
Keesokan harinya.
Selama seharian, Ellena hanya duduk di dalam kamarnya. Ia melamun dengan pikiran kosongnya. Entahlah, ia seperti kehilangan semangat padahal misinya sudah berhasil.
Di tangannya, gelang milik Mae yang dikenakan Zendaya dipegangnya dengan lembut. Ellena masih syok dengan kehilangan Varl, Yuya, bahkan Mae yang sudah menjadi sahabatnya selama ini. Mereka tertawa bersama, marah bersama, bahkan memiliki misi yang sama. Namun, mengapa ada yang pergi juga?
Tangis Ellena semakin deras meski tatapannya hampa. Ia menyayangkan akhir yang menyedihkan ini.
Mendadak, pintu kamarnya terbuka. Tampaklah sosok Charlotte yang baru dengan gaun putih kebanggaan miliknya yang sudah seratus tahun ia tanggalkan demi mengabdi pada Kristal Keabadian.
Charlotte mengambil tempat di samping Ellena yang kini duduk di atas kasur tanpa semangat hidup. Kedua netra Charlotte menangkap rambut coklat Ellena yang sekarang sudah didominasi warna putih.
Ya, Ellena masih diliputi kutukan es keabadian. Charlotte belum tahu bagaimana caranya melepaskan kutukan itu yang ia beri kepada gadis malang dari dunia lain tersebut.
Sangat sakit melihatnya, Charlotte tentu merasa bersalah. Bagaimana tidak, selama ini Ellena sudah dibuat repot olehnya sampai hampir kehilangan nyawa karena keegoisannya.
Namun, Charlotte tidak bisa melakukan apa pun. Saat ini bukan waktunya untuk membahas itu. Ellena tampak lebih sedih daripada saat dirinya mendapat kutukan es. Wanita itu pun tersenyum kepada Ellena dengan lembut sambil bertanya, “Ada apa, Ellie?”
Namun, Ellena tidak menjawab dengan aksara yang jelas. Ia hanya menggeleng pelan dan lemas seperti tidak memiliki gairah untuk hidup. Bagaimana tidak, orang yang dia kasihi satu persatu pergi.
“Ellie, berkumpullah dengan yang lain. Dua jam lagi akan ada penobatan Steven untuk menjadi raja Everfalls. Aku juga akan memberi gelar terhormat untuk kalian yang membuatku kembali—”
“Tidak, aku tidak membutuhkannya,” jawab Ellena pelan dengan tatapan masih kosong.
Kedua alis Charlotte pun bertautan. “Apa maksudmu? Kau sangat berhak mendapatkannya.”
“Tidak.” Ellena menundukkan kepalanya, seketika tangisnya kembali pecah. Kemudian, ia menatap Charlotte dengan tajam dan berkata lantang, “Bagaimana aku bisa bergembira setelah melihat tiga sahabatku lenyap?! Aku juga tidak melakukan apa pun selama ini! Aku hanyalah beban dari dunia lain!”
Suara Ellena mengisi ruangan kamarnya. Meski dibentak seperti itu, Charlotte tidak merasa tersakiti. Ia tahu bahwa saat ini Ellena sedang terpukul atas kematian ketiga sahabatnya.
Hening.
Hanya terdengar isak Ellena yang semakin keras. Kemudian, Charlotte mengelus kepala gadis itu yang sangat dikaguminya. Ia tersenyum lembut dan berkata, “Ellie, apakah kamu tahu bahwa kamulah yang paling berperan di sini?”
Kepala Charlotte mendongak, menatap langit-langit kamar istana yang berkilauan dengan emas putih dan ukiran bulu merak.
“Ellie, setiap kalimatmu menyentuh kalbuku. Kamu tahu bukan, bagaimana dahsyatnya sebuah kata-kata? Jika kamu tidak mengatakan banyak hal dan menyadarkanku dengan kalimatmu, maka aku tidak akan pernah meragukan kekuatan Kristal Keabadian yang sudah memenjarakanku selama ini dengan bisikan-bisikan jahatnya.”
Charlotte kembali menatap Ellena yang kini juga menatapnya dengan tatapan sendu.
“Karena ucapanmulah aku mulai percaya bahwa diriku tidak sendirian dan aku akan selalu memiliki kalian. Aku sangat dicintai, seperti katamu. Aku sudah membuktikannya. Melihat warga Everfalls sampai menangis haru atas kembalinya ratu mereka membuatku semakin sadar bahwa semua orang mencintaiku, termasuk kamu.”
__ADS_1
Charlotte mengelus kepala Ellena lagi dengan lembut.
“Semua orang berperan dengan perannya masing-masing. Kau menyadarkanku dengan kalimatmu, Varl mengorbankan nyawanya demi membebaskan Elise dari sihir perbudakan, dan Yuya mengorbankan dirinya untuk membawa kembali Dragon ke tempat asalnya.”
Semakin dalam, Ellena mendengarkan setiap kalimat Charlotte meski saat ini hatinya masih terluka atas kepergian dua temannya.
“Tidak, bahkan tidak hanya kalian. Mae The Lover of Trees yang dulu saja mengorbankan dirinya untuk mengabdi kepada Pohon Atma sebagai balasan yang saat itu Everfalls hampir hancur dikarenakan kesombongan pemimpin dan Spirit Kokohnya, Phoenix.”
“Apa maksudmu?”
“Ya, dulu kala setiap negeri di Wolestria diamanahi kepada kelima Spirit Kokoh. Everfalls sendiri memiliki Spirit Phoenix untuk membimbing warganya untuk selalu berada di jalan yang benar. Namun, karena Phoenix lebih abadi dan tidak mudah mati atau reinkarnasi seperti spirit lain yang bahkan sudah memiliki sepuluh generasi dalam setiap sejarah, ia pun menjadi sombong.”
Charlotte menjeda kalimatnya. Ia berusaha untuk mengingat kembali kisah legenda itu selama ratusan hingga jutaan tahun lalu saat Wolestria terbentuk.
“Pada Phoenix generasi ketiga, kesombongannya semakin menjadi-jadi apalagi semakin banyaknya generasi, maka semakin kuat mereka. Phoenix itu kian sewenang-wenang dan memperlakukan Everfalls dengan buruk. Dia tidak pernah mengurus warganya, tetapi selalu menyusahkan kami.”
Charlotte menatap ke langit-langit.
“Maka dari itu, sekalian saja Tuhan mengutuknya hingga dia abadi untuk selamanya. Phoenix pun tidak bisa mati sejak saat itu tetapi dia selalu melihat kematian mulai dari yang mengenaskan dan mengerikan. Dia selalu dihantui hal seperti itu selama hidupnya.”
Mendadak.
Deg.
“Phoenix akan mati dan terbebas dari siksaan keabadian jika dia mengaktifkan kristal di lima tubuh dari berbagai macam ras. Konon katanya, ada lima makhluk terpilih yang menjadi kristal untuk membuat Phoenix bisa mengakhiri penderitaannya. Namun, selama ini dia hanya bisa mengaktifkan salah satu atau dua kristal saja sampai saat ini.”
“Sekarang, di mana Phoenix itu berada?” tanya Ellena seketika. Ia mulai tampak antusias.
Charlotte memegang dagunya. “Hm, di mana ya? Entahlah, mungkin dia ada di gunung atau gua untuk melakukan ritual pengaktifan lima kristal itu. Sampai sekarang tidak ada yang tahu keberadaannya. Lima kristal milik makhluk terpilih itu saja, tidak ada yang tahu karena itu sudah terjadi ratusan ribu tahun yang lalu, bahkan mungkin sebelum aku ada.”
Charlotte menghela napas. Menyakitkan memang mendengar kisah itu. Namun, itu adalah balasan bagi makhluk yang sombong, tersiksa sendiri karena perbuatannya.
“Padahal, selama ini Hydra dan Griffin sudah tiada karena mereka telah menyelesaikan tugas sebagai khalifah di negeri mereka masing-masing. Sementara Pegasus, Dragon, dan Phoenix masih belum kembali. Mereka berkutat pada diri mereka yang belum menyelesaikan tugas.”
“Apa Manu juga sombong sehingga dia belum bisa menyelesaikan tugasnya sebagai khalifah?”
Charlotte menggeleng dengan pelan diselingi senyuman seperti seorang ibu yang tengah mendongeng kepada putri kecilnya. “Manu tidak seperti itu. Sebenarnya tugas Manu sudah selesai bahkan sebelum Hydra dan Griffin menyelesaikannya. Dia adalah Pegasus yang suci, tetapi dia yang paling bersih hatinya harus membimbing dua temannya yang lain. Dia tidak akan kembali sebelum Phoenix dan Dragon menyesali perbuatan mereka.”
“Itulah sebabnya dia membaur dengan ras kuda biasa agar tidak dikenali ras lain karena Spirit adalah makhluk tingkat tinggi?”
Charlotte mengangguk bangga karena Ellena sudah paham dengan cara bekerjanya dunia ini.
__ADS_1
“Benar sekali, Ellie.”
Lagi-lagi, Charlotte menatap rambut putih Ellena dan jemari beku gadis di sampingnya. Rasa bersalah kian menggerogoti dirinya.
“Ellie, aku sungguh minta maaf,” kata Charlotte. Matanya sudah berlinang bulir-bulir bening.
“Maaf untuk apa?”
“Kutukan itu...”
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan ini meskipun terkadang saat jantungku mengkristal, rasanya sangat sakit. Tapi tak masalah, aku akan baik-baik saja. Percayalah.” Ellena menyunggingkan senyum.
Melihatnya seperti itu, membuat hati Charlotte semakin meleleh. Ia baru menyadari bahwa Ellena sangat cantik, seperti dirinya.
“Kamu gadis yang baik,” lirih Charlotte. “Nanti aku akan segera mencari tahu bagaimana membebaskan kutukan itu. Oke? Sebelum itu, tolong agar kamu menjaga dirimu—”
“Ellie tidak bisa berlama-lama, Yang Mulia.” Mendadak saja Ruby datang. Seperti biasa, ia melayang di udara.
Wajah gadis itu tampak serius. Sementara Ellie mengerutkan keningnya.
“Apa maksudmu, Ruby?” tanya Ellie seketika.
“Ellie, kamu harus pulang. Portal ke duniamu sudah terbuka di sekitar Pohon Atma. Aku akan mengantarmu—”
“Kenapa begitu terburu-buru?!” Charlotte bangkit dengan memasang wajah kesal.
“Ellie sudah menyelesaikan misinya untuk membawa Anda kembali, Yang Mulia. Ellie harus segera kembali ke dunianya sebelum kutukan es melahapnya. Kutukan itu tidak akan berfungsi di dunia Ellie sehingga dia tidak akan terpengaruh dengan kutukan tersebut jika Ellie kembali ke dunianya,” jelas Ruby panjang lebar.
“Apa tidak ada cara lain? Aku baru saja mengobrol dengan Ellie—”
“Tidak ada waktu, kristal Ruby juga sudah menyala.” Ruby melirik pada bagian dada Ellena yang di dalamnya tampak cahaya kemerahan menyala. Kalung Ruby yang berwarna merah itu mulai mengeluarkan sinarnya.
Selama ini Ellena menyembunyikannya di balik pakaian dan jubahnya. Namun, kali ini ia mengeluarkannya dengan mata yang takjub karena merahnya cahaya di kristal Ruby membuatnya terpana saking indahnya.
“Cepat pergi sebelum cahayanya meredup, Ellie! Jika tidak, maka kamu akan—”
Brak!
Mendadak saja pintu kamar Ellena terbuka. Tampaklah Steven dan teman-teman yang lain datang dengan wajah semringah.
“Yang Mulia Ratu, Ellie... kami semua sudah siap!” kata Steven disusul anggukan yang lain. Semuanya sudah berpakaian rapi ala kerajaan.
__ADS_1
Mereka semua sudah bersiap untuk melakukan penobatan. Namun, Ellena berkata dengan lirih, “Tapi, aku akan kembali ke duniaku.”
****