
Semua melotot. Jeritan Varl dan Elise terdengar begitu keras, menggema di udara kosong karena mereka terhempas bersamaan. Varl ikut terhempas sebab ia memeluk Elise untuk melindungi gadis itu dari serangan Dragon yang mendadak. Wus.
Mereka terjun, keluar dari area istana Charlotte. Semua melotot dan hanya berdiam saking syoknya melihat kejadian yang terasa cepat itu.
Keduanya menabrak angin, tak bisa dihentikan begitu saja. Jika mereka jatuh, maka tamatlah riwayat mereka sebab tulang akan langsung remuk setelah mendarat di atas tanah.
Ellena melotot, ia berusaha menahan Varl dan Elise dengan mengendalikan angin, tetapi keduanya jatuh begitu cepat seperti tertelan gravitasi dan tidak bisa mengelak kekuatan itu. Varl mendekap Elise yang bergetar ketakutan sambil terjun untuk segera mencium tanah.
Gadis itu juga memeluk Varl dengan kencang. Jujur, ia sebenarnya sangat takut saat ini karena dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Namun, ada satu yang ia syukuri yaitu sebelum ia hancur, dirinya bisa dekat dengan Varl.
Sementara Varl sudah pasrah, beginilah nasibnya. Ia tak bisa melakukan apa pun. Rasanya sangat mustahil. Di pikirannya, ia masih menyesal karena belum tuntas menyelesaikan misi yang sudah dibebankan kepadanya dari seluruh warga Everfalls.
Tiba-tiba saja, kedua sudut mata Varl basah. Terbayang senyum Ellena, teman-teman yang lain, dan juga... Elise.
Sejenak, Varl melirik kepada gadis dari ras malaikat itu. Wanita yang tak bersalah sudah diseretnya ikut dalam nasib mengerikan yang sama. Varl menyesali dirinya yang sudah membuat Elise menjadi budaknya.
Mendadak, ia teringat sesuatu.
Kemudian, Varl dengan sigap melempar Elise ke atas. “Tolong selamatkan Elise, Ellie!” teriaknya dengan lantang sambil melemparkan sihir perisai yang dapat melawan gravitasi dan membuat dirinya melayang.
Tubuh Elise diliputi perisai transparan berwarna sedikit kekuningan. Ia mengambang di tengah-tengah udara. Sihir perisai hanya mampu menampung satu orang saja dalam beberapa saat. Ini adalah salah satu sihir tingkat rendah yang membuat pelaku bisa melayang dalam sekejap tanpa sayap.
Sementara Varl terus terjun, bahkan semakin cepat dirinya sampai di bawah sana.
Wus.
Wus.
Wus.
Tubuh Varl hilang di antara awan-awan, menembusnya hingga menuju ke daratan. “Selamatkan Elise dan dia akan bebas!” teriak Varl lagi dengan lantang sebelum dirinya menghantam tanah. Ia tersenyum.
Suara Varl terdengar nyaring sebelum benar-benar hilang.
“VARL!” teriak semuanya dari atas sana. Sementara Ellena berusaha membawa Elise dengan bantuan para angin.
__ADS_1
Setelah Elise sampai di permukaan istana Charlotte, ia segera memeluk Ellena, menangis di sana hingga membuat baju Ellena sampai basah.
Kemudian, tak berapa lama setelah itu tanda budak di antara tulang belikat Elise perlahan menghilang. Itu artinya, Varl sudah mengorbankan nyawa untuk melepas kontrak sihir perbudakan Elise. Tentu saja Elise semakin pecah tangisnya. Ia memegang lembut bekas tanda itu.
“TUAN VARL!” Elise berteriak penuh emosional sampai bibirnya bergetar, matanya sembap, dan pipinya sudah kalap basah.
Ia menggoyang-goyangkan tubuh Ellena. “Tolong... tolong selamatkan Tuan Varl, Nona Ellena. Tolong selamatkan dia. Aku... aku mencintai Tuan Varl. Aku akan berjanji setia kepadanya untuk selamanya. Aku... aku ingin terus menjadi budaknya sampai kapan pun itu. Tolong... tolong selamatkan Tuan Varl.”
Elise memohon dengan mata basahnya kepada Ellena yang saat ini sekuat tenaga menahan isak. Baru saja ia melihat Kuro sudah kembali, lantas sekarang ia melihat Varl mengorbankan nyawanya untuk melepas kontrak perbudakan.
Ellena mematung selama beberapa saat. Matanya menatap kosong. Ia terdiam, tak menyangka dengan semua ini. Lututnya melemas seketika dan ia pun akhirnya ambruk dengan pikiran yang hanya terbayang Varl.
Meski pria itu gegabah dan menjengkelkan, tetapi Varl sudah banyak berkorban serta membantu Ellena dalam penyelesaian misi ini. Apalagi, Ellena sudah menganggap Varl seperti kakaknya sendiri. Apakah memang Varl sudah berakhir di sini saja?
“Va-Varl...” Ellena sampai terbata-bata memanggil nama Varl. Bibirnya jadi kelu untuk sekadar menyebut nama pria itu. Ellena jadi kehilangan harapan hidupnya.
Mendadak, terdengar suara tawa kepuasan yang menggema di udara. Tawa itu berasal dari Mae, tidak sebenarnya itu adalah Zendaya yang masih saja berwujud Mae. Orang itu masih saja belum mati sebelum menghancurkan sumber kekuatannya, yaitu Kristal Keabadian yang memberikannya tempat.
Mendengar tawa Zendaya, kedua tangan Ellena mengepal begitu kuat. Kemudian, ia mengelap matanya yang hampir basah karena menangisi kematian Varl. Ia akan balas dendam.
Mengingat itu, tiba-tiba saja dada Ellena bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup kencang dan darahnya berdesir ikut murka. Mata Ellena pun menatap tajam pada Zendaya yang masih dalam wujud Mae dengan tawanya yang menjijikkan.
“MATILAH KAU... ZENDAYA!” Satu kalimat itu membuat angin di sekitar semakin mengamuk.
“Ellena, hentikan!” Gao yang sudah menyadari kemurkaan Ellena yang bisa saja semakin memperparah keadaan pun mencoba menghentikannya, sebab meski Ellena seringkali mengamuk, tetapi amukannya kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya.
Sekuat tenaga Gao menahan tangan Ellena. Namun, tangan Ellena yang sudah sedingin es membuat Gao tidak dapat menyentuhnya lagi. Meski begitu, Gao tidak menyerah. Ia melawan rasa dingin tersebut demi menahan Ellena.
Namun...
Plak!
Ellena menepis tangan Gao dengan kuat, lalu menghempas tubuh lelaki itu ke sembarang arah. Setengah sadar Ellena melakukannya, ia hanya membuat Gao menjauh dari dirinya agar tidak terluka.
Ia hanya berpikir bahwa saat ini adalah tugasnya entah ia bisa mengalahkan Zendaya ataukah tidak. Tangan Ellena bergerak-gerak seakan mengajak para angin untuk bergabung dengan kemurkaannya.
__ADS_1
“Ellie, hentikaannn!” Semua menjerit demikian. Namun, Ellena membuat lainnya terhalang oleh badai angin.
Was.
Wus.
Debu-debu beterbangan, membuat teman-teman Ellena bahkan Charlotte sendiri menutup mata agar debu tidak masuk.
“Berhenti bertingkah jahat menggunakan wajah Mae!” teriak Ellena, angin semakin mengamuk.
Saking kencangnya angin, Dragon menjadi hilang keseimbangan. Sayapnya tidak bisa beradaptasi dengan perubahan kecepatan angin yang mendadak itu. Ia pun semakin tidak terkendali, terbang bebas tanpa melihat risikonya.
Zendaya pun melemparkan sihir hitamnya kepada Dragon, tetapi karena Dragon terbang tidak beraturan, akhirnya sihir itu yang harusnya mendarat di salah satu tanduk Dragon, tetapi malah meleset mengenai kepala Dragon. Hal itu membuat Dragon jadi kehilangan kesadaran karena diliputi sihir hitam tingkat tinggi.
Ia diliputi amarah, dendam, kesedihan, dan kesepian yang menjadi satu. Mata peraknya berubah menjadi merah. Ia menyerang, tetapi sebelum itu, ia menyemburkan apinya.
Wus.
Kemudian, ia melirik tajam pada Zendaya dan wus...
Dragon menyerang Zendaya dengan kecepatan penuh diselingi semburan apinya yang bisa melelehkan besi.
Namun...
Ellena dengan cepat menarik tangan Zendaya yang masih berbentuk Mae. Ia menjauhkannya dari semburan api Dragon. Sementara semuanya mendelik melihat aksi Ellena yang di luar dugaan.
“Ellie, apa yang kau lakukan? Bukankah kau ingin melenyapkannya?! Biarkan saja dia mati!” Leonie sedikit kesal.
Namun, Ellena yang sudah memeluk Mae alias Zendaya itu pun menyeringai. Ia menoleh kepada semua temannya yang saat ini memasang wajah cemas. “Siapa pun dia, yang kita tahu adalah... Mae tidak akan pernah mengkhianati kita dan siapa pun Mae, dia pasti ingin ditolong juga oleh kita!”
Ellena mengangkat tangan kanannya, menunjukkan gelang persahabatannya yang ia beli di pasar waktu itu. Ia membelinya untuk dipasang di tangan semua kawan perjalanannya, tanpa terkecuali. Bahkan, Gall saja saat ini memakainya.
“Kita adalah sahabat yang akan menyelamatkan Mae terlepas dia adalah Mae yang sebenarnya atau bukan!” Seringai Ellena semakin lebar. Tatapannya jadi yakin.
Namun...
__ADS_1
“Apa kamu gila?!” protes Steven.
****