CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Hati yang Membeku


__ADS_3

Varl melongo, sementara Elise bangkit. Ia menatap sengit kepada Ellena yang saat ini tengah turun dari punggung Manu.


Beberapa saat hening.


Hanya suara angin yang mengalun lembut di antara mereka. Sedangkan di sisi lain, Manu menyipitkan matanya tatkala kedua maniknya menangkap tanda budak tepat di bawah tulang belikat wanita yang tak dikenal itu.


Tanpa berbasa-basi lagi, Manu mendekat. Kemudian, kuda putih itu mengendus laiknya harimau pada bangkai daging. Mendapat perlakuan seperti itu, tentu Elise merasa risi. Ia berusaha menghindar dari hidung Manu, tetapi kuda itu selalu mendekat, berusaha mengenali sesuatu.


Melihat tingkah Manu yang sudah berlebihan, Varl mengambil tindakan. Ia segera menyingkirkan kuda itu dari Elise. Sungguh, Varl tak mau Manu mengendus lebih banyak informasi lagi.


“Sudahlah, Bung. Kau hanya membuatnya ketakutan,” cegah Varl seraya menarik Manu menjauh.


Namun, kuda putih bersayap itu tetap teguh. Badannya benar-benar terikat kuat sebab rasa penasarannya yang begitu tinggi. Sembari meringkik sesekali, Manu terus mengendus.


“Manu, sudahlah,” ucap Ellena setelah melihat betapa kacaunya situasi di depannya. Ia berjalan mendekat kepada Manu dengan tertatih sebab kakinya juga terluka. Kemudian, ia mengelus kepala kuda itu perlahan. “Sekarang, kita hanya perlu saling percaya,” lanjut Ellena disusul dengan senyumnya yang menawan.


Meski Ellena berkata demikian kepada Manu, ia juga sebenarnya penasaran akan wanita yang mendadak berada di pelukan pria berambut ikal itu. “Siapa dia?” Tanpa menunggu lama, Ellena segera menginterogasi Varl dengan tatapan tajam.


Melihat sikap Ellena membuat Manu cemberut. Sebab, tadi gadis itu menyuruhnya untuk percaya saja, tetapi kini Ellena malah meminta penjelasan.


Sesekali Ellena menyipit, memindai pria itu yang sepertinya tengah menyimpan suatu hal berharga.


Benar saja, sungguh di beberapa sudut wajah Varl timbul butir-butir keringat. Beberapa kali Varl juga menghindari kontak mata dengan Ellena maupun Manu.


Melihat tingkah mencurigakan dari pria itu, Ellena meremas lengan atasnya seraya merasakan betapa nyerinya tulang bahu yang hampir retak itu. Sesekali ia menghela napas seraya menatap Varl dengan tajam.


“Varl,” panggil Ellena meminta Varl untuk segera menjawab.


Varl pun mulai menyerah, apalagi melihat kondisi Ellena tampak menyedihkan. Bagaimana tidak, pakaian gadis itu kusut dengan debu yang menempel di mana-mana, tulang bahu hampir patah, dan kening Ellena masih berdarah.


Sungguh, Varl tak tega melihat seorang gadis dengan penampilan seperti itu. Apalagi gadis yang ada di hadapannya bukan gadis biasa. Itu adalah Ellena, seorang gadis dari dunia lain yang juga mempunyai misi sama dengannya.


“Ck.” Varl berdecap. Mungkin ia memang merasa iba pada gadis itu, tetapi jujur saja selama ini ia merasa bahwa Ellena terkadang terlalu sibuk mengurusi orang lain. “Ini semua bukan urusanmu, Ellena! Kau hanya gadis dari dunia asing yang menyebalkan! Kau penganggu! Selama ini dirimu hanya penghalang misiku!”


Setelah mengatakan itu, Varl menggenggam tangan Elise, lalu membawanya cepat ke tempat yang tengah dituju.


Mendapat perlakuan seperti itu, Ellena mengerutkan keningnya. “Hei Manu, bukankah dia yang menghalangi jalanku?!” kesal Ellena. Bisa-bisanya Varl menyalahkan dirinya yang sudah susah payah dipanggil khusus oleh Ruby demi menyelamatkan sang ratu.

__ADS_1


Rasa kesal dan sakit bercampur aduk. Ellena merasa bahwa dirinya memang hanya sebagai penghalang saja. Selama ini ia juga belum ada kemajuan. Rasanya... ingin menyerah saja.


“Jangan kesal hanya karena perkataannya, Ellie.” Manu menempelkan wajahnya pada pipi Ellena yang menggembung sebab cemberut. Gadis itu benar-benar menyimpan kekesalan yang mendalam terhadap Varl.


“Selama ini Varl selalu bertingkah seenaknya! Dia yang malah jadi penghalang misiku! Jika bukan diriku yang menyelamatkan Ratu Charlotte, bagaimana aku bisa pulang?” Tatapan Ellena berubah sendu.


“Tetap maju, Ellie. Bukankah misimu juga bertambah yaitu untuk menyelamatkan Kuro?” Manu mencoba menyemangati Ellena dengan misi yang membuat gadis itu bangkit kembali.


Ellena hanya mengangguk lemas. Kemudian, ia menghembuskan napas dengan resah. Banyak hal yang harus ia lakukan, sementara dirinya tak bisa berlama-lama di sini. Meski Everfalls sangat indah, tetapi di dunianya sendiri, Ellena tengah dicari oleh orang-orang.


Bukan Ellena jika hanya menyerah di sini saja. Walau dirinya tak mempunyai banyak rencana, ia akan mencari jalan apa pun demi menyelesaikan misi yang teramat berat ini.


“Ayo kita ikuti Varl!” seru Ellena semangat dengan tatapan mata yang tajam. Ia bertekad dengan kuat dan berharap, kali ini pasti akan berhasil!


Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua mengejar Varl yang terus berjalan ke tempat-tempat gelap dan juga sedikit berada di ruang bawah istana.


“Dia mau ke mana, Manu?” tanya Ellena tatkala mereka telah memasuki sebuah lorong nan gelap. Tak ada cahaya di sekitar sini. Hening dan juga... sepi. Terasa aura kesedihan yang begitu mendalam.


Sesak.


Aura sihir di sini begitu pekat, bahkan bisa menembus dada dan mengakibatkan penekanan pada area pernapasan sehingga menimbulkan rasa sesak yang tiada tara. Mereka berusaha terus mengatur napas walau harus tersengal-sengal.


Beberapa saat kemudian, mereka menuruni sebuah tangga seperti masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Udara kian pekat dan berbau amis. Namun, terdapat remang-remang cahaya putih yang seakan di sana ada harapan baru.


Benar, Varl saja sampai tersenyum bangga. Akhirnya... tinggal selangkah lagi.


Namun, mendadak saja.


Cling!


Dalam sekelebat, suasana yang tadinya gelap berubah seketika menjadi ruang singgasana. Banyak beberapa merak putih yang berdiri seraya mengacuhkan. Di sekitar singgasana ada kolam-kolam kecil yang airnya mengalir entah ke mana.


Atap ruangan itu diselimuti tanaman merambat yang memekarkan beberapa bunga indah. Bulu merak putih maupun biru bertebaran di mana-mana. Bau harum dari bunga-bunga menguar ke seluruh penjuru di dalam ruangan penuh kedamaian ini.


Sementara di singgasana agung yang setiap pinggirannya dilapisi emas murni ada seorang wanita dengan gaun hitam yang dihiasi pula dengan beberapa bulu merak putih, berjajar rapi nan indah.


“C-Charlotte?!” sebut Varl dan Ellena bersamaan. Kedua mata mereka terbelalak, begitu pula Manu. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja mereka berpindah tempat dan langsung berhadapan dengan sang ratu negeri ini.

__ADS_1


Sedangkan Elise menundukkan kepala dengan hormat, tetapi karena ada sihir perbudakan itu maka ia segera saja seperti tersambar petir di siang bolong sebab ia tidak bisa lagi menunduk pada selain tuannya.


Tubuh Elise sampai merinding. Ia menjerit, suaranya memenuhi ruangan. Bahkan, dua dayang di samping singgasana Charlotte melotot hebat seraya ngeri menatap pemandangan penuh penyiksaan itu.


Ellena juga tercengang, ia tak pernah melihat seseorang seperti tersambar secara tiba-tiba. Kasihan, pikirnya. Ellena hendak menolong, tetapi ia ingat, dirinya tak terlindungi bahan isolator sehingga ia tak bisa mendekat dengan gegabah.


Malah jika ia langsung menolong tanpa alat perlindungan, ia juga pasti akan ikut tersambar dan menimbulkan banyak masalah.


Setelah beberapa saat merasakan penyiksaan yang begitu hebat, Charlotte berdiri.


Brak!


Ia menggebrak sisi sebelah kanan lengan kursi dengan keras. Bahkan, suaranya menggema di ruangan singgasananya.


Meski raut wajah Charlotte datar, tetapi mata perak yang meredup itu menatap tajam kepada Varl. Aura sihir hitam mengelilinginya.


Kedua tangan Charlotte mulai menggenggam erat, sudah jelas ia memendam kebencian yang besar.


“Sihir perbudakan!” terka Charlotte dengan wajah datarnya. Meski begitu, ia tampak sangat kesal dengan gerak tubuh tak nyaman. “Beraninya dirimu melempar sihir perbudakan kepada Elise!”


Seketika, bola cahaya berwarna putih mulai terbentuk di atas telapak tangan kanannya. Charlotte merapal dengan cepat sehingga bola cahaya itu juga terbentuk tanpa membutuhkan waktu yang lama.


Segera setelah bola cahaya itu terbentuk dengan sempurna, Charlotte segera melemparkannya seraya berkata, “Glacies!”


Wus.


Kratak!


Sihir itu mengenai Ellena, masuk ke dalam jantung gadis itu. Seketika, rasa dingin seperti es menjalar di sekujur tubuhnya. Menggigil. Gigi Ellena sampai gemertak dengan cepat.


Detik berikutnya, saking tidak kuatnya menahan rasa dingin itu, Ellena limbung dan terkapar di atas tanah dengan cepat tanpa aba-aba.


Bruk!


“ELLENAAA!”


****

__ADS_1


__ADS_2