
"Udah mau tengah malem ini..." Tias mengeluh.
Sofia yang sedang duduk di sebelahnya tak mengeluh tapi ia pun sudah menguap lebar-lebar seakan bisa menelan apapun di depannya. Sofia bersandar ke setir di hadapannya, matanya pun sudah mulai menolak bekerja. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Jalanan pun sudah berangsur sepi seiring orang-orang beristirahat di rumah masing-masing.
Sofia melirik ke belakangnya, bahkan Sarah si ibu hamil sudah tertidur pulas di kursi belakangnya.
"Ya udah deh besok kita lanjut lagi..." Sofia menyerah.
Ia kemudian melajukan mobilnya keluar dari halaman parkiran apartemen itu. Untuk terakhir kalinya ia memandang ke gedung yang hitam oleh bayangan malam itu. Matanya mungkin mengantuk, tapi hatinya panas oleh bara cemburu. Ia membayangkan apa yang sedang dilakukan Romi didalam sana.
Dari semua yang Sofia temui dan lihat selama membuntuti Romi. Hanya disini saja Romi sampai rela datang dan bahkan kelihatannya tak pulang kek kosannya malam ini. Tentu saja Sofia tak rela..
Sore tadi Sofia membuntuti Romi sejak jam pulang kerjanya. Seperti biasa Sofia ditemani Tias dan Sarah sang agen perusak hubungan untuk mencari siapa lagi yang harus dijauhkan dari Romi. Ia cukup terkejut ketika menemukan Romi yang langsung menuju apartemen mewah ini daripada ke kosannya.
Sofia harus bertanya pada keamanan apartemen soal Romi dan kemana ia berkunjung. Untung saja dengan alasan 'saudara jauh' Sofia dan Tias mendapatkan informasi kemana tepatnya Romi berkunjung. Dari situ ia mendapatkan nama Asteria....
Mereka memutuskan untuk menunggu hingga Romi pulang dan pergi dari tempat itu sebelum Sarah melakukan aksinya. Tapi seperti yang sudah diketahui bahkan hingga tengah malam Romi belum memunculkan kembali batang hidungnya.
Sofia yang sedang menyetir merasa gundah sepanjang perjalanan..
Kenapa dia belum balik sampe tengah malem gini?? itu mereka ngapain sih?? Asteria siapanya Romi sih?? Kok gak ada orang grebek mereka sih?? pikiran dan bayangan soal Romi silih berganti mempir di otaknya.
Yang jelas kali ini ia lelah dan mengantuk, besok ia akan memastikan bahwa wanita Asteria ini tak akan mau lagi bertemu Romi..
***
Asteria menutup laptopnya, ia baru saja menyelesaikan meeting online pagi dengan beberapa rekan kerja di Singapura. Kali ini meskipun hari belum lagi sampai tengah hari ia sudah mandi dan rapi. Mungkin setelah ini ia akan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan.
Ia meminum teh di mejanya yang sudah dingin karena ditinggalkan meeting. Kemudian ia bersiap untuk kekuar, namun baru saja ia sedang mengikat rambutnya bel pintu apartemennya berbunyi kencang.
Asteria mengernyitkan dahinya keheranan, ia jarang sekali menerima tamu. Jika ada tamu yang hendak datang mereka pasti memberitahukannya terlebih dulu. Jadi ini pasti bukan tamu yang biasa....
__ADS_1
Asteria berjalan dengan penuh hati-hati, ia mesti bersiap jikalau ada yang berniat buruk padanya. Sampai di pintu ia mengintip melalui door viewer untuk melihat tamunya. Dan ia malah semakin aneh ketika melihat tiga orang wanita berdiri di depan pintunya. Satunya bahkan kelihatannya adalah seorang ibu hamil.
Ia kemudian membuka pintu perlahan..
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Asteria ramah ketika melihat ketiga tamunya.
"Kamu kenal Romi?" Sarah memulai tanpa basa-basi.
"Ya... ada apa?"
"Boleh kita masuk, saya ingin berbicara masalah Romi," kata Sarah terlihat sungguh-sungguh. Aktingnya memang tidak diragukan, di belakangnya Sofia merasa bangga dengan akting Sarah.
Karena merasa tak enak dengan Ibu hamil di hadapannya Asteria mempersilahkan mereka bertiga masuk kedalam.
Mereka berempat kemudian duduk di sofa tempat Romi biasa duduk malas-malasan.
Sarah berdeham beberapa kali bersiap untuk mengeluarkan unek-unek palsunya.
"Jadi, ada perlu apa dengan Romi?" tanya Asteria masih terdengar sopan.
"Anak yang di dalam kandunganku ini.. adalah anak dari Romi.. karena itu aku tidak suka Romi masih sibuk mengurusi wanita lain sementara aku dan anakku ditinggalkan begitu saja," kata Sarah dengan lugas menjelaskan sesuai naskah yang sudah ia hapal.
Asteria menatap tajam si ibu hamil, memerhatikan setiap jengkal dirinya. Lalu kedua temannya, yang satu tampak menahan emosi, sementara satu lagi sepertinya tidak nyaman berada disini.
Wanita hamil ini jelas cantik.. ia pasti mampu memesona setiap pria yang ia inginkan. Tapi sikapnya terlihat angkuh, Romi yang ia kenal tak akan mau mendekati wanita-wanita angkuh semacam ini.
"Anda siapa ya?" Asteria bertanya tajam.
"Sarah, ibu dari anaknya Romi," jawab Sarah lugas.
"Kalau kamu gak menjauhi Romi apa jadinya nasib ibu ini," Sofia tiba-tiba menimpali.
__ADS_1
"Kapan pertama kali kamu kenal Romi?" tanya Asteria lagi, ia ingin mengorek niat asli ketiga orang di depannya ini.
"Setahun lalu," jawab Sarah lagi tanpa ragu, padahal untuk ini ia mesti mengarang karena ia tidak menyiapkan naskah kebohongan sejauh itu.
"Dimana kalian kenal?" lanjut lagi Asteria menginterogasi.
"Konser," jawab lagi Sarah mengarang bebas.
"Konser apa?"
"Um... Syahrini," jawab Sarah lagi menjurus pada satu-satunya konser yang ia datangi tahun lalu.
Seketika Asteria mengetahui kebohongan mereka bertiga.
"Ya sudah, Terima kasih sudah memberi tahu, silakan.." kata Asteria dengan tenang sambil menunjukkan pintu keluar.
Sofia, Sarah, dan Tias saling berpandangan satu sama lain.
gitu aja?? Sofia tak percaya reaksi wanita ini hanya seperti itu. Tidak ada kata marah-marah seperti beberapa yang lain. Bahkan air mukanya tidak berubah sama sekali. Apakah wanita di depannya ini tak memiliki perasaan sama sekali pada Romi? atau malah ia tak peduli dengan Romi? Sofia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Sekali lagi ya, jangan dekati Romi lagi!" Sarah memberikan pernyataan lagi.
"Urusan saya dan Romi adalah urusan pribadi.. jika anda ada urusan dengan dia maka silahkan selesaikan berdua," kata Asteria dingin.
Mereka bertiga kemudian digiring Asteria hingga pintu keluar. Sofia dan Sarah sempat memberontak tapi mereka tak kuasa memberikan alasan. Wanita ini lain dari yang lainnya yang pernah mereka halau dari Romi. Dan memaksa berada disini membuat Sofia merasa menjadi orang jahat. Meski tindakannya juga bukan sesuatu yang baik, ia tidak rela menjadi seorang penjahat dalam cerita cinta yang sedang ia tulis untuk Romi.
"Selamat siang!" kata Asteria ketus dan membanting pintu apartemennya.
Asteria menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hari ini dimulai dengan kejadian yang sangat aneh. Ia jadi membayangkan apakah ada yang tak Romi ceritakan padanya? apakah ia sedang ada masalah?
Yang jelas Asteria mengetahui kebohongan wanita hamil yang baru saja mendatangi apartemennya. Karena ia ingat betul pada malam konser Syahrini yang ia sebutkan, Romi sedang berada bersamanya.. di sofa yang tadi ia duduki... Ia ingat ketika menawari Romi tiket nonton konser yang kebetulan ia punyai gratis sebagai hadiah. Dan ia ingat jawaban Romi saat itu.. 'Males ah.. gak terlalu suka juga.. mendingan nonton konser George Benson akhir tahun nanti'
__ADS_1
Asteria tersenyum mengingat kenangan itu...
Senyumnya bukan karena kenangannya, tapi karena ia tahu bahwa Romi tak seperti yang dituduhkan wanita hamil tadi...