CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Kebingungan Ellena


__ADS_3

“Uh, sakit sekali rasanya,” lirih Ellena. Ia mulai membelalakkan matanya. Suasana di sekitar begitu sepi dan bau obat menyeruak memenuhi ruangan. Ellena hampir saja muntah, tetapi ia tidak kalah dengan perasaan kacau itu.


Meski tubuhnya masih terasa seperti remuk, ia berusaha bangkit. Kepalanya menoleh, menyusuri tempat yang sangat asing ini.


“Aku... di mana?” tanyanya lirih seraya memegangi kepala. Ia merasakan sesuatu membalut kepalanya. “Ha? Apa aku... terluka?”


Ia seperti tengah kehilangan kesadarannya, merasa aneh dengan keadaan yang menimpa dirinya. Rasa sakit di sekujur tubuh membuatnya tercengang, Ellena tidak ingat apa pun, tetapi tubuhnya seperti remuk.


Meski pandangannya kabur selama beberapa saat, ia melihat ruangan nan temaram ini begitu mewah dengan ukiran yang sangat detail. Ellena baru sadar tatkala kepalanya mendongak ke atas. “Ini... bukan di kamarku!”


Ellena berusaha bangkit dari kasur yang terasa empuk nan nyaman ini, belum pernah ia merasakannya sejak dirinya hidup di dunianya. “Apakah ini... di sekolah?” Ellena menebak sebab ruangan dengan ukiran yang seperti istana ini adalah sekolahnya. Ia hanya melihat hal seperti ini hanya di sekolah, tidak di tempat lain.


Oh... apakah Ellena benar-benar melupakan petualangannya di Wolestria ataukah petualangan yang kemarin hanya sekadar mimpi saja?


Sungguh, Ellena tidak mengingat apa pun!


Namun, ia sungguh penasaran. Dirinya memang tak mengingat kejadian sebelumnya, tetapi aroma ini dan juga tempat yang disinggahinya seperti menyimpan sesuatu. Sekuat tenaga, Ellena berusaha mengingat apa yang tengah direnggutnya.


Kemudian, ia merasakan sesuatu yang aneh di ujung jarinya. Rasanya... dingin!


Ellena segera melirik pada ujung-ujung jemarinya. Kedua netranya pun melotot hebat, ia tak menyangka bahwa ujung jemarinya membeku semua!


Glek.


Ellena menelan ludah kuat-kuat. Tubuhnya mendadak gemetar. Ini bukan sekadar membeku saja tetapi sudah seperti menjadi es.


“Mi-Miko?! Miko... ada apa dengan tanganku?!” teriak Ellena berusaha memanggil sang sahabat, ia sangat berharap bahwa orang yang amat dipercayainya itu datang dan mampu memberikan penjelasan yang tak membuatnya bingung.


Krak.

__ADS_1


Krek.


Mendadak saja terdengar sebuah kristal yang sedang terbentuk. Berbarengan dengan itu, jantung Ellena terasa nyeri dan detik kemudian ia menggigil sebab hawa dingin kian menusuk ke sekujur tubuhnya.


Gigi Ellena sampai gemeletuk saking dinginnya. Gadis itu merasa seperti dikubur dalam-dalam dengan tumpukan salju nan putih di atas gunung Everest. Hanya itu yang bisa Ellena gambarkan.


Bulu kuduknya meremang seketika, sementara ujung jari tangan dan kakinya semua membeku tak terkecuali.


“A-ada apa... i-ini?” tanya Ellena dengan bibir gemetar menahan serangan dingin yang kian menyiksanya.


Kemudian, tanpa sadar ia bangkit dari kasur, berniat untuk berendam di air hangat. Ia segera melawan rasa dingin itu untuk menjemput kehangatan di depan sana. Hanya satu yang ada di pikirannya, yaitu air hangat yang dapat melelehkan es ini yang di luar nalar bagi Ellena.


Tatkala ia keluar dari ruangan nan gelap itu, ia kembali dikejutkan oleh sesuatu yang kian asing. Sebuah tiang dan dinding berlapis emas dan batu kapur menghadangnya hingga tercengang.


Tak hanya itu, sejauh mata memandang awan terasa lebih dekat dan agaknya bisa disentuh. Untuk ke sekian kalinya, kedua netra Ellena terbelalak. Ia sungguh tak mengerti dengan keadaan di sekitarnya.


Namun, ia simpan dahulu rasa penasaran itu. Ia hanya ingin menghangatkan tubuhnya hingga es di ujung jemarinya dapat mencair. Ellena pun kembali berjalan dengan gontai seraya menahan segala rasa sakit di sekujur tubuhnya.


“Air... aku... a-aku... mau air,” racau Ellena setengah sadar.


Rembulan di atas sana terasa lebih besar dan bertekstur tidak seperti yang biasa ia lihat. Udara malam terasa semakin dingin. Bintang bertaburan di mana-mana tetapi Ellena hanya menginginkan air hangat saat ini juga.


Tubuhnya mengigil dan juga... jantungnya terasa semakin nyeri.


Tanpa sadar, bulir bening meluruh. Rasa sakit kian menyiksanya. Ia sudah pasrah dengan semua ini. “Apakah... aku sudah berada di surga?” tanya Ellena di dalam hati. “Tapi... kenapa aku masih merasakan sakit, Ayah?”


Ellena teringat dengan ayahnya yang jauh di sana, Jerman. Ia sudah sangat merindukan sang ayah setelah dua tahun penuh tidak kembali. Kini, ia berharap bisa bersua lagi dengan ayah tercinta.


Ellena menyender pada tembok yang dilapisi emas dengan ukiran bulu merak. “Ah, sangat indah,” batinnya. Napas Ellena tersengal-sengal, bahkan sesekali ia terbatuk dengan mengeluarkan darah.

__ADS_1


Mendadak, Ellena melihat merak putih besar yang begitu indah. Bulunya bermandikan cahaya rembulan. Ia berjalan ke sebuah tempat. Saking terpananya, Ellena tak sadar mengikuti si merak itu yang ia tak tahu siapa.


Indah.


Itu yang ada di pikiran Ellena sekarang. Ia sampai lupa dengan segala rasa sakit yang menyelimutinya hanya karena melihat seekor merak putih nan besar dan juga... cantik.


Ellena ingin menyentuhnya. Namun, apakah ia bisa?


Gadis itu terus mengikuti sang merak ke sebuah ruangan yang pintunya terbuat dari emas murni dengan lambang bulu merak. Ellena kembali dibuat tercengang, tetapi pikirannya masih tertarik dan penasaran akan merak tersebut yang tidak menyadari bahwa Ellena tengah mengikutinya.


Sang merak masuk dengan menembus pintu. Sungguh, Ellena dibuat terkejut olehnya.


Ellena pun masuk ke dalam ruangan itu dengan cara yang sama seperti si merak. Lagi-lagi ia dikejutkan oleh pemandangan di depannya. Ia melihat sebuah tempat yang dikelilingi oleh perbukitan. Di tengahnya tampak danau berhiaskan bunga teratai dan tujuh air mancur yang keluar dari paruh patung merak.


Beberapa merak putih kecil juga menyebar di berbagai tempat. Di tengah danau terdapat daratan kecil yang di sana ada pohon besar melengkung dengan bunga putih bermekaran. Untuk namanya, Ellena tidak tahu bunga apa itu, tetapi bunga tersebut menguarkan aroma wangi nan menenangkan.


Tak hanya itu yang membuat mulut Ellena menganga, langit di tempat ini juga berbeda dengan di luar. Di dalam sini, langit menunjukkan waktu siang sementara di luar sudah malam.


Benar-benar ajaib!


Otak Ellena berusaha mencerna keadaan yang sangat fantastis dan tak bisa diterima akal sehatnya begitu saja. Kemudian, ia melihat sang merak menuju ke danau tersebut. Namun, tatkala ia menyentuh air, berubahlah merak itu menjadi seorang manusia!


Glek.


Ellena meneguk salivanya lagi. Ia juga mengucek matanya, berusaha menerima keadaan ini yang di luar nalar. Bagaimana mungkin seekor merak berubah menjadi manusia yang cantik dan anggun dengan gaun hitam berhias emas dan bulu merak?


Untuk sejenak, Ellena hanya bisa mematung.


Keadaan yang seperti berada di film fantasi membuatnya seakan tidak dapat berkata-kata. Ini sangat nyata!

__ADS_1


Mendadak, wanita tersebut menoleh kepada Ellena yang terdiam di balik semak-semak. Tatapannya kosong dengan manik perak yang meredup. “Kau... Ellena Smith, ‘kan?”


****


__ADS_2