
“Kelamaan!” protes semuanya.
Mae hanya nyengir kuda dan menyuruh Yuya untuk melanjutkan kisah yang tak semua orang tahu akan ini. Hanya Yuya saja, entah mengapa gadis itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Namun, Charlotte tidak pernah kembali. Sepertinya inkarnasi tertunda. Semua bertanya-tanya apakah Charlotte memang sudah benar-benar damai di alam sana atau tidak. Hingga pada akhirnya, slime yang di dalamnya terdapat benih pun akhirnya tumbuh membesar hingga pada waktunya, slime itu mengeluarkan sebuah bocah kecil bernama Yuya.”
“HAH?!”
Semua tercengang, sementara Yuya tersenyum penuh kepuasan.
“Aku lahir dari sana dengan Berkah Insect Charmer dan hidup bersama ras hewan. Aku tumbuh dengan baik dan kemampuan yang dahsyat. Aku melatih diriku sembari menunggu janji Ratu untuk kembali.”
Mendadak saja tatapan Yuya menjadi sendu. “Selama seribu tahun penuh aku menunggu, tetapi Ibuku tidak pernah datang. Hingga pada akhirnya, seratus tahun yang lalu Charlotte datang ke gua dengan bersedih. Aku berusaha menyapanya, tetapi mendadak saja dia tertarik dengan sesuatu yang lain. Dia terus mengikutinya dan lama kelamaan... dia melupakan diriku.”
Kepala Yuya semakin tertunduk dalam. Tampak kesedihan yang ia rasakan. Bagaimana tidak, selama seribu tahun dirinya menunggu tetapi Charlotte yang terakhir sama sekali tidak mengenalinya dan lebih tertarik kepada yang lain.
“Yang memalingkan Ibuku dari diriku adalah kau, wahai SIHIR HITAM!”
Deg.
Mendadak saja Mae merasakan detakkan jantung yang begitu dahsyat. Namun, lupakan itu dulu, melihat Yuya menjadi seperti gadis kecil yang hebat membuat Mae melupakan sesuatu yang bergejolak di dalam dada.
Yuya menjadi serius kembali. Cahaya di sekelilingnya kembali mengamuk, bahkan binar netra Yuya kembali memancarkan sorot tajam nan menakutkan.
“Maka dari itu, aku akan segera mengalahkanmu dan merebut kembali hakku sebagai putri agung yang diberkahi oleh Tuhan!”
Wus.
Sihir Hitam juga mengamuk. Auranya melawan sihir Yuya. Mereka berperang, adu kekuatan.
“Aku tidak akan membiarkannya, dia adalah milikku! Selamanya Charlotte adalah milikku dan aku tak akan melepaskannya. Dia akan hidup bahagia bersamaku daripada lari ke gua itu dan mati sia-sia!” balas Sihir Hitam.
“Dia tidak mati sia-sia!”
Wus.
Wus.
Perang sihir semakin memanas, Steven dan yang lainnya berusaha menutup wajah untuk menghindari serangan maut dari keduanya.
Hingga pada akhirnya...
“Argh!” teriak Yuya berusaha mengendalikan sihir hitam yang membentuk bayangan besar. Mereka terus berperang hebat hingga pada serangan terakhir, Yuya mulai memberikan senjata andalannya.
Ia berkata, “EUANUIT!”
Satu mantra tersebut diteriakkan dengan keras hingga...
WUS.
Dalam sekejap asap hitam yang sedari awal menjadi musuh mereka pun lenyap seketika dan Yuya terjatuh setelah berperang dengan melayang.
Namun, segera ia mendarat dengan kakinya dan tatapan matanya tak setajam sebelumnya. Udara di sekitar menjadi bersih seketika, terasa sangat sejuk dan mendamaikan.
__ADS_1
Asap yang menghalangi pandangan mereka dan sihir hitam yang menyesakkan dada kini telah hilang. Mereka pun bergegas untuk menuju ke tempat di mana Varl dan Ellena berada.
Hingga pada akhirnya, mereka sampai di depan ruang singgasana milik Charlotte. Di sana, Charlotte masih dikuasai oleh sihir hitam dan juga Ciel tengah menantangnya. Namun, keduanya kini saling adu kekuatan sihir. Beberapa kali Ciel terhempas dan Charlotte semakin tampak puas.
Melihat Charlotte dengan kemurkaannya membuat Yuya geram. Ia ingin mengakhiri semua kegilaan ini. Charlotte tidak salah, tetapi Sihir Hitam itu yang telah mengendalikan Charlotte selama ini.
“Hentikan itu, IBU!” teriak Yuya seketika. Ia sudah kesal dan ingin melihat Charlotte kembali tertawa. Yuya juga ingin melihat bagaimana Charlotte tersenyum lagi. Senyum yang sudah pudar setelah meninggalnya Charlotte seribu tahun lalu.
Bulir bening air mata Yuya terus bercucuran. Akhirnya... ya akhirnya ia bisa bertemu sang ‘ibu’ yang telah membuatnya ada di dunia ini.
Charlotte menoleh masih tanpa ekspresi. Ia berhenti mengamuk tatkala seorang gadis kecil berlari ke arahnya seraya memanggil ‘ibu’. Sungguh, gadis yang aneh pikirnya.
Namun, ia segera melemparkan sihirnya hingga membuat Yuya terlempar begitu jauh.
Wus.
Bruk!
Yuya menghantam Steven hingga akhirnya mereka berdua limbung di atas tanah.
“Kau tidak apa-apa, Yuya?” tanya Steven, memastikan kondisi si gadis kecil sambil batuh sesekali.
Namun, Yuya tak menjawab apa pun. Rasa sedih dan kesal bercampur aduk.
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Yuya mengarahkannya pada Charlotte, mencoba menembus pertahanan wanita itu. Namun...
Bruk!
Lagi-lagi Yuya terhempas. Sihir hitam di sekitar Charlotte memiliki kekuatan yang lebih besar di bandingkan yang sebelumnya.
Meski tubuh gadis itu gemetar, Yuya tidak gentar. Sekuat tenaga dirinya bangkit dan mencoba melawan. Namun...
Uhuk!
Yuya terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya, sama seperti Varl dan Ellena yang saat ini tengah dijaga oleh Leonie, Hanae, Mae, dan lainnya.
Melihat Yuya berjuang sendiri, Ciel pun membantu. Ia mengangkat tubuh Yuya yang masih gemetar dengan memegangi tombaknya.
“Kau... kau anaknya Patan, ‘kan?” tanya Yuya seketika.
Ciel mengangguk. “Ayahku memang salah. Aku yang akan menebusnya.”
Mendengar itu, Yuya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Takdir memanglah takdir. Mari berjuang bersama.”
Keduanya pun berdiri menghadap sang ratu yang telah dikuasai sihir hitam. Angin di sekitar mulai mengamuk. Seluruh elemen terblokir kecuali hanya tunduk pada perintah Charlotte.
Sungguh keras kepala.
__ADS_1
Di sisi lain, Gao yang saat ini tengah memangku Varl pun melirik kepada Ellena yang masih memejamkan mata. Hatinya sungguh miris melihat seseorang yang telah membuat jantungnya berdebar dengan detakan yang berbeda terbaring tak berdaya.
“Ini pasti kutukan es abadi,” sedih Gao di dalam hati. Bahkan, Hanae dan lainnya juga menangis melihat kondisi Varl dan Ellena yang sangat mengenaskan.
“Ellie... hiks,” tangis Leonie begitu pecah.
Suara sesenggukan menjadi pengiring suasana di sekitar.
Mendadak.
Bruk!
Ciel dan Yuya terlempar begitu jauh hingga menghantam dinding bagian istana yang lain. Dalam sekejap, mereka langsung memejamkan mata sebab mereka menghantam dinding itu begitu keras, membuat kepala pening.
Semuanya pun mendelik dan berteriak, “YUYA, CIEL!”
Tangis demi tangis terdengar. Semuanya merasa lemah. Charlotte sudah termakan dengan sihir hitamnya yang selama ini menguasai dirinya.
Mereka menangis, tetapi Sihir Hitam malah tertawa dengan keras, merasakan kepuasan akan hasil yang sudah ia lakukan.
“Hahaha, selamat tinggal kekalahan. Kini, aku yang akan menguasai negeri ini.”
Angin semakin mengamuk membentuk badai yang menerbangkan debu-debu. Mereka di sana sampai terbatuk dan mata memerah sebab debu masuk ke bagian tubuh.
Sementara Ruby resah. Sedari tadi ia menepuk-nepuk pipi Ellena, berusaha membangunkannya.
“Ellie, Ellie, banguuun! Ellie jangan tinggalkan aku! Ellie, aku mohon jangan mati dahulu.” Ruby menangis begitu keras, yang lain pun sama.
Hanya ada kesedihan di sekitar mereka sedangkan musuh merasa puas dengan apa yang terjadi di sini.
Hiks.
Hiks.
Hiks.
“Apa dirimu akan meninggalkanku, Ellie?” tanya Ruby lirih. Jujur saja, ia memang sangat kecewa melihat kondisi Ellena yang agaknya sudah tak bisa ditolong lagi, terlebih jantung Ellena seperti... berhenti berdetak!
Ruby menunduk, merasa bersalah. Ia yang telah membawa Ellena ke dunia ini, lantas kini Ellena sudah kalah dengan mempertaruhkan nyawanya.
“Andai... andai saja aku tak membawamu ke sini, Ellie.” Ruby benar-benar menyesal akan perbuatannya.
Mendadak.
Sebuah tangan yang ujung jarinya beku menyentuh pipi mungil Ruby hingga bocah itu merasa terkejut karena ada sesuatu yang dingin menyentuhnya.
“J-jangan pernah katakan ‘andai’ sebab s-semua yang terjadi pasti ada hikmah di b-baliknya. Kita tidak tahu, apa yang t-telah Tuhan rencanakan pada hidup kita.”
Mata Ellena terbuka, senyumnya mengembang bak bulan sabit. Sontak saja Ruby langsung menjerit, “Ellie?!”
Semua mata yang tadi terpejam sebab tengah menangisi kepergian Ellena, kini terbelalak melihat sebuah keajaiban.
“Kau tak jadi mati?” tanya Steven seketika, ia mengelap matanya yang basah.
__ADS_1
Mendengar itu, Ellena terbatuk sekali, lalu ia terkekeh. Kemudian, ia berusaha bangkit. “Mana mungkin pemeran utama mati semudah itu.” Tatapan Ellena tajam kepada Charlotte diselingi seringainya.
****