
Romi fokus pada layar di hadapannya, meskipun begitu otaknya kesulitan untuk berkonsentrasi. Ia berusaha menghindari serangan-serangan yang diterima karakter dalam gamenya. Tapi otaknya justru menghindari pikirannya untuk diam di satu titik dan berkelana menjauhi dunia game yang sedang Romi selami.
Romi menutup wajahnya dengan kedua tangannya ketika karakternya akhirnya mati tergeletak tersengat serangan senjata mesin bertubi-tubi. Rasa kesal dan kecewa menjalar hingga ke ubun-ubun. Romi mengacak-ngacak rambutnya sendiri sekuat tenaga. Lalu dengan lunglai ia kembali berbaring di tempat tidur.
Ia kemudian memejamkan mata untuk mengusir perasaannya yang aneh dan abnormal ini. Tetapi begitu ia memejamkan mata, gambar-gambar kemesraan Rizky dan Karina muncul tanpa diminta. Hatinya jadi terasa panas... meski Romi tahu betul ia tak sepatutnya merasa seperti itu.
Romi beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamar kosnya. Segera saja aroma angin sore yang dihiasi bau bumbu masak-masakan dari pedagang kaki lima menyapa hidung Romi.
udah mau magrib aja... ujarnya dalam hati tak percaya. Ia sudah bermain game dari pagi hingga sore, sudah lama ia tak bermain game selama ini. Tentu saja biasanya ia selalu memiliki 'jadwal'. Tapi kali ini ia bahkan tak merencanakan satu kencan pun. Rasanya malas sekali.. dan selain itu rasanya satu persatu wanita-wanita mulai menjauhinya (masih belum menyadari ulah Sofia).
Romi melangkah keluar kosnya dan berjalan menyusuri gang menuju jalan raya. Sembari menarik nafas menikmati angin senja Romi jadi berpikir, apakah ia sudah tidak menarik lagi sampai-sampai sepertinya ia dijauhi. Jika Sofia mendengar pikiran Romi saat ini tentu ia akan tertawa terbahak-bahak....
Sampai di pinggir jalan raya Romi kemudian belok ke kanan dan meneruskan langkah kakinya. Setelah melewati sebuah pondok penginapan murah dan sebuah rumah kosong ia tiba di sebuah bangunan berwarna kuning kusam. Tulisan Apotek Sejahtera terpampang di atas pintu ruko dua pintu yang dijadikan satu itu. Tapi ini bukanlah apotek, ini toko kelontong langganan Romi sejak lama. Pemiliknya malas mengganti tulisan di atas tembok itu jadi dibiarkan saja.
Romi merogoh kedalam saku kiri dan kanan celananya. Terasa beberapa lembar uang di saku kanannya. Romi melangkah masuk dengan gontai sambil melirik ke kiri dan kanan mencari sesuatu yang mungkin bisa memperbaiki moodnya.
Dua buah pendingin seukuran lemari terlihat begitu menarik dengan berbagai minuman menghiasi raknya. Mungkin minuman-minuman itu bisa membantu, setidaknya itulah ide Romi.
Romi membuka pintu kaca berwarna merah itu dan mengambil kaleng sprite kecil. Mendadak sebuah mobil parkir di depan toko kelontong. Mobil mewah itu menarik perhatian semua orang, termasuk Romi yang kini malah mematung memerhatikan mobil cantik itu.
Dari dalamnya keluar sepasang suami istri berdandan rapi bak eksekutif muda. Umur mereka mungkin tidak lebih tua dari Romi. Istrinya menggendong anak umur sekitar 1 tahun sementara di belakangnya satu anak lagi yang kemungkinan sudah masuk SD mengikuti ibunya.
Romi memincingkan mata melihat si suami berkemeja biru itu. Dan seperti sebuah bohlam lampu menyala di otaknya ia segera mengenali orang itu.
__ADS_1
ajaib!! asli ajaib!!! katanya terkejut dalam hati.
Yang membuat pemandangan itu ajaib adalah karena si suami yang baru saja keluar dari mobil itu adalah teman satu angkatannya dulu di perkuliahan. Dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah seorang Ridwan...
Jika Romi terkenal dengan sebutan playboy, maka Ridwan adalah tipe super playboy. Tidak ada yg bisa menyaingi Ridwan masalah urusan hati. Dalam satu fakultas saja ia bisa mengencani sepuluh perempuan sekaligus. Tampangnya yang tampan dan kantongnya yang tebal menjadi modal yang tak terkalahkan untuk mendominasi hati gadis yang ia inginkan.
Dan sekarang... ketika bahkan Romi baru saja menimbang urusan serius soal hubungan cintanya, Ridwan muncul dengan dua orang anak. Romi menerka mestinya dengan kelakuan Ridwan di masa lalu, dia bahkan kemungkinan enggan untuk menikah sama sekali.
Romi tak bisa menahan rasa terkejut sekaligus takjub dengan penampakan ini, ia segera menghampiri Ridwan yang sedang menuntun anak pertamanya.
"Yo!" Romi menegur sambil menepuk bahu Ridwan.
"Eh! ya ampun kemana aja ini anak hahaha!!" kata Ridwan tersenyum lebar sembari bersalaman dengan Romi.
"itu mah elu yang playboy haha," Ridwan berkilah.
"Gua anak soleh kalau dibandingin sama elu ya hahaha, eh tapi serius kapan kawin? udah punya dua anak aja," tanya Romi sedikit serius.
"Hahaha! yah gimana, gak bisa juga kan terus-terusan main-main," jawab Ridwan singkat sembari menanggapi anaknya yang sedang membujuk untuk dibelikan cokelat.
Jawaban itu begitu singkat, padat, dan mudah dipahami. Tapi jawaban sederhana itu terasa menyengat di dada Romi, rasanya sedang ditegur guru disekolah karena mencari alasan tidak mengerjakan PR.
"Eh udah kawin?" tanya Ridwan.
__ADS_1
Pertanyaan yang tidak kalah menyengat.
Romi menggelengkan kepalanya sembari tersenyum simpul.
"Yah, ntar juga ketemu jodohnya, santai aja.. tapi ya jangan kelamaan juga sih haha, udah gak muda.. orang tua kita mungkin pengen gendong cucu.. kalau punya anak cepet juga jarak anak kita sama kita gak akan jauh.. masih sehat nemenin mereka sampe tua kan.. yah tapi itu sih gue ngelantur aja sok bijak gitu kan hahaha," kata Ridwan ceria menepuk bahu Romi yang hanya bisa ikut tertawa saja tak bisa berkomentar.
Selang beberapa saat kemudian Ridwan berpamitan pergi dan tak lupa mereka sempat bertukar nomor Whatsapp, barangkali diperlukan dilain waktu.
Romi melambaikan tangan dengan senyum dipaksakan ketika melihat kawan lamanya pergi menjauh dengan mobilnya.
Ini rasanya seperti alam semesta memang sedang menyuruhnya untuk berubah. Romi berjalan kembali dari warung dengan langkah lambat, dalam pikirannya ia sedikit termotivasi sekaligus sedikit sakit hati. Melihat keadaan Ridwan yang bisa berubah tentu saja berarti ia pun bisa berubah. Tapi di sisi lain ada rasa sakit hati karena ia seolah sedang disindir, diingatkan, ditegur. Romi tahu apa alasan ia merasa seperti itu, tapi ia enggan untuk mengakui bahwa tindakannya bermain hati itu tidaklah baik. Tapi logikanya terus mencari-cari alasan dan pembenaran akan apa yang sudah ia lakukan.
Ia perlu cinta.. itu tidak bisa diragukan lagi.. ia membutuhkan perhatian.. ia membutuhkan seseorang untuk bersandar..
Sebelum memasuki kamar kosnya, langkah Romi terhenti sejenak ketika ia hendak membuka daun pintu yang ditempeli puluhan stiker itu.
Cinta.. Perhatian.. Keinginan.. Rasa rindu.. Rasa sayang... Perlahan ia mulai bersandar pada satu keputusan.. atau mungkin juga bisa dibilang kesimpulan...
Semua rasa di hatinya sebetulnya tidak memerlukan banyak sumber untuk memenuhi itu semua.. mungkin ia hanya membutuhkan satu saja..
satu saja..
"
__ADS_1