
Tatapan semua orang sengit kepada Charlotte diselingi dengan genggaman tangan mereka yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa berdamai untuk saat ini. Sementara Ellena kebingungan sendiri.
“Siapa, mereka?” tanyanya di dalam hati. Kedua alisnya bertautan, ia benar-benar tidak mengerti dengan keadaan yang membuat atmosfer di sekitarnya terasa lebih menyesakkan daripada sebelumnya, padahal tadi masih baik-baik saja.
“Lepaskan Ellie, Ratu Charlotte!” Lagi, Steven berteriak dengan keras hingga air di danau itu bergetar ketakutan karena sang raja negeri ini murka.
Sesak.
Suasana mendadak jadi tegang. Kepala Ellena menoleh ke sana-kemari. Ini bukan mimpi yang ia inginkan. Situasi di sini rasanya... terlalu nyata!
Glek.
Ellena meneguk ludahnya dengan kasar. Bahkan, menurutnya ini tidak bisa disebut dengan mimpi.
“Apa hati Anda sudah mati, hah?! Berapa kali lagi dirimu akan menyakiti Ellie! Cepat lepaskan dia atau Anda berhadapan denganku, Yang Mulia!” tantang Steven. Ia mencabut sebilah pedang dari sarungnya yang selama ini bersembunyi di balik jubah Steven.
Ia todongkan pedang tersebut kepada Charlotte sembari maju. Tak hanya Steven saja yang menampakkan wajah murka. Hanae, Mae, Leonie, Gao, dan Gall juga sama. Kening mereka berkerut, ditambah dengan menodongkan senjata masing-masing, menantang Charlotte meski tubuh mereka luka-luka.
“Apa Anda tidak pernah tahu berapa banyak orang yang terluka karena Anda?!” kata Steven sambil berjalan maju, mendekat kepada Charlotte yang berdiri tiada gentar malah menatap kosong dengan apa yang ada di hadapannya.
“Nona Ellena sudah berjuang keras untuk menyembuhkan semua luka penduduk Everfalls.” Kali ini Gao yang angkat suara. “Tapi, mau berapa lama lagi Anda ingin menyiksa Nona Ellena!”
Suara bocah itu juga menggema di alam buatan khusus untuk Charlotte. Semua orang menantang ratu itu, tetapi di sisi lain Varl dan Elise yang sedari tadi bersembunyi di balik semak-semak, kini mereka pergi begitu saja untuk menyelesaikan misi utama mereka.
“Aku rasa, ini saatnya,” batin Varl yakin seraya menarik tangan Elise untuk keluar dari alam buatan ini.
Mereka keluar dengan aman, sebab sebenarnya Charlotte sudah mengizinkan siapa pun untuk masuk dan keluar dari alam buatannya. Ia tahu bahwa Ellena dan teman-temannya akan datang sehingga ia tak membuat mereka semua terjebak di dalam alam buatan ini.
Charlotte masih berdiri tanpa rasa takut sedikit pun, bahkan ia melihat sesuatu yang lain di dalam diri orang-orang yang berada di pihak Ellena.
Sedangkan sang gadis yang menjadi tokoh utama malah kebingungan sendiri. Ia berpikir dengan keras, mengapa sedari tadi namanya yang disebut sementara ia tak tahu menahu soal akar permasalahannya.
“Ada apa dengan gerombolan ini? Rasanya... rasanya tidak asing. Tapi, aku tidak ingat apa pun!” Ellena sedikit kecewa dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melupakan sesuatu yang penting di sini.
Mendadak.
Krak.
Krek.
Bersamaan dengan itu, Ellena merintih kesakitan. Jantungnya kembali diliputi kristal es. Ia pun memegang dada, menahan rasa sakit itu. Segera saja, Hanae, Mae, dan Leonie menangkap tubuh Ellena yang hampir limbung.
__ADS_1
“Uhuk!” Ellena terbatuk sekali. Rasa dingin mendadak terasa lagi, lebih dingin dari sebelumnya dan rambut Ellena semakin memutih. Sudah setengah dari kepalanya hanya dihiasi dengan rambut putih nan dingin.
Ujung jemari Ellena juga semakin membeku. Jujur saja, Ellena tidak tahu mengapa dirinya seperti dikurung oleh es nan begitu dingin.
Perlahan, ia menatap tiga gadis yang berbeda bentuk. Ada elf, manusia, dan juga manusia setengah singa. Ellena tersenyum lembut, ini seperti di dunia fantasi yang pernah ia lihat di dalam film.
“Kalian... siapa?” tanyanya dengan bibir gemetar.
Deg.
Mendengar itu, membuat dada ketiga gadis tersebut langsung nyeri seperti tertusuk tombak hingga ke dalam intinya.
“A-apa maksudmu? Kita adalah temanmu, Ellena!” Mae menolak kenyataan. Tampak dari kedua binar netranya bulir-bulir bening yang hampir meluruh.
“Apa kamu bercanda, Ellena?” Hanae terkekeh sambil memegangi tubuh Ellena dari belakang. “Kamu pikir candaanmu itu lucu?”
“Hahaha, ayolah Ellena, kamu sedang sakit jadi aku rasa kamu sedang mengigau.” Leonie juga tak mempercayai Ellena bisa melakukan hal ini kepada mereka.
“Tidak. Aku tidak bercanda atau mengigau. Aku benar-benar tanya si-siapa kalian?” tanya Ellena masih dengan bibir yang gemetar diselingi giginya yang bergemeletuk menahan dingin.
Diam.
Semuanya terdiam, bahkan Steven, Gao, dan Gall yang tadinya menodongkan senjata kini senjata-senjata kebanggaan mereka jatuh mengenai air danau yang memadat seperti lantai.
“E-Ellie... Apa kamu... Apa kamu melupakan kami?” Steven gemetar. Sedangkan Gao dan Gall tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk mengutarakan betapa terkejutnya mereka.
Terdengar tangisan yang pecah dari mereka semua, meski sekuat apa pun mereka menahannya, tetap saja isak itu terdengar hingga ke telinga gadis itu.
“A-ada apa? Ke-kenapa semuanya menangis?” Ellena semakin dibuat bingung.
Mendadak.
“Ellieeee!” Ruby datang dengan sayap kecilnya. Ia menembus pintu itu dan langsung menuju kepada Ellena yang sudah tergeletak dengan rambut putih. “Tidak, ini tidak mungkiiiiiiiiiiiiiiin!” Ruby menangis dengan keras.
Kemudian, ia mengeluarkan kalung yang ada liontin merahnya, sebuah liontin Ruby sebagai salah satu cara Ellena untuk kembali ke dunianya setelah misi berat itu selesai.
Kedua mata Ruby melotot hebat, liontin itu semakin meredup. Malah, warnanya menjadi kian pudar. “Tidak, ini tidak mungkin! Ellie... Ellie kumohon sadarlah!” paksa Ruby dengan tangisnya yang pecah.
“Kenapa... kenapa uhuk! Kenapa semuanya menangis?” Ellena tersenyum lembut meski saat ini ia sekuat tenaga menahan rasa dingin yang terus menjalar dan menguasai tubuhnya.
“Ellie, apa kamu lupa bahwa kamu di sini untuk menyelesaikan misi yang mana itu adalah misi untuk membawa kembali Ratu Charlotte?!” Ruby mencoba mengingatkan Ellena pada tujuan awalnya.
__ADS_1
“Mi-misi?” Ellena menggeleng dengan lemah. “Aku tidak pernah ingat punya misi seperti itu. Aku hanyalah gadis desa biasa yang sedang belajar di Inggris. Aku bukanlah gadis kuat semacam itu.” Ellena menangis.
Ya, bagaimana mungkin gadis figuran semacam dia bisa mengemban misi berat seperti itu? Ellena sungguh sama sekali tidak mempercayai mimpi ini.
“Tapi... saat aku melihat kalian yang menangis untukku... rasanya di sini hangat.” Ellena menunjuk ke dadanya. “Aku tidak pernah melihat... tangis seseorang untukku. Hanya Miko. Ya, hanya dia yang bisa menangis untukku. Tapi... jika aku melihat tangisan ini terlalu banyak, rasanya sangat jahat jika aku melupakan kalian.”
Ellena mengusap pipi teman-temannya dengan jemari yang membeku dan membawa sensasi dingin. Ia mengelap air mata mereka.
“Jangan menangis.”
Mendadak.
Wus.
Wus.
Wus.
Aura asap hitam muncul di sekitar Charlotte. Teriakkan pun mulai terdengar dari mulut wanita itu. Ia kesakitan sedangkan suara asing membuatnya semakin tersiksa.
“Hei, lihatlah! Semua orang hanya peduli dengan gadis yang bahkan bukan berasal dari dunia ini. Mereka sama sekali tidak peduli padamu, Charlotte.” Suara tersebut menggema, bahkan terdengar hingga ke mana-mana.
“Tidak! Jangan katakan itu!” Charlotte menjerit sedangkan aura hitam semakin menguasainya.
Ellena melirik, ia melihat Charlotte seperti tersiksa sendiri dengan aura hitam yang mengelilinginya. Namun, saat ini tubuh Charlotte tidak berdaya sama sekali, pun yang lainnya. Mereka hanya memalingkan wajah, tak mau melihat Charlotte.
Bukan, bukan berarti mereka sudah tidak peduli dengan wanita itu. Hanya saja, mereka saat ini sedang berada di titik terlemah. Mereka tak bisa membantu apa pun karena kekuatan sang Sihir Hitam melebihi segalanya.
Tak hanya itu, melihat Charlotte semakin tersiksa membuat mereka kian tak berdaya. Sungguh, di dalam hati yang paling dalam, mereka ingin sekali menyelamatkan Ellena maupun Charlotte. Namun, tak ada yang bisa mereka lakukan untuk saat ini.
Aura hitam terus menguasai Charlotte. Bahkan, auranya semakin menyebar, membuat suasana di sekitar menjadi sesak. Bahkan, langit di sini menjadi gelap dengan perpaduan merah nan mengerikan.
“Hahaha, jangan naif, Charlotte! Apa hatimu sudah mencair karena perkataan gadis kecil itu yang bahkan bukan dari dunia ini? Dia saja sebenarnya tidak tahu luka apa yang sudah kamu lalui selama ratusan tahun!” Tawa sang Sihir Hitam membuat di sekitarnya bergidik, bahkan merak-merak putih kabur karena ketakutan.
Air danau mendadak jadi keruh, sesekali alam buatan itu bergetar.
Semua terasa mengerikan di sini.
“Tidak, jangan begitu!” teriak Charlotte seraya menutup matanya. Ia semakin masuk ke dalam aura hitam itu.
“Hah, kau memang sungguh naif! Aku akan memakan dirimu saja dan menguasaimu sepenuhnya. Hahahaha!” tawa Sihir Hitam.
__ADS_1
“Tidak akan aku biarkan, Sihir Hitam!” Ellena bangkit, tatapannya mendadak tajam.
****