Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Resolusi Sofia


__ADS_3

Romi duduk di ranjangnya dengan punggung membungkuk sementara wajahnya terbenam di kedua telapak tangannya. Mestinya ini terasa biasa saja, bukankah ia sudah biasa meninggalkan perempuan begitu saja tanpa kabar?


Hatinya terasa tak enak, otaknya tak bisa berpikir jernih. Ia bahkan tak menghubungi siapapun sepanjang hari selain meminta ijin untuk tidak masuk kerja dengan alasan sakit.


Ia memalingkan tatapannya pada layar komputer yang menyala. Bahkan game yang mengantri untuk ia selesaikan terlihat tidak menarik. Romi menarik napas dalam-dalam berharap itu akan membantunya menjernihkan pikiran. Tapi selain dari paru-parunya yang sekarang kaya akan oksigen, pikirannya tetap penat seperti jalanan macet ibukota.


Romi melemparkan bantal dan gulingnya dari atas kasur ke lantai di depan meja komputernya. Mungkin dengan berbaring di lantai yang dingin untuk beberapa lama bisa ikut membantu mendinginkan hatinya.


Ia meluruskan punggungnya di atas lantai. Dinginnya keramik menembus baju Romi dan terasa seperti menempel langsung di kulitnya. Setidaknya di lantai memang lebih adem daripada di atas kasur.


Tok.. tok.. tok!


Romi melirik ke arah pintu kosnya.


"Masuk.."


"Hai.." sapa Sofia ketika ia membuka pintu.


"Hai... "


Romi masih terbaring sembarj melamun. Satu lagi.. Sofia juga gak bisa terus-terusan deketin gue.. fokus...


"Kenapa?" tanya Sofia lembut.


"Gak enak badan.." jawab Romi dengan asal.


Sofia mengambil sebotol kayu putih dari tasnya dan tanpa meminta ijin menarik kaus Romi yang sedang tiduran hingga terbuka sampai dada. Romi terkejut dan langsung bangkit duduk di lantai.


"Sama aku aja.." kata Romi mengambil kayu putih dari tangan Sofia dan membaluri badannya. Padahal ia bermaksud basa-basi bilang tak enak badan. Akhirnya ia malah memakai kayu putih betulan padahal ia baik-baik saja.


"Maaf," kata Sofia malu.


"Enggak apa-apa.. jadi ada apa?"


"Mau ikut sama aku?"


"Hm? baiklah.."


Romi sebetulnya enggan untuk pergi kemanapun hari ini. Rencananya adalah membenamkan kepalanya ke bantal dan tidur sepanjang hari. Namun kedatangan Sofia membuatnya merasa inj semacam petunjuk baginya. Ia jadi punya kesempatan untuk mengatakan rencananya. Dan mudah-mudahan bisa menjauhkan Sofia dari dirinya nanti.


Tapi untuk saat ini Romi mengikuti dahulu kemauan Sofia. Ia berganti celana dan membiarkan kaus lusuh yang ia kenakan tetap pada tubuhnya. Siapa tau Sodia ilfeel kalau melihat dirinya yang jorok.


Tentu saja Sofia tak peduli soal itu.. ini hari yang penting baginya..


Lima menit kemudian mereka sudah beredar di jalan raya. Sofia tampak mengemudikan mobilnya dengan santai, Romi di sampingnya hanya termenung memandang keluar jendela. Memandangi gedung-gedung tinggi yang seolah berlari melawan arah mobil yang ja tumpangi. Meratapi sinar redup mentari yang terhalangi kaca film jendela mobilnya. Bertanya-tanya adakah orang yang segalau dirinya saat ini diantara lalu lalang manusia di jalanan ini?


"Makasih kamu udah mau ikut.." Kata Sofia sambil konsentrasi mengemudi.

__ADS_1


"Jadi kita mau kemana?"


"Cuma anter aku aja keliling.. ada apartemen yang mau dibeli Ayahku.. dia minta aku lihat dulu.. daripada sendiri kan mending ditemenin.."


"Kan ada Tias?" Romi teringat sahabat Sofia.


"Ah gak seru.. aku selalu sama dia hampir tiap hari.. kalau gak sama dia.. ya sama kamu..." Sofia tersenyum.


Romi balas tersenyum tapi hanya setengah hati. Jika Sofia tahu apa yang akan ia utarakan maka senyumnya tak akan selebar itu. Romi jadi merasa tak enak.. tapi toh sejak kejadian kemarin dengan Asteria tak ada yang terasa menyenangkan.


Mereka kemudian sampai di dekat pinggiran kota dimana ada satu gedung Apartemen yang baru saja selesai dibangun. Tentu saja jika ayah Sofia berminat membelinya maka fasilitasnya juga pasti tidak standar.


"Ini sebetulnya unit bekas.. pemiliknya sudah ke luar negeri.. tapi kuncinya dititipkan ke kenalan Ayahku.." kata Sofia sambil berjalan menuju elevator sementara Romi berjalan sedikit di belakangnya.


Sampai di lantai sepuluh mereka memasuki salah satu apartemen disana.


Sofia membuka pintu dan menutupnya kembali begitu Romi masuk. Ruangannya meski sudah di tinggalkan terlihat bersih dan terawat. Bahkan apartemen ini sudah lengkap dengan furnitur peninggalan pemilik sebelumnya.


"Gimana menurut kamu??"


"Bagus.." Sekilas Romi malah teringat apartemen Asteria.. tata letaknya mirip.. TV di ruang tengah.. sofa.. meski sofa disini hanya sofa dua kursi sementara sofa Asteria adalah sofa L.


Dindingnya pun berbeda.. Romi menyentuh dinding yang dilapisi wallpaper motif kayu itu. Wallpaper di apartemen Asteria bergambar bunga dan berwarna putih gading.


Kenapa malah jadi inget tempat Asteria..


Romi mengikuti Sofia yang menyimpan handphone dan tas nya di meja kemudian berjalan menuju jendela samping, ternyata apartemen yang ini memiliki balkon kecil di bagian dekat ruang tengah.


Angin kencang menerpa wajah Romi ketika ia berdiri di balkon itu. Sofia berdiri di sampingnya menutup mata ikut menikmati angin yang membelai rambutnya.


"Romi.."


Ini dia.. gumam Romi dalam hati bersiap juga untuk memuntahkan isi hatinya.


"Aku mau jujur denganmu.." kata Sofia lembut, pandangannya masih kedepan tertuju pada hamparan pemukiman dan jalanan di bawah gedung apartemen itu.


"Aku juga.." Romi tercekat. "Kamu dulu..."


"Sejujurnya aku gak pernah ketemu cowok kayak kamu.. cowok lain yang kenalan denganku pasti ujungnya jadi ngejar-ngejar aku.. entah karena aku.. atau latar belakangku.. tapi kamu datar saja seolah tak ada yang spesial dariku.."


"Maaf.." karena tadinya aku kenalan buat jodohin kamu sama Rizky.. sekarang malah tambah rumit..


"Enggak, bukan gitu, gak usah minta maaf.. justru itu bikin aku suka sosok kamu.. kamu gak neko-neko.. sederhana.. kamu jagain aku waktu aku pulang larut.. bahkan kamu mau mendadak pura-pura jadi pacarku di makan malam itu.."


Romi menunggu kalimat selanjutnya.. Ini sangat sulit.. ia tak bisa membalas apapun.. karena ia tak memiliki rasa khusus apapun..


"Jadi.. aku.. aku ingin kita gak pura-pura pacaran kayak di makan malam itu.. aku ingin kamu memilikiku seutuhnya.. dan aku ingin jadi wanita satu-satunya di hatimu.." kata Sofia dengan mantap.

__ADS_1


Mereka saling berpandangan.. Sofia menatap Romi begitu lekat.. mencari-cari jawaban di bayangan bola matanya..


Romi pun menatap Sofia dengan tajam... Pikirannya lari kesana kemari mencari kalimat terbaik untuk lari dari situasi ini sekaligus mengatakan niatnya.


"A... a.. aku gak bisa..."


Mata Sofia seketika berkaca-kaca. Keyakinan dan kepercayaan dirinya yang sekuat batu karang pecah menjadi butiran debu.


"A.. apa??"


"Aku gak bisa.. maaf.."


"Kenapa??" suara Sofia meninggi sementara bulir air mata mulai turun di pipinya.


"Aku.."


"Kenapa???" suaranya meninggi lagi. "Apa karena aku kurang cantik? apa aku kurang baik?? apakah ciumanmu waktu itu tidak berarti??"


Sofia mendesak maju memaksa Romi mundur hingga kembali kedalam apartemen.


"Enggak bukan itu.."


Tangis Sofia kini mulai pecah..


"Terus kenapa..?" tanya Sofia tersedu-sedu.


"Aku.. kamu mencintaiku.. tapi aku juga mencintai orang lain.. kamu adalah wanita sempurna.. tapi hatiku tak bisa bersamamu.."


Sofia duduk di sofa menutup wajahnya menyembunyikan banjir air mata di wajahnya. Mestinya hari ini sempurna.. ia memilih tempat ini supaya mereka bisa berduaan setelah Romi seharusnya menerima cintanya. Ia pertama kali menyatakan cinta pada lelaki hanya demi Romi.. dan pertama kali pula ia ditolak mentah-mentah.


Romi mendekati Sofia.. entah bagaimana tapi ia ingin sekali menenangkan gadis ini..


Sofia masih menangis tersedu-sedu dan air mata sudah membuat matanya bahkan tak bisa melihat dengan jelas. Hatinya hancur sehancur-hancurnya..


Langkah Romi berhenti ketika handphone Sofia menyala di meja.. ada panggilan masuk via whatsapp.. foto profil dan nama penelepon terlihat jelas di layarnya yang besar..


'Sarah'.. dan foto seorang wanita hamil yang sangat cantik..


Mendadak sekarang jantung Romi serasa copot. Rasa kasihannya hilang ditelan rasa amarah yang perlahan membakar hatinya. Tangannya mengepal keras, mulutnya terkatup kuat..


Sekarang ia tahu dalang sabotase kehidupan cintanya....


Ingin ia memuntahkan kemarahan secara brutal pada Sofia. Tapi ia tak cukup nekat dan hilang pikiran untuk melakukannya..


Seketika Romi beranjak pergi... tanpa bicara.. tanpa apapun ia ungkapkan.. meninggalkan Sofia yang menangis.. membawa amarah di hati..


Hidup gue berubah jadi gila!...

__ADS_1


__ADS_2