
[Hei..] Romi mengirim pesan whatsapp. Ini mungkin untuk yang ke lima kalinya ia menyapa ‘Hei’ pada Karina dalam setengah jam terakhir. Romi memeriksa waktu yang tertera di layar handphonenya.
8.30 ...waktu yang Romi miliki semakin sedikit, ia harus segera melakukan rencananya tapi Karina belum sama sekali merespons pesan darinya.
Dahinya mengernyit heran, tak biasanya Karina (jika memang belum bangun tidur) bangun sesiang ini. Ia melirik lagi entah untuk ke berapa ratus kalinya pada buket bunda di mejanya.
Romi beringsut ke sisi kanan ranjangnya dan mengambil telepon kamar.
313.. Romi menekan nomor kamar Karina dan Emak berada.
Nada sambung di telinganya berbunyi seperti geraman seekor kucing. Jemari Romi mengetuk-ngetuk meja ranjangnya dengan tak sabar.
Payah banget kalau jam segini ia belum bangun... gue harus langsung ke kamarnya..
[Halo..] suara Emak terdengar dari seberang telepon.
“Eh Emak.. maaf ganggu pagi-pagi.. Karina udah bangun? Saya mau mampir kalau sudah bangun..”
[Hah? Karina? Dia keluar sama nak Rizky dari sejak tadi pagi..]
Jemari Romi berhenti mengetuk meja, tak terasa ia juga telah menggenggam gagang telepon dua kali lebih kuat dari sebelumnya. Ia merasakan sebuah gejolak yang tak nyaman muncul dari perutnya.
“Oh gitu.. ok Mak.. nanti saya telepon lagi..”
Romi membanting telepon itu keras-keras.
Sialan... matanya memandang ke sekeliling ruangan, mencari sesuatu untuk disalahkan.
Bisa-bisanya dia ngajak Karina pergi sepagi ini..
Romi mengambil handphone nya kembali dan langsung menekan kontak ‘Karina’...
__ADS_1
Nada sambung kembali bermain di telinga Romi. Setiap nada sambung berbunyi membuat perasaan Romi menjadi semakin tidak karuan. Jarak antara nada sambung terasa begitu lama. Ia bertanya-tanya apakah yang sedang mereka lakukan? Kenapa Karina bahkan tidak mengajaknya? Apa rencana Rizky??
Setelah belasan kali nada sambung mempermainkan hati Romi, sambungan pun terputus. Karina tidak kunjung menerima telepon Romi. Seketika ia kemudian menekan nomor Rizky dan kembali menanti. Kali ini setiap deringan membuatnya semakin marah hingga kepalanya terasa sakit.
Sialan... Rizky pun tak mengangkat telepon Romi. Ia kembali mencoba menelepon Karina, kemudian Rizky lagi, lalu Karina lagi, dan Rizky lagi. Tapi yang ia dapatkan hanyalah nada sambung yang menyebalkan dan dingin. Seolah sedang menertawakan amarah Romi..
Ia bangkit dari ranjang dan melesat keluar kamar, ia berharap bisa menemukan dua orang itu di suatu tempat di hotel ini. Romi berlari ke lobi namun ia tak mendapati keduanya, ia kemudian naik lift hingga lantai paling atas menuju kolam renang, tapi ia kembali tak menemukan keduanya, Romi lalu mencari ke area parkiran lalu berlari hingga pantai di seberang hotel.
Enggak ada dimana-mana....napas Romi terengah-engah karena berlari. Percuma saja ia sudah mandi pagi karena sekarang sudah bermandi keringat lagi. Romi menendang pasir hingga pasirnya berterbangan seperti air terjun. Ia memandang ke hamparan air tanpa batas di hadapannya.. Ia merasa kecil.. merasa lelah.. merasa tak ada artinya..
Ini belum berakhir.. Romi meyakinkan dirinya sendiri dan berjalan lunglai kembali ke hotel. Ia menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan logika untuk membuat dirinya tidak panik dan takut.
Apa yang mesti gue takutin? Rizky ganteng.. tapi culun.. dia enggak akan berani aneh-aneh.. kencan saja dulu harus gue temenin.. gak mungkin dia langsung tancap gas... dia pasti takut.. takut ditolak, takut ngomong, takut segala macam.. bahkan kalau dia betulan bakal nembak Karina di acara ulang tahun nanti.. dia gak akan berani..
Romi hampir saja masuk kembali ke area lobi ketika sebuah mobil melintas menuju area parkir belakang. Sekilas Romi langsung mengenali mobil itu dan berlari kecil menuju parkiran belakang.
“Hei!” Romi memanggil begitu Karina dan Rizky keluar dari mobil. Romi menampilkan wajah sumringah meski hatinya sedang terbakar.
Karina melambaikan tangan dan sedikit tersenyum.. hanya sedikit. Rizky pun sempat melambaikan tangan dan kemudian mereka berdua saling berbisik. Tanpa Romi duga mereka terus berjalan tak menghiraukan Romi yang masih melambaikan tangan.
“Karina!” Romi kembali memanggil dan kini hanya dibalas selirik saja oleh Karina.
“Karina mau istirahat bro! Capek katanya, sampai ketemu nanti jam sebelas!” kata Rizky yang dengan sikap sok gagah menuntun Karina masuk, tangan keduanya bergandengan terkunci begitu erat. Romi tak menyadari mereka bergandengan tangan, atau memang karena Romi enggan mengakuinya.
“Gue ikut!” Romi berlari-lari mengikuti mereka.
Mereka bertiga masuk ke dalam lift, Karina masih berdiri rapat di samping Rizky sementara Romi berusaha melirik-lirik Karina namun pandangan Karina terpaku pada angka lantai yang silih berganti menyala diatas pintu lift.
“Tadi aku telepon lho..” Romi berusaha mengajak ngobrol Karina.
“Tadi kita lagi sibuk,” Rizky menimpali.
__ADS_1
“Lha kok elu yang nyaut?”
“Ya mewakili..”
“Mana bisa!”
“Bisa!” jawab Rizky dengan nada sedikit meninggi. Instring mempertahankan pasangannya sudah mulai muncul.
Romi melangkah kedepan hendak menghardik Rizky tapi berhenti ketika Karina mendadak meliriknya dengan tajam. Romi tak bisa sembarangan di depan Karina.. Jika ia memaksa akan buruk jadinya..
Romi terus mengikuti hingga mereka sampai di kamar Karina.
“Aku mau istirahat mas,” kata Karina yang akhirnya berbicara pada Romi.
“Capek? Mau aku bawain sesuatu? Mau aku temenin gak?”
“Gak apa-apa, ada mas Rizky..”
Dan mereka berdua menghilang di balik pintu yang ditutup perlahan oleh Karina. Ingin sekali Romi mendobrak pintu itu, ingin sekali ia berteriak meminta penjelasan, ingin sekali ia menarik Karina pergi dari samping sahabatnya itu. Tapi itu tak bisa dilakukannya... apalagi ada Emak di kamar itu...
Romi berjalan bolak-balik di depan kamar Karina, berpikir dan berpikir. Ia berusaha mereka-reka apa yang terjadi diantara Karina dan Rizky. Apakah Karina kecelakaan? Apakah ada berita buruk?? otak Romi terus berputar. Sesekali benaknya sampai pada kesimpulan bahwa mungkin mereka sudah bersama? Tapi dengan segera Romi menolak pikiran itu. Tidak mungkin....
Setelah menunggu dan berjalan berputar-putar Romi memutuskan untuk kembali ke kamar. Jika dalam strategi berperang maka ini adalah langkah mundur untuk menyusun ulang rencana.
Setidaknya itulah yang ia pikirkan... meski kenyataannya tidak semanis rencana..
Romi berjalan kembali dan saat itulah ia melihat lagi Sofia yang kini bersama Tias. Mereka membawa koper yang ditarik oleh Sofia, sepertinya mereka akan pulang.
Sofia.. yang tadi menemuinya dengan tangisan tersedu-sedu dan sikap yang menyedihkan kini terlihat berbeda...
Sofia berjalan tegak, wajahnya telah berpoleskan make-up dan dagunya diangkat tinggi-tinggi. Romi hendak bertanya tapi Sofia kemudian tersenyum sinis membuat Romi mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Gadis ini terlihat aneh.. Romi merasa penasaran tapi ia merasa sudah cukup berurusan dengan Sofia hari ini.
Dengan senyum sinisnya yang masih tersungging Sofia dan Tias masuk ke dalam lift.. meninggalkan Romi yang termenung heran dengan Sofia.. Meninggalkan Rizky sebagai pemenang..