CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Air Mata Steven untuk Ellena


__ADS_3

Gao dan Steven saling berpandangan. Tatapan keduanya sengit seperti menyimpan dendam tersendiri.


“Biar aku saja!” protes Gao sebab tangan Steven seperti hendak merebut tubuh Ellena yang jatuh ke pelukan bocah itu.


“Tch, aku saja!” Steven juga tidak mau kalah. Ia berusaha mengambil alih Ellena dari Gao. Di antara mata keduanya seperti ada petir petarungan sengit. Sementara yang lain menatap resah.


Tubuh Ellena yang pingsan tengah dipermainkan oleh dua lelaki bodoh, membuat yang lain jadi marah, terutama Ruby sebab ia yang menjadi penanggung jawab Ellena. “Heh bocah badung! Jika kalian memperlakukan Ellena dengan kasar, kalian akan menerima akibatnya!”


Ruby mengepakkan sayap kecilnya, mata gadis kecil itu menyala berwarna merah terang, sementara aura sihirnya tampak mengerikan, menguar di sekitar tubuh mungilnya sampai membuat rambut pendek Ruby berkibar.


“Lihat saja!” Aura Ruby semakin pekat, membuat Gao dan Steven bergidik ketakutan.


“Ba-baik,” jawab Steven. Ia pun menyerah untuk kali ini, lebih memberi kesempatan kepada Gao. Tak apa, pikirnya. Nanti juga ada kesempatan lain.


Setelah itu, Gao membopong Ellena laiknya sang pangeran menggendong seorang putri. Padahal, pangeran yang asli malah terkalahkan. Namun, Steven tentu tidak menyerah begitu saja.


Ia mengambil langkah terdepan, memandu Gao yang membopong Ellena di pelukannya meski Gao juga merasakan tubuhnya jadi mengigil sebab kutukan es masih Ellena rasakan. Tubuh gadis dari dunia lain itu kian mendingin diselimuti bunga-bunga es dan rambut yang semakin memutih sedingin es.


“Ikuti aku!” Steven mengomando di garda terdepan. Ia menyingkirkan segala penghalang di depannya. Jika ada para pelayan yang berusaha melawan, Steven tidak segan-segan menyingkirkan meski itu pelayan Charlotte sekali pun.


Sama seperti saat ini tatkala sudah di pertengahan jalan, dua pelayan menatap sengit seraya menodongkan senjata mereka. Kedua alis mereka bertautan, sementara gigi mengerat sudah kesal.


Namun, jangan ditanya, ini juga wilayah kekuasaan Steven. Ia berhak mengatur bagaimana pelayannya sendiri sebab saat ini Steven tengah berada di ‘rumahnya’ sehingga ia tidak akan segan sama sekali.


Satu perintah segera lolos, ia membalikkan keadaan. “Minggir!” katanya, meski menolak sekalipun, para pelayan tidak bisa melakukan banyak hal. Sebab, mereka sudah berikrar akan setia kepada penguasa negeri ini dan juga raja yang sebenarnya.


Charlotte memang sebagai penguasa negeri, tetapi di bawah Charlotte ada raja yang mengatur rakyat dan juga negerinya. Sehingga, para pelayan itu pun tak bisa lepas perintah dari sang calon raja, Steven.

__ADS_1


Meski di sisi lain mereka hendak menolak perintah itu, tetapi nurani lebih memilih kebenaran. Mereka pun membuka celah, mempersilahkan Steven dan kawan-kawannya untuk lewat. Itu yang mereka pilih daripada harus kehilangan Nilai Kehidupan.


Segera saja, Steven bergegas memimpin jalanan di depan sedangkan Gall menjaga di belakang, menjadi benteng jika ada pelayan yang beralih untuk berontak.


Keringat bercucuran, situasi menjadi semakin tegang. Ellena memang berada di pelukan Gao, tetapi Varl juga tak ketinggalan. Pria itu digendong oleh Leonie. Tak ayal sebab kekuatan Leonie juga lebih besar dari Varl, sedangkan Hanae menggendong Yuya, dan Mae membawa Ciel ke belakang punggungnya.


Mereka bergegas dengan cepat menuju ke sebuah ruangan. Membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai sebab istana Charlotte memang begitu luas, hampir seperempat kota Everfalls.


Pangeran itu membawa teman-temannya yang sekarat menuju ke ruang kesehatan. Di sana ada beberapa tabib dari ras angel juga. “Cepat segera tangani mereka!” perintah Steven dengan tegas, suaranya menggema di ruangan.


Sontak saja para tabib yang tengah meramu obat pun terperanjat. Sebelum mereka bertindak, manik mereka melirik pada ‘korban’ yang dimaksud. Tatkala mereka mengetahui siapa itu, mereka langsung memalingkan wajah.


Ya, mereka semua tahu siapa yang selama ini membuat Charlotte banyak menyenandungkan lagu Penyihir Buta sampai tiga kali dalam sehari, tak hanya itu wajah Charlotte jadi makin tidak bisa ditebak, tetapi dari suaranya terdengar wanita itu marah besar beberapa hari terakhir seakan ada sesuatu yang mengganggunya.


Memang benar dan seluruh penghuni istana sudah tahu siapa si ‘hama’ yang selama ini membuat Charlotte resah dan istana jadi kacau karena terjadi pertikaian terus menerus.


Hening.


Hanya gema suara Steven yang kian naik selama beberapa saat sebab memendam amarah. “Cepat laksanakan!”


Barulah satu entakkan itu membuat para tabib langsung bertindak. Mereka sudah berpikir dua kali, lebih baik melakukan apa yang Steven minta daripada Nilai Kehidupan mereka berkurang.


Tabib utama mengambil alih tubuh Varl, Yuya, Ciel, dan juga Ellena. Mereka dibaringkan di kasur-kasur empuk berlapis sutra. Para tabib itu memeriksa satu persatu teman Steven dan melakukan pengobatan lebih.


Namun, ada satu kejanggalan yang membuat perih hati Steven dan lainnya. Dada Varl, Yuya, maupun Ciel masih naik-turun meski tidak teratur dan terdengar napas mereka juga yang tersengal sebab menahan sakit. Namun, semua itu tidak berlaku pada Ellena.


Semua mata mendelik tatkala menyadari bahwa Ellena tidak bergerak sama sekali, detak jantungnya juga berhenti tatkala tabib itu memeriksanya. Ia seperti seonggok daging yang memejamkan mata dengan damai.

__ADS_1


“A-apa yang terjadi dengan Ellie?!” tanya Steven segera untuk memastikan.


Sang tabib wanita yang kini tengah memeriksa nadi Ellena pun hanya menggeleng pasrah. “Dia... aku tidak yakin bisa sembuh sebab kutukan es ini semakin menyelimuti dirinya. Mungkin... ia akan berakhir menjadi patung es atau—”


“Cukup!” sergah Ruby cepat. Kedua matanya sudah basah. “Ellena masih bisa diselamatkan! Aku masih merasakan kehadirannya, ia masih ada!” Ruby berusaha menepis berita buruk tersebut.


Sementara yang lain berusaha menahan tangis. Apakah ini akhir bagi Ellena?


“Iya, ti-tidak mungkin Ellena akan mati secepat ini, hiks.” Tangis Leonie begitu keras, pecah ruah mengundang kesedihan bagi yang lain.


Tanpa aba-aba, Steven mencengkeram kerah sang tabib tersebut. “Buat Ellena bisa hidup! Dia tidak akan mati dengan mudah! Dia adalah pemeran utamanya! Jika dia mati, maka... maka cerita ini akan selesai!”


Sang tabib tersebut tidak merasa sakit hati akan perlakuan mendadak Steven yang sungguh emosional, tetapi ia malah tercengang sebab Steven yang ia kenal bisa meneteskan air mata demi seseorang.


Tabib separuh baya yang di hadapan Steven dahulu pernah menjadi pengasuh Steven sehingga ia tahu betul bagaimana Steven bertumbuh menjadi anak yang berbeda dari lainnya. Steven tidak pernah menangisi siapa pun, bahkan dirinya sendiri meski pada kenyataannya Steven selalu kesepian.


Semenjak orang tua Steven meninggal, ia tidak pernah menangis. Tak punya teman pun, ia selalu menahan kesedihannya. Ia merasa tak perlu menjaga atau menangisi apa pun. Namun, ini pertama kalinya Steven bisa mencurahkan air matanya untuk seseorang yang sebenarnya bukan dari dunia ini.


“Helena... hiks... aku mohon... tolong... tolong selamatkan Ellie,” pinta Steven dengan tangisnya. Meski begitu, sang tabib tersebut tidak bisa berbuat lebih.


Ia meremas pundak Steven yang sudah tegap seraya menampung beban satu persatu, kelak Steven yang akan memimpin negeri ini.


“Anda memang sudah dewasa, Pangeran.” Helena mengelap sudut matanya. Ia sudah menjadi ‘ibu’ bagi Steven, tahu bagaimana anaknya itu berkembang. “Namun, maafkan aku.” Helena menghela napas begitu panjang seraya menunduk dalam, merasa bersalah.


Semua pun tercengang mendengar pernyataan dari sang tabib. Bahkan, Steven sampai ambruk di atas lantai hingga ia berteriak, “Tidak mungkin, Ellenaaaaa!”


****

__ADS_1


__ADS_2