
“Ayo selamatkan Kuro, Varl.” Ellena benar-benar sedih dengan kondisi Kuro yang sudah menjadi patung batu. Entah nyawa kuda hitam itu masih ada ataukah tidak, yang jelas Ellena ingin berjuang sekali lagi.
Bibir gadis itu gemetar seraya masih menahan rasa sakit diam-diam yang berpusat di bahu kanannya. Remuk. Bisa saja hampir patah sebab ia terhempas begitu jauh. Sementara darah di kening Ellena mulai mengering, tetapi perihnya masih terasa.
Namun, lupakan rasa sakit itu. Yang ada di pikiran Ellena hanya satu, yaitu membebaskan Kuro dari sihir hitam Charlotte yang mengubah kuda itu menjadi patung batu.
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Ellena hanya bisa menangis sembari menikmati setiap rasa sakit di sekujur tubuhnya yang kurus. Melihat itu, Varl mengeratkan giginya.
Sungguh, dia kian menaruh benci kepada sang ratu penguasa negeri ini. Ellena sudah hampir remuk dan Kuro menjadi patung batu. Menyesakkan.
Kedua tangan Varl pun menggenggam dengan erat. Kebencian di dalam dada kian terbakar dendam yang mulai memanas.
“Harus diselesaikan segera si sumber masalah itu!” tekad Varl di dalam hati. Dirinya sudah mulai muak akan segala hal yang terjadi selama ini. Sudah berkali-kali mereka ke istana Charlotte, tetapi belum ada hasil.
Mereka selalu kalah dan sekarang... dua korban sudah jatuh.
“Aku akan balas dendam!” Varl bangkit. Kemudian, menoleh kepada Ellena yang merintih kesakitan. “Kamu di sini saja. Aku akan segera—”
“Aku ikut.” Meski dengan suara yang masih serak sebab isaknya yang belum usai, Ellena tetap berpegang teguh, ikut bertekad bersama Varl.
Namun, Varl kembali jongkok, menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Ellena yang duduk dengan kaki lurus ke depan. Varl mengelus kepala gadis dari dunia lain itu. “Jika kau ikut, kau hanya jadi beban!”
Meski sikapnya sangat lembut seperti seorang kakak yang perhatian, tetapi kalimat Varl sangat menusuk, membuat Ellena protes. “Sesekali aku juga bisa jadi orang bermanfaat!”
Ellena berusaha meyakinkan Varl. Namun, pria berambut coklat nan ikal itu mencolek ujung hidung Ellena, lalu menggeleng pelan diselingi senyumnya yang menawan. Seperti biasa, pria itu tebar pesona.
“Kau di sini saja. Biarkan seorang pria yang berjuang.” Baru kali ini Varl berkata lembut, biasanya penuh makian.
Setelah mengatakan itu, Varl bangkit dan berdiri dengan membawa tekad kuatnya. Ia tak mau kalah lagi. Pokoknya harus segera diselesaikan!
Mau tak mau, Varl harus berjuang demi dirinya dan semua orang. “Segera, semua akan berakhir, Charlotte!” batin Varl terus melayangkan banyak ancaman meski tidak langsung kepada sang ratu yang sekarang entah di mana posisinya.
“Manu, tolong jaga Ellena!” perintah Varl seketika sebelum ia berangkat untuk berjuang menyelesaikan misi berat ini. “Aku akan membuat wanita itu berlutut kepadaku!”
“Ngiiik!” jawab Manu yang berarti siap. Varl pun mengangguk seraya mengacungkan dua jempolnya. Kemudian, ia berlari dengan cepat, menembus bangunan yang berdiri dengan angkuhnya ini.
__ADS_1
Jika ada yang menghalangi, maka seketika tombak Varl segera menancap cepat ke inti tubuh si pelawan. Ia tak segan-segan meski itu adalah seorang wanita sekalipun, sebab para wanita di sini bukanlah wanita sesungguhnya karena kekuatan mereka melebihi batas.
Sambil berlari, Varl mencium permata perak yang melingkar di jari tengahnya. Ia berharap, dirinya mendapat bantuan kekuatan dari permata kuno tersebut. Ya, cincin itu hanya ada satu di dunia yang dibuat langsung oleh Charlotte dengan kekuatan Berkahnya.
“Hm, kau lihat saja, aku bisa mengalahkanmu, Charlotte! Bahkan, seribu tahun atau seratus tahun, aku akan terus mengejarmu dan mengalahkan dirimu!” Varl percaya diri.
Ia memakai Specula untuk memindai jejak sihir hitam. Sungguh, biasanya tampak jelas. Namun, setelah sihir itu mengamuk dan hampir menelan Charlotte sebelumnya, jejak aura sihir mulai tak beraturan. Varl harus menggunakan instingnya.
Di sisi lain, Ellena masih merintih. Namun, ia berusaha untuk bangkit. Sekuat tenaga dirinya terus mempertahankan kesadaran. Kepala pening yang mulai terasa berat membuatnya hampir limbung beberapa kali.
Melihat itu, Manu meringkik. Kemudian, ia menggigit tudung jubah biru milik Ellena. Manu kembali mendudukkan Ellena di atas tanah.
“Tidak, Manu. A-aku harus—”
“Ngik!” Manu terus meringkik dan menahan gerakan Ellena yang berusaha bangkit.
“Manu, kumohon,” pinta Ellena seraya memasang wajah memelas. Peduli setan dengan rasa sakit ini. Ia hanya ingin berjuang sekali lagi. Ia sudah berada di sini untuk menyelesaikan misi yang dibebankan kepadanya.
Ellena harus berjuang.
Ya, ia bertekad.
Ia pun tercengang, berusaha mendengar lagi. Kepalanya celingukan mencari siapa orang yang tengah berbicara dengannya. Namun, mau diputar ke mana pun, Ellena tak menemukan siapa-siapa.
Tempat di sini sepi sekali. Hanya terdengar suara alunan angin yang dengan lembutnya mengisi ruang-ruang kosong di Everfalls.
“Manu, apa kamu tadi mendengar seseorang berbicara kepadaku?” tanya Ellena. Ah, meski Manu menjawab pun, Ellena tidak akan mengerti apa yang dikatakan oleh kuda itu. Ia tak paham akan bahasa hewan.
Namun, Ellena mau berjuang sekali lagi.
Meski kemungkinan kecil bahwa Manu akan menjawab dengan ringkikan yang lebih bisa dimaknai, Ellena tetap menanyakan itu dan percaya bahwa ia akan paham.
“Aku yang berbicara.”
Gerakan bibir Manu persis dengan suara itu!
Mengetahui fakta, membuat kedua mata Ellena membulat. Ia bahkan sampai melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sejenak, dirinya mematung dan berusaha menerima kenyataan yang mencengangkan ini.
Satu detik.
Dua detik.
__ADS_1
Bahkan hingga ke detik sekian.
Ellena masih menganga akan kejadian yang tak dapat diterima oleh akal sehatnya. Baru setelah beberapa saat, Ellena mulai membuka mulutnya dengan aksara.
“K-kamu bisa bicara?!” Ellena baru saja mengutarakan pertanyaan itu setelah beberapa detik berlalu.
“Ya, tapi jangan bilang siapa-siapa.” Manu memperingati dengan mata tajam.
Sementara Ellena hanya bisa mengangguk. Namun, ia bersyukur sebab dirinya dapat berkomunikasi dengan Manu tanpa harus menerjemahkan ringkikan kuda itu.
Perlahan, Manu mendekat kepada patung Kuro. Tatapannya berubah sendu. Selama beberapa detik, Manu menatap setiap inci tubuh Kuro. “Sebelum dia diajak olehmu, Kuro pernah berkata padaku bahwa dia ingin berjuang bersamamu. Meski harus berjuang beberapa kali, dia akan terus setia kepadamu. Kuro mencium sesuatu yang berbeda darimu.”
Kepala Manu menunduk dalam. Ia menjeda kalimatnya.
“Berapa kali berjuang, ia akan terus melakukannya asal bersamamu, Ellie.” Manu menoleh kepada Ellena yang tak jauh beberapa senti di sana. “Jika gagal, Kuro akan meyakinkan diri bahwa ia akan sekali lagi berjuang bersamamu. Mau seberat apa pun rintangan yang ada, Kuro siap menjadi kuda terbaikmu.”
Mendengar itu, Ellena kembali terisak. Ia sesenggukan, bahkan sekarang dirinya menangis, merasa bersalah apalagi melihat rupa Kuro yang sudah tak tampak seperti kuda hidup lagi.
“Dasar cengeng.” Manu sedikit tersenyum. Kemudian, ia berjalan mendekat kembali kepada Ellena. “Sudah, jangan menangis. Kuro akan semakin sedih melihatnya. Dia bilang padaku, senyumanmu dan Charlotte sangat berharga. Satu yang membuat hidupnya berwarna adalah melihat senyuman kalian. Jadi, jangan menangis. Mari berjuang sekali lagi, Ellie.”
Manu kembali menggigit tudung jubah Ellena, membantu gadis itu berdiri. Meski dengan rasa sakit sekali pun, Ellena akan menyelesaikan misi ini walau berat.
Sebelum melangkahkan kaki lebih jauh, Ellena mengusap kedua matanya. Ia bertekad, dirinya tak akan menangis lagi, sebab menangis saja bukanlah sebuah jalan keluar. Harus ada perjuangan untuk bisa merasakan keberhasilan.
Tak menyerah, itulah Ellena.
Gadis itu menghela napas begitu panjang, melepaskan segala beban yang selama ini menyangkut di dalam hatinya. Lega. Ayo, berjuang kembali!
“Aku akan mengabulkan keinginanmu, Kuro! Segera, senyuman itu akan datang kepadamu!” Ellena tersenyum dari kejauhan kepada Kuro yang berpose tengah menyerang. “Doakan aku!” teriak Ellena.
Ia sudah kembali kuat meski luka ada di mana-mana. Sungguh, semangat di dalam dada kian membuncah. Ellena siap untuk berjuang sekali lagi.
“Ayo kita berjuang sekali lagi!”
Ellena menaiki punggung Manu, mengejar Varl untuk menyusul ratu penguasa negeri ini. Ellena bertekad, ia segera membawa Charlotte kembali kepada warganya.
Dengan kecepatan penuh, Manu berlari, melesat dan menembus udara di istana agung milik Charlotte. Namun, keduanya tercengang tatkala tiba-tiba saja melihat Varl tengah melakukan sesuatu di sebuah ruangan.
“V-Varl, apa yang sedang kau lakukan?!” tanya Ellena seraya mendelik.
****
__ADS_1