
Ellena terkejut mendapati dua orang tengah mengendap seperti seorang maling kecil, mencoba keluar dari area yang sudah dijadikan sebagai tempat mereka beristirahat.
“Gall dan Gao... apa yang sedang kalian lakukan?” Kedua netra Ellena membulat, begitu pula mulutnya mengangga. Ia banyak menaruh pertanyaan pada dua teman barunya.
Sontak saja Gall dan Gao langsung berdiri tegap. Tatapan mereka lurus. Meski mereka memiliki niat untuk lari dari tim Ellena, entah mengapa keduanya beringsut begitu saja tatkala ketahuan oleh Ellena.
“Apa kalian kebelet pup?” Ellena bertanya dengan polos, membuat wajah Gao dan Gall memerah semu.
Bagaimana mungkin seorang gadis mengatakan hal demikian dengan enteng? Ya, di Wolestria tidak diperkenankan berkata yang kotor, jika itu terjadi maka Nilai Kehidupan akan berkurang, alias umur si pelaku itu akan dikurangi sesuai kata yang diucapkan.
Diam.
Keduanya tak menjawab apa pun. Mereka hanya menatap lurus dengan badan tegap laiknya tentara-tentara yang siap melapor kepada komandannya.
Hening.
Mendadak.
“K-kenapa kau kembali dengan cepat, Ellena?” tanya Gao seketika. Ia mencoba menghilangkan atmosfer ketegangan di antara mereka.
Mendapat pertanyaan itu membuat jantung Ellena berdebar tak karuan. Ia tak menyangka bahwa Gao bisa selembut ini meski sebelumnya ia seperti ilmuwan haus darah yang sangat menjengkelkan.
Ellena tersenyum simpul. Ia menggaruk belakang kepalanya. “A-a-a-aku...”
Mendadak gadis itu menjadi gagap. Hanae yang sudah tahu akan reaksi Ellena pun dengan segera menarik tangan Gall. Sementara Mae menarik Gao meski lelaki itu hendak menolak. Namun, mata hijau Mae menukik tajam membuat si Gao jadi meringkuk ketakutan. Selama ini ia tidak pernah melihat mata elf tingkat tinggi.
Dulu ia pernah hendak meneliti elf, tetapi yang ada ia malah diserang sebab tingkatannya dengan elf berbeda. Gao akan kalah dengan kekuatan seorang elf.
“Ellena hendak mengajak kalian ke Pasar Kota. Mari kita lihat bersama daripada duduk di sini sambil melamun, yang ada nanti kau bisa buang air besar.” Hanae kian menarik si orc.
__ADS_1
Mereka pun berjalan bersamaan menuju pada Kuro dan Manu yang sudah dikaitkan dengan gerobak. Semua teman Ellena yang lain sudah berada di sana lebih dahulu. Maka dari itu, mereka hendak mengajak dua teman baru karena perubahan rencana tersebut.
Ah, angin berembus begitu pelan tetapi menyapa kulit dengan lembut. Bahkan, Ellena bisa mendengar betapa damainya angin itu terbang bebas seperti di ruang hampa.
Tak membutuhkan waktu lama untuk pergi ke Pasar Kota, sebab Kuro dan Manu menjadi tumpangan keduanya sehingga dengan cepat mereka sampai di sana.
Suasana masih saja sama.
Orang-orang ramai memadati pasar itu. Agaknya semua aktivitas dilakukan di sana meskipun tempo hari terjadi kericuhan di tempat ini.
Hm, bau harum makanan sedap mulai menusuk hidung. Ellena sudah tak sabar ingin makan dengan lahap. Banyak hal yang masih belum dicoba.
Biasanya, Ellena merasa pusing di tengah-tengah keramaian, tetapi entah mengapa semenjak dirinya menginjakkan kaki di Everfalls, rasanya semua menjadi terbalik. Ellena yang tertutup menjadi terbuka. Bahkan, melihat banyak orang tidak semenakutkan dahulu.
Bibir Ellena menyungging, melukiskan bulan sabit di wajahnya. Indah. Hatinya merasa lega, Ellena pun menghela napas.
Teman-temannya pun menyebar ke berbagai penjuru arah, memilih apa saja yang mereka suka. Sementara Ellena melirik pada Ruby yang melayang dengan mengepakkan sayap kecilnya.
“Ya, ya, ya. Ini lima puluh perak.” Seketika saja lima puluh koin perak keluar dari telapak tangan mungil Ruby.
Mendapat uang gratis, membuat senyum Ellena kembali merekah. Ia menangkupkan kedua tangannya untuk menerima koin-koin tersebut. Lagi pula, Ellena hanya pendatang. Ia tidak tahu apa-apa dan belum berpenghasilan di sini sehingga hanya Ruby yang menjadi walinya.
“Woahhhh... ini lima puluh perak setara berapa?” Kedua netra Ellena tak henti berbinar terang. Mata duitnya sungguh tidak bisa tenang, membuat Ruby berdecih. Seperti kampungan saja, pikirnya. Ya tentu, namanya juga gadis dari dunia lain, mana tahu hal begituan.
“Hm berapa ya?” Ruby memegang dagunya yang mungil. “Satu perak bernilai sepuluh perunggu. Satu emas bernilai sepuluh perak,” jelas Ruby panjang lebar.
Lagi, kedua netra Ellena melebar. Kaya. Ya, ia merasa kaya. “Jika begitu, lima puluh perak berarti ada lima ratus perunggu dan bernilai lima koin emas! Ah, sungguh aku bisa kaya di sini! Mungkin aku akan usaha tahu bulat! Tahu bulat seharga lima perunggu, digoreng dadakan.” Ellena menciumi koin-koin perak itu. harum. Memang bau uang sangat menggiurkan.
“Tidak seperti itu, Ellie.” Ruby menepuk jidatnya.
__ADS_1
“Maksudmu? Apa perhitunganku salah?”
“Hm, ya bagaimana cara menjelaskannya ya. Sepuluh perunggu hanya bisa beli satu gulali apel saja dan lima koin emas hanya mampu membuatmu makan selama tiga hari atau menginap beberapa jam saja di penginapan.” Ruby nyengir tidak yakin.
Sementara Ellena yang sedari tadi tampak berbunga-bunga, kini bunga di dalam hatinya seketika layu.
“Apa?! Masa sih?! Ini setara dengan lima koin emas, loh! Emas ini loh!” Ellena tercengang.
“Hm, ya begitulah. Semenjak Everfalls kehilangan penguasa negerinya, terjadi inflasi karena banyak pemasok yang sedikit enggan bertransaksi dengan Everfalls. Alhasil, barang menjadi sangat mahal di sini. Dulu lima koin emas bisa membelikan banyak barang buatmu, tetapi sekarang tidak lagi.” Kepala Ruby menengok, matanya menatap pada istana yang melayang jauh di atas sana.
Sedih.
Banyak hal yang terjadi dan berakibat fatal bagi kehidupan di Everfalls. Ellena hanya bisa menunduk. Ia merasa bersalah karena belum bisa membawa Charlotte kembali.
“Ellena.” Seketika saja Ruby menyahut gadis dari dunia lain itu. “Jika memang dirimu tidak sanggup pada misi ini, maka sudahilah. Aku akan cari cara untuk mengembalikanmu, bagaimana pun itu meski harus merelakan nyawa.”
Ruby menjeda kalimatnya.
“Ellena, jika kamu tahu, tidak semua orang bisa membahagiakan orang lain. Aku sudah egois dengan membawamu ke sini demi kebahagiaanku dan kebahagiaan warga Everfalls. Padahal, kamu juga memiliki batas untuk bisa membahagiakan yang la—”
“Memang kebanyakan orang tidak bisa membahagiakan semua orang dalam satu waktu,” sergah Ellena cepat. “Namun, aku... Ellena Smith, bersedia membawa kebahagiaan itu untuk kalian! Lagi pula, kembalinya Ratu Charlotte juga salah satu kebahagiaanku. Sungguh, aku juga ingin dia kembali dan Everfalls berjaya lagi!”
Ellena mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar bertekad demi mewujudkan misi itu.
Tak disangka, tiba-tiba saja dari kejauhan Ellena tak sengaja melihat Varl tengah mengendap-endap. Sungguh mencurigakan. Tak hanya itu, Varl juga tampaknya tengah bertelepati dengan seseorang.
“Baik, aku segera melenyapkannya. Tunggu saja pergerakanku, aku janji akan menyelesaikan misi ini! Ingat, kalian juga harus membayarku sesuai aturan guild!”
Dan tak berapa lama, Varl bertemu dengan seorang elf kecil yang terlihat seperti bocah sepuluh tahun.
__ADS_1
****