
Romi membaringkan tubuhnya di atas kasur busa yang sudah terlalu empuk untuk dipakai tidur. Ia bernapas dalam-dalam sambil meregangkan otot punggungnya yang pegal karena berdiri seharian. Rasanya enak sekali berbaring santai seperti ini, kalau bisa seharian seperti ini Romi akan merasa jadi orang paling senang di seluruh Indonesia.
Sembari tetap berbaring istirahat, Romi merogoh saku kanan celana panjangnya mengambil smartphonenya. Dan ternyata sesuai yang ia duga sebelumnya, ada lima pesan whatsapp yang tak terbaca hanya dari satu orang. Tania..
-jangan lupa ya
-jam 6
-udah kebayang banget es krim nya
-udah pulang?
-jangan lupa!? ;)
Romi tersenyum sendiri membaca pesan-pesan itu. Ia melirik ke jam dinding dekat pintu masuk kamar kosnya.
udah jam lima aja... ujarnya dalam hati saat melihat posisi jarum jam dindingnya.
masih banyak waktu.
Ia mengambil handuknya yang disimpan sejak pagi tadi saat ia berangkat bekerja di sudut kasur tanpa ranjang itu.
Romi mandi dan bersiap-siap, ia menyempatkan untuk menatap wajah umur 30 tahunnya di cermin meja komputernya..
"Hmmm.." ia bergumam sendiri sambil menyentuh janggut dan kumisnya yang muncul tipis karena sudah beberapa hari tak dicukur. Ia memutuskan tidak mencukurnya kembali. Toh tidak terlalu berpengaruh juga, begitu pikirnya.
Siapapun yang melihatnya saat ini sebagai seorang bujangan 30 tahun Romi sama sekali tidak jelek. Badannya tinggi namun tidak atletis maupun kurus, biasa saja. Penampilannya tidak begitu terawat seperti laki-laki necis kantoran, tapi sekedar rapi saja. Dengan penampilan yang 'seadanya' tak sulit baginya untuk dekat dengan wanita. Tapi karena satu dan dua hal ia belum lagi menetukan jodohnya. Satu dan dua hal yang bahkan ia sendiri tak pahami.
Tiga puluh menit kemudian ia sudah berada di atas motor matic kesayangannya. Angin senja menerpa wajahnya yang tak tertutup kaca helmnya. Sesekali ia menguap lebar-lebar sembari ditutup tangan kirinya. Tidak, ia sama sekali bukannya tak bersemangat menuju rumah Tania. Tapi angin sore selalu bisa membuatnya merasa ngantuk walaupun ia sudah mandi sebelumnya.
Lima belas menit berselang Romi sudah berada di depan sebuah rumah dekat rel kereta api. Romi kembali merogoh smartphone di sakunya.
-aku di depan- Romi mengirim pesan WhatsApp
Tania hanya membalas dengan emoji mengedipkan mata. Romi menganggapnya itu berarti sebentar lagi ia akan keluar jadi ia menunggu dengan santai. Harus dengan santai, karena Romi tahu betul seorang wanita bisa lama sekali waktunya untuk bersiap-siap sebelum keluar berkencan.
Sembari menunggu, ia membaca-baca berbagai berita dan gosip dari internet, Tetapi ia hanya sempat membaca sepuluh menit karena Tania segera saja muncul dari pintu rumahnya.
__ADS_1
"Hai!" sapa Tania dengan semangat.
Romi melambaikan tangannya membalas sambil tersenyum lebar. Tentu saja Romi tersenyum lebar karena Tania tampak cantik sekali dengan dress panjang dan cardigan pink yang membalutnya.
Tania terlihat heran dengan Romi yang tersenyum lebar.
"kenapa?" tanya Tania penasaran.
"cantik," jawab Romi singkat disambut pipi Tania yang merah merona karena malu dan senang.
"jangan genit deh, ayo.." ajak Tania sambil langsung duduk di boncengan Romi.
Mereka berdua kemudian melesat dengan selambat mungkin ke kedai eskrim yang katanya paling enak sekota ini. Sepanjang perjalanan Tania memeluk erat pinggang Romi. Mereka bukanlah sepasang kekasih untuk saat ini, tapi jelas Romi tak menolak Tania seperti itu.
Beberapa kilometer berselang dan beberapa ratus meter kemacetan kemudian mereka berdua sudah duduk dengan sumringah saling berhadapan. Kedai itu dicat dengan warna dominan pink dan putih, dibubuhi gambar aneka jenis eskrim di sekitaran dindingnya.
"gimana kerjaan hari ini?" Romi membuka percakapan.
"atasan ku lagi rese," kata Tania dengan wajah merengut.
"kenapa?" tanya Romi lagi.
"wah.. repot tuh.. capek?"
Tania mengangguk
"ya gimana lagi, tapi kamu mah pasti kuat," Romi menyemangati.
"kalau makan eskrim aku kuat nanti,"
"hahaha!"
Dan tepat saat itu sundae dan waffle eskrim cokelat mendarat di meja mereka.
Sembari melahap Eskrim yang menurut Romi terlalu manis rasanya itu, Tania bercerita berbagai macam hal. Dari mulai gosip atasannya yang pemarah itu selingkuh, sampai bagaimana ia menderita karena sejak putus dari pacarnya dua bulan lalu ia masih belum dapat cowok lagi. Romi mendengarkan dengan setia dan berkomentar satu atau dua kali. Tania tampak senang ada yang mau mendengarkannya berceloteh.
Satu setengah jam kemudian, mereka berdua sudah berada di depan halaman rumah Tania lagi.
__ADS_1
"jadi kapan kita main lagi??" Tanya Tania antusias.
"whatsapp aja, kan ada nomor aku," jawab Romi sembari tersenyum ramah.
"kalau kamu sibuk?"
"ya cari waktu aja,"
"gak apa-apa?"
"ia,"
Dan dengan semacam salaman yang terlalu lama Romi akhirnya beranjak pergi meninggalkan Tania yang tersipu-sipu di depan rumahnya. Romi melihat jam di ponselnya, 20.30.
masih sempat.. ujarnya dalam hati.
Romi sedikit tidak menyangka ia bisa sampai berkencan dengan Tania. Ia baru saja kenal dengannya kurang lebih seminggu. Seminggu lalu ia pertama melihat Tania di belakang sebuah supermarket bersama beberapa temannya ketika ia sedang melahap mie ayam. Romi saat itu memerhatikan seragam yang dikenakannya dan menebak ia adalah salah satu karyawan supermarket itu. Wajahnya yang manis berhasil memincut rasa penasaran Romi. Ketika itu ada selebaran promosi dari supermarket itu. Romi mengambil selebaran itu, kemudian menghampiri Tania. Romi berpura-pura menanyakan apakah bisa membeli borongan karena saudaranya akan mengadakan hajatan (yang juga bohong). Tania saat itu menyarankan Romi untuk pergi ke bagian informasi saja kedalam toko, tapi Romi yang beralasan sedang terburu (sambil beberapa kali pura-pura melihat jam) meminta nomor Tania saja supaya cepat. Dan berhasil..
Selebihnya kejadiannya ya seperti yang baru saja terjadi..
Romi diberkahi keberanian untuk berbicara langsung pada lawan jenis tanpa ragu. Dan ia menggunakan kelebihannya secara maksimal.
Romi tiba di kosannya, dan kemudian kembali mandi dan mengganti bajunya.
21.30
Romi kembali keluar kosannya dan duduk sebentar di atas motornya. Romi kembali mengambil ponselnya, kini ia yang harus mengirim pesan whatsapp.
-aku berangkat sekarang.. jam 10 ya filmnya.. aku tunggu di lobi aja ya-
Romi menunggu beberapa saat...
-oke, sampai ketemu nanti (emot senyum empat buah)-
Romi tersenyum untuk kesekian kalinya hari ini. Jadwalnya sedikit padat hari ini, tapi ia tidak merasa lelah. Malahan ia merasa semakin bersemangat dan bahagia, padahal besok pagi ia mesti berangkat kerja lagi.
Tanpa menunggu lagi Romi melajukan sepeda motornya. Ia tak mau terlambat untuk melihat film Star Wars IX yang baru saja rilis.
__ADS_1
Terlebih lagi ia tak mau terlambat bertemu Asteria..