steven itu pun maju mendekat, membuktikan bahwa dirinya adalah seorang putra mahkota. Ia berusaha meyakinkan orang-orang yang berkumpul di sini demi tujuan yang sama.


“Aku Steven The Prince yang sedang menjalani hukuman pengasingan,” ungkap pria itu. “Sudah hampir setengah tahun aku di sini karena melanggar perintah Ratu. Aku berusaha mencari di mana portal yang menghubungkan istana.”


Hening.


Tak ada yang merespons.


Tiba-tiba saja, Manu menunduk hormat, begitu pula Ruby. Disusul Yuya, Varl, dan juga Leonie yang wajahnya memerah. Gadis itu menahan malu, rupanya lelaki yang menyerangnya ini adalah seorang putra mahkota!


“Tolong jangan hukum aku, Yang Mulia.” Leonie menunduk malu, pasalnya kakinya sudah merendahkan sang putra mahkota. Ia hanya bisa mengatakan kalimat itu dengan lirih saking malunya.


Meski Leonie sudah menunduk untuk meminta maaf, tetapi Steven malah memungut tali yang tadi mengikatnya. “Hehehe, aku tidak akan melepaskan kau, wahai Griffin!” Steven mencoba menangkap Leonie, tentu saja gadis itu langsung mengaktifkan cakarnya.


Keadaan menjadi kacau, Steven kembali menggila. Entah apa yang ia pikirkan atau siapa yang merasukinya. Namun, Griffin? Bukankah itu salah satu spirit yang sudah mati?

__ADS_1


“Kau salah mengira, Pangeran Steven!” teriak Ellena seketika, membuat angin di sekitarnya mengamuk sejenak. Dedaunan beterbangan dicampur dengan debu. “Leonie hanya singa biasa, bukan Spirit Griffin!”


“Hah, apa maksudmu? Jelas-jelas dia singa setengah elang! Dia adalah Griffin, aku yakin dia masih hidup! Kau pasti sedang mengelabuiku, 'kan?!” kukuh Steven, membuat semua orang kebingungan dengan argumentasinya.


“Aku tahu mengapa Pangeran Steven menggila dan menyerang Leonie seperti ini,” ujar Ruby di tengah-tengah ketegangan. Kemudian, gadis kecil itu terbang dan mendekat ke arah Steven.


“Mau apa kau, Bocah Aneh?!” Steven tampak ketakutan pada gadis kecil berjambul merah, tetapi Ruby tidak berhenti begitu saja. Ia ingin menyelesaikan masalah ini agar dapat berbicara baik-baik dengan Steven yang menjadi 'orang dalam' istana tetapi nasibnya sial.


“Pegangi tubuhnya, Varl!” perintah Ruby seketika. Ia menyuruh Varl si pengembara untuk membantunya, sebab hanya pria itu yang memiliki badan kekar. Tidak seperti lainnya.


Meski sedikit enggan, tetapi Varl tetap melaksanakannya. “Siapa yang kau suruh, Bocah Kecil?! Aku Varl The Wanderer, akan menangkap si sumber masalah ini!” Senyum licik Varl tampak menawan. Ia memang sebenarnya sudah pusing dengan semua ini. Ia ingin segera mengakhiri kegilaan si pangeran dan mencoba untuk mencari tahu informasi tentang Charlotte yang dapat memudahkan misinya.


Steven pun berlari ketakutan, ia tak mau ditangkap siapa pun. Sementara yang lain membuat benteng, menghalau agar Steven tidak kabur ke mana-mana.


“Hoi, aku ini seorang pangeran. Di mana sopan santun kalian?!” Steven sudah muak, tetapi ia juga takut karena orang-orang tampak menyeringai puas dan mengepungnya tanpa memberi celah sedikit pun.


“Karena kau seorang pangeran, maka kau tidak boleh menolak ini, Pangeran Steven.” Varl berbisik di belakang telinga Steven, membuat pria itu merinding seketika dan dengan segera Varl membekuk Steven, membuat tubuh sang pangeran tak dapat berkutik.


Steven terus berontak, tetapi lengan Varl yang menahannya dari belakang lebih kuat. Ada banyak perbedaan yang signifikan di antara dua pria itu. Yang satu sudah terbiasa dengan alam liar, dan lainnya hanya menjadi putra mahkota manja yang kerjaannya bermain-main saja di dalam istana.


Akhirnya, kini Ruby bisa mendekat lagi meskipun Steven tak bisa tenang karena mencoba untuk melepaskan dirinya. “Pikiran Steven dihantui oleh Griffin. Aku yakin, ini ulah Ratu Charlotte. Aku tak tahu kesalahan apa yang Steven lakukan sampai diasingkan dan diberi kutukan, yang jelas otak Steven sudah dikendalikan oleh bayangan tipuan tentang Griffin sehingga melihat singa biasa jatuhnya malah melihat Griffin. Steven juga tidak bisa berpikir jernih karena otaknya sudah diberi racun. Aku akan membersihkannya.”


Ruby menempelkan tangan mungilnya di atas dahi Steven. “Heal,” ucap Ruby sebagai mantra. Kemudian, cahaya merah nan cerah pun muncul, menyilaukan mata. Steven yang sedari tadi berontak, kini ia mulai diam dan hingga pada akhirnya...

__ADS_1


“Steven tak bernapas!”


****


__ADS_2