
Beberapa saat sebelumnya.
Angin seperti berbisik tak nyaman. Udara terasa sesak. Di atas sana, awan mulai gelap. Manu berdiri berhadapan dengan Kuro yang masih menjadi patung. Sudah seharian dia di sana tanpa makan dan minum, hanya menatap wajah Kuro saja tanpa melakukan apa pun.
Setelah Ellena, Yuya, dan Ciel dibawa ke tempat tabib, Manu menepi dan menemui Kuro yang berada di dekat gerbang masuk ke istana Charlotte. Padahal, gerbang itu sekarang sudah tidak berguna lagi.
“Kuro, aku tidak tahu harus melakukan apa padamu. Kutukan batu dari Charlotte sudah mematikan hatimu. Tapi, apa kamu akan terus begini saja? Ellie sudah menunggumu, Kuro. Dia juga mendapat kutukan es. Jika dia tidak bisa membawa kembali Charlotte, maka ia akan mati sia-sia. Ellie... Ellie yang kamu sayangi saat ini juga tersiksa. Apa kamu akan membiarkannya?”
Hening.
Tentu saja Kuro tidak menjawab karena ia sekarang sudah menjadi patung. Entah ia masih hidup atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.
“Kuro, bukankah kamu sangat menyayanginya? Ellie membutuhkanmu, membutuhkan kita semua. Apa kamu akan diam saja melihat Ellie tersiksa begitu?”
Tanpa sadar, Manu menitikkan air matanya. Hatinya sakit mengingat betapa Ellena merasakan kesakitan berkali-kali.
“Apa kamu tahu, dia berulang kali disiksa oleh Charlotte. Apa kamu akan membiarkannya saja? Ellie sangat merindukanmu. Dia juga merasa bersalah. Apa kamu mau membuatnya selalu bersedih? Bukankah hal yang paling membuatmu bahagia adalah senyuman Ellie?”
Manu seperti tengah berbicara sendiri. Ia terus melemparkan pertanyaan, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
Mendadak, Manu mendengar teriakan Ellena. Ia melihat sesuatu terjatuh dari atas sana dan akan menimpa tepat di tanah yang Manu pijak. Segera mungkin Manu menyingkir dan bersembunyi di balik semak-semak.
Bruk!
Ellena mulai menangisi dan menyesali akan nasib Kuro, tetapi lagi-lagi gadis itu tidak gentar. Ia kembali bangkit dan berniat melawan Sihir Hitam serta komplotannya.
Semua sihir telah diblokir sehingga tidak ada yang bisa mengaksesnya. Bahkan, semua kutukan memudar kecuali kutukan es abadi.
“Kuro?!” Manu mendekat kepada Kuro yang kutukannya perlahan mulai lenyap. Serpihan-serpihan batu seakan menguar di udara. Ellena dan lainnya tidak sadar akan hal itu, mereka hanya fokus kepada musuh di depan sana. “Kuro, apa kamu baik-baik saja?!” Manu tampak cemas.
Kuro hanya tersenyum. Ia seakan berkata pada Manu untuk diam saja. Mereka akan muncul jika sudah saatnya tiba.
Dan... inilah saatnya.
Semua mata terbelalak karena mendengar Manu berbicara. Bahkan, Leonie yang biasa berkomunikasi dengan bahasa hewan pun sampai terkejut. Ia malah berpikir, mengapa selama ini dirinya susah-susah menerjemahkan bahasa Manu untuk disampaikan kepada yang lain jika kuda putih bersayap itu bisa berbahasa selain ras hewan.
Namun, entah mengapa kuda tersebut bisa berbicara, padahal ia bukan salah satu half-human. Sebab, ras hewan yang bisa berbicara hanyalah half-human yaitu setengah manusia dan hewan.
Tak hanya itu yang membuat terkejut, tetapi juga Kuro yang terbang dengan gagahnya bersama Manu. Sontak saja Ellena berbinar mendapati Kuro yang terbebas dari kutukan batu.
__ADS_1
“KURO?!” teriaknya penuh gembira. Di atas sana, Kuro hanya meringkik seraya tersenyum.
Entah bagaimana caranya Kuro bisa terbebas dari kutukan, yang penting saat ini kuda hitam tersebut masih hidup dengan sehat. Ellena sempat berpikir bahwa Kuro sudah mati.
Mendadak.
Mata Manu yang kecokelatan berubah tajam. Tanda Berkah di antara kedua matanya menyala. Kemudian, tubuh Manu perlahan menjadi besar, sebesar Dragon. Sayap putihnya melebar begitu indah bermandikan cahaya rembulan.
Glek.
Semua yang melihatnya jadi tercengang.
“P-PEGASUS?!” Gall melotot. Pegasus adalah salah satu Spirit juga yang selama ini membaur di antara kuda-kuda biasa karena para Spirit Kokoh sudah kacau balau. Pegasus hanya ingin menghapus identitasnya dengan menjadi Manu si kuda putih, tetapi kini ia tidak bisa lagi demi menyelamatkan Everfalls.
Manu melirik Ruby yang terbang melayang memasang wajah cemas. Namun, Manu tidak berkata apa pun. Ia pun mulai berhadapan dengan sang naga. “DRAGOOON!” Manu berteriak, teriakkannya membuat segel sihir terlepas sehingga sihir bisa digunakan lagi, semua kekuatan bisa dikendalikan kembali.
Brak!
Di atas sana, Manu dan Dragon bertarung dengan hebat, adu kekuatan. Sementara Ellena dan yang lainnya membantu dengan melakukan segala hal mulai dari melemparkan sihir suci dan sebagainya. Kuro juga ikut andil, ia turun dan bertemu kembali dengan teman-temannya.
Wus.
Wus.
Angin mulai ribut di mana-mana. Istana Everfalls juga mulai hancur satu persatu. Puing-puingnya mulai rapuh, tetapi ras angel berusaha menahannya dengan sihir mereka.
Semua orang bekerja keras untuk bertahan dari serangan kejahatan. Melihat hal itu, Charlotte menangis. Ia tidak sadar bahwa air matanya menetes kembali.
Air suci beningnya membuat mata Charlotte jadi jernih seketika, semakin deras tangisnya semakin cepat matanya berubah jelas, tidak kabur lagi. Sehingga, kini tampaklah manik peraknya yang begitu menawan.
Deg.
Ia sampai mematung, ternyata dunia sejelas ini. Bintang, bulan, manusia, dan juga Ellena, betapa indahnya.
“E-Ellena,” lirih Charlotte setelah melihat wajah Ellena yang penuh keseriusan berperang mengendalikan angin untuk menghentikan Dragon. Wajah Ellena sampai basah karena keringat, tetapi matanya masih tajam seakan tidak pernah mau melepas Dragon maupun kebusukan Kristal Keabadian.
Melihat itu, Charlotte tercengang. Mulutnya menganga. Ia tengok sekelilingnya, semua orang sedang berjuang mempertahankan istana Everfalls yang berada di ujung tanduk. Tak hanya itu, warga Everfalls semuanya juga sedang mengirim doa untuk keselamatan Everfalls.
“Hiks, apa yang sudah aku lakukan selama ini?” sedih Charlotte setelah ia ingat apa saja yang telah ia lakukan. Negeri ini hampir hancur karena keegoisannya akibat hatinya yang terluka. Ia ingin hilang bersama Everfalls, tetapi setelah ia tahu bahwa semua orang berjuang untuk hidup bahagia, Charlotte menjadi merasa bersalah.
__ADS_1
Tangisnya kian deras.
Mendadak, Kuro menempelkan wajahnya pada Charlotte seakan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Charlotte pun langsung memeluk Kuro. “Maafkan aku,” lirihnya lagi. Namun, Kuro menggeleng pelan dengan ringkikannya.
Kemudian, ia meringkik panjang seraya berkata bahwa sekarang giliran Charlotte untuk berjuang. Tanpa berpikir lama, Charlotte mengangguk. Saat semua fokus pada Manu dan Dragon yang bertarung, Charlotte menuju ke tengah lapangan yang digunakan untuk upacara persembahan.
Ia berdiri di tengah podium. Kemudian... ia menyanyikan lagu Penyihir Buta untuk menyampaikan bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah satu bait dinyanyikan, seluruh elemen dapat kembali bersatu dan semua sihir bisa diakses.
Hal itu pun dimanfaatkan oleh Charlotte. Harpa keluar secara perlahan dengan sihirnya. Jemari lentik Charlotte memainkannya untuk menemani lirik lagu Penyihir Buta yang pernah diciptakan oleh Zendaya.
Seketika saja suasana menjadi hening karena semua terdiam mendengarkan lantunan merdu dari Charlotte. Bahkan, Manu maupun Dragon kini hanya bertatapan saja seraya menajamkan telinga untuk menerima sihir baik dari Charlotte.
Perlahan, sebuah perisai transparan mengelilingi istana Charlotte. Beberapa puing bangunan yang runtuh mulai kembali ke tempatnya. Semua terasa tenang, bahkan angin yang ribut bersama amukan Ellena juga mengalun pelan.
Negeri ini seperti mengalami waktu beku dalam sejenak. Rasanya... sangat menenangkan.
Lirik demi lirik Charlotte lantunkan dengan merdu. Semua orang menikmatinya, terasa sangat hangat di hati, kecuali Mae. Tidak, bukan Mae, tetapi roh Zendaya yang berbentuk Mae. Ia berteriak, menjerit kesakitan.
Mendadak.
“Matilah kau, wahai Zendaya!” Varl keluar dari tempat bawah istana dan langsung melemparkan tombaknya yang dihiasi sihir suci tingkat tinggi.
Wus.
Cruk!
Tombak itu menancap pada dada Zendaya, ia berteriak sangat keras membuat Dragon yang berada di bawah kendalinya pun jadi mengamuk karena perintah Zendaya tidak jelas sehingga ia kehilangan keseimbangan.
Wus.
Dragon mulai terbang tidak beraturan karena telinganya terasa sangat sakit dan ia hampir saja menabrak Elise, dan...
“ELISE!”
“VARL!”
__ADS_1
****