Cinta (Tak)Butuh Kepastian

Cinta (Tak)Butuh Kepastian
Persisten


__ADS_3

Romi sedang membeli minuman di sebuah minimarket berkelir biru. Telepon jadul yang biasa digunakan khusus keluarganya tiba-tiba berbunyi kencang. Tanpa curiga Romi mengangkatnya, palingan itu telepon dari ibu atau adiknya atau malah Rizky.


"Halo," kata sebuah suara di seberang sana.


Romi seketika menyemburkan minuman yang sedang ia minum. Untung tak ada orang di depanna..


"Sofia??" Romi seketika mengenali suara itu. Ia tak paham bagaimana Sofia bisa mengetahui nomor pribadinya. Handphonenya yang satu lagi memang sengaja ia matikan karena sedang tak mau diganggu.


Tapi Romi memiliki satu tersangka dalam otaknya yang memberikan nomor ini pada Sofia.. Rizky..


"Iya.. kamu dimana? kok HP kamu satu lagi gak aktif?" tanya Sofia beruntun.


"Hah? kenapa emang? ada perlu?" Romi menghindari menjawab pertanyaan Sofia. Ia sedikit tak nyaman karena ucapan Sofia seolah sudah menjadi kekasihnya.


"Aku pengen ketemu," kata Sofia singkat.


"Aduh lain kali aja, aku lagi di jalan," kata Romi menolak, setelah kejadian makan malam itu Romi merasa mesti lebih menjaga jarak. Memberi harapan semu itu bukan perbuatan baik begitu pikirnya. Tapi tanpa ia sadari harapan Sofia padanya sudah begitu tinggi...


"Gak bisa sama sekali? kalau aku mampir kosan kamu? kapan kamu pulang?" tanya Sofia lagi, suaranya terdengar lembut, membuat Romi tak tega jika harus marah-marah menolak.


"Nanti malam.. jam 10 mungkin baru sampai kosan, lagi ada perlu, maaf ya," kata Romi berharap itu terlalu larut dan Sofia menyerah untuk datang.


"Baiklah.." kata Sofia yang kemudian langsung menutup teleponnya.


Romi termenung sejenak, ia jadi merasa seperti lelaki jahat. Meski memang dalam satu hal dan lainnya ia bukan lelaki baik-baik. Tapi ia tak suka merasa seperti ini.. Romi lalu berlalu saja pergi.. berharap Sofia melupakan niat untuk bertemu.


Sofia melemparkan bantal ke dinding dengan emosional. Ia menyesal kenapa ia tak membuntuti Romi hari ini, malah ia memutuskan untuk tiduran seharian. Setelah hari yang membuatnya emosi kemarin karena bertemu Asteria ia merasa berhak untuk istirahat seharian hari ini.


Tapi yang tak disangka tiba-tiba saja ia merasa rindu pada Romi. Ia mengirimkan pesan whatsapp tapi hanya ceklis satu saja. Tentunya saja tandanya handphone Romi tak aktif. Tapi bisa saja paket internet Romi yang habis. Jadi Sofia menunggu beberapa lama namun ketika mengirim pesan lagi hal yang sama masih terjadi.


Sofia ingat pernah meminta 'data' lengkap soal Romi pada Rizky. Dan untungnya dengan senang hati ia memberikan semua kontak Romi. Termasuk nomor pribadinya...


Sofia menelepon untuk meminta bertemu, rasa rindunya terasa bergejolak. Apalagi setelah bertemu Asteria ia merasa ingin sekali bertemu. Ia tak boleh kalah oleh wanita menyebalkan itu. Tapi sayang ia ditolak Romi bertemu...


Jam 10 malam... Sofia berpikir.... Masih ada cara..


Jam 10.30 malam Romi akhirnya tiba di kosan, setelah ia menghabiskan waktu di studio musik milik temannya. Seharian main band dan bernyanyi ini itu, suasana hati Romi sedang baik.


Tapi baru saja ia tiba, Sofia sudah berdiri tegak di samping mobilnya di depan halaman kosan Romi.


Nekat... ujar Romi dalam hati setengah memuji niat Sofia.


"Hai.." sapa Sofia tersenyum.


"Hai.." balas Romi, "Sebentar ya.."


Romi memasukkan motornya dahulu kedalam kosan dan kemudian kembali menemui Sofia.

__ADS_1


"Lama nunggu?" tanya Romi.


"Enggak.. gak kerasa lama kok," kata Sofia terlihat ceria.


"Kamu boleh keluar malam gini?"


"Gak apa-apa, nanti aku tidur di rumah Tias.."


Romi mengangguk tanpa berkata apa-apa, berharap Sofia lekas pulang.


"Bisa temenin aku?" pinta Sofia dengan lembut.


"Ok," Romi mengiyakan dan mengikuti Sofia masuk kedalam mobilnya. Romi tak bisa menolak karena hari juga sudah larut. Membiarkan Sofia dan menolaknya terasa sangat salah di waktu seperti ini.


Mereka berdua kemudian meninggalkan kosan Romi dan berkendara menembus keriuhan malam.


"Bisa nyetir?" tanya Sofia, yang rasanya lebih nyaman jika Romi yang memakai mobilnya.


"Eh.. aku gak punya mobil.. jadi nyetir juga gak bisa," kata Romi mengibaskan tangannya menolak.


"Kapan mau mampir makan malam di rumah aku lagi?" tanya Sofia setengah meminta.


"Hahaha, ada laki-laki yang harus aku usir lagi?" kata Romi bercanda.


"Ih enggak, aku serius lho," kata Sofia sambil mencubit kaki Romi.


Sofia berharap ia menjawab sedikit serius tapi tampaknya ia masih belum berhak mendapatkan keseriusan Romi.


Beberapa saat kemudian Sofia dan Romi mampir di sebuah coffeeshop 24 jam. Meski jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam tapi suasana di kafe masih riuh. Ada beberapa gerombolan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Ada kumpulan bapak-bapak yang sibuk membicarakan sepak bola. Dan ada Sofia dan Romi yang minum tanpa banyak berbicara. Orang yang melihat mereka sekilas seperti sepasang kekasih yang sedang berkelahi.


"Pernah kesini sebelumnya?" tanya Sofia sambil menaruh gelasnya di meja.


"Dulu banget pernah kesini sekali.." Romi mengingat-ngingat masa dahulu ketika masih menjadi mahasiswa.


"Hm.. kopinya enak kan?" tanya Sofia.


"Enak tapi mahal.. kamu sering kesini?" tanya Romi kembali.


"Dulu sering.. sama mantan," kata Sofia sedikit berharap Romi akan cemburu.


"Oh.."


Tanggapan singkat Romi sedikit membuat kecewa Sofia..


"Kamu punya mantan banyak ya," kata Sofia memprediksi.


"Haha enggak juga," kilah Romi.

__ADS_1


"Masa.. kalau sekarang?"


"Apanya?"


"Pacar.."


"Selain kamu yang nembak aku jadi pura-pura pacar kamu dadakan ya enggak ada haha," kata Romi tertawa.


Sofia tersipu malu.. "Kalau yang spesial?"


"Apanya?"


"Perempuan."


"Ada," kata Romi lugas.


"Siapa?" tanya Sofia mencondongkan tubuhnya ke arah Romi dan menahan napas.


"Ibuku hahaha," tawa Romi pecah seusai menjawab. Yang melintas di benaknya tentu saja adalah Karina. Tapi tampaknya tak mungkin ja menjawab seenaknya.


Sofis menghela napas yang tertahan sebelumnya. Ia tahu Romi tidak menjawab jujur, terlihat sekali dari raut mukanya. Tapi setidaknya dengan menjawab seperti itu Romi berarti berusaha menjaga hati Sofia. Dan itu membuatnya merasa sedikit senang...


Satu jam kemudian Sofia dan Romi sudah berada di jalanan lagi. Kali ini Sofia mengantar Romi pulang karena esok hari ia mesti bekerja sedari pagi seperti biasa.


"Terima kasih," kata Sofia setibanya mereka di kosan Romi.


"Kamu ini udah malem banget lho..mau pulang?" kata Romi yang mau tak mau jadi merasa khawatir. Saat ini sudah jam 1 dini hari dan bagaimanapun tidak akan jika seorang perempuan di luar sana.


"Gak apa-apa, nanti ke rumah Tias.."


"Jauh dari sini?"


"Setengah jam mungkin..."


Romi menggaruk kepala kebingungan.. meski ia awalnya tak berharap bertemu Sofia tapi tak mungkin juga membiarkannya pulang dini hari seperti ini. Ia merasa bertanggung jawab..


"Masuk aja.. kosanku bebas kok.. pulang besok pagi aja.." kata Romi mengajak meski sedikit enggan.


Pipi Sofia merona karena merasa malu tapi tentu saja ia menginginkan tawaran Romi.


"Ah gak apa-apa.. nanti kamu repot," Sofia pura-pura menolak...


"Masuk aja.. mobil taruh sini aja.. aman kok.. daripada kejadian aneh-aneh di jalan.." kata Romi betulan khawatir.


"Yasudah..." kata Sofia mengunci mobilnya dan berjalan masuk mengikuti Romi.


Yessssss!!!

__ADS_1


Sofia merasa jadi wanita paling bahagia di bumi..


__ADS_2