
Di tempat lain.
Ruby dan teman-temannya gelisah setelah kepergian Varl yang tak memikirkan nasib lainnya. Mereka pun hanya bisa menunggu. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain itu, sebab menuju ke istana Charlotte bukanlah suatu hal yang mudah.
Sementara di sisi lain, Gall terus mendesah penuh resah dengan dirinya yang mondar-mandir tidak jelas. Pikirannya jadi kalut. Berulang kali pria orc tua itu menggigit ujung kuku.
Sedangkan yang lain duduk melingkar di sebuah ruangan, mereka terus menunduk meski hati masing-masing saling memendam kecemasan yang besar terhadap Ellena, Varl, Manu, dan juga Kuro.
“Ini sudah hampir fajar dan mereka belum kembali!” resah Leonie. Ia bangkit dari kursi, merasa tak tenang. Dirinya juga berulang kali menghembuskan napas kekhawatiran.
Pikirannya tak dapat diajak berkompromi, ia hanya bisa memikirkan hal buruk yang terjadi. Bagaimana tidak, Ellena dan lainnya sampai saat ini belum kembali sejak tengah malam.
Lantas, apakah Charlotte sudah melakukan sesuatu kepada mereka berempat?
Di ujung ruangan, Steven hanya terdiam di pojokkan. Ia memang tampak duduk dengan tenang, tetapi pikirannya kalut. Dadanya terasa tidak nyaman, Ellena dan Varl terlalu gegabah pikirnya.
Tak hanya Steven, Gao juga menyimpan kecemasannya sendiri. “Dia sungguh gegabah!” batinnya. Ia juga berpikir demikian.
Gao yakin, Ellena tidak punya rencana yang matang terlihat dari gadis itu yang tak bisa serius dan seakan terkesan main-main saja. Sedangkan Varl, ah bagi Gao lebih dari pria yang tidak punya pendirian.
Bagaimana tidak, Varl juga bertindak tanpa berpikir dua kali. Sudah jelas, mereka pasti kalah di tangan Charlotte.
“Sudah aku duga bakal begini!” Hanae yang sedari tadi diam pun bangkit. Tangannya mengepal dengan kuat. “Seharusnya kita ikuti saja si Varl, bukan hanya diam! Argh, kesal! Dia mengatakan kita beban? Hah, yang benar saja!”
“Cincin.” Gall tiba-tiba angkat suara. Ia berhenti dari kegiatan mondar-mandirnya. Pria orc itu menatap satu persatu teman-teman barunya. Kemudian, ia melirik pada Ciel yang menunduk dalam dengan wajah penuh penyesalan.
“Apa maksudmu, Gall?” tanya Mae seketika sebab Gall terlalu lama menjeda kalimatnya.
Sebelum menjawab, Gall menghela napas berat. “Itu adalah cincin sakti yang dibuat oleh Ratu. Hanya ada satu di dunia ini dan Ratu memberikannya khusus kepada orang itu!” Gall berjalan mendekat kepada Ciel yang berdiri dengan gemetar.
Bocah itu terus menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang saat ini terus ditatap sengit oleh Gall.
Perbandingan antara badan Gall dan Ciel amat jauh, mungkin bisa sampai empat kali lipat. Tentu jika diadu kekuatan, Ciel langsung kalah telak.
Dalam beberapa saat, Gall hanya menatap Ciel yang terus menghindari tatapannya. Sementara yang lain menaruh banyak pertanyaan pada Gall yang tidak menjelaskan kalimat sebelumnya.
Mendadak.
“E-ELLIE?!” teriak Ruby mengejutkan seisi ruangan. Kedua matanya mendelik. Ia yang sedari tadi melayang di udara, kini ambruk di atas lantai kayu.
Bruk!
Sontak saja semua mata tertuju padanya, apalagi Ruby menyebut nama Ellena. Atmosfer di sekitar mendadak sesak. Ruby menganga. Ia kehilangan aksaranya.
“Ada apa, Ruby?” tanya Mae segera, ia mendekat kepada Ruby yang duduk di atas lantai dengan mata yang terbelalak, bahkan seakan hampir saja keluar, menggelinding dari tempatnya.
__ADS_1
Selama beberapa saat hanya ada ketegangan tanpa kejelasan. Ruby belum mengatakan apa pun, sedangkan yang lain masih menunggu dengan cemas seraya menyimpan banyak pertanyaan.
“Ruby, ada apa?!” Hanae sudah tak sabar, ia juga mendekat kepada Ruby, menggoyang-goyangkan tubuh mungil gadis kecil itu. Namun, Ruby masih saja belum merespons. Ia hanya terus mendelik tanpa berkedip maupun mengatakan sesuatu yang jelas.
Beberapa orang memegang kepala, resah, dan tak karuan. Pikiran kian kacau. Bayangan akan kesedihan kian menyelimuti mereka. Sungguh, mereka semua tak berdaya.
“E-Ellieeeeeeeeeeee!” Lagi, Ruby berteriak begitu kencang. Tangisnya pecah ruah memenuhi ruangan. Semua orang semakin menaruh cemas kepada bocah kecil itu.
“Ada apa, Ruby?”
Semua bertanya, kian khawatir dengan hal yang terjadi di antara Varl dan Ellena.
Bulir bening terus meluruh dari mata Ruby, bahkan mampu membasahi pipi mungilnya. Netra bocah itu meredup, seperti kehilangan cahaya kehidupan.
Melihat kondisi Ruby yang seperti ini membuat yang lain semakin kalut tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Bahkan, mereka saja tidak mengerti apa yang tengah terjadi dengan Ruby maupun Ellena yang namanya sempat disebut oleh Ruby.
“E-Ellie... Ellie,” isak Ruby sesenggukan.
Segera, Steven mendekat kepada Ruby. Ia mengelus kepala gadis kecil itu dengan lembut. Kemudian, dia memeluknya hangat.
Steven tak banyak bicara, ia hanya ingin memberi Ruby ketenangan saja. Jika sudah membaik, ia yakin Ruby akan buka suara.
Benar saja, setelah beberapa saat mereka berpelukan meski Ruby terus sesenggukan, gadis itu mulai mengatakan sebenarnya.
“Ellie... aku kehilangan hawa keberadaan Ellie!” jawab Ruby dengan suara seraknya.
“Aku... aku yang mengundang Ellie ke sini dari dunia lain untuk menyelamatkan Ratu Charlotte. Selama Ellie ada di sini, batin kami menyatu. A-aku selalu merasakan hawa keberadaannya. Namun sekarang... sekarang Ellena seperti menghilang dalam sekejap!”
Tangis Ruby kembali pecah diikuti oleh mata-mata yang terbelalak saking tercengangnya. Semua orang yang mendengar itu menganga. Mereka tak percaya akan hal itu.
Ke mana perginya Ellena?
“Ke mana pun Ellie pergi, aku... aku selalu merasakannya meski aku tak tahu apa yang tengah ia lakukan. Tapi sekarang... aku sudah tidak merasakannya lagiii.”
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Mendengar itu, Mae ikut menahan tangisnya meski kedua maniknya sudah basah, sementara Hanae mengeratkan gigi, dan Leonie hampir saja membanting meja bundar di sana.
Kesal dan juga... sedih.
“Tadi... tadi aku masih merasakannya, tetapi dalam sekejap dia hilang. Jika aku tak merasakannya, ada dua kemungkinan yaitu Ellie hilang dari dunia ini atau... Ellie sudah... Ellie sudah mati.” Ruby merasa bersalah, sebab ia yang bertanggung jawab atas keselamatan Ellena.
__ADS_1
Air matanya mengalir dengan deras lagi.
Mendengar fakta yang mengejutkan itu kian membuat mereka terbelalak. Bagaimana mungkin Ellena mati?
“A-apa?!” tanya Yuya yang sedari tadi diam saja melihat ketegangan ini. Mulut gadis itu bergetar. “E-Ellie? Apakah Ellie sudah t-tiada?”
Bulir bening meluruh dari mata Yuya. Ia ambruk juga seraya menutup mulutnya, menahan tangis yang segera pecah. Ia menggeleng dengan cepat, berusaha menepis pemikiran buruknya.
Namun, sekuat apa pun dirinya berpikir positif, ia tak merasakan adanya hal baik yang datang. Pikirannya semakin kacau.
“Ellie tidak mungkin... Ellie adalah gadis kuaaaattt!” tolak Yuya cepat. Ia juga sesenggukan. Tangisnya tiada henti. Melihat itu, Leonie segera menggendong Yuya dan memeluknya, membiarkan Yuya menumpahkan kesedihannya di dalam pelukan itu.
Tak ada yang mampu bicara lagi. Hanya terdengar tangis yang memenuhi ruangan, bahkan Gall pun yang berbadan paling besar juga menangis. Semua orang tidak percaya jika Ellena pergi secepat ini.
Meski mereka baru bertemu tak lama ini, bersama Ellena rasanya sangat menyenangkan. Banyak hal yang sudah dilalui. Tertawa bersama, menangis, dan mendapat ketegangan yang sama.
Semua terasa indah. Namun, sekarang bagaimana nasib Ellena?
“Kita harus ke istana Ratu!” Gao bertindak lebih cepat. Ia segera berlari menuju ke pintu untuk pergi menemui Charlotte. Sungguh, ia sangat yakin bahwa hal buruk telah terjadi dengan Ellena.
Namun, langkah Gao dihentikan oleh Steven sebab bocah itu menarik kerah Gao. “Jangan bertindak gegabah!” katanya tegas. Steven yang sebelumnya dikenal sebagai pangeran malang kini bertindak laiknya pangeran sungguhan.
Manik hitamnya yang sehitam jelaga menatap Gao dengan tajam. Jujur, hatinya juga kesal dan marah akan tindakan Charlotte yang semakin menyebalkan. Padahal, semua orang masih menaruh harapan kepada wanita itu.
“Lantas, bagaimana caranya kita menolong Ellena?!” Perdebatan dimulai. Gao menepis tangan Steven, kini ia yang mencengkeram kuat kerah Steven. “Apa kamu pikir dia bisa bertahan?! Ratu tahu caranya menghancurkan negeri ini dalam sekejap!”
Gao mengeratkan giginya. Terbayang hal mengerikan yang terjadi kepada Ellena.
“Semua orang di sini memang menginginkan Ratu kembali, bukan? Tapi, jika harus merelakan nyawa orang lain, untuk apa misi ini ada, huh?!”
Buk!
Mendadak saja Steven meninju pipi Gao hingga memerah. Sontak si Gao mengaduh kesakitan. Ia terkejut bukan main mendapat serangan dadakan dari Steven yang selama ini dianggapnya hanya sebagai pangeran manja yang lemah.
Namun, pukulan itu mengatakan segalanya bahwa Steven tidak bisa diremehkan begitu saja. Saking tak terimanya, Gao pun membalas dengan tinju yang sama. Keduanya mulai adu jotos hingga babak belur.
Melihat kekacauan yang terjadi, Hanae segera bertindak. Ia membekuk Gao dari belakang, sementara Mae menahan Steven yang bergerak semakin tak terkendali.
“Kalian, sudah cukup!” teriak Leonie kemudian, membuat atmosfer di sekitar semakin memanas. “Apa kalian bodoh, huh?! Ellena dan Varl sedang kesusahan di sana tetapi kalian malah bertengkar di sini, yang benar saja!”
Leonie sungguh kesal.
Bagaimana tidak, situasi yang membuat panik ini malah semakin tegang dengan adanya pertikaian yang tidak diinginkan itu. Bukannya mencari jalan keluar, mereka berdua malah saling adu argumen dan kekuatan yang tidak perlu.
Mendadak.
__ADS_1
“Aku akan mengantar kalian ke istana Ratu,” ucap Ciel, mengajukan diri.
****