CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka

CHARLOTTE : Merak Putih Yang Terluka
Jeruji Kesengsaraan


__ADS_3

Gelap, bau, dan pengap.


Uhuk.


Beberapa kali Ellena terbatuk sebab debu yang memenuhi ruang yang dibatasi jeruji besi ini. Udara di sekitarnya terasa sangat tipis. Hening. Tiada suara apa pun di sini. Ellena seperti berada di tempat mengerikan dan sendirian.


Ya, ia memang tengah sendirian di dalam jeruji besi istana. Tubuhnya mengigil karena angin malam yang kian mendingin sedingin hati Charlotte. Namun, meski begitu masih ada remang-remang cahaya bulan yang masuk lewat jendela kecil walau tidak mampu menerangi seluruh tempat.


Ellena menghembuskan napasnya dengan kasar. Dadanya yang sesak mencoba untuk terbiasa dengan tempat yang sudah tak terurus ini.


“Apakah petualanganku akan berakhir di sini saja?” Ellena melirih. Perutnya sudah kosong sejak siang tadi. Ia tak sempat mengisi tenaga. Setidaknya si penculik memberi ia asupan, tetapi nyatanya tidak begitu. Ellena kelaparan dan perlahan mulai putus asa.


Hening.


Ellena berharap akan keajaiban di dunia Wolestria yang indahnya baru seujung surga. Meskipun menaruh harap pada teman-teman agaknya sangat mustahil karena mereka tak mampu sampai ke atas istana, setidaknya Ellena memiliki sebuah harapan untuk terus bertahan.


“Cih, aku pikir, si alkemis itu adalah orang baik yang tampan. Aku sudah menyukainya sejak pandangan pertama, argh!” kesal Ellena. Ia merasa bodoh sendiri karena mengira bahwa Gao adalah tambatan hatinya yang baru. Ia pun mengacak-acak rambutnya, berusaha menepis sikapnya yang naif.


Beberapa saat, Ellena hanya mencoba untuk beradaptasi di tempat yang menyesakkan dada. Berulang kali gadis dari dunia lain itu juga mengambil dan menghembuskan napas saking sesaknya.


Ia tak memiliki harapan besar bahwa dirinya akan hidup esok hari.


Namun.


“Tidak, aku harus bisa bertahan hidup! Misiku adalah membawa Ratu Charlotte kembali kepada rakyatnya!” Tangan kanan Ellena mengepal dengan kuat. Ia yang sedari tadi duduk di atas tanah, kini bangkit penuh semangat.


Keyakinan di dalam hatinya memuncak. Ellena tak mau menjadi tawanan si alkemis gila itu sebab ia memiliki sebuah misi besar. Ellena tak mau mati sia-sia.


Perlahan, gadis berambut pendek warna coklat itu memejamkan matanya. Ia merasakan betapa lembutnya angin menyapanya. Samar-samar terdengar mereka memanggil nama Ellena. Tanpa sadar, gadis itu tersenyum.


Hatinya diliputi keamanan. Ia merasa bahwa angin akan senantiasa menemaninya. Ellena mencoba untuk menarik dan menghembuskan napas dengan perlahan. Pikirannya berpusat pada suara angin yang memanggilnya dengan lirih. Ia pun memejamkan mata dengan kuat.


“Ellena.”


“Ellena.


“Ellena.”


Meski terdengar sangat lirih, bahkan Ellena harus memusatkan telinganya juga, ia tetap bisa mendengar suara angin yang sudah siap membantunya. Pada keyakinannya yang terdalam, perlahan Ellena mengangkat tangannya, mengarah pada gembok penjara. Kemudian, ia berkata, “Canite!”


Sontak saja angin yang tadinya mengalun tenang, kini mulai ribut membentuk angin topan yang berpusat di tangan Ellena.

__ADS_1


Wus.


Wus.


Wus.


Rambut dan pakaian Ellena ikut berkibar mengikuti amukan angin. Ia membuka mata dengan cepat. Angin benar-benar kacau, bahkan debu-debu ikut menari bersamanya.


Glek.


Tubuh Ellena mendadak gemetar, tetapi ia berusaha untuk tidak gentar. Sejenak, Ellena membatin, “Apakah... ini kekuatanku?!”


Benarkah?


Apakah Ellena benar-benar seorang badai angin? Apakah ia yang bisa mengendalikan angin Everfalls?


Kedua mata Ellena terbelalak. Ia sebenarnya masih tidak mempercayai itu. Kekuatan yang ada di hadapannya begitu dahsyat, bahkan hanya dengan suara saja angin bisa menghancurkan setengah kota.


Ellena juga sempat kebingungan tentang setiap mantra yang tiba-tiba terucap di bibirnya. Semua terjadi begitu saja dan Ellena tidak bisa menduganya.


Wus.


Wus.


Wus.


Glatak!


Gembok yang hampir terbuka itu mendadak diselimuti lapisan tanah kering yang tiba-tiba muncul dari bawah, menghalangi angin ribut milik Ellena. Sontak saja angin menjadi kembali tenang sebab Ellena terkejut bukan main dan fokusnya jadi hilang.


Tenang.


Hening.


Namun, tidak dengan Ellena!


Kepalanya tengok ke sana kemari, panik. Selain itu, ia merasa kesal karena hampir saja dirinya bebas. Namun, seseorang telah berulah.


Benar saja, tak lama setelah itu seorang lelaki mendatanginya diiringi tawa keras penuh kepuasan. Awalnya hanya bayangan si lelaki misterius itu, hingga pada akhirnya batang hidung si lelaki tampak.


Gao!

__ADS_1


Ya, si penghalang itu adalah Gao. Melihat sosoknya membuat Ellena berdecih. Ia mengeratkan gigi dan menggenggam dua besi yang menghalanginya dengan kuat. Hati Ellena tentu merasa sangat kesal.


“Apa kau berharap bisa kabur, Tuan Putri? Hahaha.” Gao kian mengeraskan suara tawanya. Kali ini dirinya benar-benar puas bisa menghentikan amukan Ellena. Ia merasa bisa mengalahkan gadis yang baginya aneh itu.


“Lepaskan aku, Gao!” teriak Ellena tak gentar. Hatinya kadung menaruh benci pada lelaki itu yang usianya sama dengannya. Ah, Ellena tak peduli dengan hal itu! Persetan dengan dunia dongeng yang menceritakan seorang gadis biasa menemukan cintanya di dunia fantasi.


Ellena sudah terlanjur kecewa. Ia tak mau melihat pesona lelaki yang menghalangi misinya.


“Hoya, hoya. Jangan galak begitu, Nona.” Gao memegang dagu Ellena. Senyumnya penuh dengan kebanggaan. “Aku sudah berbaik hati padamu, loh. Jika aku tak memiliki hati, mungkin malam ini aku sudah mencincang dirimu untuk aku teliti. Bagaimana, bukankah aku alkemis yang sangat baik?”


Lagi, Gao tertawa. Ia melepaskan tangannya dari dagu Ellena dan tertawa dengan bangga. Entah mengapa hidupnya seperti hanya dipenuhi tawa kepuasan. Ia terkenal dingin dan kejam dengan ‘kelinci percobaannya’ dan Gao terkadang bersikap sangat gila juga.


Sementara Ellena menahan kesal. “Minggirlah, wahai hama! Kaulah hama yang menghalangi tujuanku!”


“Hm?” Gao melirik Ellena masih dengan senyumnya yang lebar.


“Aku... hama katamu? Bukankah itu terbalik? Lagi pula, misi apa yang membuat kelinci manisku sampai memiliki mata berani seperti itu?”


Kedua netra Gao menangkap keyakinan pada manik biru kehitaman milik Ellena. Ia merasa bahwa di sana api semangat tengah membara di dalam diri gadis yang sangat luar biasa itu baginya. Hati Gao semakin tertarik dengan ‘kelinci’ barunya yang akan menjadi bahan penelitian.


Tatap.


Keduanya saling menatap. Namun, tatapan Ellena adalah sebuah tatapan kebencian, berbeda dengan Gao yang mulai terobsesi pada bahan percobaannya kali ini. Ia baru menemukan spesies yang sangat langka. Meski tanpa ukiran Berkah di punggung tangan seperti kebanyakan ras lain, Ellena memiliki kekuatan yang dahsyat. Gao merasa bahwa gadis itu memiliki suatu rahasia kekuatan yang amat besar.


Ah, sungguh lelaki alkemis itu sangat tidak sabar akan datangnya hari esok. Ia sangat menantikannya untuk segera menjadikan Ellena sebagai bahan penelitiannya.


Tiba-tiba saja, sebuah pemikiran terlintas di benak Ellena. Ia baru ingat bahwa dirinya tidak bisa berlama-lama di dunia Wolestria ini. Ellena harus segera menyelesaikan misi agar tubuhnya tak hancur sia-sia di dunia ini.


Ellena pun kian menggenggam jeruji besi di hadapannya itu. Kesal, sementara Gao sedari tadi tersenyum sendiri dan sibuk akan pikirannya yang fana. “Agaknya kau memang sangat senang mendapatkanku, Gao.” Ellena membuyarkan bayangan kesenangan lelaki alkemis itu.


“Benar, aku sangat senang!” Tanpa menafikan apa pun, Gao setuju akan kalimat Ellena.


“Cih, jangan senang dulu! Kau bisa aku terbangkan hingga ke dunia lain, Gao!” gertak Ellena. Ia benar-benar sudah muak atas sikap Gao yang senantiasa menghalangi perjalanannya, padahal Ellena tak memiliki waktu yang banyak.


“Jika begitu, aku akan membawamu juga, Kelinci Manisku. Hahaha.”


Mendadak.


“Lepaskan dia, Trenggiling!” suara Yuya menggema di penjara bawah tanah. Tangannya menunjuk ke arah Gao.


****

__ADS_1


__ADS_2