CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Boss Sesungguhnya


__ADS_3

Sementara di tempat lain.


“Varl, Tuan Varl, Anda tidak apa-apa?!” tanya Elise pada Varl yang saat ini tengah terbaring dengan tubuh yang hampir diliputi aura sihir merah bercampur hitam. Varl berusaha bangkit meski rasanya sangat lemas sekali.


Varl dan Elise kini berada di bagian bawah istana, di sebuah ruangan khusus yang tidak pernah ada ras lain masuk ke sana kecuali Charlotte sendiri. Ruangan tersebut tidak berisi apa pun kecuali beberapa obor dan kristal hitam yang terhubung dengan badan istana.


Kristal itu mengambang di tengah lingkaran sihir, tetapi ia juga diliputi aura merah kehitaman yang seperti tali, menghubungkan antara kristal dengan istana Charlotte.


“Argh, sial kau Kristal Keabadian!” Varl bangkit meski harus melawan rasa sakit setelah mendapat serangan beberapa kali.


Inilah sumber masalah.


Akhirnya, Varl berhadapan dengannya setelah sekian lama dirinya menyusun rencana. Sebuah kristal hitam yang telah membantu Charlotte untuk mengangkat istananya ke atas awan selama seratus tahun. Tidak ada yang tahu bahwa kristal inilah sumber masalah itu yang membuat Charlotte terbelenggu.


Di sekitar kristal hitam tersebut, cahaya merah mengelilinginya dan berhadapan dengan Varl juga Elise, ia yang membuat sang pengembara harus menerima rasa sakit lagi.


Napas Varl menderu, dadanya naik turun tidak karuan. Separuh badannya diliputi aura merah kehitaman yang sangat menyakitkan, menyiksa di setiap sel tubuhnya.


Namun, Varl tidak menyerah begitu saja. Ia pun bangkit, melawan rasa sakit itu dan berdiri dengan tegap untuk menantang kembali sang Kristal Keabadian yang tertawa angkuh.


Varl kembali menodongkan tombaknya. “Lawan aku... cepat lawan aku!” teriak Varl meski sebenarnya ia tidak dapat menerima rasa sakit lagi. Di sampingnya, Elise menatap cemas.


“Tuan Varl, sudahlah menyerah saja.” Ia sangat tahu bahwa Kristal Keabadian bukan tandingan Varl.


Tiba-tiba saja.


“Elise benar, Varl.”


Mae muncul dengan seringainya dan mata merah yang menyala terang. Ia berjalan santai mendekat kepada Kristal Keabadian yang mengamuk.


Wus.


Wus.


Seakan bahagia, kristal itu memberi hormat dengan aura sihirnya yang menyalami kedatangan Mae.


Sementara Varl dan Elise terbelalak bukan main.


“M-Mae?! A-apa... apa yang kamu lakukan di sini?!” Varl benar-benar tercengang atas kehadiran Mae, terlebih gadis itu tampak akrab dengan aura sihir hitam di sekitarnya.

__ADS_1


Mae menyeringai penuh kepuasan. Maniknya yang berwarna merah terang begitu menantang. “Selama ini, kalian selalu melakukan hal yang sia-sia.” Mae terkekeh, ia berdiri tepat di samping Kristal Keabadian.


“A-apa maksudmu, Mae?!” Meski dengan tubuh yang tersiksa, Varl masih meminta penjelasan. Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi di sini.


“Kita selalu lupa pada sesuatu yang dekat dengan kita karena lebih fokus memikirkan sesuatu yang fana di depan sana.” Lagi, Mae terkekeh seperti orang gila, mata merahnya menunjukkan keangkuhan. Sementara Varl masih mencoba untuk mencerna keadaan yang sangat mendadak ini.


Ia masih belum mengerti mengapa Mae ada di sini dan juga atas perkataan ambigunya tersebut.


“T-tunggu... jangan bilang—”


“Ya, akulah Kristal Keabadian hahahahaha!” Mae tertawa bak iblis, sedetik kemudian ia menyerang Varl dan juga Elise, mendorongnya dengan sihir.


Wus.


Brak!


Keduanya terhempas hingga menghantam dinding batu. Seketika saja mereka terbatuk dan mengeluarkan darah merah segar.


Uhuk!


“Hahahaha, akulah... akulah yang akan menghancurkan Everfalls!” Mae tertawa-tawa seperti boss terakhir di dalam film. Ya, ia terlihat sangat lega. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja tempat tersebut bergetar. Tidak, sebenarnya bukan hanya tempat bawah istana itu saja, tetapi saat ini seluruh istana Charlotte tengah bergetar seperti mendapatkan gempa bumi super dahsyat.


Cahaya sihir itu mengangkat Mae ke atas hingga pada akhirnya... wush!


Brak!


Mae menembus dari lantai bawah istana menuju ke permukaan dengan kekuatan sihirnya tersebut sehingga ada bagian lubang di sana. Varl yang melihatnya pun tak percaya, apalagi sumber utama permasalahan selama ini adalah... Mae?!


Glek.


Varl meneguk saliva dengan kasar. Selama ini Mae ada di sekitarnya, bahkan berjuang bersama untuk membawa kembali Charlotte ke permukaan Everfalls. Namun, kenapa gadis itu malah berkhianat?


“Bukankah Mae adalah penjaga Hutan Tropis?!” Varl tidak menyangka akan akhir yang sangat mengejutkan ini. Namun, bukan saatnya untuk berpikir tentang itu!


Istana semakin berguncang tak karuan. Varl dan Elise harus keluar agar tidak tertindih oleh puing-puing istana yang ambruk.


Mereka berdua pun berlari keluar meski sesekali beberapa bagian istana jatuh dan hampir menimpa mereka.


“Istana Charlotte sudah tidak aman lagi!” Varl berusaha keluar dengan cepat bersama Elise. Ia sampai menarik tangan gadis itu dan melindunginya dari berbagai macam puing-puing yang hampir menimpa mereka.

__ADS_1


Varl terus menembus meski kakinya juga lemas. Tangga demi tangga ia pijak untuk segera kembali ke permukaan. Namun, mendadak saja ada satu bagian ruangan bawah istana itu yang hampir jatuh ke atas tubuh Elise. Varl segera menarik Elise ke pelukannya.


Deg.


Deg.


Di saat genting begini, Elise masih saja bergetar karena perhatian Varl yang sangat mendadak ini. Bahkan, pipinya sampai merona. Namun karena situasi yang tegang, Varl tidak menyadarinya. Yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.


Sementara di permukaan, Ellena dan semuanya ambruk di atas tanah karena kaki mereka menjadi lemas. Namun, tak hanya itu. Ada suatu fakta yang mencengangkan dan itu melebihi rasa takut akan ambruknya istana ini.


Kedua mata Ellena dan lainnya terbelalak setelah diberitahu kenyataan oleh Sihir Hitam.


“Tidak mungkin, ini semua tidak mungkin!” Ellena menggeleng tak percaya. Sudut matanya sudah basah, dadanya berdenyut nyeri mengetahui semuanya.


“Hahaha, apanya yang tidak mungkin? Gadis kecil itu memang tuan kami.” Sihir Hitam tertawa dengan puas di saat istana Charlotte sedang bergetar hebat.


“Tidak, Mae tidak akan melakukan itu!” teriak Leonie seketika yang sudah kembali ke wujud setengah manusianya. “Dia tidak akan berkhianat! Mae adalah gadis polos yang ceroboh!”


Sungguh, semua tidak menerima kenyataan itu. Mae adalah atma atau roh dari Kristal Keabadian yang selama ini tersegel ribuan tahun yang lalu akibat kesombongannya. Sebenarnya, ia hanyalah perwujudan Mae saja.


Atma itu mengambil wujud Mae agar bisa mendekat dengan Ellena dan lainnya untuk menghancurkan rencana mereka dengan menyelinap dan berlagak seperti Mae.


Padahal, Mae The Lover of Trees yang sebenarnya sudah mengabdikan dirinya pada Pohon Atma sejak ratusan tahun lalu. Kristal Keabadian mengambil wujudnya karena sudah banyak yang lupa pada sosok Mae yang sudah bersatu dengan pohon kehidupan.


“Kenapa? Terkejut mendengar kenyataan?” Mendadak saja Mae keluar, mata merahnya menyala terang.


Bersamaan dengan itu, istana Charlotte berhenti bergetar untuk sementara waktu. Namun, rasa sakit akibat dikhianati teman sendiri tidak bisa sembuh begitu saja.


“Mae, apa yang kamu lakukan kepada kami?!” Leonie tidak terima atas perlakuan bocah itu.


Sementara Mae hanya menyeringai saja. “Ah, aku sungguh merasa bersalah pada Mae yang asli. Dia hanyalah elf polos dan bodoh karena mengabdikan dirinya pada Pohon Atma. Tapi, setidaknya aku bisa membuat kalian sakit hati dengan sosok ini, Mae yang jahat. Hahahaha.” Tawa Mae begitu menggema.


Mendengar itu, Ellena mengepalkan tangannya dengan kuat. Dadanya terasa nyeri mendapati kawan seperjuangannya malah berkhianat. Ia tidak pernah berpikir bahwa ini akan berakhir menyakitkan.


Namun...


“Tidak, Mae tidak akan pernah mengkhianati siapa pun!” teriak Ellena, sedetik kemudian angin mengamuk bersamanya.


****

__ADS_1


__ADS_2