CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Amukan


__ADS_3

Varl sudah pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menerima semuanya meski ia sebenarnya tidak sengaja masuk ke dalam ruangan Charlotte yang rupanya tengah melakukan persembahan. Padahal, itu adalah tujuannya datang ke istana ini.


“Ah, rupanya hidup ini begitu indah,” lirih Varl. Ia mendongak. Meski kedua matanya tertutup, ia masih bisa tersenyum. Kedua sudut bibirnya yang ditarik dan melengkung membentuk seperti bulan sabit itu sebenarnya hanya senyum kepasrahan.


Walau selebar apa pun senyum pria itu, sebenarnya hatinya kacau. Tentu Varl tidak ingin mati, tetapi ia tak memiliki jalan lain selain menyerahkan dirinya.


Hatinya terus meracau, “Aku tidak ingin mati! Aku tak mau berakhir begitu saja! Aku masih ingin mengembara, tugasku masih banyak! Aku tak ingin mati! Tuhan, tolong ampuni diriku ini.”


Varl memang tampak pasrah, tetapi sebenarnya ia juga berharap akan datangnya sebuah keajaiban meski peluangnya sangat sedikit, bahkan mustahil. Teman-teman yang ia bawa sebelumnya pasti sudah keluar dari area istana, tidak ada yang tahu kondisi apa yang tengah dihadapi oleh Varl.


Mendadak.


“Sudah bosan hidup, kau?” Terdengar suara Ellena yang menggema di langit Everfalls. Sontak saja Varl membelalakkan matanya. Benar saja, di atas sana Ellena bersama yang lain melayang di udara. Gadis itu dan Yuya duduk di atas punggung Kuro.


“B-bagaimana kalian berada di sini? Bukankah—”


Terdengar tawa Ellena yang mengejek. “Jika kau memang sudah bosan hidup, maka aku akan membiarkanmu. Hahaha.”


Gema tawanya membuat Varl sedikit kesal, tetapi ia menaruh banyak syukur juga atas kehadiran Ellena yang sudah seperti sebuah keajaiban. “Siapa yang bosan? Aku masih belum menunjukkan dunia ini padamu!”


Mendengar itu, Ellena tersenyum. “Aku pikir si bodoh ini kebelet kencing makanya langsung guling dari Kuro, rupanya dirimu mengundang kemarahan Ratu. Hahaha. Dasar pengembara bodoh! Tapi... kau sudah berjanji untuk menunjukkan dunia ini padaku, bukan? Maka, tepatilah janjimu itu!”


Seketika Ellena memerintahkan Kuro untuk terjun dengan cepat dan menarik Varl ke atas punggung Kuro.


Wus.


Meski tubuh Varl sangat berat, mereka masih bisa membawa Varl walau saat ini pria itu memegang punggung Kuro dan kakinya masih bergelantungan. Ellena tidak kuat menarik pria itu ke atas Kuro, alhasil Varl hanya memegang erat tubuh Kuro dan berharap agar ia tidak jatuh.


“B-bagaimana ini bisa terjadi padaku?!” sedih Varl. Ia melirik ke bawah sana. Ngeri. Tubuhnya menjadi bergidik. Saat ini mereka terbang dengan tinggi.


“Bertahanlah, Paman. Navi akan membantumu.” Yuya mencoba mengeluarkan sarang putih dari jarinya yang sudah memiliki kontrak dengan tarantula super itu.


“Tidak, jangan lakukan itu!” sergah Varl sebelum Yuya menyemprotkan sarang putih itu. “Stop! Aku tidak mau bersentuhan dengan mereka!”

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, kening Yuya mengerut. Bibirnya mencucu, ia kesal. “Heh, Paman Tua! Berani-beraninya kau bilang seperti itu pada Navi! Jika kau bermulut kotor, maka aku akan menjatuhkan—”


“Ya, ya! Lakukan saja apa pun yang penting jangan kau serahkan aku dengan mereka lagi!” Meski enggan, Varl berusaha untuk menerima bantuan apa pun. Saat ini tangannya juga sudah tidak kuat lagi menahan tubuh yang menggantung.


Otot-otot pria itu juga tampak menjerit, ingin keluar sebab Varl mengerahkan seluruh tenaganya demi tetap berada di sekitar Kuro.


Slep.


Seketika benang putih mengikat Varl. Dibantu Ellena, Yuya menarik tubuh Varl yang berat. Mereka sampai berkeringat hingga pada akhirnya, Varl bisa duduk tenang di atas punggung Kuro meski dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya.


Segera, pria itu melepas benang putih yang dirangkai dari sarang milik Navi. Bulu kuduk Varl meremang seketika. Sudah, ia tak sanggup lagi berhadapan dengan serangga.


“Kita harus segera pergi!” pinta Varl. Dirinya tak sanggup lagi jika melawan amukan Charlotte dan pengikutnya, terlalu mustahil baginya.


Tanpa berlama-lama lagi, Ellena pun meminta Kuro untuk sedikit naik. “Paulum!” bisik Ellena di telinga Kuro. Sontak, kuda hitam bersayap itu sedikit naik di atas awan.


Melihat sang mangsa kabur, para prajurit wanita mengamuk. Ellena pun tertawa dengan puas. Rupanya begini rasanya mengalahkan musuh. Ia tak pernah merasakan euforia yang sangat hebat ini.


“Apa yang mau kau lakukan?! Cepatlah perintahkan Kuro untuk terbang dan menjauh da—”


“Diamlah!” sergah Ruby yang sedari tadi hanya melayang dan membantu sedikit. “Ellena lebih tahu apa yang seharusnya ia lakukan.”


Mendengar itu, Varl tak lagi-lagi memprotes tindakan Ellena yang terasa mengejutkan itu. Biarlah, yang terpenting sekarang dirinya sudah dalam kondisi aman dari amukan Charlotte yang bisa-bisa melenyapkannya dalam sekejap.


Hening.


Mata Ellena terpejam. Ia mendengar angin di bawah sana tengah menjerit. Perlahan, Ellena merasakan sedikit sisa-sia angin yang kabur dari perintah Charlotte. Gadis itu mendengar suatu kesakitan.


Ya, Ellena juga merasakan betapa sakitnya hati Charlotte. Namun, Ellena harus segera menyelesaikan ini.


Hening.


Semakin dalam, Ellena merasakan perasaan yang dibawa oleh para angin. Mereka berbisik seraya memberi ketenangan juga. Sampai pada akhirnya, Ellena sudah mendapatkan titik pusat amukan mereka.

__ADS_1


Pikirannya pun fokus menuju ke arah tanda matahari yang dikelilingi dua awan yang ada di kening Charlotte, itu adalah sebuah tanda bahwa Charlottelah sang penguasa Everfalls. Tanda itu juga menjadi Mana atau sumber sihirnya berpusat.


Setelah itu Ellena berbisik, “Mitescere!”


Ellena menyuruh kepada angin untuk tenang. Seketika, angin di sekeliling yang ribut menjadi kembali tenang. Sementara elemen lain masih mengamuk di belakang Charlotte.


Hal itu membuat semua orang tercengang. Charlotte berusaha mengambil alih kendali, tetapi angin tidak menjawab panggilannya, bahkan mereka menolak sebab sudah tunduk berada di bawah perintah Ellena.


Kedua tangan Charlotte pun mengepal dengan kuat. Kebencian di dadanya kian bergemuruh, mengamuk bersama dengan elemen api, air, dan tanah yang masih setia kepadanya.


Charlotte pun berdiri di tengah lapangan. Ia sudah muak. Segera, dirinya ingin menghabisi hama yang selama ini mengganggu ketenangan hidupnya.


Lagi, Charlotte menyanyikan lagu Penyihir Buta dengan harpa yang keluar setelah ia membacakan mantra. Mata peraknya menyala lagi. Sengit. Seketika cahaya sihir hitam mengelilinginya. Ellena dan teman-temannya terbelalak. Apa lagi sekarang? Haruskah mereka berakhir di sini juga?


Sementara di sisi lain, para prajurit juga ikut tercengang. Mereka berusaha menahan Charlotte, tetapi tentu saja suara mereka kalah dengan kekuatan sang ratu.


Wus.


Setelah Charlotte melempar sihir hitamnya, seketika saja sekitar istana ditutupi kubah hitam yang berubah transparan dalam sepersekian detik saja. Kemudian, Charlotte mengarahkan sihir hitam pada mangsanya. Ellena dan teman-temannya merasakan sesak yang teramat menyakitkan.


Sihir itu membuat jantung mereka seperti diremas-remas, napas tersengal, dan tubuh sulit digerakkan. Mereka semua tersiksa beberapa saat, hingga pada akhirnya...


Brak!


Charlotte membanting mereka semua yang berada di ketinggian dan menjatuhkannya ke tanah.


Remuk.


Sontak sepasang mata dari seratus prajurit terbelalak. Mereka tak menyangka bahwa Charlotte akan melakukan hal mengerikan ini.


Apakah Ellena dan teman-temannya akan berakhir seperti ini saja?


****

__ADS_1


__ADS_2