CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Dunia untuk Charlotte


__ADS_3

Pintu dari ruangan itu memang hanya sebagai hiasan saja, padahal itu adalah portal yang dilapisi sihir ilusi sehingga cara masuknya bukan dibuka, melainkan ditembus saja dengan mudah seakan memang tidak pernah ada pintu itu.


Tampak di sana, Ellena tengah berhadapan dengan Charlotte. Ellena berada di bibir danau, sedangkan Charlotte berdiri di tengah-tengah danau. Entah bagaimana jadinya, air tersebut seperti menjadi lantai untuk wanita itu.


“Siapa itu Varl, Ruby, Yuya, Ciel, Gao, Steven, Mae, Hanae, dan Gall?” tanya Ellena di depan Charlotte.


Mendengar itu, Varl dan Elise yang bersembunyi di balik semak-semak mengerutkan kening. “Ke-kenapa Ellena mengatakan itu? Apa... apa dia sudah lupa dengan kami?” bisik Varl pada Elise yang berada di sampingnya.


Masih sama, wajah Charlotte tidak berekspresi tetapi agaknya wanita itu sangat menyayangkan apa yang terjadi dengan gadis di hadapannya. “Ellena Smith, sungguh kau tidak ingat?”


Ellena menggeleng. “Aku juga tidak tahu tempat apa ini. Apakah aku sedang bermimpi, Yang Mulia Ratu?”


Deg.


Varl sampai membelalakkan matanya mendengar Ellena mengatakan hal itu. Benarkah Ellena telah melupakan semua yang terjadi selama ini?


“Kembalilah ke duniamu, Ellena. Kau... tak layak berada di sini!” kata Charlotte dengan wajah datarnya tetapi suaranya sedikit meninggi.


“Kembali? Bukankah aku hanya bermimpi saja?” Ellena tersenyum. “Dunia ini... aku merasakan bahwa ini sangat indah. Selagi masih di sini, aku akan menikmatinya sejenak sebelum aku bangun dari mimpi ini, Yang Mulia. Bolehkah?”


Mendengar itu, Varl sedikit menyunggingkan senyum. “Benar-benar, meski ingatannya hilang, dia tidak pernah berubah.”


“Kenapa kau sangat menyukai dunia ini?” tanya Charlotte lagi, meminta alasan Ellena akan antusiasnya dengan dunia yang sebenarnya bukan dunia gadis itu.


Ellena pun berjalan maju, mendekat kepada Charlotte. Tak disangka, air itu juga seperti memadat tatkala kaki Ellena menyentuhnya, sama seperti air itu pada Charlotte. Ellena terkejut, tetapi ia juga sangat gembira.


Gadis itu pun berlari, menari, dan juga berteriak. Ia melepaskan semua hal yang selama ini dipendamnya. Ia merasa sangat bahagia di tempat yang sebenarnya tidak ia kenal, bahkan ia tidak mengingat apa pun.

__ADS_1


Ellena juga melupakan rasa sakit dan dingin yang menyelimuti tubuhnya. Jantung yang terbelenggu oleh kristal es seperti diam sejenak, membiarkan Ellena menikmati dunia nan indah ini sekejap.


“Anda tahu, Yang Mulia bahwa dunia ini sangaaaat indah.” Ellena memanjangkan kata-katanya untuk menjelaskan betapa indahnya dunia yang ia pijak saat ini. “Meski ini mimpi sekalipun, aku tidak akan pernah ingin bangun dari mimpi ini.”


Charlotte semakin menatap heran. Mata peraknya yang redup tanpa cahaya kehidupan itu pun mulai melihat seberapa bahagianya gadis di hadapannya itu akan dunia yang selama ini Charlotte benci hingga membuatnya berubah.


“Yang Mulia Charlotte, bukalah mata Anda. Sungguh, Anda tidaklah sendirian. Ada bukit, awan, pepohonan, burung-burung merak, dan juga danau ini. Semuanya ada untuk Anda, Yang Mulia.”


Ellena tersenyum hangat dan dengan polosnya, ia memegang tangan Charlotte yang begitu lembut, mulus, dan juga putih. Sangat cantik dengan jari lentiknya dan kuku yang selalu terawat indah.


“Dunia ini begitu luas untuk Anda, Yang Mulia. Di luar sana juga, pasti akan banyak orang dan tempat yang menanti kehadiran Anda.”


“Benarkah begitu?”


“Ya.” Ellena mengangguk bersemangat. “Kata Miko sahabatku, dunia sebenarnya sangat ramai, tetapi terkadang kita sendiri yang memenjarakan diri padahal di luar sana pasti ada orang yang sangat menyayangi Anda, sama seperti Miko yang menyayangiku.”


“Anda tidak sendiri, Yang Mulia. Cobalah untuk keluar dan lihatlah, dunia ini sangat ramai! Bisa jadi, rakyat Anda merindukan Anda! Sungguh, siapa yang tidak tertarik dengan diri Anda yang sangat berwibawa?”


Lagi, senyum Ellena mengembang. Ia menebarkan kasih sayangnya kepada sang ratu yang ia kira ditemuinya dalam mimpi. Ya, kristal dari kutukan es itu membuat Ellena menjadi bingung mana yang kenyataan dan mana yang mimpi.


Akibat kristal tersebut, perlahan kesadaran Ellena direnggut. Ia mulai melupakan satu persatu yang selama ini pernah dialaminya, kecuali ingatan saat ia berada di dunianya sendiri. Memang begitu cara kerja kristal es yang hanya bisa terjadi di dunia ini.


Mendadak, Charlotte melepaskan tangan Ellena. Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, dunia ini sudah membenciku ratusan ribu tahun lalu dan aku juga sangat membenci dunia ini. Tidak ada yang mencintaiku—”


“Ada. Semua orang pasti mencintai Anda. Jika ada yang membenci pun, rasanya tidak seberapa. Sebab, hidup itu terlalu singkat jika kita hanya memikirkan orang-orang yang tak menyukai kita.”


Ellena menghela napas panjang. Ia sangat mengerti akan perasaan itu, sebuah rasa sendirian dan hanya terjebak dengan pemikiran sendiri.

__ADS_1


“Aku... sudah mati rasa.” Charlotte menatap Ellena. “Aku pernah sepercaya itu, tetapi dunia memang membenciku hingga aku harus mengalami hal yang sama selama dunia ini masih berputar. Bahkan, saking banyaknya kejadian, aku sampai lupa bagaimana caranya menangis atau tersenyum pada hal yang membahagiakan. Karena... bagiku semuanya sama saja.”


Charlotte mendongak, menatap awan yang bergerak pelan di atas sana.


“Aku pernah bodoh mencintai dunia ini yang telah membenciku. Cinta itu menyakitkan, seperti halnya senja yang indah di awal tetapi menyakitkan di akhir sebab pada akhirnya, hanya ada gelap di ujung sana.” Charlotte semakin dalam membicarakan isi hatinya.


“Cinta memang tak semanis itu, Yang Mulia. Definisi cinta memang sangat luas, tergantung bagaimana kau memandangnya. Namun, percayalah, bahwa membebaskan dirimu dari rasa trauma malah akan mengantarkanmu pada kebahagiaan.”


“Benarkah? Apa... aku tidak akan merasa kecewa lagi?”


Ellena menggeleng cepat. “Tidak, pasti akan ada saatnya Anda kecewa, tapi... ada juga waktunya Anda bahagia. Tuhan memberikan sembilan kesengsaraan dan satu bahagia, agar apa? Agar satu kebahagiaan itu bisa menghapus kesengsaraan. Tapi, jika dibalik, maka kita hanya akan bosan karena selalu merasa bahagia dan kita hanya bisa mengingat satu kesengsaraan itu saja.”


Mendengar hal itu, Charlotte semakin menaruh perhatian. Sebelumnya, ia tidak pernah membincangkan perihal hati kepada siapa pun.


“Luka memang sangat mudah didapatkan, sama seperti luka hati. Meski sudah dijaga betul-betul, terkadang ekspektasi malah mengecewakan kita. Tapi, semua tergantung kita, apakah mau diobati dengan kegiatan positif atau malah membiarkannya sampai waktu yang membuatnya mengering.”


Lagi, Ellena memegang kedua tangan Charlotte.


“Yang Mulia, dunia ini untuk Anda. Keluarlah dari penjaramu sendiri dan lihatlah, masih banyak orang-orang menunggumu untuk kembali. Lupakan masa lalu yang membelenggumu dan obatilah dengan kehadiran orang-orang baru yang lebih menyenangkan.”


Senyum Ellena bak bulan sabit menyinari hati Charlotte. Perlahan, mata wanita itu mulai sedikit jernih. Selaput yang menutupi netranya sedikit hilang meski tidak semua, tetapi ia mulai paham akan perasaan yang Ellena sampaikan.


Namun, mendadak saja.


“Lepaskan Ellie, Ratu Charlotte!” Steven berteriak. Di sampingnya sudah ada kawan-kawannya, menatap sengit pada Charlotte yang berdiri berhadapan dengan Ellena.


****

__ADS_1


__ADS_2